
‘ARGH!!!’
Terdengar suara teriakan geram dari dalam ruangan Do Yen
Sae. Sudah bisa dipastikan jika pelakunya adalah gadis itu sendiri. Beruntung
sedang tidak ada orang yang melintas di sekitar ruangan tersebut. Jika tidak,
pasti ia sudah menarik perhatian orang lain pada saat itu.
Do Yen Sae benar-benar frustrasi setelah kejadian tadi. Ia
gagal membuat kesepakatan dengan Eun Ji Hae. Ia tahu betul jika tidak semudah
itu untuk mempengaruhi para tetua. Jadi, Eun Ji Hae adalah sasaran pertamanya.
Tapi, sayangnya gadis itu juga tidak mudah untuk terpengaruh. Tidak bisa
dipungkiri jika mereka semua memiliki pertahanan yang cukup kuat. Bukan sembarang
orang yang bisa menembusnya dengan mudah. Orang sekelas Do Yen Sae saja tidak
bisa menaklukkan anggota keluarga yang dirasanya sebagai yang paling lemah.
“Aku harus membujuk mereka dengan berbagai macam cara pada
saat rapat malam nanti,” gumamnya.
Ia terus meyakinkan dirinya sendiri jika ia bisa melakukan
hal tersebut. Selama ini Do Yen Sae selalu bisa diandalkan dalam urusan apa
pun. Harga dirinya akan dipertaruhkan di hadapan keluarga besarnya nanti jika
mengendalikan situasi seperti ini saja ia tidak bisa.
Gadis itu hanya tinggal melanjutkan permainan yang telah
dimulai oleh kedua orang tuanya lebih dulu. Benar, mereka memulai semua ini
lebih dulu. Membuat orang-orang Mooneta menyerah dengan keadaan dan membawa
semuanya untuk masuk ke dalam jebakan mereka. Sejauh ini belum ada yang
menyadari hal tersebut. Beberapa kecurigaan tanpa bukti tidak akan menjadi
apa-apa. Memangnya siapa yang mau percaya dengan omong kosong seperti itu.
Setelah kegagalannya dalam membujuk Eun Ji Hae tadi, kini ia
harus menyiapkan amunisi baru. Do Yen Sae tidak boleh kalah lagi dalam berdu argumen
dengan para anggota keluarga Mooneta. Mereka pasti akan menyerang Do Yen Sae
habis-habisan. Sebelum hal itu terjadi, ia akan berusaha untuk mengantisipasi
semuanya. Setiap kemungkinan terburuk yang ada di dalam kepalanya harus ia
pikirkan jalan keluarnya.
Do Yen Sae akan bertindak sendirian seperti biasanya. Ia
tidak mau melibatkan orang lain dalam rencananya kali ini. Pasalnya, gadis ini
tidak bisa percaya dengan sembarang orang. Bahkan orang yang menurutnya paling
tepat sendiri tidak bisa untuk mengemban hal itu. Waspada akan membuatnya tetap
__ADS_1
aman.
***
Salju abadi yang turun beberapa saat lalu di derah sekitar
akademi sihir Mooneta dan nyaris mengubur bangunan sekolah itu sebenarnya bukan
salju abadi seperti yang mereka pikirkan. Semua itu adalah perbuatan pimpinan
Reodal. Lebih tepatnya ayah dan ibu Do Yen Sae. Mereka telah merencanakannya
sejak lama. Namun, baru kemarinlah rencananya benar-benar rampung dan matang.
Suddah seribu tahun yan glalu sejak peristiwa salju abadi
terakhir kali terjadi. Seperti yang tercatat dalam sejarah, jika salju abadi akan
turun dalam seribu tahun sekali. Oleh sebab itu kenapa peristiwa tersebut
disebut juga sebagai siklus seribu tahun sekali.
Jika ditinjau kembali, maka kita akan menemukan beberapa hal
yang terasa janggal dalam peristiwa kali ini. Di dalam buku sejarah dituliskan
jika salju abadi amat mematikan. Mereka tidak hanya menyerang manusia saja.
Salju abadi akan membekukan setiap hal yang bersentuhan secara langsung
dengannya. Baik mahluk hidup maupun benda mati. Semua aakan mengalami reaksi
yang sama jika terkena serbuk salju abadi.
Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang menyadari soal
salju abadi juga tidak benar-benar berwarna putih bersih seperti salju pada
umumnya. Warnanya akan agak kekuningan. Hampir mendenkati warna putih gading. Semua
itu disebabkan akibat serbuk salju yang menyerap cahaya rembulan.
Salju abadi akan turun dalan jangka waktu seribu tahun
sekali. Lebih tepatnya ketika malam bulan purnama. Jika memori mereka dibawa
kembali ke masa beberapa hari yang lalu, pasti mereka masih bisa mengingat
dengan jelas bagaimana kronologinya. Pagi itu mendadak salju turun untuk
pertama kalinya dalam musim ini. Tapi, itu adalah salju mematikan yang akan
membawa petaka kepada mereka semua. Tidak ada yang pernah menduga hal itu akan
terjadi sebelumnya.
Pada faktanya, salju abadi tidak akan pernah turun pada saat
matahari sedang bertengger di angkasa. Peristiwa tersebut baru akan terjadi
hanya pada saat malam bulan purnama musim dingin. Sangat mustahil bagi salju
abadi untuk turun selain pada waktu yang telah ditentukan.
Seharusnya mereka telah menjadikan semua ini sebagai
patokan. Terlihat jelas jika semua itu hanya tipuan belaka. Reodal tengah
__ADS_1
berusaha untuk memanipulasi mereka dengan berbagai cara. Tentu saja untuk
mendapatkan kekuasaan. Mereka akan lebih mudah dalam melakukan segalanya jika
telah berhasil menaklukkan Mooneta. Keduanya sudah lama saling bersaing.
Harusnya sejak awal mereka sduah curiga dengan hal tersebut.
Ada banyak bukti yang sudah mereka kumpulkan sejauh ini. Harusnya sudah cukup
kuat untuk meyakinkan orang-orang jika itu bukan salju abadi.
Mungkin saja kejadian pembunuhan, siluman ular dan berbagai
peristiwa lainnya adalah ulah dari orang yang sama juga. Pelakunya tidak akan
pernah mau mengaku lebih dulu sebelum tertangkap basa. Memang begitu prinsipnya
sejak awal. Jadi, salah satu dari mereka harus mengungkap faktanya terlebih
dahulu. Terutama setiap perbuatan dan sikap busuk para petinggi akademi ini.
Bagaimana bisa mereka tetap membuat akademi Reodal berdiri di atas rasa
tamak. Apa pun yang tidak berdasarkan
kejujuran tentu tidak akan berhasil.
***
Terlepas dari semua hal yang sudah mereka lalui sampai hari
ini, semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika
bahaya akan menyerang sebentar lagi. Terbukti jika mereka akan jauh lebih aman
kalau berada serta menetap di suatu tempat. Seperti asrama ini misalnya. Bukan
dengan berkeliaran di hutan belantara sendirian. Kemudian menemukan berbagai
macam masalah yang tak terduga. Mulai dari naga danau tawar hingga kawanan
serigala. Sama sekali tidak lucu. Tak ada satupun dari mereka yang mau
mengalami hal tersebut. Itu adalah pengalaman paling buruk di dalam hidup
mereka sejauh ini. Tidak ada yang bisa menandinginya.
Semua orang tengah sibuk untuk mempersiapkan kedatangan sang
malam. Gulita yang hampir menyelimuti kota sudah berada di ujung cakrawala. Matahari
bahkan nyaris menghilang di balik bebukitan itu. Ia akan kembali lagi besok
kalau masih mendapat kesempatan. Semua peristiwa itu diakhiri dengan rembulan
yang keluar dari sangkarnya. Bersamaan dengan munculnya benda-benda langit.
Mereka tidak bisa beraktifitas
jika kondisi ruangannya gelap seperti ini. Oleh sebab itu, semuanya tampak
sibuk menyakan lilin di atas pasak-pasak yang telah ditetapkan. Kondisinya akan
jauh lebih baik begitu ada seberkas cahaya yang menyapa indera pengelihatan
mereka. Setidaknya mereka tak perlu seperti orang buta saat beraktifitas.
__ADS_1