Mooneta High School

Mooneta High School
Wind


__ADS_3

Eun Ji Hae kembali melanjutkan


perjalanannya setelah mengurusi anak-anak itu. Mereka langsung memadamkan


lentera di ruangan dan langsung meninggalkan tempat itu lebih dulu daripada Eun


Ji Hae. Tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di tempat ini lebih lama


lagi. Semua ini benar-benar terjadi di luar perkiraan mereka sebelumnya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Masih berkutat di ruangan yang


sama, ada beberapa kertas lagi yang perlu ia kumpulkan di ruangan paling ujung


sebelum beralih ke lantai terakhir yaitu lantai tiga.


‘SYUTT!!!’


Eun Ji Hae lantas mengalihkan


pandangannya dengan cepat saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres di sini.


Entah apa itu. Sepertinya barusan ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tunggu


dulu. Bukan sebatas orang saja. Sebuah banyangan yang melintas dengan cepat.


Sebenarnya Eun Ji Hae juga tidak tahu betul apa itu tadi. Ia tidak bisa


menangkap sosok tersebut dengan jelas. Selain karena pencahayaan yang minim,


pergerakannya juga sangat cepat. Eun Ji Hae kalah cepat untuk yang satu itu.


“Apa itu tadi?” gumamnya.


Eun Ji Hae masih belum berkutik


sama sekali. Ia tetap bergeming. Mematung di tempat. Kedua bola matanya


beredar. Menyisir setiap bagian dari tempat ini. Bahkan sudut terkecil sekali


pun tidak akan luput dari pandangannya.


Tidak ada sesuatu yang aneh. Eun


Ji Hae bahkan tidak menemukan sesuatu yang terlihat janggal di sini. Padahal,


tadi ia yakin betul kalau ada yang tidak beres.


“Mungkin hanya perasaanku saja,”


batinnya dalam hati.


Eun Ji Hae masih berupaya untuk


berpikir positif. Meski sebenanrya, ia telah menaruh rasa curiga berlebih.


Tapi, ia akan dianggap tidak adil karena menuduh tanpa bukti sama sekali.


Tak ingin ambil pusing soal hal


tersebut, Eun Ji Hae kembali melanjutkan perjalanannya. Kini ia beralih ke


tangga yang menghubungkan antara lantai dua dengan lantai tiga. Kurang lebih


panjangnya sama dengan deretan anak tangga yang pernah ia lalui sebelumnya. Dia


akan lebih cepat kembali ke kamar dan bisa segera pergi tidur jika pekerjaannya


telah selesai. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi setelahnya. Setidaknya, ia


bisa tertidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan apa pun.

__ADS_1


Bulu kuduknya memang sempat


meremang akibat kejadian itu tadi. Tapi, Eun Ji Hae bukan seseorang yang akan


memberi reaksi berlebihan terhadap sesuatu. Raut wajahnya selalu terkesan


datar. Kapan saja dalam situasi apa pun. Karena ia sadar jika otaknya tidak


akan memapu berpikir dengan jernih selama masih memiliki emosi berlebih.


Kemampuan untuk mengontrol diri sendiri adalah yang paling utama.


Eun Ji Hae tidak takut sama


sekali. Berjalan sendirian malam-malam seperti ini bukan lagi sesuatu yang


menakutkan. Hampir setiap hari ia melakukannya. Jadi, gadis itu sudah cukup


terbiasa dengan semua itu. Eun Ji Hae bahkan sudah hapal seperti apa kondisi


malam hati di seluruh penjuru akademi sihir Mooneta. Tidak ada yang perlu


dicemaskan lagi. Meski terkadang pasti ada saja sesuatu yang terjadi di luar


perkiraannya. Seperti yang tadi misalnya.


Tapi, Eun Ji Hae tidak akan


mempermasalahkan semua itu.Dia bukan tipikal orang yang suka mencari masalah


dengan orang lain. Begitu pula sebaliknya. Ada kejadian saling timbal balik


yang cukup menguuntungkan sebenarnya di sini. Jika tidak ingin didesak orang


lain, makakita juga tidak boleh mendesak. Itu adalah prinsip paling benar


sejauh ini.


Begitu sampai di lantai tiga,


kalut kala gulita menghadang. Tapi, dengan cepat ia bisa langsung kembali


mengontrol dirinya sendiri.


Sepertinya semua lentera yang ada


di sini padam karena semilir angin malam yang cukup kencang. Jendela besar yang


terletak di ujung koridor sedang terbuka lebar. Itu pasti penyabab utamanya. Angin


yang berhembus dari arah barat membuat bisa keluar masuk dengan bebas dari


jendela tersebut.


“Siapa yang lupa menutup jendela


seperti ini?!” gerutu Eun Ji Hae sebal.


Situasi seperti ini membuatnya


mau tak mau harus bekerja dua kali. Sungguh melelahkan dan tidak efisien. Hal


tersebut membuatnya mau tak mau harus pergi ke ujung koridor terlebih dahulu


untuk menutup jendela tersebut. Kemudian menyalakan lagi lenteranya lalu


mengumpulkan kertas-kertas penting yang tersebar di sepanjang lorong lantai


tiga.


Entah kesialan macam apa yang


sedang melanda dirinya kali ini. Sepertinya Dewi Fortuna memang sedang tidak

__ADS_1


memihak kepada Eun Ji Hae. Hal-hal buruk selalu datang kepadanya tanpa henti


sejak tadi pagi. Seperti sebuah serangan ultimatum yang memang sengaja semesta


lancarkan kepadanya.


Eun Ji Hae dibuat idak berhenti


mengeluh serta menggerutu sejak tadi pagi. Semesta benar-benar berlaku secara


tidak adil hari ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Protes pun tidak akan


berpengaruh apa-apa. Eun Ji Hae tidak akan pernah mau melakukan pekerjaan yang


ebrujung sia-sia seperti itu.


Dengan langkah berat, Eun Ji Hae


mulai berjalan menyusuri koridor yang gelap gulita. Hanya ada pasokan sinar


rembulan yang tidak berpengaruh banyak. Bahkan, rasanya sulit bagi benda langit


yang satu itu untuk mencuatkan sinarnya sampai ke ujung lorong sekali pun.


Ia rela diterpa angin malam


sepert ini. Tidak terlalu kencang sebenarnya. Tapi, juga tidak bisa dikatakan


sebagai angin sepoi-sepoi saja. Eun Ji Hae harus memegang kertas yang ada di


dalam genggamannya saat ini dengan kuat-kuat. Supaya tidak terbang dan


berantakan lagi dibuat angin. Bisa-bisa pekerjaannya tidak akan selesai sampai


fajar muncul. Bukan hanya sampai di situ saja. Bibi Ga Eun mungkin juga akan


memarahinya habis-habisan. Mengingat, beberapa kertas mungkin bisa hilang


karena berserakan diterpa oleh angin malam yang bertiup kala itu.


‘KRIETTT!!!’


Kedua belah daun jendela yang


ditarik menimbulkan suara berderit yang cukup nyaring. Bahkan Eun Ji Hae sampai


memejamkan matanya karena merasa ngilu. Sepertinya mereka memang benar-benar


harus memperbaiki setiap engsel yang ada di bangunan ini.


“Fiuhh…”


Sekarang situasinya sudah jauh


lebih baik daripada yang sebelumnya. Tidak ada lagi angin malam yang bertiup


kencang dari arah barat. Bahkan ia sampai mengacaukan seisi koridor ini.


Memadamkan semua lentera yang ada. Mau tak mau Eun Ji Hae terpaksa harus


menyalakan lagi semua lentera. Dia membutuhkan paling tidak seberkas cahaya


untuk menerangi pandangannya. Tidak ada yang bisa dilakukan pada saat gelap


gulita seperti ini oleh manusia biasa. Terkecuali para klan yang memang


memiliki kemampuan untuk melihat di malam hari.


Beruntung salah satu ruangan masih memiliki


lentera yang menyala. Setidaknya ia bisa menggunakan yang satu itu untuk


sementara waktu sembari menyusuri koridor. Eun Ji Hae membatalkan niatnya untuk

__ADS_1


menyalakan semua lentera di sepanjang koridor itu. Menurutnya terlalu memakan


banyak waktu dan


__ADS_2