
Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya. Ia tenggelam dalam
lamunannya sendiri, namun segera sadar lagi ketika sahutan dari Oliver berhasil
mengejutkannya. Entah apa yang membuatnya sampai melamun seperti ini. Tidak
biasanya Nhea seperti ini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri jika akhir-akhir
ini hidupnya memang terlalu berantakan. Isi kepalanya saling bertentangan satu
sama lain. Tak jarang jika gadis ini malah merasa kegaduhan dengan dirinya
sendiri. Sulit baginya untuk berdamai kembali.
“Lo ada bawa kertas kosong nggak?” tanya Oliver.
Seseorang yang sedang diajak bicara oleh gadis itu enggan
untuk menanggapinya. Nhea langsung menyerahkan beberapa kertas berwarna
kecoklatan yang diikat menjadi satu dengan sebuah tali berwarna merah. Biasanya
mereka akan menggunakan kertas tersebut untuk membuat catatan. Tapi, hari ini kebetulan
Oliver memang tidak membawa benda yang satu itu. Lupa adalah alasan utamanya.
Gadis itu tadi bangun terlalu lama, sehingga hanya memiliki waktu yang sedikit
untuk bersiap. Dia melakukan semua pekerjaan dengan tergesa-gesa. Itu sebabnya
banyak hal penting yang ia lewatkan begitu saja.
“Terima kasih!” ucap Oliver. Kemudian menggembalikan sisa
kertasnya kepada Nhea. Ia hanya mengambilnya sebagian.
“Sama-sama,” balas gadis itu dengan nada datar.
“Lo kenapa? Kok aneh?” tanya Oliver.
Akhirnya, Oliver menyadari hal tersebut. Memang ada sesuatu
yang salah dengan gadis ini. Pasalnya, tidak biasanya ia bersikap aneh seperti
hari ini. Padahal tadi siang ia masih baik-baik saja. Entah apa yang membuat
sikapnya mendadak berubah seperti ini.
“Aku enggak kenapa-kenapa kok,” ungkap gadis itu.
“Yakin?” tanya Oliver sekali lagi untuk memastikan.
Nhea mengangguk-anggukkan kepalanya, untuk mengiyakan
perkataan gadis itu barusan. Dia sungguh tidak apa-apa.
“Cuma agak ngantuk aja,” bohongnya.
Padhaal Nhea sama sekali tidak merasakan kantuk sedikit pun
saat ini. Dia berbohong tanpa tujuan yang jelas sama sekali. Tidak ada yang
salah pada dirinya sebenarnya. Dia hanya sedikit merasa tidak nyaman jika harus
berada di kelas yang sama dengan pria itu. Belum apa-apa saja, ia sudah membuat
simpati Nhea hilang begitu saja. Tidak seperti murid lainnya yang terlihat antusias
dengan kedatangan Chanwo di kelas ini. Nhea malah bersikap sebaliknya.
“Baiklah semuanya! Silahkan buka buku kalian halaman delapan
belas,” ucap bu Hee Jung dari depan sana.
Menyadari jika kelas akan segera dimulai, mereka berdua
mengakhiri percakapannya sampai di situ. Chanwo juga sudah mendapatkan tempat
duduknya. Tidak ada lagi yang perlu dihiraukan selain hanya pelajaran. Mereka
perlu memperhatikan materi yang diberikan dengan seksama. Jika mereka tidak
melakukan hal tersebut dengan benar, maka mereka akan tahu sendiri apa
konsekuensinya.
Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti
biasanya. Meski pun saat ini kondisinya sedang tidak bersahabat, tapi mereka
tetap bisa melakukan semuanya. Sampai sejauh ini masih baik-baik saja belum ada
hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.
Semua berljalan seperti sebagaimana seharusnya. Tidak ada
yang berbeda dari hari biasanya. Mulai saat ini mereka hanya akan masuk kelas
pada saat malam hari sana. Karena siang hari, akan diisi oleh kegiatan lain yang
jauh lebih membantu untuk mengurangi dampak dari salju abadi ini.
Setelah jam pelajaran selesai, tepat satu jam sebelum tengah
malam. Semua murid yang baru keluar dari kelasnya masing-masing tampak memenuhi
koridor. Tempat itu kini menjadi terlalu sesak dan padat untuk dilewati.
Pasalnya, semua orang melalui jalan yang sama untuk kembali ke asramanya. Hanya
lorong ini satu-satunya jalan penghubung ke asrama.
Mereka saling berhimpitan di tempat yang sempit itu.
Termasuk Nhea dan teman-temanya. Tidak ada cara lain untuk kembali ke asrama
dengan selamat, kecuali melalui tempat ini. Jika saja salju abadi tidak
terjadi, maka pintu utama pasti akan dibuka. Mereka akan bergerak secara lebih
leluasa jika lewat sana.
Semua orang akan langsung kembali ke kamar asramanya
masing-masing. Kemudian melanjutkan tidurnya lagi sampai fajar menyingsing dari
balik pegunungan di ufuk timur. Tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan.
Lagi pula memangnya mereka mau apa malam-malam begini. Sekarang sudah terlalu
larut malam untuk kembali beraktivitas. Mereka harus menunggu sampai besok.
Keluarnya matahari dari dalam sarangnya akan menjadi sebuah pertanda jika hari
baru akan segera dimulai.
Akhirnya setelah
berkutat di tempat yang sama bersama ratusan orang lainnya, Nhea bisa sampai ke
kamarnya dengan selamat. Tidak mudah untuk melewati lorong itu jika ada sebuah
kerumunan yang besar seperti ini.
__ADS_1
Setidaknya saat ini mereka bisa bernapas lebih lega. Setelah
melewati jalanan yang cukup panjang dan enuh sesak itu. Benar-benar perlu
perjuangan untuk sampai ke depan kamar ini. Tidak mudah untuk bisa berdiri di
titik ini.
“Aku akan langsung tidur setelah ini,” ujar Nhea kepada
teman sekamarnya. Memangnya siapa lagi jika bukan Oliver.
Gadis yang diajak bicara pada saat itu hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya sebagai bentuk respon atas ucapan Nhea barusan.
“Aku akan pergi berkeliling sebentar!” pamit Oliver kemudian
menghilang dari balik pintu.
Oliver tidak akan bisa langsung tidur meski pun ia sudah
merasa kelelahan. Sebelum pergi tidur, ia memiliki satu kewajiban lagi yang
harus dilakukannya setiap hari. Oliver akan mengecek setiap kamar asrama secara
rutin. Memastikan jika penghuninya sudah berada di tempat pada jam yang telah
ditetapkan. Mereka tidak akan boleh keluar lagi di atas pukul dua belas malam.
Kecuali memang ada keperluan yang
mendesak.
Setiap malam, gadis ini harus berkeliling asrama untuk
melakukan tugasnya. Ini adalah salah satu kewajiban yang harus ia lakukan jika
menjabat sebagai ketua asrama. Tidak mudah memang. Karena jabatan bukan hanya
sekedar jabatan. Melainkan ada tanggung jawab besar di dalamnya.
Bukan hanya Oliver yang sedang berkeliling asrama kali ini.
Namun Jongdae juga melakukan hal yang sama.
Sementara Oliver pergi berkeliling, Nhea berjalan tanpa
semangat kea rah tempat tidurnya. Kemudian merobohkan tubuhnya begitu saja di
atas kasur. Ia menenggelamkan kepalanya di antar tumpukan bantal dengan
sengaja. Permukaan tempat tidur ini akan terasa dingin jika tidak ditempati.
Butuh beberapa saat untuk membuatnya kembali menjadi hangat.
Tak lama kemudian, ia membalikkan posisi tubuhnya. Yang
semula tengkurap, kini menjadi telentang. Nhea tidak benar-benar langsung tidur
setelah sampai di kamar. Sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya
kepada gadis itu tadi. Nhea malah kembali melamun. Pandangannya lurus menghadap
ke langit-langit ruangan ini.
“Kenapa aku bisa sampai terjebak di tempat seperti ini?”
gumamnya.
Ternyata dunia tidak seindah yang pernah dia bayangkan
sebelumnya. Selama ini ia berpikir jika yang berada di muka bumi ini hanya ada
manusia. Mereka adalah satu-satunya mahluk hidup yang berkuasa di dunia ini.
begitu prinsip kerjanya.
***
Sepertinya hanya Eun Ji Hae satu-satunya orang yang belum
mengetahui jika ada murid baru di sekolah ini. Di kelas Nhea lebih tepatnya.
Dari tadi ia terlalu sibuk seharian berada di ruangan Bibi Ga Eun untuk
membantunya bekerja.
Sebelumnya tidak ada yang mengenal pria itu sama sekali.
Jauh sebelum ia datang ke sini. Hanya Eun Ji Hae dan Nhea yang pernah bertemu
dengannya secara langsung. Tidak dengan para siswa lainnya. Karena malam ini
adalah pertemuan pertama bagi mereka semua.
Setelah kelas selesai, semua orang langsung kembali ke
kamarnya masing-masing. Sehingga tidak menyisakan seorang pun yang masih
berkeliaran di gedung sekolah. Bahkan Chanwo juga telah kembali. Malam ini ia
akan tidur dengan tenang di dalam kamarnya sendiri. Ia tidak perlu berbagi
ruangan bersama para hewan itu di kandang. Pria itu mendapatkan fasilitas
lengkap di sekolah ini, sama seperti para siswa lainnya. Tidak ada satu hal pun
yang membuatnya berbeda. Sungguh tidak manusiawi jika ia tetap akan tinggal
bersama hewan-hewan itu di tempat yang sama. Ia bahkan tidak rela jika harus berbagi ruangan dengan mereka.
Chanwo benar-benar langsung tidur begitu sampai di kamarnya.
Melainkan melayangkan pikirannya. Mungkin saat ini tubuh pria itu sedang berada
di sini. Tapi tidak dengan jiwanya. Mereka berdua saling berpencar sekarang.
Tidak ada satu pun yang sinkron di sini. Semua hal bekerja dengan kehendaknya
sendiri, tanpa menghiraukan akibatnya.
Kebetulan Chanwo mendapatkan kamar tunggal. Jadi ia tidak
memiliki teman sekamar. Hanya ada diirnya sendiri di dalam ruangan itu.
Tempatnya juga tidak terlalu besar seperti kamar ganda lainnya yang memang
diperuntukkan untuk ditempati oleh dua orang secara sekaligus. Jadi wajar saja
jika luas tempatnya berbeda jauh.
“Apakah aku akan bertahan di sini?” tanya pria itu pada
dirinya sendiri.
“Bagaimana jika keberadaanku ketahuan oleh anggota klan yang
satu itu?” lanjutnya.
Chanwo terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak
masuk akal kepada dirinya sendiri. Padahal ia tahu jika dirinya juga tidak tahu
apa jawaban yang tepat. Tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan itu untuk
saat ini. Entah dengan besok atau beberapa hari yang akan datang.
__ADS_1
Pria itu tidak bisa tidur dengan tenang jika kecemasan masih
melanda dirinya saat ini. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha untuk
menenangkan dirinya sendiri. Tetap saja hasilnya nihil. Dirinya mendadak
dikuasai sepenuhnya oleh pikirannya sendiri. Masalahnya, pikiran pria ini
terlalu liar. Ia bahkan sudah mempunyai beberapa gambaran soal hal buruk yang
belum tentu akan mengancam hidupnya.
Chanwo jauh lebih takut saat membawangkan akhir dari
hidupnya sendiri. Kaum segelapan memang memiliki sebuah keistimewaan yang tidak
dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya atau bahkan mahluk hidup lainnya yang
tersebar di seluruh penjuru dunia. Menjadi satu-satunya mahluk hidup yang
memiliki kehidupan abadi adalah keunggulan dari kaum kegelapan. Terutama pada
klan vampir.
Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa mati. Malah tubuh
mereka akan sangat sensitif jika tidak dijaga dengan baik. Hal tersebut bisa mengancam
kelanjutan hidup mereka. Ada satu dan dua hal yang harus mereka jauhi untuk
tetap bisa hidup abadi. Lebih mirip seperti sebuah cara untuk mempertahnkan
diri dari seleksi alam yang kian mengganas.
Populasi mahluk hidup yang tinggal di muka bumi ini kian
membludak jumlahnya setiap tahun. Oleh sebab itu, harus ada beberapa yang pergi
dari dunia agar jumlahnya tetap stabil. Sehingga ekosistem bisa berjalan
seperti sebagai mana mestinya. Memang beginilah cara semesta bekerja.
Pria itu mulai membuat beberapa skenario di dalam kepalanya.
Sebagai perbandingan dengan keadaan yang sekarang. Mungkin saat ini dia akan
baik-baik sjaa. Namun tidak ada yang tahu dengan apa yang akan terjadi selama
satu detik ke depan. Hal buruk selalu bisa saja terjadi.
Tidak bisa dipungkiri ika seorang pemimpin seperti Chanwo
pun bisa merasakan yang namanya panik dan takut. Dia masih normal. Jadi wajar
saja jika dirinya bisa merasakan berbagai macam perasaan yang selama ini
dirasakan oleh manusia juga. Termasuk jatuh cinta. Namun khusus bagi para
anggota klan, mereka hanya bisa jatuh cinta dengan sesama anggota klan juga.
Sangat dilarang keras jika mereka sampai jatuh cinta kepada mahluk hidup dari
klan lain. Terutama manusia. Pilihannya
hanya ada dua. Yaitu klan vampi dan juga klan bayangan.
“Kelihatannya, pria itu jauh lebih kuat dariku. Buktinya
saja, ia bisa bertahan di dunia luar seperti ini sampapi sekarang. Aku yakin
jika kekuatannya tidak main-main. Terlebih ia telah menguasai beberapa ilmu
sihir,” gumam pria itu.
Yang dimaksud Chanwo di sini adalah Wilson. Mereka sama-sama
berasal dari kaum kegelapan. Mereka bahkan lahir dan besar di tempat yang sama.
Hanya satu yang membedakan keduanya. Yaitu asal keturunan klan mereka. Wilson
berasal dari klan bayangan, sedangan Chanwo berasal dari klan vampir. Tapi
tetap saja mereka masih memiliki hubungan kekerabatan, karena masih berada di
kaum yang sama. Selain itu, tidak ada hal lain lagi yang bisa membedakan mereka
berdua.
“Tapi, apakah gadis itu masih hidup sebagai manusia?”
“Aku tidak menghisap habis darah manusia yang mengalir di
dalam pembuluh darahnya waktu itu kan?”
Chanwo langsung terlonjak kaget begitu mengingat hal
tersebut secara tidak sengaja. Ia langsung bangkit dari posisinya yang tengah
berbaring pada saat itu. Kini ia duduk di ujung ranjang sembari memijat
pelipisnya. Pikiran Chanwo berhasil membuatnya pergi terlalu jauh. Ia sudah
tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
‘TOK! TOK! TOK!’
Pria itu kembali terkesiap dari lamuannya untuk yang
kesekian kalinya. Ia mengangkat kepalanya. Pandanganya lurus menghadap ke
pintu.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumamnya.
Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera beranjak dari
tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamar miliknya. Bukannya seharusnya
semua orang telah terlelap pada jam segini.
“Iya, ada apa?” tanya Chanwo begitu pintunya terbuka. Ia
bukan tipikal orang yang suka bertele-tele. Jadi jika bicara dengannya, akan
lebih baik jika langsung ke intinya saja.
“Kau anak baru itu bukan?” tanya Jongdae.
Chanwo hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk
mengiyakan perkataan pria tersebut. Percakapa di antara keduanya tengah
berlangsung di ambang pintu saat ini.
“Aku hanya sedang berpatroli keliling untuk memastikan jika
setiap orang telah memasuki kamarnya masing-masing,” ungkap Jongdae.
“Aku adalah ketua asrama di sini dan hal seperti ini akan
tetap terjadi setiap harinya. Jadi, aku akan tetap mengetuk pintu kamarmu
setiap malam. Jangan keluar llagi dari tempat ini setelah pukul dua belas
malam. Itu adalah peraturannya,” jelas priaitu dengan panjang lebar.
“Baiklah, aku paham!” balas Chanwo sembari menggaruk
__ADS_1
kepalanya yang tidak gatal.