Mooneta High School

Mooneta High School
Prediction


__ADS_3

Merasa Chanwo sudah kelewatan batas, gadis itu segera


menghempaskan tangan Chanwo darinya. Ia tidak ingin diperbudak oleh pria itu


lagi. Dia tidak bisa bertindak dengan sesukanya. Dia bukan siapa-siapa di sini.


Jadi jangan pernah mencoba untuk mencari masalah dengan Nhea. Mungkin ia adalan


pemegang kekuasaan tertinggi. Tapi, semua itu hanya berlaku di wilayah


teritorialnya saja. Berbeda ceritanya jika ia sedang berada di akademi sihir


Mooneta. Posisinya bahkan bisa dikatakan sangat lemah.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya Nhea dengan nada bicara yang


jauh lebih tinggi dari pada biasanya.


“Kenapa tiba-tiba saja menarikku ke sini?!” pekiknya tak


terima.


Chanwo tidak tahu harus menjelaskannya dari mana terlebih


dahulu. Masalahnya sudah bukan sesuatu yang sederhana lagi sekarang.


“Begini, apa kau terluka?” tanya Chanwo.


Kali ini pria itu berusaha untuk bersikap setenang mungkin


di hadapan Nhea. Dia sungguh tidak ingin berbalik menyerang gadis itu.


Benar-benar tidak mau.


“Bagaimana kau bisa tahu jika kau terluka?” tanya Nhea


balik.


“Ck! Jadi benar?!” balas pria itu sambil berdecak sebal.


Tak ingin menanggapi pertanyaan Nhea secara lebih lanjut,


Chanwo langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Mencari


sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghentikan pendarahan di tangan gadis ini.


Setidaknya untuk sementara, sebelum ia mendapatkan pertolongan lebih lanjut


lagi.


Sampai akhirnya kedua bola matanya terpusat pada tangan kiri


Nhea yang ternyata sudah terbalut oleh sebuah pita merah. Pemandangan yang


berhasil menarik atensinya. Tanpa pikir panjang lagi, Chanwo segera menarik


tangan gadis itu. Untuk memastikan apakah Nhea telah melakukannya dengan benar


atau tidak. Percuma saja jika ikatannya masih kurang tepat, darahnya pasti


tidak akan kunjung berhenti. Chanwo tahu betul jika Nhea sering kali melakukan


pekerjaan yang sia-sia seperti itu. Entah karena disengaja atau tidak sama


sekali.


“Siapa yang melakukannya?” tanya Chanwo. Dari nada


bicaranya, ia tampak serius.


“Tentu saja aku!” balas Nhea dengan ketus.


“Memangnya siapa lagi yang mau mengobati lukaku jika bukan


aku sendiri,” cicitnya pelan.

__ADS_1


“Tadinya aku berniat untuk membantumu mengatasi semua ini,”


gumam Chanwo.


Ternyata volume suaranya belum cukup pelan. Pria itu masih


bisa mendengar setiap kata yang meluncur keluar dari dalam mulutnya dengan


jelas. Bahkan segala kebisingan yang ada di tempat ini sama sekali bukan penghalang


baginya agar bisa mencerna perkataan gadis itu barusan. Sontak Nhea merasa


terkejut mendapati perlakuan seperti itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka


jika Chanwo akan mendengar semua perkataannya.


“Terbuat dari apa telinga pria ini sebenarnya,” batin Nhea


di dalam hati sembari melongo tak percaya.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, ia berusaha untuk


kembali bersikap normal. Nhea berdeham beberapa kali untuk menetralisir


atmosfir sekitar.


“Jadi, kau membawaku ke sini hanya untuk mengobati lukaku?”


tanya Nhea.


“Akan ku simpulkan  begitu saja,” tukas gadis itu kemudian. Ia bahkan sama sekali tidak


memberikan kesempatan kepada Chanwo untuk menjawab pertanyaannya barusan.


“Tapi, kau sama sekali belum menjawab pertanyaan yang sempat


kuberikan di awal tadi,” ungkap Nhea secara gamblang.


“Yang mana satu?” tanya Chanwo untuk memastikan. Ia sedang


“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang terluka? Kau


bahkan belum melihatku sebelumnya,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Bukan urusanmu sama sekali. Kau tidak perlu tahu soal itu,”


ucap Chanwo dengan ketus.


Tampaknya pria itu sama sekali tidak berniat untuk menjawab


pertanyaan dari Nhea barusan. Mustahil jika ia tidak tahu apa jawabannya. Jelas-jelas


Chanwo tahu betul jika soal yang satu itu. Entahlah, mungkin ia hanya enggan


untuk memberi tahu gadis itu yang sebenarnya. Chanwo belum siap untuk


mengungkap siapa dirinya. Padahal, dia tidak perlu menutupi apa pun dari Nhea.


Gadis itu bukanlah suatu ancaman yang berarti. Dia tidak akan berbalik


menyerang Chanwo. Semuanya berada di bawah kendali pria itu sekarang.


“Dasar pria misterius,” cicit Nhea.


“Kau bisa meninggalkan tempat ini jika kau mau,” ujar Chanwo


secara gamblang.


“Aku sudah tidak memiliki urusan denganmu lagi,” tukasnya


sebelum beranjak pergi meninggalkan Nhea jauh di belakangnya. Ia bahkan sama sekali


tidak mempedulikan gadis ini lagi. Padahal, tadi ia adalah orang yang bersikap


paling khawatir dengan kondisi Nhea.

__ADS_1


Gadis itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berpijak


saat ini. Ia masih tetap bergeming. Mematung di tempat. Ia tak habis pikir


dengan sikap pria itu yang sulit untuk diterka. Chanwo bisa berubah kapan saja.


Menjadi apa pun yang ia mau.


Nhea masih setia memandangi punggung pria itu yang kian


menjauh darinya. Sepertinya sama sekali tidak ada keraguan yang terbesit di


dalam benaknya saat akan meninggalkan gadis itu. Buktinya saja, Chanwo sama


sekali tidak berbalik. Entah itu hanya sekedar untuk memastikan gadis itu masih


tetap di sana atau sudah beranjak pergi juga.


Sepertinya ia akan kembali ke barisan. Berkumpul bersama


rekan-rekan satu timnya yang lain. Tidak ada alasan lagi untuk tetap berada di


sana. Lagipula ia sudah menyelesaikan pertandingannya jauh lebih dulu daripada


Nhea. Sekarang ia hanya perlu bersantai sambil menunggu pengumuman yang akan


diungkapkan pada penghujung hari nanti. Selain itu, mereka juga perlu


mempersiapkan diri untuk babak semi final dan final yang akan dilaksanakan


beberapa hari ke depan.


Di balik sikpanya yang terkesan dingin, diam-diam Chanwo


menyimpan rasa lega. Angin segar seperti bertiup menyisir setiap helai


rambutnya yang berkilau saat ia mengetahui jika Nhea baik-baik saja. Untung saja


gadis itu segera mengambil tidakan yang tepat dan cepat. Ia tahu betul harus


berbuat apa pada kondisi seperti ini. Bayangkan saja jika Nhea tidak segera


membalut lukanya tadi. Mungkin sekarang bisa dipastikan jika ia sudah


kehilangan jati dirinya sebagai manusia.


Setidaknya sekarang ia bisa bernapas lega. Kondisi Nhea


tidak seburuk perkiraannya. Terkadang kepalanya memang kerap kali membuat


asumsi yang tidak-tidak. Hal yang paling penting saat ini adalah, Nhea masih


bisa dikatakan sebagai seorang manusia. Hampir saja ia kehilangan jati dirinya


hari ini.


“Ternyata gadis itu tidak sebodoh yang kukira,” gumam Chanwo


sambil tetap melaju.


Entah naluri alami macam apa yang ia miliki sampai kepikiran


untuk menyelamatkan dirinya sendiri pada saat seperti itu. Nyawanya jelas-jelas


terancam tadi. Dengan atau tanpa ia sadari. Sepertinya Dewi Fortuna sedang


memihak kepadanya kali ini. Nasib baik berlabuh kepadanya. Untuk yang kesekian


kalinya semesta menyelamatkannya dari hal buruk yang menghadang di jalanan di


depannya. Tidak ada yang bisa menghentikan gadis ini. Sepenting itukah


keberadaannya di muka bumi ini? Sampai-sampai semua mahluk hidup ingin sekali


melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2