Mooneta High School

Mooneta High School
Clean Up


__ADS_3

Sesuai dengan ketentuan yang sudah sempat mereka sepakati


tadi, Nhea telah memantapkan niatnya untuk kembali ke asrama. Mulai hari ini ia


akan tetap berada di sana. Menghadapi berbagai jenis situasi. Apa pun yang


terjadi, Nhea akan tetap berada di sana.


Bertahan adalah satu-satunya cara agar kau menang dari


mereka yang ingin merebut posisimu. Mereka akan rela melakukan apa saja untuk


membuatmu menyerah. Namun, dengan tetap bertahan maka kau akan dinyatakan


sebagai pemenangnya.


Musuh yang sebenarnya belum terlihat dengan jelas sejauh


ini. Nhea hanya bisa meraba dan menerka. Bukan ingin berburuk sangka. Tapi, ia


wajib tahu dan waspada. Siapa-siapa saja orang yang berpotensi untuk


menyerangnya. Setidaknya dengan selalu berhati-hati, maka ia akan tetap aman. Tidak


ada yang perlu dicemaskan sama sekali. Nhea hanya perlu mengingat satu hal,


jika dirinya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin.


“Tapi sebelum kita pergi, aku perlu membereskan semua


kekacauan ini,” ucap Nhea secara tiba-tiba.


Paling tidak, jangan sapai ada seorang pun yang merasa


curiga jika sebelumnya pernah ada orang lain yang masuk ke dalam sini. Nhea


harus mengembalikan kembali semua barang ke tempatnya. Dengan begitu setidaknya


tingkat kecurigaan mereka pasti akan jauh lebih berkurang.


“Kalau begitu biar aku bantu!” balas pria tersebut dengan


begitu antusias.


Sebenarnya Nhea bisa melakukannya sendiri. Tapi, untuk yang


kesekian kalinya Chanwo kembali menawarkan bantuan kepada gadis itu. Nhea tidak


mungkin menolaknya. Akan terkesan sangat tidak sopan nanti. Lagipula tidak ada


salahnya juga setelah dipikir-pikir, kalau Chanwo ikut membantu. Dengan begitu


Nhea akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.


“Kalau begitu, mari kita mulai dari sini!” ujar Nhea sembari


menunjuk ke arah rak buku.


Beberapa hari ini gadis itu menghabiskan sebagian besar


waktunya dengan membaca koleksi buku yang mereka miliki di sini. Sebenarnya hal


tersebut sama saja dengan menyingkap sejarah akademi mereka. Tapi, tenang saja.


Nhea tidak akan membocorkannya kepada siapa pun. Ia bukan tipikal orang yang


seperti itu. Semua informasi yang ia ketahui sejauh ini akan tetap berada di


dirinya. Dan memang cukup hanya sampai Nhea saja yang tahu. Ia tidak akan


membagi informasi tersebut kepada siapa pun.

__ADS_1


Mereka berdua harus mengembalikan kembali seluruh posisi


buku seperti semula. Tidak boleh ada yang sampai tertukar. Kesalahan sedikit


saja mungkin bisa menyebabkan akibat yang fatal. Kebetulan sekali ingatan gadis


ini masih cukup kuat. Jadi, tidak mungkin sampai ada kesalahan. Nhea cukup


hapal betul dengan tata letak setiap hal kecil di ruangan ini. Sebab, ia terus


menghabiskan waktunya selama tiga haris penuh di sini. Waktu tersebut cukup


baginya untuk menghapal setiap sudut ruangan. Lagipula tempat ini juga tidak


terlalu besar.


Sementara Chanwo mengumpulkan kembali buku-buku yang berserakan


untuk disusun kembali nanti, Nhea menyibukkan dirinya pada titik lain di


ruangan ini. Gadis itu berencana untuk meletakkan kembali mahkota yang sempat


ia turunkan tadi kembali ke tempatnya. Bukan hari ini. Nhea tidak akan


mengambilnya sekarang dan mengakui benda tersebut sebagai miliknya. Baginya sekarang


ini bukan waktu yang tepat. Ia tidak tahu kapan, tapi pasti akan terjadi suatu


saat nanti. Entah itu dalam waktu dekat atau malah sebaliknya.


“Apa sudah semuanya?” tanya Nhea begitu kembali yang


kemudian diangguki oleh pria itu.


Tidak perlu waktu lama baginya untuk merekayasa mahkota


tersebut. Ia menatanya dengan sedemikian rupa. Berusaha untuk meminimalisir


Nhea termasuk kepada salah satu orang yang sempat mengacaukan tempat ini juga


sebelumnya.


Setelah urusan mahkota selesai, kini ia akan beralih kepada


tumpukan buku yang satu ini. Chanwo sudah mengumpulkan semuanya. Total ada tiga


belas buku yang pernah ia baca. Dan pria itu juga sudah memastikan jika buku


yang ia kumpulkan sudah sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Tidak ada yang


perlu dicemaskan.


Mereka hanya perlu menyusunnya di rak. Memulihkan situasi di


tempat ini. Setelah semuanya selesai, maka hal terakhir yang perlu mereka


lakukan adalah memastikan jika semuanya memang benar-benar sudah beres.


Lagi-lagi tidak perlu waktu lama untuk membereskan semua


kekacauan ini. Di tangan Nhea dan juga Chanwo semuanya bisa dilakukan hanya


dalam hitungan menit.


“Apa kita sudah menyelesaikan semuanya?”


Kali ini giliran Chanwo yang bertanya kepada gadis itu.


“Sepertinya sudah,” balas Nhea secara gamblang.


“Tapi, aku akan memeriksanya sekali lagi,” timpal gadis itu

__ADS_1


kemudian.


“Baiklah,” kata Chanwo mengiyakan perkataan gadis itu.


Setelah memastikan sekali lagi jika semuanya baik-baik saja,


sepertinya mereka akan aman. Tidak ada satu pun hal yang menarik perhatian


orang awam di sini. Semuanya tampak begitu normal. Bahkan  kecil kemungkinan bagi orang yang teliti


sekali pun untuk menemukan kejanggalan di tempat ini. Pasalnya, nyaris tidak


ada hal seperti itu.


Harus diakui memang, jika Nhea termasuk orang yang hebat


dalam memutar balikkan situasi. Ia bahkan bisa mengembalikan semuanya seperti


sedia kala. Sama persis. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Selain itu, di


satu sisi sebenarnya ia juga cukup beruntung malam ini. Sebab otaknya berhasil


diajak untuk bekerja sama.


Anggap saja jika hari ini adalah hari keberuntungannya. Dewi


Fortuna kembali berpihak kepadanya. Tidak masalah sama sekali jika itu hanya


berlaku untuk kurun waktu satu malam saja. Atau bahkan yang lebih buruk malah


hanya beberapa jam saja. Namun, Nhea samas ekali tidak pernah menyesali hal


tersebut.


Saat ini satu tim di dalam kepalanya tengah berasumsi jika


Dewi Fortuna akan kembali berpaling darinya esok. Setidaknya dalam waktu dekat


pasti ia akan kedatangan masalah baru lagi. Kehidupan gadis itu tidak pernah


benar-benar terbebas dari yang namanya masalah. Seolah sebuah hal buruk yang


bernama masalah selalu membelenggu dirinya.


Layaknya seperti sebuah kutukan, Nhea selalu merasa terikat


dengan hal tersebut. Berulang kali ia sudah mencoba untuk melepaskan diri, tapi


hasilnya tetap sama saja. Nihil. Jadi, sampai sekarang ia enggak berharap


lebih. Baik kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Terutama takdir. Tidak


ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Sejauh


ini Nhea hanya mengikuti alur cerita yang sudah disiapkan semesta.


“Bagaimana? Apakah semuanya sudah sesuai?” interupsi Chanwo


begitu gadis itu kembali.


“Kurasa semuanya sudah tepat. Tidak ada lagi yang perlu kita


cemaskan,” jawab Nhea.


“Baiklah, itu berarti kita sudah bisa meninggalkan tempat


ini sekarang bukan?” tanya pria itu kembali.


Sementara itu, sosok yang diajak


bicara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah untuk mengiyakan

__ADS_1


perkataan Chanwo barusan.


__ADS_2