Mooneta High School

Mooneta High School
First Impression


__ADS_3

Penduduk kota ini sungguh tidak ramah. Itu adalah kesan pertama yang mereka dapatkan begitu sampai di sini. Semuanya berada di luar ekpektasi mereka. Bukan lebih baik, melainkan sebaliknya. Bukan seperti itu cara yang pantas untuk memperlakukan tamu. Dimana-mana, tamu adalah raja. Pepatah konu yang satu itu harusnya masih tetap dianut hingga kini. Bagaimana bisa mereka meninggalkan kebiasaan lama dan mengabaikan etika serta sopan santun.


Siswa akademi sihir Mooneta yang sama sekali tidak pernah diajarkan hal seperti itu geleng-geleng tak habis pikir. Ternyata memang benar apa kata orang-orang jika Mooneta jauh lebih unggul dari pada Reodal dalam segala hal. Bahkan termasuk hal kecil sekalipun. Jangan harap jika itu akan lolos dari pengawasan mereka. Mooneta tidak pernah lengah.


Begitu sampai di gerbang akademi, mereka langsung disambut oleh para pejabat sekolah serta para siswa yang berbaris rapih. Semua seperti telah diatur dengan sedemikian rupa. Sejauh ini semuanya masih terlihat baik-baik saja. Rencana mereka berjalan dengan sempurna. Tidak ada satu pun yang menaruh rasa curiga. Ini adalah sebuah langkah awal yang cukup bagus bagi Reodal.


Sejujurnya, mereka tidak terlalu baik dalam hal memanipulasi orang lain seperti ini. Tapi, bukan Reodal namanya jika tidak ingin berusaha semaksiimal mungkin. Semua hal harus terlihat sempurna. Itu adalah prinsip mereka.


“Kita seperti orang penting saja sampai harus disambut seperti ini,” celetuk Nhea yang kemudian disahuti oleh Jang Eunbi.


“Memang sudah seharusnya mereka bersikap sopan. Terlepas dari kita tamu atau bukan,” ujar gadis itu membela.


Nhea mengangguk paham dengan perkataan seorang gadis yang selalu berdiri di sebelahnya sejak beberapa saat yang lalu.


Alih-alih membalas sambutan yang diberikan, mereka malah sibuk mengamati seisi tempat ini. Matanya bergerak dengan liar. Sedikit agak kurang sopan memang jika orang asing melakukan hal yang terlalu lancang seperti ini. Tapi, anggap saja jika sekarang mereka sudah impas. Reodal telah mendapatkan kembali apa yang memang seharusnya mereka dapatkan sejak awal.


Langkah semua orang berhenti secara mendadak ketika Bibi Ga Eun berpapasan secara langsung dengan pimpinan sekolah ini. Mereka baru saja melakukan pergantian pengurus beberapa bulan yang lalu. Termasuk pemimpin juga ikut diganti. Hal ini rutn dilakukan selama tiga tahun sekali.


Jadi, wajar jika mereka tak terlalu familiar dengan wajah pengurus barunya. Mungkin tidak dengan Bibi Ga Eun. Wanita itu sudah sering melakukan kunjungan ke Reodal dengan berbagai macam urusan. Jadi, ia pasti telah mengenal seluruh wajah penghuninya.


“Senang bertemu dengan anda nyonya!” sapa seorang wanita yang terlihat jelas jika usianya jauh lebih muda dari pada Bibi Ga Eun. Ia membungkuk sebagai rasa hormat.


Bibi Ga Eun hanya membalas sapaannya dengan senyuman tanpa sepatah kata sama sekali. Kemudian ia ikut membungkuk juga sebagai balasan.

__ADS_1


Yang sedang berada di hadapannya saat ini merupakan Do Yen Sae. Dia adalah generasi kelima dari keluarga Do. Wanita itu belum terlalu tua, tapi juga tidak termasuk usia muda. Mungkin usianya sekitar dua puluh delapan tahunan. Do Yen Sae belum menikah sama sekali. Belum ada satu pun anak dari generasi ketiga yang melangsungkan pernikahan. Ia adalah yang tertua di sini dan sekarang bertugas untuk memimpin akademi sihir miliki keluarganya.


“Omong-omong, kemana orang tuamu?” tanya Bibi Ga Eun heran.


“Aku belum melihat mereka sejak tadi,” tambahnya.


“Ah, jadi kau mencari mereka?” tanya wanita itu balik.


“Mereka baru saja pergi tepat seminggu yang lalu. Keduanya sedang melakukan pelayaran ke daerah Benua Eropa. Ada beberapa hal yang harus mereka urus di sana,” jelas Do Yen Sae dengan panjang lebar.


“Oh, jadi begitu,” balas Bibi Ga Eun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Jadi, semacam perjalanan bisnis?” tanyanya lagi.


“Mari aku antarkan kalian semua ke aula!” ucap wanita itu tanpa mengurangi rasa sopannya.


Ada beberapa hal yang harus dibicarakan sebelum mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Tentu saja masih salah satu bagian dari rencana buruk Reodal yang berkedok sebagai kerja sama.


Bibi Ga Eun dan beberapa orang lainnya yang berada di barisan paling depan menjadi orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di ruangan aula. Kemudian disusul oleh yang lainnya. Bisa dibilang jika kali ini mereka akan mengadakan konferensi kecil-kecilan. Pesertanya adalah seluruh siswa serta keluar besar akademi sihir Mooneta serta beberapa pejabat akademi sihir Reodal. Ruangan ini disominasi oleh orang-orang dari Mooneta. Sementara itu, Reodal hanya mengutus beberapa orang saja untuk menghadiri konferensi ini. Aula mereka tidak terlalu luas untuk menampung semua orang di dalamnya. Berbeda dengan Mooneta yang serba berkecukupan. Mungkin tempat ini juga tidak akan bisa memuat seluruh penghuni Reodal di dalamnya.


“Aku nyaris kehabisan oksigen jika berlama-lama di tempat seperti ini,” cicit Oliver.


“Sepertinya mereka akan membunuh kita secara perlahan,” timpal Jang Eunbi.

__ADS_1


Dari awal mendengar nama Reodal saja mereka sudah tidak tertarik sama sekali. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menaruh rasa simpati kepada penghuni akademi sihir Reodal. Mereka sudah seperti musuh bebuyutan sejak generasi pertama dan terus berlanjut hingga sekarang.


“Bukankah kita yang seharusnya memberikan tumpangan kepada mereka pada kondisi seperti ini?!” celetuk Oliver lagi.


“Aku khawatir jika kamar kita hanya cukup untuk menampung satu orang saja,” tukasnya.


Bukan hanya sebatas itu saja. Tapi, ada banyak komentar yang tak patut untuk di dengar sama sekali. Tentu sana anak-anak dari Mooneta pelakunya. Mereka terus mencari-cari kesalahan Reodal. Bersikap seolah paling benar dan sempurna.


Mengkritik memang tidak ada salahnya sama sekali. Tapi, pada dasarnya setiap sesuatu yang dilakukan secara berlebihan akan tidak baik.


“Sebaiknya jaga mulut kalian sebelum kita benar-benar diusir dari sini,” ujar Nhea.


Ini adalah peringatan pertama dari gadis itu. Ia berharap tidak perlu melakukan hal serupa untuk yang kedua kalinya. Bagaimana pun juga, ini adalah tempat orang. Mereka harus menjaga sopan santun agar tetap dihargai. Lihat saja bagaimana kejadian saat di gerbang kota tadi.


“Apa aku harus mendaftarkan diri sebagai salah satu siswa di sekolah ini juga?” tanya Hwang Ji Na.


Sudah bisa ditebak kepada siapa pertanyaan tersebut ditujukan. Tentu saja Chanwo. Pria itu selalu menjadi sasaran atas kegundahan hati Hwang Ji Na selama beberapa hari terakhir sejak kedatangannya di sekolah.


Chanwo hanya bisa berdecak sebal sambil memutar bola matanya dengan malas.


“Tidak perlu!” ucap pria itu.


“Cukup selesaikan saja urusanmu dengan Eun Ji Hae. Kemudian setelah itu kita akan pergi dari sini secepatnya!” tegas Chanwo sekali lagi.

__ADS_1


Ia berharap agar semuanya terdengar jelas bagi Hwang Ji Na. Pria itu terlalu malas untuk mengulangi perkataannya lagi kali ini.


__ADS_2