Mooneta High School

Mooneta High School
Siuman


__ADS_3

 


 


Gadis itu telah sadarkan diri, namun kondisinya masih sangat


lemah. Ia belum bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk sekedar bangkit dari


posisinya saat ini saja ia tidak bisa. Choi Ara mengusap-usap matanya pelan.


Cahaya lilin menyapa pandangannya dengan cara yang sangat tidak ramah. Ia masih


perlu beradaptasi dalam ruangan terang seperti ini setelah lama terjebak di


dalam kegelapan.


“Kenapa aku bisa ada di sini?” gumam gadis itu pelan sembari


memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


“Aku yang membawaku ke sini,” balas Eun Ji Hae.


“Kakak Ji?” bingungnya.


Satu-satunya pertanyaan yang ada di dalam kepalanya saat ini


adalah, kenapa ia bisa sampai di ruangan Eun Ji Hae. Yang ia ingat terakhir


kali adalah dirinya terkundi di menara pengawas sampai hari gelap. Choi Ara


bahkan tidak bisa bertahan di sana karena suhu udaranya yang sangat tidak


bersahabat. Ia juga kelaparan. Gadis itu nyaris meregang nyawa di sana. Tapi beruntung


Eun Ji Hae bergegas untuk menghampiri Choi Ara dan berhasil menyelamatkannya


dari maut. Gadis ini berhutang nyawa kepada Eun Ji Hae. Jika ia tidak datang


diwaktu yang tepat, mungkin Choi Ara tidak akan selamat. Presentase


kemungkinannya untuk bertahan hidup sangatlah kecil.


“Aishh!!!” lirih Choi Ara.


Rasanya badan gadis ini sakit semua. Ia nyaris membeku di


atas menara tadi. Rasa dingin menyeruak tajam, menusuk hingga ke lapisan


terdalam kulitnya. Bahkan sendi-sendinya saja ikut membeku. Choi Ara tidak bisa


membayangkan bagaimana nasibnya jika ia masih terjebak di atas sana sampai saat


ini. Mungkin begitu sadar, ia sudah berada di alam yang berbeda.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Eun Ji Hae dengan datar.


“Aku baik-baik saja,” jawabnya.


Eun Ji Hae tahu betul jika gadis ini sedang berbohong. Sudah


jelas-jelas jika kondisinya saat ini sama sekali tidak baik-baik saja. Ia masih


terlalu lemah.


“Jangan beranjak dari sana!” cegah Eun Ji Hae.


Choi Ara yang mendengar perkataan tersebut langsung


mendongakkan kepalanya. Dahinya berkerut bingung.


“Tidurlah di sini malam ini. Setidaknya sampai kondisimu

__ADS_1


kembali seperti semula,” ujar Eun Ji Hae.


“Tapi-“


“Jangan membantah!”


Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Eun Ji Hae


telah memotongnya lebih dulu. Hal tersebut membuat Choi Ara mengurungkan


niatnya seketika. Ia tahu jika Eun Ji Hae bukanlah seseorang yang dapat


dibantah perintahnya. Choi Ara tidak ingin mencari masalah dengan gadis itu.


“Lalu, Kakak Ji akan tidur dimana?” tanya Choi Ara tanpa


mengurangi rasa hormatnya sedikitpun.


“Kasur ini cukup untuk menampung kita berdua,” jawabnya.


Choi Ara mengangguk paham dengan ucapan gadis ini barusan. Kedua


bola matanya masih setia menyoroti Eun Ji Hae yang terlihat mondar-mandir.


Bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin memeastikan jika gadis itu benar-benar akan


pergi tidur setelah ini. Tapi sebelum tidur, biasanya Eun Ji Hae akan melakukan


beberapa ritual terlebih dahulu. Bukan sesuatu yang berbau mistis atau


sebagainya. Ia hanya beberes. Semua itu ia lakukan demi tidur yang nyenyak.


“Kenapa kau menatapku dengan seperti itu?” ketus Eun Ji Hae.


Choi Ara langsung memalingkan pandangannya ke arah lain,


asalkan bukan melihat Eun Ji Hae. Sepertinya gadis itu sadar jika dirinya


saat diperlakukan seperti itu.


“Apa sungguh tidak apa jika mala mini aku tidur di sini?”


tanya Choi Ara dengan penuh keraguan. Pasalnya ia tidak benar-benar yakin soal


tawaran Eun Ji Hae.


“Ikuti saja perkataanku!” tegasnya sekali lagi.


Eun Ji Hae bukan tipikal orang yang suka dibantah, apa lagi


dilawan. Dia memiliki jiwa kepemimpinan. Eun Ji Hae juga memiliki charisma tersendiri.


Auranya cukup mencekam. Cukup untuk mengintimidasi orang-orang yang berada di


sekitarnya.


Untuk pertama kalinya gadis biasa sepertinya berhasil masuk


ke gedung utama tanpa ketahuan seperti ini. Bahkan ia akan tidur sekamar dengan


Eun Ji Hae. Yang dimana semua orang juga tahu jika ini adalah sebuah


kehormatan. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini. Hanya mereka dengan hak


istimewa yang dapat mengakses setiap bagian dari tempat ini. Choi Ara adalah


salah satu orang yang beruntung.


“Jika kau memang ingin segera kembali ke asrama, maka


lakukan itu besok. Pagi-pagi sekali,” ujarnya.

__ADS_1


“Kau hanya akan memancing keributan jika keluar malam-malam


seperti ini. Bibi Ga Eun pasti akan menanyaimu. Jadi jangan seret aku ke dalam


masalah it,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Kalimat barusan lebih terdengar seperti sebuah peringatan


keras bagi Choi Ara, daripada sebuah penjelasan. Eun Ji Hae telah memberitahu


konsekuensinya jika ia tetap nekat untuk kembali ke asrama pada pukul segini.


Eun Ji Hae yakin jika Bibi Ga Eun belum benar-benar tidur.


Akan sulit bagi orang yang merasa sedih berlebihan untuk tidur nyenyak. Hari


ini wanita itu masih dalam suasana berkabung. Kemungkinan ia akan terjaga sepanjang


malam.


Eun Ji Hae membaringkan tubuhnya tepat di samping gadis itu.


Membenamkan kepalanya di atas bantal. Pandangannya lurus menatap langit-langit


ruangan. Tak lupa, ia juga merik selimutnya hingga setinggi dada. Udara malam


ini cukup dingin jika ia harus tidur tanpa selimut. Gadis itu menghela napasnya


dengan kasar. Membuat uap dari sisa pernapasan itu tergambar dengan jelas di


udara.


“Jadi, informasi apa yang kau punya soal Nhea?” tanya Eun Ji


Hae.


Ternyata tujuannya kemari bukan untuk benar-benar tidur.


Tapi ia akan mulai menginterogasi Choi Ara. Eun Ji Hae akan menuntut banyak hal


dari gadis itu malam ini. Kondisinya bisa saja memang masih sakit. Tapi tugas


tetaplah tugas. Eun Ji Hae sempat memberikannya sebuah tugas untuk ia jalankan.


Dan sekarang ia akan meminta hasilnya.


“Aku tidak mendapatkan apa-apa hari ini Kakak Ji,” jujurnya.


Secepat kilat, Eun Ji Hae segera melemparkan tatapan nan


sinis itu kepada seorang gadis yang tengah terbaring lemah tepat di sebelahnya.


Darahnya langsung mendidih begitu mendengar kalimat tersebut meluncur keluar


dari bibir Choi Ara. Bukan hal buruk seperti itu yang ia harapkan. Eun Ji Hae


bahkan tidak mendapatkan apa yang ia mau saat ini. Bagaimana bisa hasilnya


nihil seperti itu. Lantas untuk apa Eun Ji Hae repot-repot menyuruh gadis tidak


berguna ini. Tahu begitu, ia biarkan saja tadi Choi Ara sekarat.


“Bagaimana bisa kau tidak mendapatkan apapun!” protes Eun Ji


Hae tidak terima.


“Maafkan aku Kakak Ji,” lirihnya.


Choi Ara benar-benar merasa bersalah saat ini. Ia tidak tahu


harus bereaksi bagaimana terhadap situasi yang sedang terjadi sekarang. Tidak

__ADS_1


banyak yang bisa ia harapkan. Keadaannya benar-benar kacau di luar ekspektasi.


__ADS_2