Mooneta High School

Mooneta High School
Debate


__ADS_3

Mereka berdua sama-sama keras kepala. Tetap pada


pendiriannya masing-masing. Tidak ada satu pun yang mau mengalah. Baik Hwang Ji


Na, maupun Chanwo. Keduanya sama kuat. Hal itu sebenarnya bagus. Tapi di sisi


lain ada juga dampak buruknya. Seperti saat ini contohnya. Tidak ada yang mau


mengalah. Mereka belum bisa berdamai dengan dirinya masing-masing.


Hwang Ji Na tetap tidak akan kembali sebelum membawa pria


itu bersamanya. Sementara Chanwo tidak ingin membahayakan gadis itu dengan


tetap membiarkannya untuk tetap berada di sini. Akan sulit untuk berdamai dan


menurunkan ego masing-masing pada saat seperti ini. Mereka menganggap jika


pendapat serta keputusan mereka sama pentingnya.


Ini adalah masalahnya sekarang. Chanwo sendiri sampai tidak


tahu harus berbuat apa lagi untuk mengatasi hal tersebut. Pria itu terpaksa


harus terjaga dari tidurnya karena kedatangan Hwang Ji Na yang terkesan


mendadak. Gadis itu bahkan tidak memberitahu sama sekali jika ia akan datang malam


ini. Jika sampai Hwang Ji Na ketahuan, maka bukan hanya gadis itu saja yang


kena masalahnya. Tapi Chanwo juga. Mereka saling memiliki keterkaitan satu sama


lain secara tidak langsung.


“Apa kau akan tetap berada di kamarku sampai pagi?” tanya


Chanwo.


“Aku akan tetap berada di sini sampai kau kembali ke istana!”


tegas gadis itu sekali lagi.


Jika dilihar dari kata-katanya, ia tampak tidak sedang bercanda.


Hwang Ji Na sungguh-bungguh dengan perkataannya barusan.


Chanwo menghela napas dengan berat. Salah satu tangannya


beralih ke wajahnya. Pria itu memijat pelipisnya sendiri. Aliran darahnya


sepertinya tersumbat, sehingga ia merasa pusing. Padahal darah pria ini tidak


benar-benar mengalir. Jantungnya tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Sehingga


organ yang satu itu tidak bisa melakukan tugasnya untuk memompa darah.


“Ku mohon, jangan buat aku berada di dalam masalah untuk


sekarang,” pinta Chanwo dengan nada yang memelas.


“Kau yang telah menjebak dirimu sendiri di dalam masalah,”


ungkap Hwang Ji Na.


“Aku hanya sedang berusaha untuk membantumu keluar dari


semua masalah itu. Dan tempat ini adalah sumber masalah tersebut,” jelas gadis


itu dengan panjang lebar.


“Itu sebabnya aku harus segera membawamu keluar dari tempat


ini secepat mungkin!” tukasnya.

__ADS_1


Sebenarnya percuma saja. Tidak peduli seberapa banyak hal


yang Hwang Ji Na lakukan untuk membujuk pria itu, keputusannya tetap akan sama


saja. Ia tidak akan berubah sama sekali. Chanwo terkenal akan pendiriannya yang


tetap. Ia bukan tipikal orang yang plin-plan seperti itu.


Sebagai pemimpin, ia harus bersikap tegas dan berai


mengambil resiko. Setiap keputusan yang diambilnya, pasti ia telah


mempertimbangkan segala hal baik dan buruknya. Dia tidak akan asal mengambil


keputusan begitu saja tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Apa lagi jika hal


tersebut menyangkut kepentingan orang banyak. Jika sampai ia salah mengambil


keputusan, maka bukan hanya satu atau dua orang saja yang dirugikan di sini. Melainkan


lebih dari puluhan orang.


“Aku akan berada di dalam masalah besar jika kau masih tetap


berada di tempat ini,” beber Chanwo.


“Bagaimana jika ada seseorang yang mengetahui kalau ada


seorang gadis yang bersembunyi di dalam kamarku?” tanya pria itu kepada Hwang


Ji Na.


Pertanyaan ini menuntutnya untuk membayangkan dan


menyimpulkan sesuatu yang bahkan belum terjadi sama sekali. Ia harus bisa


berpikir kreatif di sini untuk menyelesaikan masalah tersebut.


tanya Hwang Ji Na balik.


Pria itu tampak mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak


mengerti dengan maksud dari perkataan Hwang Ji Na barusan. Pertanyaan yang ia


lemparkan tadi terasa seperti sebuah boomerang baginya. Gadis ini malah


menyerangnya balik dengan cara memutarkan kembali pertanyaannya kepada pria itu


secara tidak langsung. Hwang Ji Na berhasil membuat gadis ini berpikir keras.


“Mudah saja,” ucap Hwang Ji Na.


“Jika mereka sampai tahu soal keberadaanku yang mengangkut


dengan dirimu, maka tentu kau akan berakhir dengan dikeluarkan dari sekolah


ini. Dengan begitu kita bisa segera kembali ke istana tanpa harus membuang-buang


lebih banyak waktu lagi,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Bagaimana jika jauh lebih buruk dari pada itu?” tanya


Chanwo.


“Aku bisa saja mendapatkan hukuman yang jauh lebih buruk


dari apa yang baru saja kau katakan tadi,” ucapnya secara gamblang.


“Beberapa hari ini Wilson sudah mulai mencurigai


keberadaanku. Jika aku sampai tertangkap olehnya, bisa saja nyawaku akan habis


di tangannya. Hal tersebut sama sekali tidak menutup kemungkinan bagi hal

__ADS_1


paling buruk untuk terjadi,” papar pria itu.


Kini gantian giliran Chanwo untuk menjelaskan semua itu. Mereka


memiliki pendapat serta pola pikir yang jauh berbeda antara satu dengan


lainnya. Ada begitu banyak hal serta upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi


permasalahan tersebut.


Perbedaan pendapat bukanlah sebuah masalah yang sepele. Memang


benar jika kita harus menghargai pendapat orang lain. Tapi perbedaan tidak


menutup kemungkinan untuk terjadinya sebuah perdebatan. Bahkan karena hal


sepele sekalipun.


“Apa kau pernah memikirkan hal itu?” tanya Chanwo.


Seketika rahangnya mengeras seolah siap untuk menyerang


siapa saja yang sedang berada di depannya saat ini.


“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa pernah ikut memikirkan


konsekuensinya juga!” tukas pria itu.


Hwang Ji Na terdiam untuk beberapa saat. Ia masih tetap


bergeming. Mendadak semua kata-kata yang ada di dalam kepalanya lenyap dengan


begitu saja. ia tak bisa berkutik. Hwang Ji Na tak tahu harus bereaksi seperti


apa. Sampai pada akhirnya dia menemukan sebuah ide yang menurutnya cukup


cemerlang.


“Baiklah, aku akan pergi dari sini!” celetuk Hwang Ji Na.


“Aku akan mengabulkan permintaanmu yang satu itu!” tegasnya


sekali lagi.


Gadis itu langsung berdiri. Menegakkan tubuhnya serta


meninggikan pandangannya. Seolah enggan untuk menatap pria itu lagi.


Entah kenapa mendadak keputusannya berubah dengan begitu


cepat. Padahal Hwang Ji Na bersi keras tidak ingin pergi dari sini tanpa


membawa Chanwo bersamanya. Tapi mendadak konsep tersebut berubah cepat.


Tanpa sepatah kata pun, gadis itu segera melangkah keluar


dari dalam kamar Chanwo. Bayangannya menghilang dari balik pintu. Menyisakan tanda


tanya besar bagi pria itu. Ia bahkan tak tahu kemana Hwang Ji Na pergi setelah


ini. Apakah kembali ke hutan yang bukan merupakan tempat asalnya tapi telah


lama menjadi tempat tinggalnya, atau malah masih tetap berkeliaran di sekitar


tempat ini untuk mengawasi Chanwo.


Sekarang masih dini hari. Mungkin sekitar pukul tiga. Ia bisa


memulai perjalanannya jika mau. Semakin cepat ia memulai, maka akan semakin


cepat pula ia sampai ke sana. Chanwo tak akan menghalangi gadis itu jika ia


memang bena ringin pergi.

__ADS_1


__ADS_2