
Nhea tidak tahu pasti apakah
rencana mereka kali ini akan berhasil atau tidak. Pekara berhasil atau tidaknya
adalah persoalan nomer dua. Yang pertama
dan paling utama adalah, mereka perlu mencobanya terlebih dahulu. Tidak akan
ada yang tahu apakah hal tersebut akan berhasil atau tidak, jika mereka tidak
melakukan aksi terebih dahulu.
Bagaimanapun juga situasinya,
mencoba adalah yang paling utama. Tidak peduli seberapa besar peluangnya. Soal keberuntungan
memang bisa saja berubah sewaktu-waktu. Tidak ada yang tahu. Tapi, memangnya
siapa yang mengira jika mereka akan berhasil. Kembali lagi kepada konsep
awalnya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi selama beberapa
detik ke depan. Meski pun beberapa manusia memang bisa memprediksi. Tapi,
apalah arti sebuah prediksi.
Setelah mendengar ucapan Chanwo
tadi, gadis ini merasa jauh lebih tenang. Tidak peduli dengan apa yang
orang-orang katakan. Nhea akan tetap pada rencananya. Eun Ji Hae sudah menjadi
sebuah target yang telah ia kunci. Gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
Lebih tepatnya Eun Ji Hae sudah masuk ke dalam perangkap yang mereka buat
sebelumnya. Dan gadis itu sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Itu adalah
sesuatu yang cukup menguntungkan bagi pihak Nhea dan juga Chanwo.
Semakin ke sini, langkah mereka
menuju keberhasilan semakin dekat. Tidak dapat dipungkiri jika di dalam hatinya
juga terselip sebuah keraguan. Ia tidak bisa menolak hal tersebut. Namun,
setelah Chanwo berusaha untuk meyakinkan dirinya, Nhea juga merasa semakin
yakin. Tidak ada alasan untuk tetap merasa ragu.
Kini pilihannya hanya ada dua. Gagal
atau berhasil. Dan pilihan tersebut sebenarnya sudah berada di tangan gadis itu
secara tidak langsung. Dengan atau tanpa ia sadari. Bisa dikatakan jika kendali
menuju dua hal tersebut sudah berada di tangan Nhea. Hanya tinggal ia saja yang
memutuskan. Mau kemana membawanya.
Mereka bisa saja berhasil, namun
juga tidak menutup kemungkinan untuk gagal. Kembali pada konsep awalnya. Kendali
untuk kedua pilihan tersebut berada di tangan Nhea. Presentase keberhasilannya
tidak bisa diperhitungkan sekarang. Pada dasarnya mereka berhak untuk memilih. Termasuk
Nhea. Kebetulan kali ini semesta sedang memberikannya sebuah keistimewaan.
***
Beberapa menit kemudian setelah
kejadian, situasi mulai mereda. Meski tampaknya belum sepenuhnya kembali
normal. Masih tetap ada saja yang berbicara. Semua orang masih mempermasalahkan
hal tersebut. Jelas saja jika mereka tidak terima. Jangankan para siswa biasa,
Nhea atau bahkan Oliver saaja tidak ikut dilibatkan dalam proses pengambilan
keputusan.
Tidak ada salahnya untuk
mengkritisi, atau bahkan memprotes. Namun, semua hal juga punya batasan serta
aturan tersendiri. Sarkasme sama sekali tidak diizinkan di sini. Apa lagi
anarkis. Mereka juga manusia yang masih memiliki akal yang sehat. Sebagai
manusia normal, sudah sepatutnya jika mereka harus bisa mengendalikan isi
pikirannya sendiri.
Pada hakikatnya, mereka yang
disebut sebagai manusia adalah orang yang juga bisa memanusiakan orang lain.
Itu sebabnya kenapa ada perikemanusiaan. Nhea sendiri sebenarnya belum cukup
paham dengan konsep tersebut. Sehingga ia belum bisa menggolongkan dirinya
termasuk ke yang mana satu.
Sejauh ini, gadis itu masih
bertindak dan berperilaku sebagai mana manusia pada umumnya. Dengan begitu
tidak akan ada yang merasa tersakiti olehnya. Nhea hanya akan menyakiti orang
lain, apa bila orang tersebut menyakiti dirinya.
Sebagai mahluk sosial, pada
umumnya manusia akan melakukan tidakan timbal balik. Termasuk merespon hal yang
sama kepada orang lain.
Sementara Nhea menunggu
kesempatan untuk melaksanakan salah satu bagian dari misinya tersebut, Bibi Ga
Eun tampak begitu frustrasi. Dari jauh terlihat jika ia sedang menyandarkan
tubunya pada sandaran kursi. Sembari sesekali memijat pelipisnya pelan.
“Apa bibi tidak apa-apa?” tanya
Eun Ji Hae berbasa-basi.
“Tidak, aku baik-baik saja,”
balas Bibi Ga Eun dengan nada yang cukup meyakinkan. Padahal jika dilihat dari
ekspresi wajahnya pada saat itu, malah tidak mencerminkan kalimat tersebut sama
sekali. Sungguh bertimbal balik.
“Sungguh?” tanya Eun Ji Hae
sekali lagi yang kemudian iktu diangguki oleh wanita itu.
Eun Ji Hae perlu memastikan satu
hal lagi di sini. Dia tidak bisa asal sembarangan menyimpulkan. Apalagi sampai
mengambil tindakan senrdiri. Mengingat jika saat ini posisinya belum cukup
__ADS_1
kuat. Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki wewenang untuk melakukan apa pun
itu tanpa persetujuan dari pimpinan akademi.
Selama ini seperti yang mereka
ketahui jika Vallery adalah pimpinan akademi. Sementara itu Wilson merupakan
wakil yang sekaligus menjadi suaminya. Dan Bibi Ga Eun memiliki jabatan sebagai
kepala sekolah. Jadi, bisa dikatakan jika Bibi Ga Eun hanya memiliki wewenang
untuk mengatur segala hal yang terkait dengan pelajaran atau bahkan sistem
pendidikan di akademi. Bahkan termasuk gedung sekolahnya juga.
Sementara itu, di sisi lain Vallery
memiliki hak dan wewenang yang jauh lebh besar jika dibandingkan dengan Bibi Ga
Eun. Kalau Bibi Ga Eun hanya bisa mengatur perihal sistem sekolah dan yang
lainnya, selama menyangkut tentang pendidikan di akademi ini. Maka di sisi lain
Vallery memiliki hak penuh tas keseluruhan akademi ini. Baik dari segi mana pun
itu. Hanya Vallery lah satu-satunya orang yang berhak di sini. Tidak ada yang
lain. Namun, beberapa waktu belakangan ini Vallery selalu mempercayakan segala
halnya kepada Bibi Ga Eun. Sebaliknya, Bibi Ga Eun malah mempecayakan segalanya
kepada Eun Ji Hae.
Jadi, secara tidak langsung Eun
Ji Hae sduah merupakan tangan kanan dari Vallery. Mengingat juga wanita itu
sudah tidak seenerjik itu lagi, tidak ada salahnya jika seseorang menggantikan
posisinya tersebut. Tentu saja Vallery sudah menentukan siapa orang yang tepat
untuk mengisi posisi tersebut. Dan pilihannya jatuh kepada Eun Ji Hae.
Padahal sejak awal hanya Nhea lah
yang bisa mengisi posisi tersebut. Sebenarnya mereka sudah menyalahi aturan. Mungkin
saat ini Nhea akan tampak diam. Namun, sebentar lagi situasinya akan berubah. Gadis
itu akan segera buka suara untuk mengungkapkan sesuatu yang menurutnya benar.
Tapi, kembali lagi ke konteks
awal. Keputusan berada di tangan Vallery. Tidak ada yang bisa membantahnya. Mengingat
jika wanita itu berhak atas segala hal yang berada di akademi ini. Termasuk
sistem pengaturan kepengurusan. Tidak ada yang berhak untuk ikut campur. Termasuk
Nhea.
Nhea juga tidak bsia disalahkan
di sini. Bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum ia terlahir ke dunia ini, Nhea
sudah ditetapkan sebagai generasi berikutnya yang akan melanjutkan akademi
sihir Mooneta. Di dalam buku sejarah akademi sihir Mooneta jelas-jelas
disebutkan.
“Sepertinya mereka tidak pernah
membaca buku sejarah akademi yang satu itu sebelum memutuskan untuk
pelan.
Rasanya begitu miris. Bagaimana bisa
keluarga ini hidup tanpa mengetahui latar belakang keluarga yang lainnya juga. Sungguh
tidak masuk akal. Mereka akan terkesan tidak peduli sama sekali. Orang-orang
yang berada di sini hanya tergila-gila dengan kekuasaan. Meski dengan kekuasaan
kau bisa melakukan segalanya, tapi kekuasaan bukanlah segalanya.
Nhea sendiri tidaak benar-benar
yakin, apakah Vallery dan Bbi Ga Eun telah membaca habis isi buku itu. Atau
paling tidak, tahu sedikit saja soal buku tersebut. Karena bagaimanapun juga,
hal tersebut pasti menyangkut ke kehidupan pribadi mereka masing-masing. Bahkan
gambaran masa depan tentang kehidupan Nhea sudah sempat tertulis di sana.
Padahal pada waktu itu Vallery belum menikah dengan Wilson.
Cukup membingungkan, sekaligus
tidak masuk akal. Entah dari mana penulis tersebut bisa tahu. Padahal waktu itu
belum ada satu pun yang terjadi. Tapi, dengan mudahnya ia bisa menuliskan
penggalan-penggalan kejadian dalam buku tersebut.
Terkadang Nhea juga merasa
penasaran dengan penulisnya. Untuk pertama kalinya ia menjumpai sebuah buku
tanpa mencantumkan nama penulisnya di bagian sampul buku. Jangankan bagian
sampul. Di dalam halaman biasa saja sama sekali tidak ada. Terkadang gadis itu
bertanya-tanya, kenapa ia bisa begitu misterius.
“Baiklah, perhatian semuanya!”
seru Eun Ji Hae dari depan sana.
Harus diakui jika suaranya memang
cukup lantang. Chanwo sendiri bahkan ikut mengakui hal tersebut. Tidak dapat
dipungkiri memang, jika suara Eun Ji Hae berhasil menggema hingga ke seluruh
penjuru ruangan. Semua orang yang berada di dalam sana adalah saksinya. Termasuk
Nhea dan yang lain.
Seisi ruangan menjadi hening
karena Eun Ji Hae. Sekarang ia telah berhasil untuk menghimpun kekuatannya
kembali. Gadis itu sama sekali tidak bisa diambarang satu menit saja. Eun Ji
Hae selalu ingin menjadi pusat perhatian orang lain. Dan yang lebih
menyebalkannya lagi adalah, Eun Ji Hae selalu berhasil dalam mendapatkan apa
pun yang ia mau. Tanpa ada halangan sedikit pun.
Seolah mendapatkan perhatian dari
semua orang dalam waktu dekat bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Eun Ji Hae
memang telah beberapa kali membuktikan hal tersebut. Sehingga tidak ada
__ADS_1
keraguan sama sekali.
“Ck! Apa lagi yang akan ia
lakukan kali ini?” ucap Nhea sambil berdecak sebal.
Yang dimaksud oleh gadis ini
adalah Eun Ji Hae. Memangnya siapa lagi. Sejauh ini memang hanya Eun Ji Hae
satu-satunya orang yang berhasil memancing emosi gadis itu. Dan memang selalu
Eun Ji Hae yang memancing keributan terlebih dahulu. Entah kenapa ia begitu
hobi untuk mencari gara-gara dengan Nhea. Sepertinya itu sudah menjadi sebuah
kebiassaan baru baginya.
Di sisi lain, Nhea sendiri memang
sudah kehilangan rasa simpatinya terhadap Eun Ji Hae. Cara ia memandang gadis
itu sudah tidak sama lagi dengan yang dulu. Jika dulu gadis itu sempat sangat
menghormati Eun Ji Hae, maka sekarang berbeda. Yang terjadi malah kebalikannya.
Ia bahkan sudah tidak menghormati Eun Ji Hae lagi.
Jika beberapa saat yang lalu
gadis itu sempat membantu Eun Ji Hae untuk lepas dari rumor yang beredar di
akademi, Nhea bahkan ikut membelanya mati-matian. Secara tidak langsung, ia
memang sudah menolong Eun Ji Hae.
Pada waktu itu Nhea merasa jika
ia memang harus membantu Eun Ji Hae pada saat-saat seperti itu. Tidak mungkin
jika ia membiarkan kakaknya sendirian dalam menghadapi masalah tersebut. Tapi,
sebenarnya Nhea bisa saja bersikap acuh tak acuh terhadap skandal Eun Ji Hae.
Gadis itu tidak harus menolongnya. Mengingat jika Eun Ji Hae memiliki posisi
yang cukup kuat di akademi sihir Mooneta. Nhea yakin jika sebenarnya Eun Ji Hae
bisa menghadapi masalah tersebut sendirian. Dengan atau tanpa bantuan dari
Nhea, gadis masalah Eun Ji Hae pasti tetap akan selesai juga.
Tidak akan ada seorang pun yang
berani dengannya. Jangankan mencari gara-gara. Membalas tatapan mata Eun Ji Hae
saja terkadang beberapa dari mereka tidak berani. Nyali anak-anak itu masih
belum cukup untuk menghadapi situasi tersebut.
“Bagaimana? Apa kalian masih
membutuhkan tambahan waktu untuk berbicara?” tanya Eun Ji Hae dengan tegas.
Alih-alih bertanya, kalimat Eun
Ji Hae barusan malah jauh lebih terkesan seperti sedang menyindir.
Jangan harap jika mereka akan
merasa tersindir, lalu sakit hati. Tidak sama sekali. Eun Ji Hae salah besar
jika ia beranggapan seperti itu. Sebagian besar siswa dari akademi sihir
Mooneta bukan orang yang seperti itu. Mereka akan bersikap bodo amat serta
tidak peduli. Terutama jika dalam situasi yang serba tidak kondusif seperti
ini. Apalagi setelah pandangan mereka terhadap Eun Ji Hae berubah drastis,
mereka tidak akan pernah lagi mendengarkan perkataaan gadis itu. Mereka hanya
menganggapnya sebagai angin lalu. Termasuk Nhea dan teman-temannya.
Dari semua orang yang tidak
setuju dengan keputusan Vallery yang dianggap diambil secara sepihak, Nhea,
Oliver , Chanwo, Jang Eunbi serta Jondae menjadi pihak yang paling menentang
keputusan tersebut.
Bukan karena mereka ingin membela
Nhea. Bukan hanya karena Nhea itu adalah sahabat mereka, salah satu dari
mereka. Itu adalah alasan kesekian. Namun, semua orang sepertinya juga tahu apa
alasan utama yang membuat mereka begitu menetang keputusan pimpinan akademi
terhadap Eun Ji Hae.
Eun Ji Hae adalah seorang
pencuri. Semua orang sedang menganggap jika Eun Ji Hae termasuk gadis yang
buruk. Bagaimana bisa ia melakukan hal tersebut terhadap adiknya sendiri. Terlepas
dari mereka saudara kandung atau tidak. Tapi, tetap saja antara Nhea dan Eun Ji
Hae masih memiliki hubungan kekerabatan. Meski pada dasarnya tidak ada hubungan
darah sama sekali. Sebab, Nhea dan Eun Ji Hae bukan saudar kandung.
Ternyata rumor yang sempat
beredar di seluruh penjuru akademi pada waktu itu ada benarnya juga. Entah
kenapa waktu itu Nhea dengan mudahnya membantah hal tersebut dengan
mentah-mentah. Bahkan karena Nhea memberikan pembelaan terhadap Eun Ji Hae,
hubungannya dengan teman-temannya yang lain bisa sampai rusak tak karuan
seperti itu.
Butuh waktu yang tidak sebentar
untuk mengembalikan situasinya seperti semula lagi. Bahkan mereka nyaris tidak
akan pernah kembali seperti dulu lagi pada waktu itu. Tapi, beruntung semesta
menyiapkan skenario lain.
Perpecahan sama sekali tidak
berarti apa-apa bagi mereka kala itu. Mungkin bagi beberapa orang itu tidak
mudah. belum tentu jika semua orang akan bertahan pada situasi tersebut.
Beruntung Nhea dihadapkan dengan orang-orang yang tepat. Sehingga tidak sulit
untuk mebangun kembali, apa yang sudah pernah rubuh sebelumnya.
Ia sama
sekali tidak pernah menyangka jika semesta akan menyajikan alur kehidupan yang
dimikian kepadanya. Sungguh tidak terduga.
__ADS_1