Mooneta High School

Mooneta High School
Back


__ADS_3

“Eun Ji Hae adalah salah satu siswi di Sekolah Akademi Penyihir Mooneta. Ia adalah salah satu anak dari Nyonya Vallery dan juga Tuan Wilson,” jelas Lee Seung Rim kepada seluruh sekolah.


“Dia juga merupakan siswi di angkatan pertama di sekolah itu, dan jangan lupakan satu hal jika Eun Ji Hae itu adalah ketua seluruh asrama,” lanjutnya.


Eun Ji Hae tak tahu persis bagaimana wanita tua itu bisa mendapatkan semua informas tentang dirinya itu. Padahal kemarin ia bersi keras mengatakan jika Eun Ji Hae hanyalah sekedar orang mabuk yang tersesat hingga ke tempat ini. Terlebih lagi yang membuatnya heran itu adalah, semua informasi yang di sampaikan oleh Lee Seung Rim kepada dirinya ini benar seluruhnya. Mungkin dia mendapatkan semua informasi pribadinya itu dari kedua orang tuanya. Lagi pula jika bukan dari mereka berdua, lantas dari mana Lee Seung Rim mendapatkan informasi seakurat itu.


“Eh, sepertinya aku pernah mendengar namanya.”


“Aku dengar dia sempat begitu popular di angkatannya.”


“Katanya dia itu hanya anak angkat, apakah itu semua benar?”


“Apa kau masih ingat saat berita tentangnya menjadi sangat terkenal di setiap sekolah akademi penyirih di seluruh Korea ini?”


“Apakah ini yang di namakan Kakak Ji?”


“Wah, dia sangat cantik.”


“Dia sempat hilang selama bertahun-tahun dan kini kembali lagi.”


Beberapa siswa terlihat kembali sibuk sendiri untuk menggosipi dirinya. Mulai dari komentar yang lebih terasa seperti pujian, hingga sesuatu yang sangat pedas tentang dirinya mulai memenuhi ruangan tersebut. Sepertinya para siswa dan siswi di sini sudah mulai mengenal siapa dirinya sebenarnya. Nama Eun Ji Hae yang sempat popular kala itu, perlahan sirna dari ingatan mereka. Tapi kini semuanya telah tau siapa gadis ini sebenarnya.


‘BRAKK!!!’

__ADS_1


Eun Ji Hae sudah tak bisa menahan kesabarannya untuk lebih lama lagi. Rasa sabarnya telah hilang lebih dulu, jauh sebelum ia bisa mengontrol dirinya sendiri. Gadis itu menggebrak meja makan berukuran raksasa tersebut dengan emosi yang sudah berada di puncak ubun-ubunnya itu. Ternyata para murid di sinitak kalah menyebalkannya dengan kepala sekolah mereka sendiri. Eun Ji Hae yakin jika sifat ini diturunkan oleh Lee Seung Rim.


“Jaga sikapmu!” bisik Vallery yang berusaha menenangkan Eun Ji Hae agar tak kelapasan.


“Seharusnya mereka yang menjaga sikapnya bu! Apakah ini etika sopan santun yang di ajarkan di sekolah akademi penyihir? Apa saling merendahkan sesame penyihir menjadi sikap yang baik?” cerca Eun Ji Hae di hadapan semuanya.


“Aku minta maaf kepada kalian untuk hal itu,” ujar Lee Seun Rim dengan penuh hormat.


“Dan untuk kalian, jangan beranjak dari tempat ini setelah selesai sarapan. Aku akan memberikan kalian hukuman karena telah membuat namaku dan nama sekolah ini menjadi buruk,” lanjutnya dengan sorot mata yang menakutkan.


“Ah, sial!”


“Yang benar saja!”


“Dasar tidak asyik!”


“Dia terlalu kaku.”


Sekali lagi suara bisikan-bisikan itu sampai ke telinga Eun Ji Hae dengan sangat jelas. Gendang telinganya bisa menangkap semua suara itu dengan jelas. Sepertinya para siswa itu sedang protes tak terima dengan konsekuensi yang mereka dapatkan. Tapi hal itu sepadan dengan apa yang mereka lakukan tadi, sudah sepantasnya mereka di hukum agar jera. Kalau perlu mereka perlu di berikan mata pelajaran yang khusus untuk memperbaiki etika mereka. Eun Ji Hae tersenyum puas melihat anak-anak nakal itu akhirnya di hukum.


Setelah kejadian itu, mereka semua segera memulai acar ayang paling ditunggu-tunggu oleh semuanya. Eun Ji Hae adalah alas an utama kenapa sarapan hari ini harus di tunda selama beberapa menit. Tak jarang para siswa menggerutu kesal karena kelakuan Eun Ji Hae yang menyebabkan mereka menjadi di hukum sepert ini.


***

__ADS_1


“Hati-hati di dalam perjalanan, semoga kalian selamat sampai tujuan,” ujar Lee Seung Rim.


“Terimakasih Seung Rim, kami harap kau juga menjaga kesehatanmu dan baik-baik saja di sini,” balas Vallery.


“Terimakasih telah sudi untuk membantu kami nanti dalam menghadapi serangan tahunan dari Ify,” ujar Wilson sambil tersenyum kecil.


“Selamat tinggal bibi! Senang bisa mengenalmu,” sambung Eun Ji Hae yang ikut menambahi ucapan kedua orang tuanya itu.


Setelah selesai berpamitan, mereka beriga segera pamit untuk kembali ke tempat mereka berasal. Sekolah Akademi Penyihir ini telah banyak membantu mereka. Terlebih saat akan menghadapi serangan tahunan yang datang dari Ify, Sekolah Orton dengan senang hati akan membantu mereka. Dua hari lagi, tepat sebelum serangan dari gadis dan ayahnya itu datang untuk menghancurkan Sekolah Mooneta. Pihak Sekolah Orton akan mengirimkan seluruh siswanya ke sana untuk mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Dua kali lipat kekuatan sihir dari dua sekolah yang berbeda, akan memberikan harapan kemenangan yang besar pula.


Eun Ji Hae kembali berubah menjadi seekor Burung Phoenix yang menawan dengan paras dan waran bulu serba merahnya yang menyala-nyala. Sementara Vallery dan Wilson pergi menaiki Pegasus dan Griffin yang memang sengaja ikut serta di bawa ke tempat ini. Namun lagi-lagi ada sesuatu yang tertinggal setelah mereka pergi. Bahkan tak ada seorangpun yang mengetahui atau bahkan menyadari hal tersebut.


Eun Ji Hae kembali meninggalkan gelang kakinya yang sempat di kembalikan oleh seseorang yang misterius itu, sesaat setelah ia sampai di tempat ini. Namun kali ini gelang itu kembali terlepas untuk yang kedua kalinya, tanpa ia sadari sama sekali. Hal itu terjadi saat Eun Ji Hae mengubah wujudnya menjadi seekor Phoenix. Saat itu pula ukuran pergelangan kakinya menjadi jauh lebih langsing, sehingga benda itu menjadi sedikit longgar dan tak bisa melingkar dengan sempurna lagi pada kakinya itu.


Lagi-lagi sekelebat bayangan hitam itu muncul secara tiba-tiba dan pergi dengan hanya dalam kecepatan sepersekian detik. Mahluk misterius itu kembali membawa gelang kaki itu bersamanya, ada stu misi lagi yang harus ia selesaikan. Mahluk misterius ini harus mengembalikan benda ini kepada pemiliknya untuk yang kesekian kalinya. Belakangan ini kelihatanya Eun Ji Hae selalu di awasi oleh soso misterius itu, dan takmpernah luput dari penjagaan nya barng sedetik saja.


“Apa yang barusan tadi?” ujar Lee Seung Rim pelan.


Wanita itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mahluk apa itu tadi. Pergerakannya terlalu cepat untuk di amati olehnya. Ia tak bisa menangkap seperti apa gambaran objek yang melintas di depannya tadi.


“Mungkin itu hanya halusinasiku saja, sebaiknya aku segera masuk untuk menghukum anak-anak itu,” ujar Lee Seung Rim, kemudian bergegas untuk masuk.


Masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, yaitu menghukum anak-anak nakal itu. Mereka memang terkenal nakal, namun selalu bisa di andalkan.

__ADS_1


__ADS_2