
Mungkin selama ini kebanyakan orang berpikir jika mereka
akan baik-baik saja. Tidak perlu cemas. Ada para petinggi dan pengurus sekolah
yang akan mengatur segalanya. Mereka beranggapan jika nyawanya akan
terselamatkan jika mengikuti arahan dari mereka. Padahal hal tersebut tidak
selamanya benar. Terkadang mereka harus ikut ambil alih juga. Baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Mereka tidak bisa terus-terusan mengandalkan para petinggi
dan pengurus sekolah. Ada waktunya mereka tidak bisa berbuat apa-apa sama
sekali. Lagi pula mereka hanya manusia biasa. Namun sedikit lebih istimewa dari
pada manusia lainnya, karena memiliki kemampuan.
“Tadi aku bertemu dengan Eun Ji Hae di jalan. Jadi aku
bertanya soal dirimu. Ia bilang kau berada di perpustakaan. Jadi aku langsung
kemari untuk menghampirimu,” papar Vallery dengan panjang lebar.
Setelah sedikit kesalah pahaman yang terjadi kemarin, kini
keduanya menjadi sedikit canggung satu sama lain. Dalam berbagai hal. Hubungan
mereka bukanya renggang. Tetapi memang sedang tidak baik-baik saja.
Bibi Ga Eun sama sekali tak berniat untuk menanggapi ucapan wanita
itu barusan. Lebih tepatnya, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Jadi, apa yang membawamu kemari?" tanya Bibi Ga
Eun.
Wanita paruh baya itu mendadak buka suara.
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang cukup
penting kenpadamu," ungkap Vallery.
Bibi Ga Eun menarik napasnya panjang, kemudian membalikkan
badannya menjadi menghadap Vallery. Kini mereka saling berhadapan satu sama
lain. Saling melempar pandangan sebelum pada akhirnya salah satu dari mereka
buka suara terlebih dahulu untuk memulai topik pembicaraan kali ini. Siapa lagi
memangnya jika bukan Vallery. Ia bilang kalau dirinya akan menbahas sesuatu
yang penting tadi.
"Jadi begini," buka Vallery.
"Aku dan Wilson memiliki rasa curiga yang kuat terhadap
peristiwa hari ini. Kemungkinan besar yang sedang terjadi sekarang memang benar
salju abadi," papar wanita itu di awal.
"Semua orang juga memiliki pemikiran yang sama. Bukan
__ADS_1
hanya kalian saja!" ketus Bibi Ga Eun yang terlihat tidak senang dengan
cara bicara Vallery tadi.
Ia terus bertindak seolah-olah dirinya lah yang paling benar
di sini. Seolah hanya ia satu-satunya orang yang paling tahu di sini. Dan yang
lebih buruknya lagi mungkin adalah tentang bagaimana ia selalu menganggap dirinya
benar. Bisakah ia hilangkan sikap seperti itu. Sungguh menjengkelkan jika
melihatnya bersikap seperti ini terus.
Dari awal kedatangannya ke tempat ini saja sudah cukup
menguji kesabaran Bibi Ga Eun. Wanita itu terlalu lama berada di luar sana,
sehingga ia lupa dengan dirinya sendiri. Vallery tidak seperti yang ia kenal
dulu lagi. Entah siapa dan apa yang bisa menyebabkan sikapnya berubah seperti
ini. Bukan hanya Vallery saja. Bahkan Wilson juga ikut berubah. Lingkungan luar
sekolah ternyata memberikan pengaruh yang cukup besar kepada mereka berdua. Bukan
hanya Bibi Ga Eun seorang diri yang merasakan hal tersebut. Bahkan Nhea sendiri
juga merasakan hal yang sama persis. Kini isi pikiran mereka sama persis jika
menyangkut soal dua orang dengan posisi tertinggi di sekolah ini.
“Kita harus segera melakukan sesuatu sebelum terlambat,”
ujar Vallery yang tampak gelisah.
Semua orang sedang panik tak karuan hari ini setelah
sama. Dia tidak bisa menafikkan dirinya sendiri. Vallery juga hanya manusia
biasa yang takut jika hal buruk terjadi. Itu adalah hal wajar.
Bibi Ga Eun terlihat menarik napasnya panjang. Kemudian menghembuskannya
kembali ke udara. Membuat asap putih mengepul keluar dari kedua lubang
hidungnya. Hal tersebut selalu terjadi pada saat ia melakukan proses
pernapasan. Sebenarnya lumrah saja terjadi pada musim dingin seperti ini. Tidak
ada yang perlu dipertanyakan lagi.
Wanita paruh baya itu melemparkan tatapan tajamnya kepada
Vallery yang saat ini tengah berdiri tepat di depannya untuk menunggu jawaban
apa yang akan ia berikan nanti. Tapi sayangnya, Bibi Ga Eun sama sekali tidak
berniat untuk membalas perkataan wanita yang masih memiliki hubungan darah
dengannya juga. Bibi Ga Eun lebih suka mendesak wanita itu dan membuatnya
tersudut dalam posisi seperti ini. Bukan tanpa alasan Bibi Ga Eun melakukan hal
tersebut. Ia hanya ingin kepribadian Vallery yang dulu kembali. Dia merindukan
sososk Vallery yang dulu. Menurutnya sekarang ia bukan Vallery yang pernah
__ADS_1
dikenalnya.
“Kalau begitu, artinya kau tahu akan melakukan apa untuk
menyelamatkan kami semua bukan?” tanya Bibi Ga Eun dengan penuh harap.
Sementara itu sosok yang ditanya hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah, sebagai bentuk respon atas pertanyaan
yang diajukan oleh Bibi Ga Eun barusan. Lagi-lagi Bibi Ga Eun hanya bisa
menghela napasnya dengan berat sembari memijat pelipisnya. Ia harus
meningkatakan level kesabarannya kembali untuk menghadapi wanita itu. Bibi Ga
Eun tidak boleh sampai kelepasan. Akan semakin parah nanti urusannya. Wilson
pasti akan ikut turun tangan juga jika sampai istrinya terluka sedikit saja.
“Kita lanjut pembicaraan ini nanti malam saja. Aku perlu
istirahat sekarang,” ujar Bibi Ga Eun sebelum berpamitan pergi.
Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu sama sekali, ia
langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Vallery sendirian
di dalamnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu. Pikirannya sudah
kacau. Ada banyak hal yang tengah bersemanyam di dalam pikirannya saat ini.
Bibi Ga Eun perlu mengistirahatkan diri serta pikirannya
sejenak. Ia hanye memerlukan jeda untuk menata diri kembali. Dia tidak bisa
menanggung semua beban ini sendirian. Kini pundaknya terasa berat. Ada banyak
tanggung jawab yang harus ia pikul. Bahkan Bibi Ga Eun sampai melupakan dirinya
sendiri. Ia mengabaikan dirinya dan jauh lebih memetingkan urusan orang lain. Yang
bahkan orang tersebut tidka memiliki hubungan apa-apa dengannya.
Kini Bibi Ga Eun hampir menyerah dengan semua itu. Mungkin selama
ini setiap masalah itu tidak terlihat dengan nyata di depan mata kepalanya. Tapi
asal mereka tahu saja jika tekanan yang dirasakan oleh Bibi Ga Eun benar-benar
nyata. Bahkan ia sendiri sampai kewalahan untuk menghadapi semua itu.
“Bibi tidak apa-apa?” tanya Eun Ji Hae yang kebetulan baru
saja keluar dari kamarnya.
“Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan,” dalih wanita itu.
“Aku masuk dulu!” pamit Bibi Ga Eun di kemudian.
Ia bahkan langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya yang
merangkap sebagai kamar tidur miliknya. Kepergian wanita itu menyisakan tanda
taya besar di benak Eun Ji Hae. Gadis itu bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang
sedang terjadi. Kelihatannya Bibi Ga Eun sedang tidak baik-baik saja. Padahal tadi
__ADS_1
ia terlihat biasa saja sewaktu mereka masih mengobrol bersama di dalam
perpustakaan. Lantas mengapa sekarang berubah. Sebenarnya ada apa.