
Sesuai dengan ketentuan yang sudah sempat mereka sepakati
tadi, Nhea telah memantapkan niatnya untuk kembali ke asrama. Mulai hari ini ia
akan tetap berada di sana. Menghadapi berbagai jenis situasi. Apa pun yang
terjadi, Nhea akan tetap berada di sana.
Bertahan adalah satu-satunya cara agar kau menang dari
mereka yang ingin merebut posisimu. Mereka akan rela melakukan apa saja untuk
membuatmu menyerah. Namun, dengan tetap bertahan maka kau akan dinyatakan
sebagai pemenangnya.
Musuh yang sebenarnya belum terlihat dengan jelas sejauh
ini. Nhea hanya bisa meraba dan menerka. Bukan ingin berburuk sangka. Tapi, ia
wajib tahu dan waspada. Siapa-siapa saja orang yang berpotensi untuk
menyerangnya. Setidaknya dengan selalu berhati-hati, maka ia akan tetap aman. Tidak
ada yang perlu dicemaskan sama sekali. Nhea hanya perlu mengingat satu hal,
jika dirinya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin.
“Tapi sebelum kita pergi, aku perlu membereskan semua
kekacauan ini,” ucap Nhea secara tiba-tiba.
Paling tidak, jangan sapai ada seorang pun yang merasa
curiga jika sebelumnya pernah ada orang lain yang masuk ke dalam sini. Nhea
harus mengembalikan kembali semua barang ke tempatnya. Dengan begitu setidaknya
tingkat kecurigaan mereka pasti akan jauh lebih berkurang.
“Kalau begitu biar aku bantu!” balas pria tersebut dengan
begitu antusias.
Sebenarnya Nhea bisa melakukannya sendiri. Tapi, untuk yang
kesekian kalinya Chanwo kembali menawarkan bantuan kepada gadis itu. Nhea tidak
mungkin menolaknya. Akan terkesan sangat tidak sopan nanti. Lagipula tidak ada
salahnya juga setelah dipikir-pikir, kalau Chanwo ikut membantu. Dengan begitu
Nhea akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.
“Kalau begitu, mari kita mulai dari sini!” ujar Nhea sembari
menunjuk ke arah rak buku.
Beberapa hari ini gadis itu menghabiskan sebagian besar
waktunya dengan membaca koleksi buku yang mereka miliki di sini. Sebenarnya hal
tersebut sama saja dengan menyingkap sejarah akademi mereka. Tapi, tenang saja.
Nhea tidak akan membocorkannya kepada siapa pun. Ia bukan tipikal orang yang
seperti itu. Semua informasi yang ia ketahui sejauh ini akan tetap berada di
dirinya. Dan memang cukup hanya sampai Nhea saja yang tahu. Ia tidak akan
membagi informasi tersebut kepada siapa pun.
__ADS_1
Mereka berdua harus mengembalikan kembali seluruh posisi
buku seperti semula. Tidak boleh ada yang sampai tertukar. Kesalahan sedikit
saja mungkin bisa menyebabkan akibat yang fatal. Kebetulan sekali ingatan gadis
ini masih cukup kuat. Jadi, tidak mungkin sampai ada kesalahan. Nhea cukup
hapal betul dengan tata letak setiap hal kecil di ruangan ini. Sebab, ia terus
menghabiskan waktunya selama tiga haris penuh di sini. Waktu tersebut cukup
baginya untuk menghapal setiap sudut ruangan. Lagipula tempat ini juga tidak
terlalu besar.
Sementara Chanwo mengumpulkan kembali buku-buku yang berserakan
untuk disusun kembali nanti, Nhea menyibukkan dirinya pada titik lain di
ruangan ini. Gadis itu berencana untuk meletakkan kembali mahkota yang sempat
ia turunkan tadi kembali ke tempatnya. Bukan hari ini. Nhea tidak akan
mengambilnya sekarang dan mengakui benda tersebut sebagai miliknya. Baginya sekarang
ini bukan waktu yang tepat. Ia tidak tahu kapan, tapi pasti akan terjadi suatu
saat nanti. Entah itu dalam waktu dekat atau malah sebaliknya.
“Apa sudah semuanya?” tanya Nhea begitu kembali yang
kemudian diangguki oleh pria itu.
Tidak perlu waktu lama baginya untuk merekayasa mahkota
tersebut. Ia menatanya dengan sedemikian rupa. Berusaha untuk meminimalisir
Nhea termasuk kepada salah satu orang yang sempat mengacaukan tempat ini juga
sebelumnya.
Setelah urusan mahkota selesai, kini ia akan beralih kepada
tumpukan buku yang satu ini. Chanwo sudah mengumpulkan semuanya. Total ada tiga
belas buku yang pernah ia baca. Dan pria itu juga sudah memastikan jika buku
yang ia kumpulkan sudah sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Tidak ada yang
perlu dicemaskan.
Mereka hanya perlu menyusunnya di rak. Memulihkan situasi di
tempat ini. Setelah semuanya selesai, maka hal terakhir yang perlu mereka
lakukan adalah memastikan jika semuanya memang benar-benar sudah beres.
Lagi-lagi tidak perlu waktu lama untuk membereskan semua
kekacauan ini. Di tangan Nhea dan juga Chanwo semuanya bisa dilakukan hanya
dalam hitungan menit.
“Apa kita sudah menyelesaikan semuanya?”
Kali ini giliran Chanwo yang bertanya kepada gadis itu.
“Sepertinya sudah,” balas Nhea secara gamblang.
“Tapi, aku akan memeriksanya sekali lagi,” timpal gadis itu
__ADS_1
kemudian.
“Baiklah,” kata Chanwo mengiyakan perkataan gadis itu.
Setelah memastikan sekali lagi jika semuanya baik-baik saja,
sepertinya mereka akan aman. Tidak ada satu pun hal yang menarik perhatian
orang awam di sini. Semuanya tampak begitu normal. Bahkan kecil kemungkinan bagi orang yang teliti
sekali pun untuk menemukan kejanggalan di tempat ini. Pasalnya, nyaris tidak
ada hal seperti itu.
Harus diakui memang, jika Nhea termasuk orang yang hebat
dalam memutar balikkan situasi. Ia bahkan bisa mengembalikan semuanya seperti
sedia kala. Sama persis. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Selain itu, di
satu sisi sebenarnya ia juga cukup beruntung malam ini. Sebab otaknya berhasil
diajak untuk bekerja sama.
Anggap saja jika hari ini adalah hari keberuntungannya. Dewi
Fortuna kembali berpihak kepadanya. Tidak masalah sama sekali jika itu hanya
berlaku untuk kurun waktu satu malam saja. Atau bahkan yang lebih buruk malah
hanya beberapa jam saja. Namun, Nhea samas ekali tidak pernah menyesali hal
tersebut.
Saat ini satu tim di dalam kepalanya tengah berasumsi jika
Dewi Fortuna akan kembali berpaling darinya esok. Setidaknya dalam waktu dekat
pasti ia akan kedatangan masalah baru lagi. Kehidupan gadis itu tidak pernah
benar-benar terbebas dari yang namanya masalah. Seolah sebuah hal buruk yang
bernama masalah selalu membelenggu dirinya.
Layaknya seperti sebuah kutukan, Nhea selalu merasa terikat
dengan hal tersebut. Berulang kali ia sudah mencoba untuk melepaskan diri, tapi
hasilnya tetap sama saja. Nihil. Jadi, sampai sekarang ia enggak berharap
lebih. Baik kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Terutama takdir. Tidak
ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Sejauh
ini Nhea hanya mengikuti alur cerita yang sudah disiapkan semesta.
“Bagaimana? Apakah semuanya sudah sesuai?” interupsi Chanwo
begitu gadis itu kembali.
“Kurasa semuanya sudah tepat. Tidak ada lagi yang perlu kita
cemaskan,” jawab Nhea.
“Baiklah, itu berarti kita sudah bisa meninggalkan tempat
ini sekarang bukan?” tanya pria itu kembali.
Sementara itu, sosok yang diajak
bicara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah untuk mengiyakan
__ADS_1
perkataan Chanwo barusan.