
Seluruh siswa kini telah berkumpul di aula. Bibi menyampaikan rencana yang telah kami setujui bersama. Sebuah rencana yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku berharap agar rencana pertamaku ini berhasil.
Sekarang semuanya mengikuti instruksi bibi untuk berdiri mengelilingi area sekolah. Kami semua saling berpegangan tangan satu sama lain, membentuk sebuah lingkaran besar tanpa sudut. Seisi sekolah turut berpartisipasi dalam hal ini. Kami memastikan jika lingkaran raksasa ini cukup untuk mengapit sekolah, serta tidak ada celah sama sekali.
"Semuanya sudah siap?"
Suara itu terdengar begitu lantang, menggelegar, menggema ke seluruh penjuru sekolah. Bibi berdiri di atas rooftop untuk mengkomando kami. Tentu saja ia tak perlu melewati tangga untuk menuju ke atas sana. Ia punya cukup ilmu untuk mencapai puncak bangunan.
Semuanya mulai memejamkan kedua bola matanya masing-masing. Mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang masih mereka miliki saat ini. Dengan segenap harapan, kami berusaha untuk memusatkan pikiran kami.
Kali ini biarkan intuisi kami yang bekerja. Genggaman tangan satu sama lainnya semakin erat. Tanganku seperti barusaja di remukkan oleh mereka. Tapi itu wajar, tak mudah melakukan ini.
Tenaga bisa habis terkuras hingga membuat seseorang tak berdaya. Bisa kurasakan ada sesuatu yang kasat mata diatas sana, memberikan dorongan kebawah. Pundak ku rasanya sangat berat, seolah sedang memikul beban yang mencapai berpuluh-puluh ton beratnya. Semakin lama semakin besar tekanan yang diberikan. Cengkareng tangan itu turut semakin erat seiring dengan bertambahnya beban tersebut. Sepertinya bukan hanya aku yang merasakan hal ini.
Aku berusaha menahan sudut kakiku yang tak bisa lurus lagi sekarang.
Satu....dua....tiga....dan.....
'BAMM!'
Suara dentuman hebat itu membuat kami terpelanting hingga dua meter jaraknya. Tubuhku rasanya linu semua, aku berusaha membuka kedua kelopak mataku dengan hati-hati.
Aku terkejut bukan main ketika mendapati pemandangan luar biasa ini tengah menyapa indera penglihatan ku. Sebuah lapisan seperti gelembung transparan raksasa menutupi seluruh sekolah ini. Layaknya sebuah kubah yang berukuran super jumbo.
Beberapa suara rintihan yang sempat kudengar tadinya, kini berubah menjadi teriakan histeris, tawa bahagia, bahkan decak kagum yang tak henti-hentinya mengalir di udara kemudian di tangkap oleh kedua telingaku.
Aku berusaha bangkit dengan bantuan besi pagar yang nyaris berkarat itu sebagai pegangan. Kakiku bergetar hebat antara kagum atau memang sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhku. Akhirnya aku menyandarkan tubuhku pada pagar di belakangku yang menjulang tinggi itu.
__ADS_1
Aku berusaha mengatur nafasku yang masih memburu entah apa sebabnya. Jantungku juga berdegup kencang. Mungkin ini efek dari membuat portal ini.
Setelah ini aku harus lebih sering makan dan menambah porsi makan ku untuk menggantikan energi yang terbuang ini. Rasanya tenagaku hanya tersisa nol koma sekian persen untuk saat ini. Bahkan aku terlalu lemah untuk sekedar berdiri tegak.
Tapi rasa lelah ini terbayar sudah. Ini setimpal untuk membuat sudut bibir mereka terangkat sempurna, membuat sebuah senyum lebar penuh makna. Setidaknya untuk sekarang mereka bisa merasa lebih aman dan tidak perlu khawatir lagi jika sewaktu-waktu Ify datang secara tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu.
Namun tetap saja, jauh di dalam diriku masih tersembunyi rasa ketakutan yang ku tutup rapat-rapat. Bagaimana jika portal pertahanan ini tak sekuat yang ku kira. Bagaimana jika recana kami gagal. Bagaimana jika seluruh sekolah malah semakin terancam bahaya.
Aku berusaha untuk melangkah maju kedepan, walau tubuhku terhuyung-huyung. Namun tetap saja aku masih terlalu lemah, hingga akhirnya tubuhku oleng ke samping. Disaat yang bersamaan pula, seseorang datang menghampiriku dari belakang.
Kami berdua ambruk disaat yang bersamaan. Sialnya orang ini sempat memelukku, sehingga aku akan tetap aman di dalam dekapannya meskipun terjatuh.
Aku terbaring lemas menimpa tubuhnya. Kepalaku tepat berada di atas dada orang ini. Bisa ku dengar tempo detak jantungnya yang perlahan namun pasti, semakin meningkat. Aku tak bisa menebak siapa orang ini.
Kedua kelopak mataku sudah terlalu berat untuk tetap dipertahankan terbuka. Akhirnya beberapa detik kemudian, gulita menyapa ku. Aku kehilangan kesadaran entah karena apa. Semuanya terjadi begitu saja.
"Nhea?"
Jongdae mengguncang pelan tubuh gadis itu. Saat ini Nhea tak bergerak sedikitpun setelah ia terjatuh tadi.
Pria ini menepikan rambut Nhea yang terjuntai tak beraturan. Kemudian ia menepuk pelan pipi gadis ini, memastikan jika kondisi Nhea saat ini baik-baik saja.
Setelah menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres dengannya, Jongdae berusaha untuk bangkit dan menepikan sedikit tubuh Nhea dari hadapannya.
Tanpa pikir panjang, pria ini langsung menggendong gadis ini. Membawanya ke tempat yang lebih teduh dan jauh dari keramaian.
"Tangannya dingin," ujar Jongdae pelan.
__ADS_1
Jongdae melepaskan jubahnya, menyelimutkan nya ke badan Nhea. Kemudian ia menggenggam erat kedua tangan Nhea yang hampir membeku itu.
Sebenarnya temperatur di sini sekarang telah mencapai suhu normal. Jongdae sendiri bahkan tak merasa kedinginan sedikitpun. Tapi gadis ini terlihat begitu menggigil, sampai-sampai untuk berdiri dan ia sudah tak sanggup. Ini pasti karena kekuatan Nhea lah yang paling banyak dilibatkan di sini.
Jongdae berusaha menyalurkan panas tubuhnya kepada gadis ini. Ia jauh lebih membutuhkan itu untuk sekarang ini. Untung saja Jongdae segera datang. Jika tidak, mungkin gadis ini sudah mati membeku.
Setelah dirasa cukup, ia melepaskan cengkraman tangannya. Kemudian memanggil Oliver dengan isyarat. Ia tak mau merusak kebahagiaan para siswa saat ini. Mereka semua pasti akan merasa sangat terpukul jika mengetahui kondisi Nhea saat ini. Bisa dibilang Nhea adalah korban dari rencananya sendiri.
"Ada apa?" tanya Oliver begitu ia menghampiri Jongdae.
Pria ini tak membuka suara sedikitpun, ia hanya menunjukkan kondisi Nhea saat ini.
"Bagaimana bisa ini terjadi?!" tanya Oliver yang kini terkejut setengah mati.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu," balas Jongdae apa adanya.
"Bawa dia ke kamar asrama ku! Aku akan merawatnya," perintah Oliver pada kakaknya.
Tentu saja Oliver tidak akan sanggup menganggkat Nhea hingga ke lantai atas. Oleh sebab itu ia meminta bantuan kakaknya yang jauh lebih kuat secara fisik daripada dirinya.
"Bagaimana kalau anak-anak melihat kita?" tanya Jongdae cemas.
"Kita akan menjadi tak terlihat dengan jubah ini. Tetaplah bersembunyi di balik jubahku sampai kita tiba di asrama," ujar Oliver.
Tanpa pikir panjang lagi, Jongdae segera mengiyakan perkataan adik semata wayangnya itu. Dengan sangat hati-hati, mereka berusaha menyelinap masuk ke dalam asrama tanpa seorangpun yang tahu. Tentu saja dengan bantuan sihir yang dimiliki Oliver.
Seharusnya saat ini tak ada orang di asrama kecuali mereka bertiga, karena semuanya sedang berada di luar gedung. Sepertinya mereka tak perlu bersembunyi lagi saat ini. Situasi kelihatannya sudah cukup aman.
__ADS_1