
Gadis itu telah sadarkan diri, namun kondisinya masih sangat
lemah. Ia belum bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk sekedar bangkit dari
posisinya saat ini saja ia tidak bisa. Choi Ara mengusap-usap matanya pelan.
Cahaya lilin menyapa pandangannya dengan cara yang sangat tidak ramah. Ia masih
perlu beradaptasi dalam ruangan terang seperti ini setelah lama terjebak di
dalam kegelapan.
“Kenapa aku bisa ada di sini?” gumam gadis itu pelan sembari
memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
“Aku yang membawaku ke sini,” balas Eun Ji Hae.
“Kakak Ji?” bingungnya.
Satu-satunya pertanyaan yang ada di dalam kepalanya saat ini
adalah, kenapa ia bisa sampai di ruangan Eun Ji Hae. Yang ia ingat terakhir
kali adalah dirinya terkundi di menara pengawas sampai hari gelap. Choi Ara
bahkan tidak bisa bertahan di sana karena suhu udaranya yang sangat tidak
bersahabat. Ia juga kelaparan. Gadis itu nyaris meregang nyawa di sana. Tapi beruntung
Eun Ji Hae bergegas untuk menghampiri Choi Ara dan berhasil menyelamatkannya
dari maut. Gadis ini berhutang nyawa kepada Eun Ji Hae. Jika ia tidak datang
diwaktu yang tepat, mungkin Choi Ara tidak akan selamat. Presentase
kemungkinannya untuk bertahan hidup sangatlah kecil.
“Aishh!!!” lirih Choi Ara.
Rasanya badan gadis ini sakit semua. Ia nyaris membeku di
atas menara tadi. Rasa dingin menyeruak tajam, menusuk hingga ke lapisan
terdalam kulitnya. Bahkan sendi-sendinya saja ikut membeku. Choi Ara tidak bisa
membayangkan bagaimana nasibnya jika ia masih terjebak di atas sana sampai saat
ini. Mungkin begitu sadar, ia sudah berada di alam yang berbeda.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Eun Ji Hae dengan datar.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya.
Eun Ji Hae tahu betul jika gadis ini sedang berbohong. Sudah
jelas-jelas jika kondisinya saat ini sama sekali tidak baik-baik saja. Ia masih
terlalu lemah.
“Jangan beranjak dari sana!” cegah Eun Ji Hae.
Choi Ara yang mendengar perkataan tersebut langsung
mendongakkan kepalanya. Dahinya berkerut bingung.
“Tidurlah di sini malam ini. Setidaknya sampai kondisimu
__ADS_1
kembali seperti semula,” ujar Eun Ji Hae.
“Tapi-“
“Jangan membantah!”
Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Eun Ji Hae
telah memotongnya lebih dulu. Hal tersebut membuat Choi Ara mengurungkan
niatnya seketika. Ia tahu jika Eun Ji Hae bukanlah seseorang yang dapat
dibantah perintahnya. Choi Ara tidak ingin mencari masalah dengan gadis itu.
“Lalu, Kakak Ji akan tidur dimana?” tanya Choi Ara tanpa
mengurangi rasa hormatnya sedikitpun.
“Kasur ini cukup untuk menampung kita berdua,” jawabnya.
Choi Ara mengangguk paham dengan ucapan gadis ini barusan. Kedua
bola matanya masih setia menyoroti Eun Ji Hae yang terlihat mondar-mandir.
Bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin memeastikan jika gadis itu benar-benar akan
pergi tidur setelah ini. Tapi sebelum tidur, biasanya Eun Ji Hae akan melakukan
beberapa ritual terlebih dahulu. Bukan sesuatu yang berbau mistis atau
sebagainya. Ia hanya beberes. Semua itu ia lakukan demi tidur yang nyenyak.
“Kenapa kau menatapku dengan seperti itu?” ketus Eun Ji Hae.
Choi Ara langsung memalingkan pandangannya ke arah lain,
asalkan bukan melihat Eun Ji Hae. Sepertinya gadis itu sadar jika dirinya
saat diperlakukan seperti itu.
“Apa sungguh tidak apa jika mala mini aku tidur di sini?”
tanya Choi Ara dengan penuh keraguan. Pasalnya ia tidak benar-benar yakin soal
tawaran Eun Ji Hae.
“Ikuti saja perkataanku!” tegasnya sekali lagi.
Eun Ji Hae bukan tipikal orang yang suka dibantah, apa lagi
dilawan. Dia memiliki jiwa kepemimpinan. Eun Ji Hae juga memiliki charisma tersendiri.
Auranya cukup mencekam. Cukup untuk mengintimidasi orang-orang yang berada di
sekitarnya.
Untuk pertama kalinya gadis biasa sepertinya berhasil masuk
ke gedung utama tanpa ketahuan seperti ini. Bahkan ia akan tidur sekamar dengan
Eun Ji Hae. Yang dimana semua orang juga tahu jika ini adalah sebuah
kehormatan. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini. Hanya mereka dengan hak
istimewa yang dapat mengakses setiap bagian dari tempat ini. Choi Ara adalah
salah satu orang yang beruntung.
“Jika kau memang ingin segera kembali ke asrama, maka
lakukan itu besok. Pagi-pagi sekali,” ujarnya.
__ADS_1
“Kau hanya akan memancing keributan jika keluar malam-malam
seperti ini. Bibi Ga Eun pasti akan menanyaimu. Jadi jangan seret aku ke dalam
masalah it,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Kalimat barusan lebih terdengar seperti sebuah peringatan
keras bagi Choi Ara, daripada sebuah penjelasan. Eun Ji Hae telah memberitahu
konsekuensinya jika ia tetap nekat untuk kembali ke asrama pada pukul segini.
Eun Ji Hae yakin jika Bibi Ga Eun belum benar-benar tidur.
Akan sulit bagi orang yang merasa sedih berlebihan untuk tidur nyenyak. Hari
ini wanita itu masih dalam suasana berkabung. Kemungkinan ia akan terjaga sepanjang
malam.
Eun Ji Hae membaringkan tubuhnya tepat di samping gadis itu.
Membenamkan kepalanya di atas bantal. Pandangannya lurus menatap langit-langit
ruangan. Tak lupa, ia juga merik selimutnya hingga setinggi dada. Udara malam
ini cukup dingin jika ia harus tidur tanpa selimut. Gadis itu menghela napasnya
dengan kasar. Membuat uap dari sisa pernapasan itu tergambar dengan jelas di
udara.
“Jadi, informasi apa yang kau punya soal Nhea?” tanya Eun Ji
Hae.
Ternyata tujuannya kemari bukan untuk benar-benar tidur.
Tapi ia akan mulai menginterogasi Choi Ara. Eun Ji Hae akan menuntut banyak hal
dari gadis itu malam ini. Kondisinya bisa saja memang masih sakit. Tapi tugas
tetaplah tugas. Eun Ji Hae sempat memberikannya sebuah tugas untuk ia jalankan.
Dan sekarang ia akan meminta hasilnya.
“Aku tidak mendapatkan apa-apa hari ini Kakak Ji,” jujurnya.
Secepat kilat, Eun Ji Hae segera melemparkan tatapan nan
sinis itu kepada seorang gadis yang tengah terbaring lemah tepat di sebelahnya.
Darahnya langsung mendidih begitu mendengar kalimat tersebut meluncur keluar
dari bibir Choi Ara. Bukan hal buruk seperti itu yang ia harapkan. Eun Ji Hae
bahkan tidak mendapatkan apa yang ia mau saat ini. Bagaimana bisa hasilnya
nihil seperti itu. Lantas untuk apa Eun Ji Hae repot-repot menyuruh gadis tidak
berguna ini. Tahu begitu, ia biarkan saja tadi Choi Ara sekarat.
“Bagaimana bisa kau tidak mendapatkan apapun!” protes Eun Ji
Hae tidak terima.
“Maafkan aku Kakak Ji,” lirihnya.
Choi Ara benar-benar merasa bersalah saat ini. Ia tidak tahu
harus bereaksi bagaimana terhadap situasi yang sedang terjadi sekarang. Tidak
__ADS_1
banyak yang bisa ia harapkan. Keadaannya benar-benar kacau di luar ekspektasi.