
Entah kapan ia akan keluar dari tempat ini. Yang jelas,
bukan sekarang. Mungkin besok. Nhea sebenarnya juga tidak betah jika harus
berlama-lama berada di ruangan ini. Sesekali ia perlu keluar untuk sekedar
mencari udara segar. Nhea berharap agar Chanwo kembali mengunjunginya lagi malam
ini. Untuk mengusir kebosanan, Nhea perlu teman bicara.
Kalau dipikir-pikir, tampanya peristiwa menghilangnya gadis
ini sama sekali tidak menjadi suatu masalah besar bagi akademi sihir Mooneta. Tidak
ada seorang pun yang mncemaskannya. Termasuk anggota keluarganya sendiri. Anggaplah
jika Wilson merasa tenang karena tahu jika Nhea masih berada di sekitar sini
dan ia aman. Namun, bagaimana dengan yang lainnya?
Bahkan para siswa sama sekali tidak mempertanyakan kemana
menghilangnya gadis itu. Hanya teman-teman denkatnya saja yang berusaha
melakukan pencarian hingga larut malam. Dan Chanwo pantas untuk disebut sebagai
si pemberani. Pasalnya, pria itu menghampiri Nhea hingga kemari. Padahal setelah
dipikir-pikir, kemungkinan besar ia akan tertangkap oleh Wilson.
Sebentar lagi matahari akan keluar dari sarangnya. Hari baru
akan segera dimulai. Namun, Nhea sama sekali tidak memiliki semangat untuk itu.
Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali. Bukannya beristirahat, gadis
itu malah menamatkan buku Sofia, kemudian menyelinap ke dapur untuk mengambil
persediaan makanan. Tidak hanya sampai di situ saja. Ia bahkan menghabiskan
sisa malam bersama Chanwo. Keduanya berbincang banyak.
Meski sekarang sudah menunjukkan pukul empat pagi lewat beberapa
menit, tapi langit masih gelap gulita. Hal tersebut tidak akan berlangsung
lama. Karena bisa dipastikan jika sebentar lagi suasananya akan berubah
drastis.
Nhea baru memtuskan untuk pergi tidur, di saat yang lain
akan bangun dan bersiap. Untuk pertama kalinya ia melakukan siklus terbalik. Hal
tersebut pasti akan berdampak kepada kesehatannya. Meski begitu, Nhea tidak
pernah memusingkannya sama sekali.
Selama ia terlelap nanti, Nhea berharap agar tidak ada hal
buruk yang terjadi. Terutama jika ditujukan kepadanya. Setidaknya berikan gadis
itu jeda untuk sesaat.
***
“Apa kau sudah menemukan Nhea?” tanya Oliver kepada Jang
Eunbi.
“Tidak sama sekali,” balas gadis itu.
Mereka berdua berjalan beriringan dari asrama menuju ke
gedung utama. Aktivitas setiap orang akan berlangsung seperti biasanya. Seolah
__ADS_1
tidak ada apa-apa. Sebentar lagi jamuan makan akan segera dimulai. Setelah itu
mereka akan melakukan upacara penghormatan kepada setiap orang yang sudah
bekerja keras. Kemarin akademi sihir Mooneta kembali menduduki peringkat
pertama untuk total perolehan nilai.
Keduanya tidak tahu harus pergi mencari kemana lagi. Rasanya
mereka sudah menghampiri setiap tempat yang ada di kota ini. Jangan tanya soal
hasilnya. Karena sampai sekarang masih tetap nihil.
“Kemana lagi kita akan mencari Nhea nanti?” tanya Jang
Eunbi.
“Entahlah, aku sudah kehabisan akal!” serahnya begitu saja.
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini dengan
langkah yang lebih cepat. Dari kemarin Oliver sudah berusaha untuk tidak
memikirkan Nhea. Tapi, sama sekali tidak bisa. Bukannya gadis itu berubah
menjadi pengkhianat yang mendadak tidak peduli dengan sahabatnya sendiri.
Sejak kemarin ia sudah berpikir terlalu keras. Sampai-sampai
kepalanya akan pecah rasanya. Masalah yang mereka hadapi sama sekali belum
menemukan sebuah titik terang. Oliver juga manusia biasa. Dia perlu jeda
sesaat. Paling tidak untuk menenangkan pikirannya sendiri. Memangnya manusia
mana yang bisa berpikir dengan jernih di saat kepalanya sedang berisik?
Begitu sampai di ruang jamuan makan, mereka berdua tidak
berada di sana lebih dulu dari mereka. Secara otomatis keempatnya duduk saling
berhadapan. Posisi seperti ini paling cocok untuk saling berdiskusi.
“Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan tanda-tanda
keberadaan Nhea?” tanya Oliver tanpa basa-basi.
Jongdae tampaknya tidak berniat untuk menjawabnya dengan
kata-kata. Pria itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
“Bagaimana denganmu?” tanya gadis itu sekali lagi.
Yang ia maksud kali ini adalah Chanwo. Pasalnya, pria itu
sama sekali belum memberikan jawaban dalam bentuk apa pun.Oliver akan terus
mendesaknya sampai ia mendapatkan apa yang diinginkan.
“Belum juga,” jawab Chanwo dengan ragu.
“Kau yakin?” tanya Oliver lagi. Kali ini ia sambil menaikkan
salah satu alisnya.
“Memangnya aku tampak tidak cukup meyakinkan bagimu?” tanya
Chanwo balik.
Menyadari jika Oliver mulai merasa curiga atas dirinya, pria
itu buru-buru mengubah sikap serta perilakunya. Ia berusaha untuk terlihat
biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa kemarin malam. Padahal, ia sangat
__ADS_1
ingin memberi tahu teman-temannya yang lain soal keberadaan Nhea. Tentu agar
mereka tidak merasakan cemas yang berkepanjangan. Bagaimana bisa ia terus
bersikap tenang, sementara orang-orang di sekitarnya merasakan yang sebaliknya.
Namun, di sisi lain ia harus menepati janjinya kepada gadis
itu. Ia tidak ingin Nhea merasa kecewa kepadanya. Kemungkinan terburuknya
adalah, gadis itu mungkin akan kehilangan rasa percaya terhadap Chanwo.
Sekarang Chanwo tengah ditempatkan pada posisi yang serba
salah. Ia tidak bisa memilih salah satunya. Mendadak ia merasa tidak ingin
terlibat sama sekali. Tapi, situasi sudah membelenggu dirinya agar tidak bisa
kabur kemana-mana.
“Aku yakin jika Nhea baik-baik saja, dimana pun ia berada!”
celetuk Chanwo secara tiba-tiba.
“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” tanya Jongdae.
“Setidaknya kita harus percaya kepada teman kita sendiri,”
dalih pria itu.
Padahal ia sedang memberikan sebuah isyarat tersembunyi,
jika sebenarnya Nhea memang sedang baik-baik saja. Mereka tidak perlu terlalu
memusingkan Nhea. Karena pada dasarnya memang tidak ada hal buruk yang menimpa
gadi situ.
Lagi-lagi Chanwo berusaha untuk mengalihkan topik
pembicaraan mereka. Terlalu sering membicarakan gadis itu juga tidak baik. Nhea
pasti akan merasa sangat tidak nyaman.
Paling tidak sekarang mereka harus menikmati sarapannya. Ada
hari penuh misteri yang perlu mereka hadapi. Jangan pernah berpikir untuk
menghindar, apalagi berhenti di tengah jalan. Bukan begitu cara bermainnya. Kau
harus sampai di garis finish. Tidak penting berada di urutan ke berapa dirimu. Satu-satunya
hal yang penting di sini adalah kau bisa menyelesaikan permainannya. Karena sekali
lagi, menang dan kalah dalam sebuah permainan sudah biasa.
“Selama kita masih cukup muda dan kuat untuk berjuang,
kenapa harus menyerah?”
Nhea pernah mengucapkan kalimat tersebut beberapa hari yang
lalu. Tepat setelah pengumuman siapa saja yang akan masuk ke babak final. Gadis
itu memberikan semangat kepada Chanwo. Sebab, pria itu sempat merasa tidak
becus. Tim mereka tidak berhasil menduduki peringkat tiga besar. Melainkan berada
pada posisi ke lima.
Sekarang Chanwo berhasil
membuktikannya. Jika ia tidak akan menyerah. Buktinya, tim mereka malah
berhasil menduduki peringkat pertama di
__ADS_1
malam final. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan.