Mooneta High School

Mooneta High School
Perpustakaan


__ADS_3

Mungkin selama ini kebanyakan orang berpikir jika mereka


akan baik-baik saja. Tidak perlu cemas. Ada para petinggi dan pengurus sekolah


yang akan mengatur segalanya. Mereka beranggapan jika nyawanya akan


terselamatkan jika mengikuti arahan dari mereka. Padahal hal tersebut tidak


selamanya benar. Terkadang mereka harus ikut ambil alih juga. Baik secara


langsung maupun tidak langsung.


Mereka tidak bisa terus-terusan mengandalkan para petinggi


dan pengurus sekolah. Ada waktunya mereka tidak bisa berbuat apa-apa sama


sekali. Lagi pula mereka hanya manusia biasa. Namun sedikit lebih istimewa dari


pada manusia lainnya, karena memiliki kemampuan.


“Tadi aku bertemu dengan Eun Ji Hae di jalan. Jadi aku


bertanya soal dirimu. Ia bilang kau berada di perpustakaan. Jadi aku langsung


kemari untuk menghampirimu,” papar Vallery dengan panjang lebar.


Setelah sedikit kesalah pahaman yang terjadi kemarin, kini


keduanya menjadi sedikit canggung satu sama lain. Dalam berbagai hal. Hubungan


mereka bukanya renggang. Tetapi memang sedang tidak baik-baik saja.


Bibi Ga Eun sama sekali tak berniat untuk menanggapi ucapan wanita


itu barusan. Lebih tepatnya, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


"Jadi, apa yang membawamu kemari?" tanya Bibi Ga


Eun.


Wanita paruh baya itu mendadak buka suara.


"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang cukup


penting kenpadamu," ungkap Vallery.


Bibi Ga Eun menarik napasnya panjang, kemudian membalikkan


badannya menjadi menghadap Vallery. Kini mereka saling berhadapan satu sama


lain. Saling melempar pandangan sebelum pada akhirnya salah satu dari mereka


buka suara terlebih dahulu untuk memulai topik pembicaraan kali ini. Siapa lagi


memangnya jika bukan Vallery. Ia bilang kalau dirinya akan menbahas sesuatu


yang penting tadi.


"Jadi begini," buka Vallery.


"Aku dan Wilson memiliki rasa curiga yang kuat terhadap


peristiwa hari ini. Kemungkinan besar yang sedang terjadi sekarang memang benar


salju abadi," papar wanita itu di awal.


"Semua orang juga memiliki pemikiran yang sama. Bukan

__ADS_1


hanya kalian saja!" ketus Bibi Ga Eun yang terlihat tidak senang dengan


cara bicara Vallery tadi.


Ia terus bertindak seolah-olah dirinya lah yang paling benar


di sini. Seolah hanya ia satu-satunya orang yang paling tahu di sini. Dan yang


lebih buruknya lagi mungkin adalah tentang bagaimana ia selalu menganggap dirinya


benar. Bisakah ia hilangkan sikap seperti itu. Sungguh menjengkelkan jika


melihatnya bersikap seperti ini terus.


Dari awal kedatangannya ke tempat ini saja sudah cukup


menguji kesabaran Bibi Ga Eun. Wanita itu terlalu lama berada di luar sana,


sehingga ia lupa dengan dirinya sendiri. Vallery tidak seperti yang ia kenal


dulu lagi. Entah siapa dan apa yang bisa menyebabkan sikapnya berubah seperti


ini. Bukan hanya Vallery saja. Bahkan Wilson juga ikut berubah. Lingkungan luar


sekolah ternyata memberikan pengaruh yang cukup besar kepada mereka berdua. Bukan


hanya Bibi Ga Eun seorang diri yang merasakan hal tersebut. Bahkan Nhea sendiri


juga merasakan hal yang sama persis. Kini isi pikiran mereka sama persis jika


menyangkut soal dua orang dengan posisi tertinggi di sekolah ini.


“Kita harus segera melakukan sesuatu sebelum terlambat,”


ujar Vallery yang tampak gelisah.


Semua orang sedang panik tak karuan hari ini setelah


sama. Dia tidak bisa menafikkan dirinya sendiri. Vallery juga hanya manusia


biasa yang takut jika hal buruk terjadi. Itu adalah hal wajar.


Bibi Ga Eun terlihat menarik napasnya panjang. Kemudian menghembuskannya


kembali ke udara. Membuat asap putih mengepul keluar dari kedua lubang


hidungnya. Hal tersebut selalu terjadi pada saat ia melakukan proses


pernapasan. Sebenarnya lumrah saja terjadi pada musim dingin seperti ini. Tidak


ada yang perlu dipertanyakan lagi.


Wanita paruh baya itu melemparkan tatapan tajamnya kepada


Vallery yang saat ini tengah berdiri tepat di depannya untuk menunggu jawaban


apa yang akan ia berikan nanti. Tapi sayangnya, Bibi Ga Eun sama sekali tidak


berniat untuk membalas perkataan wanita yang masih memiliki hubungan darah


dengannya juga. Bibi Ga Eun lebih suka mendesak wanita itu dan membuatnya


tersudut dalam posisi seperti ini. Bukan tanpa alasan Bibi Ga Eun melakukan hal


tersebut. Ia hanya ingin kepribadian Vallery yang dulu kembali. Dia merindukan


sososk Vallery yang dulu. Menurutnya sekarang ia bukan Vallery yang pernah

__ADS_1


dikenalnya.


“Kalau begitu, artinya kau tahu akan melakukan apa untuk


menyelamatkan kami semua bukan?” tanya Bibi Ga Eun dengan penuh harap.


Sementara itu sosok yang ditanya hanya bisa


menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah, sebagai bentuk respon atas pertanyaan


yang diajukan oleh Bibi Ga Eun barusan. Lagi-lagi Bibi Ga Eun hanya bisa


menghela napasnya dengan berat sembari memijat pelipisnya. Ia harus


meningkatakan level kesabarannya kembali untuk menghadapi wanita itu. Bibi Ga


Eun tidak boleh sampai kelepasan. Akan semakin parah nanti urusannya. Wilson


pasti akan ikut turun tangan juga jika sampai istrinya terluka sedikit saja.


“Kita lanjut pembicaraan ini nanti malam saja. Aku perlu


istirahat sekarang,” ujar Bibi Ga Eun sebelum berpamitan pergi.


Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu sama sekali, ia


langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Vallery sendirian


di dalamnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu. Pikirannya sudah


kacau. Ada banyak hal yang tengah bersemanyam di dalam pikirannya saat ini.


Bibi Ga Eun perlu mengistirahatkan diri serta pikirannya


sejenak. Ia hanye memerlukan jeda untuk menata diri kembali. Dia tidak bisa


menanggung semua beban ini sendirian. Kini pundaknya terasa berat. Ada banyak


tanggung jawab yang harus ia pikul. Bahkan Bibi Ga Eun sampai melupakan dirinya


sendiri. Ia mengabaikan dirinya dan jauh lebih memetingkan urusan orang lain. Yang


bahkan orang tersebut tidka memiliki hubungan apa-apa dengannya.


Kini Bibi Ga Eun hampir menyerah dengan semua itu. Mungkin selama


ini setiap masalah itu tidak terlihat dengan nyata di depan mata kepalanya. Tapi


asal mereka tahu saja jika tekanan yang dirasakan oleh Bibi Ga Eun benar-benar


nyata. Bahkan ia sendiri sampai kewalahan untuk menghadapi semua itu.


“Bibi tidak apa-apa?” tanya Eun Ji Hae yang kebetulan baru


saja keluar dari kamarnya.


“Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan,” dalih wanita itu.


“Aku masuk dulu!” pamit Bibi Ga Eun di kemudian.


Ia bahkan langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya yang


merangkap sebagai kamar tidur miliknya. Kepergian wanita itu menyisakan tanda


taya besar di benak Eun Ji Hae. Gadis itu bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang


sedang terjadi. Kelihatannya Bibi Ga Eun sedang tidak baik-baik saja. Padahal tadi

__ADS_1


ia terlihat biasa saja sewaktu mereka masih mengobrol bersama di dalam


perpustakaan. Lantas mengapa sekarang berubah. Sebenarnya ada apa.


__ADS_2