
Merasa Chanwo sudah kelewatan batas, gadis itu segera
menghempaskan tangan Chanwo darinya. Ia tidak ingin diperbudak oleh pria itu
lagi. Dia tidak bisa bertindak dengan sesukanya. Dia bukan siapa-siapa di sini.
Jadi jangan pernah mencoba untuk mencari masalah dengan Nhea. Mungkin ia adalan
pemegang kekuasaan tertinggi. Tapi, semua itu hanya berlaku di wilayah
teritorialnya saja. Berbeda ceritanya jika ia sedang berada di akademi sihir
Mooneta. Posisinya bahkan bisa dikatakan sangat lemah.
“Apa yang kau lakukan?!” tanya Nhea dengan nada bicara yang
jauh lebih tinggi dari pada biasanya.
“Kenapa tiba-tiba saja menarikku ke sini?!” pekiknya tak
terima.
Chanwo tidak tahu harus menjelaskannya dari mana terlebih
dahulu. Masalahnya sudah bukan sesuatu yang sederhana lagi sekarang.
“Begini, apa kau terluka?” tanya Chanwo.
Kali ini pria itu berusaha untuk bersikap setenang mungkin
di hadapan Nhea. Dia sungguh tidak ingin berbalik menyerang gadis itu.
Benar-benar tidak mau.
“Bagaimana kau bisa tahu jika kau terluka?” tanya Nhea
balik.
“Ck! Jadi benar?!” balas pria itu sambil berdecak sebal.
Tak ingin menanggapi pertanyaan Nhea secara lebih lanjut,
Chanwo langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Mencari
sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghentikan pendarahan di tangan gadis ini.
Setidaknya untuk sementara, sebelum ia mendapatkan pertolongan lebih lanjut
lagi.
Sampai akhirnya kedua bola matanya terpusat pada tangan kiri
Nhea yang ternyata sudah terbalut oleh sebuah pita merah. Pemandangan yang
berhasil menarik atensinya. Tanpa pikir panjang lagi, Chanwo segera menarik
tangan gadis itu. Untuk memastikan apakah Nhea telah melakukannya dengan benar
atau tidak. Percuma saja jika ikatannya masih kurang tepat, darahnya pasti
tidak akan kunjung berhenti. Chanwo tahu betul jika Nhea sering kali melakukan
pekerjaan yang sia-sia seperti itu. Entah karena disengaja atau tidak sama
sekali.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Chanwo. Dari nada
bicaranya, ia tampak serius.
“Tentu saja aku!” balas Nhea dengan ketus.
“Memangnya siapa lagi yang mau mengobati lukaku jika bukan
aku sendiri,” cicitnya pelan.
__ADS_1
“Tadinya aku berniat untuk membantumu mengatasi semua ini,”
gumam Chanwo.
Ternyata volume suaranya belum cukup pelan. Pria itu masih
bisa mendengar setiap kata yang meluncur keluar dari dalam mulutnya dengan
jelas. Bahkan segala kebisingan yang ada di tempat ini sama sekali bukan penghalang
baginya agar bisa mencerna perkataan gadis itu barusan. Sontak Nhea merasa
terkejut mendapati perlakuan seperti itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka
jika Chanwo akan mendengar semua perkataannya.
“Terbuat dari apa telinga pria ini sebenarnya,” batin Nhea
di dalam hati sembari melongo tak percaya.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, ia berusaha untuk
kembali bersikap normal. Nhea berdeham beberapa kali untuk menetralisir
atmosfir sekitar.
“Jadi, kau membawaku ke sini hanya untuk mengobati lukaku?”
tanya Nhea.
“Akan ku simpulkan begitu saja,” tukas gadis itu kemudian. Ia bahkan sama sekali tidak
memberikan kesempatan kepada Chanwo untuk menjawab pertanyaannya barusan.
“Tapi, kau sama sekali belum menjawab pertanyaan yang sempat
kuberikan di awal tadi,” ungkap Nhea secara gamblang.
“Yang mana satu?” tanya Chanwo untuk memastikan. Ia sedang
“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang terluka? Kau
bahkan belum melihatku sebelumnya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Bukan urusanmu sama sekali. Kau tidak perlu tahu soal itu,”
ucap Chanwo dengan ketus.
Tampaknya pria itu sama sekali tidak berniat untuk menjawab
pertanyaan dari Nhea barusan. Mustahil jika ia tidak tahu apa jawabannya. Jelas-jelas
Chanwo tahu betul jika soal yang satu itu. Entahlah, mungkin ia hanya enggan
untuk memberi tahu gadis itu yang sebenarnya. Chanwo belum siap untuk
mengungkap siapa dirinya. Padahal, dia tidak perlu menutupi apa pun dari Nhea.
Gadis itu bukanlah suatu ancaman yang berarti. Dia tidak akan berbalik
menyerang Chanwo. Semuanya berada di bawah kendali pria itu sekarang.
“Dasar pria misterius,” cicit Nhea.
“Kau bisa meninggalkan tempat ini jika kau mau,” ujar Chanwo
secara gamblang.
“Aku sudah tidak memiliki urusan denganmu lagi,” tukasnya
sebelum beranjak pergi meninggalkan Nhea jauh di belakangnya. Ia bahkan sama sekali
tidak mempedulikan gadis ini lagi. Padahal, tadi ia adalah orang yang bersikap
paling khawatir dengan kondisi Nhea.
__ADS_1
Gadis itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berpijak
saat ini. Ia masih tetap bergeming. Mematung di tempat. Ia tak habis pikir
dengan sikap pria itu yang sulit untuk diterka. Chanwo bisa berubah kapan saja.
Menjadi apa pun yang ia mau.
Nhea masih setia memandangi punggung pria itu yang kian
menjauh darinya. Sepertinya sama sekali tidak ada keraguan yang terbesit di
dalam benaknya saat akan meninggalkan gadis itu. Buktinya saja, Chanwo sama
sekali tidak berbalik. Entah itu hanya sekedar untuk memastikan gadis itu masih
tetap di sana atau sudah beranjak pergi juga.
Sepertinya ia akan kembali ke barisan. Berkumpul bersama
rekan-rekan satu timnya yang lain. Tidak ada alasan lagi untuk tetap berada di
sana. Lagipula ia sudah menyelesaikan pertandingannya jauh lebih dulu daripada
Nhea. Sekarang ia hanya perlu bersantai sambil menunggu pengumuman yang akan
diungkapkan pada penghujung hari nanti. Selain itu, mereka juga perlu
mempersiapkan diri untuk babak semi final dan final yang akan dilaksanakan
beberapa hari ke depan.
Di balik sikpanya yang terkesan dingin, diam-diam Chanwo
menyimpan rasa lega. Angin segar seperti bertiup menyisir setiap helai
rambutnya yang berkilau saat ia mengetahui jika Nhea baik-baik saja. Untung saja
gadis itu segera mengambil tidakan yang tepat dan cepat. Ia tahu betul harus
berbuat apa pada kondisi seperti ini. Bayangkan saja jika Nhea tidak segera
membalut lukanya tadi. Mungkin sekarang bisa dipastikan jika ia sudah
kehilangan jati dirinya sebagai manusia.
Setidaknya sekarang ia bisa bernapas lega. Kondisi Nhea
tidak seburuk perkiraannya. Terkadang kepalanya memang kerap kali membuat
asumsi yang tidak-tidak. Hal yang paling penting saat ini adalah, Nhea masih
bisa dikatakan sebagai seorang manusia. Hampir saja ia kehilangan jati dirinya
hari ini.
“Ternyata gadis itu tidak sebodoh yang kukira,” gumam Chanwo
sambil tetap melaju.
Entah naluri alami macam apa yang ia miliki sampai kepikiran
untuk menyelamatkan dirinya sendiri pada saat seperti itu. Nyawanya jelas-jelas
terancam tadi. Dengan atau tanpa ia sadari. Sepertinya Dewi Fortuna sedang
memihak kepadanya kali ini. Nasib baik berlabuh kepadanya. Untuk yang kesekian
kalinya semesta menyelamatkannya dari hal buruk yang menghadang di jalanan di
depannya. Tidak ada yang bisa menghentikan gadis ini. Sepenting itukah
keberadaannya di muka bumi ini? Sampai-sampai semua mahluk hidup ingin sekali
melindunginya.
__ADS_1