Mooneta High School

Mooneta High School
Riot 2


__ADS_3

Nhea tidak tahu pasti apakah


rencana mereka kali ini akan berhasil atau tidak. Pekara berhasil atau tidaknya


adalah persoalan  nomer dua. Yang pertama


dan paling utama adalah, mereka perlu mencobanya terlebih dahulu. Tidak akan


ada yang tahu apakah hal tersebut akan berhasil atau tidak, jika mereka tidak


melakukan aksi terebih dahulu.


Bagaimanapun juga situasinya,


mencoba adalah yang paling utama. Tidak peduli seberapa besar peluangnya. Soal keberuntungan


memang bisa saja berubah sewaktu-waktu. Tidak ada yang tahu. Tapi, memangnya


siapa yang mengira jika mereka akan berhasil. Kembali lagi kepada konsep


awalnya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi selama beberapa


detik ke depan. Meski pun beberapa manusia memang bisa memprediksi. Tapi,


apalah arti sebuah prediksi.


Setelah mendengar ucapan Chanwo


tadi, gadis ini merasa jauh lebih tenang. Tidak peduli dengan apa yang


orang-orang katakan. Nhea akan tetap pada rencananya. Eun Ji Hae sudah menjadi


sebuah target yang telah ia kunci. Gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana lagi.


Lebih tepatnya Eun Ji Hae sudah masuk ke dalam perangkap yang mereka buat


sebelumnya. Dan gadis itu sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Itu adalah


sesuatu yang cukup menguntungkan bagi pihak Nhea dan juga Chanwo.


Semakin ke sini, langkah mereka


menuju keberhasilan semakin dekat. Tidak dapat dipungkiri jika di dalam hatinya


juga terselip sebuah keraguan. Ia tidak bisa menolak hal tersebut. Namun,


setelah Chanwo berusaha untuk meyakinkan dirinya, Nhea juga merasa semakin


yakin. Tidak ada alasan untuk tetap merasa ragu.


Kini pilihannya hanya ada dua. Gagal


atau berhasil. Dan pilihan tersebut sebenarnya sudah berada di tangan gadis itu


secara tidak langsung. Dengan atau tanpa ia sadari. Bisa dikatakan jika kendali


menuju dua hal tersebut sudah berada di tangan Nhea. Hanya tinggal ia saja yang


memutuskan. Mau kemana membawanya.


Mereka bisa saja berhasil, namun


juga tidak menutup kemungkinan untuk gagal. Kembali pada konsep awalnya. Kendali


untuk kedua pilihan tersebut berada di tangan Nhea. Presentase keberhasilannya


tidak bisa diperhitungkan sekarang. Pada dasarnya mereka berhak untuk memilih. Termasuk


Nhea. Kebetulan kali ini semesta sedang memberikannya sebuah keistimewaan.


***


Beberapa menit kemudian setelah


kejadian, situasi mulai mereda. Meski tampaknya belum sepenuhnya kembali


normal. Masih tetap ada saja yang berbicara. Semua orang masih mempermasalahkan


hal tersebut. Jelas saja jika mereka tidak terima. Jangankan para siswa biasa,


Nhea atau bahkan Oliver saaja tidak ikut dilibatkan dalam proses pengambilan


keputusan.


Tidak ada salahnya untuk


mengkritisi, atau bahkan memprotes. Namun, semua hal juga punya batasan serta


aturan tersendiri. Sarkasme sama sekali tidak diizinkan di sini. Apa lagi


anarkis. Mereka juga manusia yang masih memiliki akal yang sehat. Sebagai


manusia normal, sudah sepatutnya jika mereka harus bisa mengendalikan isi


pikirannya sendiri.


Pada hakikatnya, mereka yang


disebut sebagai manusia adalah orang yang juga bisa memanusiakan orang lain.


Itu sebabnya kenapa ada perikemanusiaan. Nhea sendiri sebenarnya belum cukup


paham dengan konsep tersebut. Sehingga ia belum bisa menggolongkan dirinya


termasuk ke yang mana satu.


Sejauh ini, gadis itu masih


bertindak dan berperilaku sebagai mana manusia pada umumnya. Dengan begitu


tidak akan ada yang merasa tersakiti olehnya. Nhea hanya akan menyakiti orang


lain, apa bila orang tersebut menyakiti dirinya.


Sebagai mahluk sosial, pada


umumnya manusia akan melakukan tidakan timbal balik. Termasuk merespon hal yang


sama kepada orang lain.


Sementara Nhea menunggu


kesempatan untuk melaksanakan salah satu bagian dari misinya tersebut, Bibi Ga


Eun tampak begitu frustrasi. Dari jauh terlihat jika ia sedang menyandarkan


tubunya pada sandaran kursi. Sembari sesekali memijat pelipisnya pelan.


“Apa bibi tidak apa-apa?” tanya


Eun Ji Hae berbasa-basi.


“Tidak, aku baik-baik saja,”


balas Bibi Ga Eun dengan nada yang cukup meyakinkan. Padahal jika dilihat dari


ekspresi wajahnya pada saat itu, malah tidak mencerminkan kalimat tersebut sama


sekali. Sungguh bertimbal balik.


“Sungguh?” tanya Eun Ji Hae


sekali lagi yang kemudian iktu diangguki oleh wanita itu.


Eun Ji Hae perlu memastikan satu


hal lagi di sini. Dia tidak bisa asal sembarangan menyimpulkan. Apalagi sampai


mengambil tindakan senrdiri. Mengingat jika saat ini posisinya belum cukup

__ADS_1


kuat. Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki wewenang untuk melakukan apa pun


itu tanpa persetujuan dari pimpinan akademi.


Selama ini seperti yang mereka


ketahui jika Vallery adalah pimpinan akademi. Sementara itu Wilson merupakan


wakil yang sekaligus menjadi suaminya. Dan Bibi Ga Eun memiliki jabatan sebagai


kepala sekolah. Jadi, bisa dikatakan jika Bibi Ga Eun hanya memiliki wewenang


untuk mengatur segala hal yang terkait dengan pelajaran atau bahkan sistem


pendidikan di akademi. Bahkan termasuk gedung sekolahnya juga.


Sementara itu, di sisi lain Vallery


memiliki hak dan wewenang yang jauh lebh besar jika dibandingkan dengan Bibi Ga


Eun. Kalau Bibi Ga Eun hanya bisa mengatur perihal sistem sekolah dan yang


lainnya, selama menyangkut tentang pendidikan di akademi ini. Maka di sisi lain


Vallery memiliki hak penuh tas keseluruhan akademi ini. Baik dari segi mana pun


itu. Hanya Vallery lah satu-satunya orang yang berhak di sini. Tidak ada yang


lain. Namun, beberapa waktu belakangan ini Vallery selalu mempercayakan segala


halnya kepada Bibi Ga Eun. Sebaliknya, Bibi Ga Eun malah mempecayakan segalanya


kepada Eun Ji Hae.


Jadi, secara tidak langsung Eun


Ji Hae sduah merupakan tangan kanan dari Vallery. Mengingat juga wanita itu


sudah tidak seenerjik itu lagi, tidak ada salahnya jika seseorang menggantikan


posisinya tersebut. Tentu saja Vallery sudah menentukan siapa orang yang tepat


untuk mengisi posisi tersebut. Dan pilihannya jatuh kepada Eun Ji Hae.


Padahal sejak awal hanya Nhea lah


yang bisa mengisi posisi tersebut. Sebenarnya mereka sudah menyalahi aturan. Mungkin


saat ini Nhea akan tampak diam. Namun, sebentar lagi situasinya akan berubah. Gadis


itu akan segera buka suara untuk mengungkapkan sesuatu yang menurutnya benar.


Tapi, kembali lagi ke konteks


awal. Keputusan berada di tangan Vallery. Tidak ada yang bisa membantahnya. Mengingat


jika wanita itu berhak atas segala hal yang berada di akademi ini. Termasuk


sistem pengaturan kepengurusan. Tidak ada yang berhak untuk ikut campur. Termasuk


Nhea.


Nhea juga tidak bsia disalahkan


di sini. Bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum ia terlahir ke dunia ini, Nhea


sudah ditetapkan sebagai generasi berikutnya yang akan melanjutkan akademi


sihir Mooneta. Di dalam buku sejarah akademi sihir Mooneta jelas-jelas


disebutkan.


“Sepertinya mereka tidak pernah


membaca buku sejarah akademi yang satu itu sebelum memutuskan untuk


pelan.


Rasanya begitu miris. Bagaimana bisa


keluarga ini hidup tanpa mengetahui latar belakang keluarga yang lainnya juga. Sungguh


tidak masuk akal. Mereka akan terkesan tidak peduli sama sekali. Orang-orang


yang berada di sini hanya tergila-gila dengan kekuasaan. Meski dengan kekuasaan


kau bisa melakukan segalanya, tapi kekuasaan bukanlah segalanya.


Nhea sendiri tidaak benar-benar


yakin, apakah Vallery dan Bbi Ga Eun telah membaca habis isi buku itu. Atau


paling tidak, tahu sedikit saja soal buku tersebut. Karena bagaimanapun juga,


hal tersebut pasti menyangkut ke kehidupan pribadi mereka masing-masing. Bahkan


gambaran masa depan tentang kehidupan Nhea sudah sempat tertulis di sana.


Padahal pada waktu itu Vallery belum menikah dengan Wilson.


Cukup membingungkan, sekaligus


tidak masuk akal. Entah dari mana penulis tersebut bisa tahu. Padahal waktu itu


belum ada satu pun yang terjadi. Tapi, dengan mudahnya ia bisa menuliskan


penggalan-penggalan kejadian dalam buku tersebut.


Terkadang Nhea juga merasa


penasaran dengan penulisnya. Untuk pertama kalinya ia menjumpai sebuah buku


tanpa mencantumkan nama penulisnya di bagian sampul buku. Jangankan bagian


sampul. Di dalam halaman biasa saja sama sekali tidak ada. Terkadang gadis itu


bertanya-tanya, kenapa ia bisa begitu misterius.


“Baiklah, perhatian semuanya!”


seru Eun Ji Hae dari depan sana.


Harus diakui jika suaranya memang


cukup lantang. Chanwo sendiri bahkan ikut mengakui hal tersebut. Tidak dapat


dipungkiri memang, jika suara Eun Ji Hae berhasil menggema hingga ke seluruh


penjuru ruangan. Semua orang yang berada di dalam sana adalah saksinya. Termasuk


Nhea dan yang lain.


Seisi ruangan menjadi hening


karena Eun Ji Hae. Sekarang ia telah berhasil untuk menghimpun kekuatannya


kembali. Gadis itu sama sekali tidak bisa diambarang satu menit saja. Eun Ji


Hae selalu ingin menjadi pusat perhatian orang lain. Dan yang lebih


menyebalkannya lagi adalah, Eun Ji Hae selalu berhasil dalam mendapatkan apa


pun yang ia mau. Tanpa ada halangan sedikit pun.


Seolah mendapatkan perhatian dari


semua orang dalam waktu dekat bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Eun Ji Hae


memang telah beberapa kali membuktikan hal tersebut. Sehingga tidak ada

__ADS_1


keraguan sama sekali.


“Ck! Apa lagi yang akan ia


lakukan kali ini?” ucap Nhea sambil berdecak sebal.


Yang dimaksud oleh gadis ini


adalah Eun Ji Hae. Memangnya siapa lagi. Sejauh ini memang hanya Eun Ji Hae


satu-satunya orang yang berhasil memancing emosi gadis itu. Dan memang selalu


Eun Ji Hae yang memancing keributan terlebih dahulu. Entah kenapa ia begitu


hobi untuk mencari gara-gara dengan Nhea. Sepertinya itu sudah menjadi sebuah


kebiassaan baru baginya.


Di sisi lain, Nhea sendiri memang


sudah kehilangan rasa simpatinya terhadap Eun Ji Hae. Cara ia memandang gadis


itu sudah tidak sama lagi dengan yang dulu. Jika dulu gadis itu sempat sangat


menghormati Eun Ji Hae, maka sekarang berbeda. Yang terjadi malah kebalikannya.


Ia bahkan sudah tidak menghormati Eun Ji Hae lagi.


Jika beberapa saat yang lalu


gadis itu sempat membantu Eun Ji Hae untuk lepas dari rumor yang beredar di


akademi, Nhea bahkan ikut membelanya mati-matian. Secara tidak langsung, ia


memang sudah menolong Eun Ji Hae.


Pada waktu itu Nhea merasa jika


ia memang harus membantu Eun Ji Hae pada saat-saat seperti itu. Tidak mungkin


jika ia membiarkan kakaknya sendirian dalam menghadapi masalah tersebut. Tapi,


sebenarnya Nhea bisa saja bersikap acuh tak acuh terhadap skandal Eun Ji Hae.


Gadis itu tidak harus menolongnya. Mengingat jika Eun Ji Hae memiliki posisi


yang cukup kuat di akademi sihir Mooneta. Nhea yakin jika sebenarnya Eun Ji Hae


bisa menghadapi masalah tersebut sendirian. Dengan atau tanpa bantuan dari


Nhea, gadis masalah Eun Ji Hae pasti tetap akan selesai juga.


Tidak akan ada seorang pun yang


berani dengannya. Jangankan mencari gara-gara. Membalas tatapan mata Eun Ji Hae


saja terkadang beberapa dari mereka tidak berani. Nyali anak-anak itu masih


belum cukup untuk menghadapi situasi tersebut.


“Bagaimana? Apa kalian masih


membutuhkan tambahan waktu untuk berbicara?” tanya Eun Ji Hae dengan tegas.


Alih-alih bertanya, kalimat Eun


Ji Hae barusan malah jauh lebih terkesan seperti sedang menyindir.


Jangan harap jika mereka akan


merasa tersindir, lalu sakit hati. Tidak sama sekali. Eun Ji Hae salah besar


jika ia beranggapan seperti itu. Sebagian besar siswa dari akademi sihir


Mooneta bukan orang yang seperti itu. Mereka akan bersikap bodo amat serta


tidak peduli. Terutama jika dalam situasi yang serba tidak kondusif seperti


ini. Apalagi setelah pandangan mereka terhadap Eun Ji Hae berubah drastis,


mereka tidak akan pernah lagi mendengarkan perkataaan gadis itu. Mereka hanya


menganggapnya sebagai angin lalu. Termasuk Nhea dan teman-temannya.


Dari semua orang yang tidak


setuju dengan keputusan Vallery yang dianggap diambil secara sepihak, Nhea,


Oliver , Chanwo, Jang Eunbi serta Jondae menjadi pihak yang paling menentang


keputusan tersebut.


Bukan karena mereka ingin membela


Nhea. Bukan hanya karena Nhea itu adalah sahabat mereka, salah satu dari


mereka. Itu adalah alasan kesekian. Namun, semua orang sepertinya juga tahu apa


alasan utama yang membuat mereka begitu menetang keputusan pimpinan akademi


terhadap Eun Ji Hae.


Eun Ji Hae adalah seorang


pencuri. Semua orang sedang menganggap jika Eun Ji Hae termasuk gadis yang


buruk. Bagaimana bisa ia melakukan hal tersebut terhadap adiknya sendiri. Terlepas


dari mereka saudara kandung atau tidak. Tapi, tetap saja antara Nhea dan Eun Ji


Hae masih memiliki hubungan kekerabatan. Meski pada dasarnya tidak ada hubungan


darah sama sekali. Sebab, Nhea dan Eun Ji Hae bukan saudar kandung.


Ternyata rumor yang sempat


beredar di seluruh penjuru akademi pada waktu itu ada benarnya juga. Entah


kenapa waktu itu Nhea dengan mudahnya membantah hal tersebut dengan


mentah-mentah. Bahkan karena Nhea memberikan pembelaan terhadap Eun Ji Hae,


hubungannya dengan teman-temannya yang lain bisa sampai rusak tak karuan


seperti itu.


Butuh waktu yang tidak sebentar


untuk mengembalikan situasinya seperti semula lagi. Bahkan mereka nyaris tidak


akan pernah kembali seperti dulu lagi pada waktu itu. Tapi, beruntung semesta


menyiapkan skenario lain.


Perpecahan sama sekali tidak


berarti apa-apa bagi mereka kala itu. Mungkin bagi beberapa orang itu tidak


mudah. belum tentu jika semua orang akan bertahan pada situasi tersebut.


Beruntung Nhea dihadapkan dengan orang-orang yang tepat. Sehingga tidak sulit


untuk mebangun kembali, apa yang sudah pernah rubuh sebelumnya.


Ia sama


sekali tidak pernah menyangka jika semesta akan menyajikan alur kehidupan yang


dimikian kepadanya. Sungguh tidak terduga.

__ADS_1


__ADS_2