
Eun Ji Hae kembali melanjutkan
perjalanannya setelah mengurusi anak-anak itu. Mereka langsung memadamkan
lentera di ruangan dan langsung meninggalkan tempat itu lebih dulu daripada Eun
Ji Hae. Tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di tempat ini lebih lama
lagi. Semua ini benar-benar terjadi di luar perkiraan mereka sebelumnya.
‘TAP! TAP! TAP!’
Masih berkutat di ruangan yang
sama, ada beberapa kertas lagi yang perlu ia kumpulkan di ruangan paling ujung
sebelum beralih ke lantai terakhir yaitu lantai tiga.
‘SYUTT!!!’
Eun Ji Hae lantas mengalihkan
pandangannya dengan cepat saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Entah apa itu. Sepertinya barusan ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tunggu
dulu. Bukan sebatas orang saja. Sebuah banyangan yang melintas dengan cepat.
Sebenarnya Eun Ji Hae juga tidak tahu betul apa itu tadi. Ia tidak bisa
menangkap sosok tersebut dengan jelas. Selain karena pencahayaan yang minim,
pergerakannya juga sangat cepat. Eun Ji Hae kalah cepat untuk yang satu itu.
“Apa itu tadi?” gumamnya.
Eun Ji Hae masih belum berkutik
sama sekali. Ia tetap bergeming. Mematung di tempat. Kedua bola matanya
beredar. Menyisir setiap bagian dari tempat ini. Bahkan sudut terkecil sekali
pun tidak akan luput dari pandangannya.
Tidak ada sesuatu yang aneh. Eun
Ji Hae bahkan tidak menemukan sesuatu yang terlihat janggal di sini. Padahal,
tadi ia yakin betul kalau ada yang tidak beres.
“Mungkin hanya perasaanku saja,”
batinnya dalam hati.
Eun Ji Hae masih berupaya untuk
berpikir positif. Meski sebenanrya, ia telah menaruh rasa curiga berlebih.
Tapi, ia akan dianggap tidak adil karena menuduh tanpa bukti sama sekali.
Tak ingin ambil pusing soal hal
tersebut, Eun Ji Hae kembali melanjutkan perjalanannya. Kini ia beralih ke
tangga yang menghubungkan antara lantai dua dengan lantai tiga. Kurang lebih
panjangnya sama dengan deretan anak tangga yang pernah ia lalui sebelumnya. Dia
akan lebih cepat kembali ke kamar dan bisa segera pergi tidur jika pekerjaannya
telah selesai. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi setelahnya. Setidaknya, ia
bisa tertidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan apa pun.
__ADS_1
Bulu kuduknya memang sempat
meremang akibat kejadian itu tadi. Tapi, Eun Ji Hae bukan seseorang yang akan
memberi reaksi berlebihan terhadap sesuatu. Raut wajahnya selalu terkesan
datar. Kapan saja dalam situasi apa pun. Karena ia sadar jika otaknya tidak
akan memapu berpikir dengan jernih selama masih memiliki emosi berlebih.
Kemampuan untuk mengontrol diri sendiri adalah yang paling utama.
Eun Ji Hae tidak takut sama
sekali. Berjalan sendirian malam-malam seperti ini bukan lagi sesuatu yang
menakutkan. Hampir setiap hari ia melakukannya. Jadi, gadis itu sudah cukup
terbiasa dengan semua itu. Eun Ji Hae bahkan sudah hapal seperti apa kondisi
malam hati di seluruh penjuru akademi sihir Mooneta. Tidak ada yang perlu
dicemaskan lagi. Meski terkadang pasti ada saja sesuatu yang terjadi di luar
perkiraannya. Seperti yang tadi misalnya.
Tapi, Eun Ji Hae tidak akan
mempermasalahkan semua itu.Dia bukan tipikal orang yang suka mencari masalah
dengan orang lain. Begitu pula sebaliknya. Ada kejadian saling timbal balik
yang cukup menguuntungkan sebenarnya di sini. Jika tidak ingin didesak orang
lain, makakita juga tidak boleh mendesak. Itu adalah prinsip paling benar
sejauh ini.
Begitu sampai di lantai tiga,
kalut kala gulita menghadang. Tapi, dengan cepat ia bisa langsung kembali
mengontrol dirinya sendiri.
Sepertinya semua lentera yang ada
di sini padam karena semilir angin malam yang cukup kencang. Jendela besar yang
terletak di ujung koridor sedang terbuka lebar. Itu pasti penyabab utamanya. Angin
yang berhembus dari arah barat membuat bisa keluar masuk dengan bebas dari
jendela tersebut.
“Siapa yang lupa menutup jendela
seperti ini?!” gerutu Eun Ji Hae sebal.
Situasi seperti ini membuatnya
mau tak mau harus bekerja dua kali. Sungguh melelahkan dan tidak efisien. Hal
tersebut membuatnya mau tak mau harus pergi ke ujung koridor terlebih dahulu
untuk menutup jendela tersebut. Kemudian menyalakan lagi lenteranya lalu
mengumpulkan kertas-kertas penting yang tersebar di sepanjang lorong lantai
tiga.
Entah kesialan macam apa yang
sedang melanda dirinya kali ini. Sepertinya Dewi Fortuna memang sedang tidak
__ADS_1
memihak kepada Eun Ji Hae. Hal-hal buruk selalu datang kepadanya tanpa henti
sejak tadi pagi. Seperti sebuah serangan ultimatum yang memang sengaja semesta
lancarkan kepadanya.
Eun Ji Hae dibuat idak berhenti
mengeluh serta menggerutu sejak tadi pagi. Semesta benar-benar berlaku secara
tidak adil hari ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Protes pun tidak akan
berpengaruh apa-apa. Eun Ji Hae tidak akan pernah mau melakukan pekerjaan yang
ebrujung sia-sia seperti itu.
Dengan langkah berat, Eun Ji Hae
mulai berjalan menyusuri koridor yang gelap gulita. Hanya ada pasokan sinar
rembulan yang tidak berpengaruh banyak. Bahkan, rasanya sulit bagi benda langit
yang satu itu untuk mencuatkan sinarnya sampai ke ujung lorong sekali pun.
Ia rela diterpa angin malam
sepert ini. Tidak terlalu kencang sebenarnya. Tapi, juga tidak bisa dikatakan
sebagai angin sepoi-sepoi saja. Eun Ji Hae harus memegang kertas yang ada di
dalam genggamannya saat ini dengan kuat-kuat. Supaya tidak terbang dan
berantakan lagi dibuat angin. Bisa-bisa pekerjaannya tidak akan selesai sampai
fajar muncul. Bukan hanya sampai di situ saja. Bibi Ga Eun mungkin juga akan
memarahinya habis-habisan. Mengingat, beberapa kertas mungkin bisa hilang
karena berserakan diterpa oleh angin malam yang bertiup kala itu.
‘KRIETTT!!!’
Kedua belah daun jendela yang
ditarik menimbulkan suara berderit yang cukup nyaring. Bahkan Eun Ji Hae sampai
memejamkan matanya karena merasa ngilu. Sepertinya mereka memang benar-benar
harus memperbaiki setiap engsel yang ada di bangunan ini.
“Fiuhh…”
Sekarang situasinya sudah jauh
lebih baik daripada yang sebelumnya. Tidak ada lagi angin malam yang bertiup
kencang dari arah barat. Bahkan ia sampai mengacaukan seisi koridor ini.
Memadamkan semua lentera yang ada. Mau tak mau Eun Ji Hae terpaksa harus
menyalakan lagi semua lentera. Dia membutuhkan paling tidak seberkas cahaya
untuk menerangi pandangannya. Tidak ada yang bisa dilakukan pada saat gelap
gulita seperti ini oleh manusia biasa. Terkecuali para klan yang memang
memiliki kemampuan untuk melihat di malam hari.
Beruntung salah satu ruangan masih memiliki
lentera yang menyala. Setidaknya ia bisa menggunakan yang satu itu untuk
sementara waktu sembari menyusuri koridor. Eun Ji Hae membatalkan niatnya untuk
__ADS_1
menyalakan semua lentera di sepanjang koridor itu. Menurutnya terlalu memakan
banyak waktu dan