Mooneta High School

Mooneta High School
Dormitory


__ADS_3

 


 


Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya. Ia tenggelam dalam


lamunannya sendiri, namun segera sadar lagi ketika sahutan dari Oliver berhasil


mengejutkannya. Entah apa yang membuatnya sampai melamun seperti ini. Tidak


biasanya Nhea seperti ini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri jika akhir-akhir


ini hidupnya memang terlalu berantakan. Isi kepalanya saling bertentangan satu


sama lain. Tak jarang jika gadis ini malah merasa kegaduhan dengan dirinya


sendiri. Sulit baginya untuk berdamai kembali.


“Lo ada bawa kertas kosong nggak?” tanya Oliver.


Seseorang yang sedang diajak bicara oleh gadis itu enggan


untuk menanggapinya. Nhea langsung menyerahkan beberapa kertas berwarna


kecoklatan yang diikat menjadi satu dengan sebuah tali berwarna merah. Biasanya


mereka akan menggunakan kertas tersebut untuk membuat catatan. Tapi, hari ini kebetulan


Oliver memang tidak membawa benda yang satu itu. Lupa adalah alasan utamanya.


Gadis itu tadi bangun terlalu lama, sehingga hanya memiliki waktu yang sedikit


untuk bersiap. Dia melakukan semua pekerjaan dengan tergesa-gesa. Itu sebabnya


banyak hal penting yang ia lewatkan begitu saja.


“Terima kasih!” ucap Oliver. Kemudian menggembalikan sisa


kertasnya kepada Nhea. Ia hanya mengambilnya sebagian.


“Sama-sama,” balas gadis itu dengan nada datar.


“Lo kenapa? Kok aneh?” tanya Oliver.


Akhirnya, Oliver menyadari hal tersebut. Memang ada sesuatu


yang salah dengan gadis ini. Pasalnya, tidak biasanya ia bersikap aneh seperti


hari ini. Padahal tadi siang ia masih baik-baik saja. Entah apa yang membuat


sikapnya mendadak berubah seperti ini.


“Aku enggak kenapa-kenapa kok,” ungkap gadis itu.


“Yakin?” tanya Oliver sekali lagi untuk memastikan.


Nhea mengangguk-anggukkan kepalanya, untuk mengiyakan


perkataan gadis itu barusan. Dia sungguh tidak apa-apa.


“Cuma agak ngantuk aja,” bohongnya.


Padhaal Nhea sama sekali tidak merasakan kantuk sedikit pun


saat ini. Dia berbohong tanpa tujuan yang jelas sama sekali. Tidak ada yang


salah pada dirinya sebenarnya. Dia hanya sedikit merasa tidak nyaman jika harus


berada di kelas yang sama dengan pria itu. Belum apa-apa saja, ia sudah membuat


simpati Nhea hilang begitu saja. Tidak seperti murid lainnya yang terlihat antusias


dengan kedatangan Chanwo di kelas ini. Nhea malah bersikap sebaliknya.


“Baiklah semuanya! Silahkan buka buku kalian halaman delapan


belas,” ucap bu Hee Jung dari depan sana.


Menyadari jika kelas akan segera dimulai, mereka berdua


mengakhiri percakapannya sampai di situ. Chanwo juga sudah mendapatkan tempat


duduknya. Tidak ada lagi yang perlu dihiraukan selain hanya pelajaran. Mereka


perlu memperhatikan materi yang diberikan dengan seksama. Jika mereka tidak


melakukan hal tersebut dengan benar, maka mereka akan tahu sendiri apa


konsekuensinya.


Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti


biasanya. Meski pun saat ini kondisinya sedang tidak bersahabat, tapi mereka


tetap bisa melakukan semuanya. Sampai sejauh ini masih baik-baik saja belum ada


hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.


Semua berljalan seperti sebagaimana seharusnya. Tidak ada


yang berbeda dari hari biasanya. Mulai saat ini mereka hanya akan masuk kelas


pada saat malam hari sana. Karena siang hari, akan diisi oleh kegiatan lain yang


jauh lebih membantu untuk mengurangi dampak dari salju abadi ini.


Setelah jam pelajaran selesai, tepat satu jam sebelum tengah


malam. Semua murid yang baru keluar dari kelasnya masing-masing tampak memenuhi


koridor. Tempat itu kini menjadi terlalu sesak dan padat untuk dilewati.


Pasalnya, semua orang melalui jalan yang sama untuk kembali ke asramanya. Hanya


lorong ini satu-satunya jalan penghubung ke asrama.


Mereka saling berhimpitan di tempat yang sempit itu.


Termasuk Nhea dan teman-temanya. Tidak ada cara lain untuk kembali ke asrama


dengan selamat, kecuali melalui tempat ini. Jika saja salju abadi tidak


terjadi, maka pintu utama pasti akan dibuka. Mereka akan bergerak secara lebih


leluasa jika lewat sana.


Semua orang akan langsung kembali ke kamar asramanya


masing-masing. Kemudian melanjutkan tidurnya lagi sampai fajar menyingsing dari


balik pegunungan di ufuk timur. Tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan.


Lagi pula memangnya mereka mau apa malam-malam begini. Sekarang sudah terlalu


larut malam untuk kembali beraktivitas. Mereka harus menunggu sampai besok.


Keluarnya matahari dari dalam sarangnya akan menjadi sebuah pertanda jika hari


baru akan segera dimulai.


Akhirnya  setelah


berkutat di tempat yang sama bersama ratusan orang lainnya, Nhea bisa sampai ke


kamarnya dengan selamat. Tidak mudah untuk melewati lorong itu jika ada sebuah


kerumunan yang besar seperti ini.

__ADS_1


Setidaknya saat ini mereka bisa bernapas lebih lega. Setelah


melewati jalanan yang cukup panjang dan enuh sesak itu. Benar-benar perlu


perjuangan untuk sampai ke depan kamar ini. Tidak mudah untuk bisa berdiri di


titik ini.


“Aku akan langsung tidur setelah ini,” ujar Nhea kepada


teman sekamarnya. Memangnya siapa lagi jika bukan Oliver.


Gadis yang diajak bicara pada saat itu hanya mengangguk-anggukkan


kepalanya sebagai bentuk respon atas ucapan Nhea barusan.


“Aku akan pergi berkeliling sebentar!” pamit Oliver kemudian


menghilang dari balik pintu.


Oliver tidak akan bisa langsung tidur meski pun ia sudah


merasa kelelahan. Sebelum pergi tidur, ia memiliki satu kewajiban lagi yang


harus dilakukannya setiap hari. Oliver akan mengecek setiap kamar asrama secara


rutin. Memastikan jika penghuninya sudah berada di tempat pada jam yang telah


ditetapkan. Mereka tidak akan boleh keluar lagi di atas pukul dua belas malam.


Kecuali memang ada keperluan  yang


mendesak.


Setiap malam, gadis ini harus berkeliling asrama untuk


melakukan tugasnya. Ini adalah salah satu kewajiban yang harus ia lakukan jika


menjabat sebagai ketua asrama. Tidak mudah memang. Karena jabatan bukan hanya


sekedar jabatan. Melainkan ada tanggung jawab besar di dalamnya.


Bukan hanya Oliver yang sedang berkeliling asrama kali ini.


Namun Jongdae juga melakukan hal yang sama.


Sementara Oliver pergi berkeliling, Nhea berjalan tanpa


semangat kea rah tempat tidurnya. Kemudian merobohkan tubuhnya begitu saja di


atas kasur. Ia menenggelamkan kepalanya di antar tumpukan bantal dengan


sengaja. Permukaan tempat tidur ini akan terasa dingin jika tidak ditempati.


Butuh beberapa saat untuk membuatnya kembali menjadi hangat.


Tak lama kemudian, ia membalikkan posisi tubuhnya. Yang


semula tengkurap, kini menjadi telentang. Nhea tidak benar-benar langsung tidur


setelah sampai di kamar. Sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya


kepada gadis itu tadi. Nhea malah kembali melamun. Pandangannya lurus menghadap


ke langit-langit ruangan ini.


“Kenapa aku bisa sampai terjebak di tempat seperti ini?”


gumamnya.


Ternyata dunia tidak seindah yang pernah dia bayangkan


sebelumnya. Selama ini ia berpikir jika yang berada di muka bumi ini hanya ada


manusia. Mereka adalah satu-satunya mahluk hidup yang berkuasa di dunia ini.


begitu prinsip kerjanya.


***


Sepertinya hanya Eun Ji Hae satu-satunya orang yang belum


mengetahui jika ada murid baru di sekolah ini. Di kelas Nhea lebih tepatnya.


Dari tadi ia terlalu sibuk seharian berada di ruangan Bibi Ga Eun untuk


membantunya bekerja.


Sebelumnya tidak ada yang mengenal pria itu sama sekali.


Jauh sebelum ia datang ke sini. Hanya Eun Ji Hae dan Nhea yang pernah bertemu


dengannya secara langsung. Tidak dengan para siswa lainnya. Karena malam ini


adalah pertemuan pertama bagi mereka semua.


Setelah kelas selesai, semua orang langsung kembali ke


kamarnya masing-masing. Sehingga tidak menyisakan seorang pun yang masih


berkeliaran di gedung sekolah. Bahkan Chanwo juga telah kembali. Malam ini ia


akan tidur dengan tenang di dalam kamarnya sendiri. Ia tidak perlu berbagi


ruangan bersama para hewan itu di kandang. Pria itu mendapatkan fasilitas


lengkap di sekolah ini, sama seperti para siswa lainnya. Tidak ada satu hal pun


yang membuatnya berbeda. Sungguh tidak manusiawi jika ia tetap akan tinggal


bersama hewan-hewan itu di tempat yang sama.  Ia bahkan tidak rela jika harus berbagi ruangan dengan mereka.


Chanwo benar-benar langsung tidur begitu sampai di kamarnya.


Melainkan melayangkan pikirannya. Mungkin saat ini tubuh pria itu sedang berada


di sini. Tapi tidak dengan jiwanya. Mereka berdua saling berpencar sekarang.


Tidak ada satu pun yang sinkron di sini. Semua hal bekerja dengan kehendaknya


sendiri, tanpa menghiraukan akibatnya.


Kebetulan Chanwo mendapatkan kamar tunggal. Jadi ia tidak


memiliki teman sekamar. Hanya ada diirnya sendiri di dalam ruangan itu.


Tempatnya juga tidak terlalu besar seperti kamar ganda lainnya yang memang


diperuntukkan untuk ditempati oleh dua orang secara sekaligus. Jadi wajar saja


jika luas tempatnya berbeda jauh.


“Apakah aku akan bertahan di sini?” tanya pria itu pada


dirinya sendiri.


“Bagaimana jika keberadaanku ketahuan oleh anggota klan yang


satu itu?” lanjutnya.


Chanwo terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak


masuk akal kepada dirinya sendiri. Padahal ia tahu jika dirinya juga tidak tahu


apa jawaban yang tepat. Tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan itu untuk


saat ini. Entah dengan besok atau beberapa hari yang akan datang.

__ADS_1


Pria itu tidak bisa tidur dengan tenang jika kecemasan masih


melanda dirinya saat ini. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha untuk


menenangkan dirinya sendiri. Tetap saja hasilnya nihil. Dirinya mendadak


dikuasai sepenuhnya oleh pikirannya sendiri. Masalahnya, pikiran pria ini


terlalu liar. Ia bahkan sudah mempunyai beberapa gambaran soal hal buruk yang


belum tentu akan mengancam hidupnya.


Chanwo jauh lebih takut saat membawangkan akhir dari


hidupnya sendiri. Kaum segelapan memang memiliki sebuah keistimewaan yang tidak


dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya atau bahkan mahluk hidup lainnya yang


tersebar di seluruh penjuru dunia. Menjadi satu-satunya mahluk hidup yang


memiliki kehidupan abadi adalah keunggulan dari kaum kegelapan. Terutama pada


klan vampir.


Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa mati. Malah tubuh


mereka akan sangat sensitif jika tidak dijaga dengan baik. Hal tersebut bisa mengancam


kelanjutan hidup mereka. Ada satu dan dua hal yang harus mereka jauhi untuk


tetap bisa hidup abadi. Lebih mirip seperti sebuah cara untuk mempertahnkan


diri dari seleksi alam yang kian mengganas.


Populasi mahluk hidup yang tinggal di muka bumi ini kian


membludak jumlahnya setiap tahun. Oleh sebab itu, harus ada beberapa yang pergi


dari dunia agar jumlahnya tetap stabil. Sehingga ekosistem bisa berjalan


seperti sebagai mana mestinya. Memang beginilah cara semesta bekerja.


Pria itu mulai membuat beberapa skenario di dalam kepalanya.


Sebagai perbandingan dengan keadaan yang sekarang. Mungkin saat ini dia akan


baik-baik sjaa. Namun tidak ada yang tahu dengan apa yang akan terjadi selama


satu detik ke depan. Hal buruk selalu bisa saja terjadi.


Tidak bisa dipungkiri ika seorang pemimpin seperti Chanwo


pun bisa merasakan yang namanya panik dan takut. Dia masih normal. Jadi wajar


saja jika dirinya bisa merasakan berbagai macam perasaan yang selama ini


dirasakan oleh manusia juga. Termasuk jatuh cinta. Namun khusus bagi para


anggota klan, mereka hanya bisa jatuh cinta dengan sesama anggota klan juga.


Sangat dilarang keras jika mereka sampai jatuh cinta kepada mahluk hidup dari


klan lain. Terutama  manusia. Pilihannya


hanya ada dua. Yaitu klan vampi dan juga klan bayangan.


“Kelihatannya, pria itu jauh lebih kuat dariku. Buktinya


saja, ia bisa bertahan di dunia luar seperti ini sampapi sekarang. Aku yakin


jika kekuatannya tidak main-main. Terlebih ia telah menguasai beberapa ilmu


sihir,” gumam pria itu.


Yang dimaksud Chanwo di sini adalah Wilson. Mereka sama-sama


berasal dari kaum kegelapan. Mereka bahkan lahir dan besar di tempat yang sama.


Hanya satu yang membedakan keduanya. Yaitu asal keturunan klan mereka. Wilson


berasal dari klan bayangan, sedangan Chanwo berasal dari klan vampir. Tapi


tetap saja mereka masih memiliki hubungan kekerabatan, karena masih berada di


kaum yang sama. Selain itu, tidak ada hal lain lagi yang bisa membedakan mereka


berdua.


“Tapi, apakah gadis itu masih hidup sebagai manusia?”


“Aku tidak menghisap habis darah manusia yang mengalir di


dalam pembuluh darahnya waktu itu kan?”


Chanwo langsung terlonjak kaget begitu mengingat hal


tersebut secara tidak sengaja. Ia langsung bangkit dari posisinya yang tengah


berbaring pada saat itu. Kini ia duduk di ujung ranjang sembari memijat


pelipisnya. Pikiran Chanwo berhasil membuatnya pergi terlalu jauh. Ia sudah


tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


‘TOK! TOK! TOK!’


Pria itu kembali terkesiap dari lamuannya untuk yang


kesekian kalinya. Ia mengangkat kepalanya. Pandanganya lurus menghadap ke


pintu.


“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumamnya.


Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera beranjak dari


tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamar miliknya. Bukannya seharusnya


semua orang telah terlelap pada jam segini.


“Iya, ada apa?” tanya Chanwo begitu pintunya terbuka. Ia


bukan tipikal orang yang suka bertele-tele. Jadi jika bicara dengannya, akan


lebih baik jika langsung ke intinya saja.


“Kau anak baru itu bukan?” tanya  Jongdae.


Chanwo hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk


mengiyakan perkataan pria tersebut. Percakapa di antara keduanya tengah


berlangsung di ambang pintu saat ini.


“Aku hanya sedang berpatroli keliling untuk memastikan jika


setiap orang telah memasuki kamarnya masing-masing,” ungkap Jongdae.


“Aku adalah ketua asrama di sini dan hal seperti ini akan


tetap terjadi setiap harinya. Jadi, aku akan tetap mengetuk pintu kamarmu


setiap malam. Jangan keluar llagi dari tempat ini setelah pukul dua belas


malam. Itu adalah peraturannya,” jelas priaitu dengan panjang lebar.


“Baiklah, aku paham!” balas Chanwo sembari menggaruk

__ADS_1


kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2