Mooneta High School

Mooneta High School
Forget it


__ADS_3

Entah kapan ia akan keluar dari tempat ini. Yang jelas,


bukan sekarang. Mungkin besok. Nhea sebenarnya juga tidak betah jika harus


berlama-lama berada di ruangan ini. Sesekali ia perlu keluar untuk sekedar


mencari udara segar. Nhea berharap agar Chanwo kembali mengunjunginya lagi malam


ini. Untuk mengusir kebosanan, Nhea perlu teman bicara.


Kalau dipikir-pikir, tampanya peristiwa menghilangnya gadis


ini sama sekali tidak menjadi suatu masalah besar bagi akademi sihir Mooneta. Tidak


ada seorang pun yang mncemaskannya. Termasuk anggota keluarganya sendiri. Anggaplah


jika Wilson merasa tenang karena tahu jika Nhea masih berada di sekitar sini


dan ia aman. Namun, bagaimana dengan yang lainnya?


Bahkan para siswa sama sekali tidak mempertanyakan kemana


menghilangnya gadis itu. Hanya teman-teman denkatnya saja yang berusaha


melakukan pencarian hingga larut malam. Dan Chanwo pantas untuk disebut sebagai


si pemberani. Pasalnya, pria itu menghampiri Nhea hingga kemari. Padahal setelah


dipikir-pikir, kemungkinan besar ia akan tertangkap oleh Wilson.


Sebentar lagi matahari akan keluar dari sarangnya. Hari baru


akan segera dimulai. Namun, Nhea sama sekali tidak memiliki semangat untuk itu.


Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali. Bukannya beristirahat, gadis


itu malah menamatkan buku Sofia, kemudian menyelinap ke dapur untuk mengambil


persediaan makanan. Tidak hanya sampai di situ saja. Ia bahkan menghabiskan


sisa malam bersama Chanwo. Keduanya berbincang banyak.


Meski sekarang sudah menunjukkan pukul empat pagi lewat beberapa


menit, tapi langit masih gelap gulita. Hal tersebut tidak akan berlangsung


lama. Karena bisa dipastikan jika sebentar lagi suasananya akan berubah


drastis.


Nhea baru memtuskan untuk pergi tidur, di saat yang lain


akan bangun dan bersiap. Untuk pertama kalinya ia melakukan siklus terbalik. Hal


tersebut pasti akan berdampak kepada kesehatannya. Meski begitu, Nhea tidak


pernah memusingkannya sama sekali.


Selama ia terlelap nanti, Nhea berharap agar tidak ada hal


buruk yang terjadi. Terutama jika ditujukan kepadanya. Setidaknya berikan gadis


itu jeda untuk sesaat.


***


“Apa kau sudah menemukan Nhea?” tanya Oliver kepada Jang


Eunbi.


“Tidak sama sekali,” balas gadis itu.


Mereka berdua berjalan beriringan dari asrama menuju ke


gedung utama. Aktivitas setiap orang akan berlangsung seperti biasanya. Seolah

__ADS_1


tidak ada apa-apa. Sebentar lagi jamuan makan akan segera dimulai. Setelah itu


mereka akan melakukan upacara penghormatan kepada setiap orang yang sudah


bekerja keras. Kemarin akademi sihir Mooneta kembali menduduki peringkat


pertama untuk total perolehan nilai.


Keduanya tidak tahu harus pergi mencari kemana lagi. Rasanya


mereka sudah menghampiri setiap tempat yang ada di kota ini. Jangan tanya soal


hasilnya. Karena sampai sekarang masih tetap nihil.


“Kemana lagi kita akan mencari Nhea nanti?” tanya Jang


Eunbi.


“Entahlah, aku sudah kehabisan akal!” serahnya begitu saja.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini dengan


langkah yang lebih cepat. Dari kemarin Oliver sudah berusaha untuk tidak


memikirkan Nhea. Tapi, sama sekali tidak bisa. Bukannya gadis itu berubah


menjadi pengkhianat yang mendadak tidak peduli dengan sahabatnya sendiri.


Sejak kemarin ia sudah berpikir terlalu keras. Sampai-sampai


kepalanya akan pecah rasanya. Masalah yang mereka hadapi sama sekali belum


menemukan sebuah titik terang. Oliver juga manusia biasa. Dia perlu jeda


sesaat. Paling tidak untuk menenangkan pikirannya sendiri. Memangnya manusia


mana yang bisa berpikir dengan jernih di saat kepalanya sedang berisik?


Begitu sampai di ruang jamuan makan, mereka berdua tidak


berada di sana lebih dulu dari mereka. Secara otomatis keempatnya duduk saling


berhadapan. Posisi seperti ini paling cocok untuk saling berdiskusi.


“Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan tanda-tanda


keberadaan Nhea?” tanya Oliver tanpa basa-basi.


Jongdae tampaknya tidak berniat untuk menjawabnya dengan


kata-kata. Pria itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


“Bagaimana denganmu?” tanya gadis itu sekali lagi.


Yang ia maksud kali ini adalah Chanwo. Pasalnya, pria itu


sama sekali belum memberikan jawaban dalam bentuk apa pun.Oliver akan terus


mendesaknya sampai ia mendapatkan apa yang diinginkan.


“Belum juga,” jawab Chanwo dengan ragu.


“Kau yakin?” tanya Oliver lagi. Kali ini ia sambil menaikkan


salah satu alisnya.


“Memangnya aku tampak tidak cukup meyakinkan bagimu?” tanya


Chanwo balik.


Menyadari jika Oliver mulai merasa curiga atas dirinya, pria


itu buru-buru mengubah sikap serta perilakunya. Ia berusaha untuk terlihat


biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa kemarin malam. Padahal, ia sangat

__ADS_1


ingin memberi tahu teman-temannya yang lain soal keberadaan Nhea. Tentu agar


mereka tidak merasakan cemas yang berkepanjangan. Bagaimana bisa ia terus


bersikap tenang, sementara orang-orang di sekitarnya merasakan yang sebaliknya.


Namun, di sisi lain ia harus menepati janjinya kepada gadis


itu. Ia tidak ingin Nhea merasa kecewa kepadanya. Kemungkinan terburuknya


adalah, gadis itu mungkin akan kehilangan rasa percaya terhadap Chanwo.


Sekarang Chanwo tengah ditempatkan pada posisi yang serba


salah. Ia tidak bisa memilih salah satunya. Mendadak ia merasa tidak ingin


terlibat sama sekali. Tapi, situasi sudah membelenggu dirinya agar tidak bisa


kabur kemana-mana.


“Aku yakin jika Nhea baik-baik saja, dimana pun ia berada!”


celetuk Chanwo secara tiba-tiba.


“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” tanya Jongdae.


“Setidaknya kita harus percaya kepada teman kita sendiri,”


dalih pria itu.


Padahal ia sedang memberikan sebuah isyarat tersembunyi,


jika sebenarnya Nhea memang sedang baik-baik saja. Mereka tidak perlu terlalu


memusingkan Nhea. Karena pada dasarnya memang tidak ada hal buruk yang menimpa


gadi situ.


Lagi-lagi Chanwo berusaha untuk mengalihkan topik


pembicaraan mereka. Terlalu sering membicarakan gadis itu juga tidak baik. Nhea


pasti akan merasa sangat tidak nyaman.


Paling tidak sekarang mereka harus menikmati sarapannya. Ada


hari penuh misteri yang perlu mereka hadapi. Jangan pernah berpikir untuk


menghindar, apalagi berhenti di tengah jalan. Bukan begitu cara bermainnya. Kau


harus sampai di garis finish. Tidak penting berada di urutan ke berapa dirimu. Satu-satunya


hal yang penting di sini adalah kau bisa menyelesaikan permainannya. Karena sekali


lagi, menang dan kalah dalam sebuah permainan sudah biasa.


“Selama kita masih cukup muda dan kuat untuk berjuang,


kenapa harus menyerah?”


Nhea pernah mengucapkan kalimat tersebut beberapa hari yang


lalu. Tepat setelah pengumuman siapa saja yang akan masuk ke babak final. Gadis


itu memberikan semangat kepada Chanwo. Sebab, pria itu sempat merasa tidak


becus. Tim mereka tidak berhasil menduduki peringkat tiga besar. Melainkan berada


pada posisi ke lima.


Sekarang Chanwo berhasil


membuktikannya. Jika ia tidak akan menyerah. Buktinya, tim mereka malah


berhasil  menduduki peringkat pertama di

__ADS_1


malam final. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan.


__ADS_2