
Mereka berdua sama-sama keras kepala. Tetap pada
pendiriannya masing-masing. Tidak ada satu pun yang mau mengalah. Baik Hwang Ji
Na, maupun Chanwo. Keduanya sama kuat. Hal itu sebenarnya bagus. Tapi di sisi
lain ada juga dampak buruknya. Seperti saat ini contohnya. Tidak ada yang mau
mengalah. Mereka belum bisa berdamai dengan dirinya masing-masing.
Hwang Ji Na tetap tidak akan kembali sebelum membawa pria
itu bersamanya. Sementara Chanwo tidak ingin membahayakan gadis itu dengan
tetap membiarkannya untuk tetap berada di sini. Akan sulit untuk berdamai dan
menurunkan ego masing-masing pada saat seperti ini. Mereka menganggap jika
pendapat serta keputusan mereka sama pentingnya.
Ini adalah masalahnya sekarang. Chanwo sendiri sampai tidak
tahu harus berbuat apa lagi untuk mengatasi hal tersebut. Pria itu terpaksa
harus terjaga dari tidurnya karena kedatangan Hwang Ji Na yang terkesan
mendadak. Gadis itu bahkan tidak memberitahu sama sekali jika ia akan datang malam
ini. Jika sampai Hwang Ji Na ketahuan, maka bukan hanya gadis itu saja yang
kena masalahnya. Tapi Chanwo juga. Mereka saling memiliki keterkaitan satu sama
lain secara tidak langsung.
“Apa kau akan tetap berada di kamarku sampai pagi?” tanya
Chanwo.
“Aku akan tetap berada di sini sampai kau kembali ke istana!”
tegas gadis itu sekali lagi.
Jika dilihar dari kata-katanya, ia tampak tidak sedang bercanda.
Hwang Ji Na sungguh-bungguh dengan perkataannya barusan.
Chanwo menghela napas dengan berat. Salah satu tangannya
beralih ke wajahnya. Pria itu memijat pelipisnya sendiri. Aliran darahnya
sepertinya tersumbat, sehingga ia merasa pusing. Padahal darah pria ini tidak
benar-benar mengalir. Jantungnya tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Sehingga
organ yang satu itu tidak bisa melakukan tugasnya untuk memompa darah.
“Ku mohon, jangan buat aku berada di dalam masalah untuk
sekarang,” pinta Chanwo dengan nada yang memelas.
“Kau yang telah menjebak dirimu sendiri di dalam masalah,”
ungkap Hwang Ji Na.
“Aku hanya sedang berusaha untuk membantumu keluar dari
semua masalah itu. Dan tempat ini adalah sumber masalah tersebut,” jelas gadis
itu dengan panjang lebar.
“Itu sebabnya aku harus segera membawamu keluar dari tempat
ini secepat mungkin!” tukasnya.
__ADS_1
Sebenarnya percuma saja. Tidak peduli seberapa banyak hal
yang Hwang Ji Na lakukan untuk membujuk pria itu, keputusannya tetap akan sama
saja. Ia tidak akan berubah sama sekali. Chanwo terkenal akan pendiriannya yang
tetap. Ia bukan tipikal orang yang plin-plan seperti itu.
Sebagai pemimpin, ia harus bersikap tegas dan berai
mengambil resiko. Setiap keputusan yang diambilnya, pasti ia telah
mempertimbangkan segala hal baik dan buruknya. Dia tidak akan asal mengambil
keputusan begitu saja tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Apa lagi jika hal
tersebut menyangkut kepentingan orang banyak. Jika sampai ia salah mengambil
keputusan, maka bukan hanya satu atau dua orang saja yang dirugikan di sini. Melainkan
lebih dari puluhan orang.
“Aku akan berada di dalam masalah besar jika kau masih tetap
berada di tempat ini,” beber Chanwo.
“Bagaimana jika ada seseorang yang mengetahui kalau ada
seorang gadis yang bersembunyi di dalam kamarku?” tanya pria itu kepada Hwang
Ji Na.
Pertanyaan ini menuntutnya untuk membayangkan dan
menyimpulkan sesuatu yang bahkan belum terjadi sama sekali. Ia harus bisa
berpikir kreatif di sini untuk menyelesaikan masalah tersebut.
tanya Hwang Ji Na balik.
Pria itu tampak mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak
mengerti dengan maksud dari perkataan Hwang Ji Na barusan. Pertanyaan yang ia
lemparkan tadi terasa seperti sebuah boomerang baginya. Gadis ini malah
menyerangnya balik dengan cara memutarkan kembali pertanyaannya kepada pria itu
secara tidak langsung. Hwang Ji Na berhasil membuat gadis ini berpikir keras.
“Mudah saja,” ucap Hwang Ji Na.
“Jika mereka sampai tahu soal keberadaanku yang mengangkut
dengan dirimu, maka tentu kau akan berakhir dengan dikeluarkan dari sekolah
ini. Dengan begitu kita bisa segera kembali ke istana tanpa harus membuang-buang
lebih banyak waktu lagi,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Bagaimana jika jauh lebih buruk dari pada itu?” tanya
Chanwo.
“Aku bisa saja mendapatkan hukuman yang jauh lebih buruk
dari apa yang baru saja kau katakan tadi,” ucapnya secara gamblang.
“Beberapa hari ini Wilson sudah mulai mencurigai
keberadaanku. Jika aku sampai tertangkap olehnya, bisa saja nyawaku akan habis
di tangannya. Hal tersebut sama sekali tidak menutup kemungkinan bagi hal
__ADS_1
paling buruk untuk terjadi,” papar pria itu.
Kini gantian giliran Chanwo untuk menjelaskan semua itu. Mereka
memiliki pendapat serta pola pikir yang jauh berbeda antara satu dengan
lainnya. Ada begitu banyak hal serta upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi
permasalahan tersebut.
Perbedaan pendapat bukanlah sebuah masalah yang sepele. Memang
benar jika kita harus menghargai pendapat orang lain. Tapi perbedaan tidak
menutup kemungkinan untuk terjadinya sebuah perdebatan. Bahkan karena hal
sepele sekalipun.
“Apa kau pernah memikirkan hal itu?” tanya Chanwo.
Seketika rahangnya mengeras seolah siap untuk menyerang
siapa saja yang sedang berada di depannya saat ini.
“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa pernah ikut memikirkan
konsekuensinya juga!” tukas pria itu.
Hwang Ji Na terdiam untuk beberapa saat. Ia masih tetap
bergeming. Mendadak semua kata-kata yang ada di dalam kepalanya lenyap dengan
begitu saja. ia tak bisa berkutik. Hwang Ji Na tak tahu harus bereaksi seperti
apa. Sampai pada akhirnya dia menemukan sebuah ide yang menurutnya cukup
cemerlang.
“Baiklah, aku akan pergi dari sini!” celetuk Hwang Ji Na.
“Aku akan mengabulkan permintaanmu yang satu itu!” tegasnya
sekali lagi.
Gadis itu langsung berdiri. Menegakkan tubuhnya serta
meninggikan pandangannya. Seolah enggan untuk menatap pria itu lagi.
Entah kenapa mendadak keputusannya berubah dengan begitu
cepat. Padahal Hwang Ji Na bersi keras tidak ingin pergi dari sini tanpa
membawa Chanwo bersamanya. Tapi mendadak konsep tersebut berubah cepat.
Tanpa sepatah kata pun, gadis itu segera melangkah keluar
dari dalam kamar Chanwo. Bayangannya menghilang dari balik pintu. Menyisakan tanda
tanya besar bagi pria itu. Ia bahkan tak tahu kemana Hwang Ji Na pergi setelah
ini. Apakah kembali ke hutan yang bukan merupakan tempat asalnya tapi telah
lama menjadi tempat tinggalnya, atau malah masih tetap berkeliaran di sekitar
tempat ini untuk mengawasi Chanwo.
Sekarang masih dini hari. Mungkin sekitar pukul tiga. Ia bisa
memulai perjalanannya jika mau. Semakin cepat ia memulai, maka akan semakin
cepat pula ia sampai ke sana. Chanwo tak akan menghalangi gadis itu jika ia
memang bena ringin pergi.
__ADS_1