
Semua siswa sudah hampir sampai di perbatasan hutan. Kini hanya tersisa para tetua, termasuk Eun Ji Hae. Gadis itu akan menjadi orang yang pergi paling akhir dari sini. Seperti kata Hwang Ji Na tadi, jika ia harus memastikan kalau tidak ada seorang pun yang tertinggal.
“Apa kalian akan tetap berada di sini bersama mereka?” tanya Eun Ji Hae secara gamblang.
Mau tidak mau, para tetua harus ikut pergi juga dari tempat ini. Jika semua orang sudah sampai di ujung perbatasan hutan sedangkan mereka masih di sini, bisa-bisa mereka lagi yang harus berhadapan dengan semua bahaya itu. Para tetua dan kaum muda sama sekali tidak pernah sependapat. Jalan pikiran mereka tak pernah searah. Perbedaan pendapat itulah yang menyebabkan perselisihan.
“Apakah sudah semuanya pergi?” tanya Hwang Ji Na.
Seseorang yang diajak bicara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan gadis itu barusan.
“Bagus!” balas Hwang Ji Na.
Rencana mereka hampir selesai. Hanya tinggal membereskan sisanya saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Sebaiknya kau juga ikut pergi bersama mereka sekarang juga!” usul Hwang Ji Na.
“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Eun Ji Hae cemas.
“Kita akan bertemu kembali di Reodal,” ucap seorang gadis dari kaum werewolf itu.
“Baiklah,” jawab Eun Ji Hae.
Ia terpaksa meninggalkan Hwang Ji Na sendirian di tempat itu dengan berat hati. Pasalnya, ia tak bisa berlama-lama di sini. Mereka harus segera melanjutkan perjalanan kembali. Hari sudah semakin sore. Akan jauh lebih baik jika mereka sampai di Reodal sebelum matahari terbenam. Lagi pula, Hwang Ji Na telah berjanji akan menemui gadis itu lagi jika sudah sampai di Reodal.
__ADS_1
Eun Ji Hae tidak tahu apakah perkataan gadis itu bisa dipercaya sepenuhnya atau tidak. Tapi, sejauh ini ia masih bersikap seolah berada di pihak Hwang Ji Na. Tidak ada alasan untuk meragukan gadis itu. Eun Ji Hae hanya bisa berharap yang terbaik untuknya. Saat ini Hwang Ji Na berhutan penjelasan kepada Eun Ji Hae.
Eun Ji Hae berjalan dengan cepat untuk menyusul yang lainnya. Nyaris berlari. Kembali kepada rombongan adalah keputusan yang tepat. Meski sebenarnya ia masih ingin membantu Hwang Ji Na untuk menyelesaikan urusannya dengan para serigala itu. Tapi, sepertinya Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki hak untuk tetap di sana. Ini adalah urusan antara kaum werewolf. Bukankah burung phoenix tidak termasuk ke dalamnya?
“Apa semua orang sudah berkumpul di sini?!” tanya Eun Ji Hae dengan lantang.
Akhir-akhir ini ia jadi lebih sering menaikkan volume suaranya hanya agar bisa didengar oleh semua orang. Eun Ji Hae bertanggung jawab untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
“Beritahu aku jika ada yang kurang. Ku beri kesempatan selama lima menit sebelum kita benar-benar pergi dari tempat ini!” tegas gadis itu sekali lagi.
“Siapa gadis itu tadi?” tanya Wilson.
Eun Ji Hae tidak menjawab pertanyaan pria itu sama sekali. Melainkan hanya mengangkat salah satu alisnya. Berharap jika Wilson akan menjelaskan ulang maksud dari perkataannya barusan. Otaknya sedang tidak bsia diajak bekerja sama pada saat seperti ini. Ada terlalu banyak hal yang bersarang di dalam pikirannya.
“Bukan urusanmu sama sekali,” jawab gadis itu secara gamblang.
“Eun Ji Hae!” seru Vallery.
“Sejak kapan kau bersikap tidak sopan seperti ini kepada ayahmu sendiri?!” protes wanita itu tak terima.
“Apakah Ibu sama sekali tidak tahu jika pria itu telah memutuskan hubungan kekerabatannya dengan sejak beberapa saat yang lalu?” tanya Eun Ji Hae.
“Apa maksudmu?” tanya Vallery balik.
__ADS_1
“Tanyakan saja padanya. Kondisiku sedang tidak cukup baik untuk terlalu banyak bicara pada saat seperti ini,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Tanpa basa-basi sama sekali, gadis itu langsung beranjak dari sana meninggalkan mereka berdua. Ia sedang tidak ingin melakukan begitu banyak interaksi untuk hari ini. Tenanganya sudah terlalu banyak terkuras akibat melawan kawanan serigala itu tadi. Terlebih, EuN Ji Hae memang sengaja ingin menjaga jarak dengan para anggota keluarga. Menurutnya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memulai kembali semuanya dan berharap situasi akan baik-baik saja. Berjalan normal seperti semula seolah tak ada apa pun yang terjadi. Semua itu mustahil.
Eun Ji Hae berkeliling sebentar untuk memastikan apakah semuanya baik-baik saja. Selain itu, ia juga tak lupa untuk bertanya kepada para ketua asrama. Sebagai ketua, setidaknya mereka pasti tahu siapa saja anggotanya. Apa lagi, setiap malam mereka selalu berkeliling asrama untuk memastikan hal tersebut. Pasti Oliver dan Jongdae tahu siapa saja orang-orangnya dan berapa jumlah keseluruhannya.
“Apakah kalian telah menghitung semuanya?” tanya Eun Ji Hae kepada mereka berdua.
“Sudah kak!” jawab Oliver yang kemudian ikut diangguki oleh Jongdae.
“Jadi, semuanya telah sesuai? Tidak ada yang kurang?” tanya Eun Ji Hae lagi untuk memastikan.
Jongdae menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk respon atas pertanyaan Eun Ji Hae barusan. Ia sangat yakin dengan jawabannya barusan. Mereka telah melakukan pengecekan berulang kali untuk memastikan hal tersebut. Jadi, tidak mungkin salah.
“Baiklah, perintahkan kepada mereka semua untuk bersiap karena kita akan segera berangkat,” final Eun Ji Hae sebelum pada akhirnya benar-benar pergi dari tempat itu.
Oliver dan Jongdae lagi-lagi hanya bisa mengangguk dengan cepat untuk mengiyakan perkataan gadis itu. Eun Ji Hae bukan tipikal orang yang suka dibantah. Dia tidak akan menerima penolakan atau hal semacamnya.
Setelah menyelesaikan semua urusannya dengan para ketua asrama, Eun Ji Hae segera kembali lagi ke barisan palign depan. Tentu saja untuk bertemu dengan para tetua. Barisan paling depan selalu diisi dengan orang-orang terhormat. Dalam situasi apa pun. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi mereka saat ini. Eun Ji Hae akan memberitahu semua orang jika mereka akan berangkat sekarang. Tidak ada waktu lagi. Jika mereka ingin sampai di Reodal sebelum matahari terbenam, maka itu artinya mereka harus bergerak dengan cepat. Keputusan ada di tangan mereka. Situasi ke depannya nanti ditentukan oleh setiap orang yang ada di sini.
“Kalian lebih baik juga bersiap, karena kita akans egera berangkat sebentar lagi,” ujar Eun Ji Hae kepada para tetua, termasuk para anggota keluarga.
Setelah selesai, ia berencana untuk kembali beranjak dari sana. Pergi kemana saja, asal bukan bersama mereka. Berada di sekitar Bibi Ga Eun dan yang lainnya sungguh menguji kesabaran gadis ini.
__ADS_1