
Sebelum bertanding, mereka perlu memastikan jika semuanya
sudah baik-baik saja. Tidak ada yang boleh kurang. Mereka tak bisa melewatkan
sedikitpun hal kecil. Rencananya akan hancur berantakan jika tidak ada yang
sesuai. Lebih buruk lagi jika sampai terjadi di luar prediksi semula.
“Aku perlu ke kamar kecil terlebih dahulu,” pamit Nhea
kepada Oliver.
“Baiklah,” balas gadis itu.
Sesaat setelah mendengar balasan dari Oliver, ia langsung
beranjak dari sana. Meninggalkan temannya sendirian. Ia rasa tidak masalah.
Oliver juga tampaknya baik-baik saja.
Sebentar lagi mereka akan segera mengetahui urutan peserta
lomba. Semua itu akan terungkap dalam waktu kurang dari dua jam saja. Hal
tersebut sudah bisa dipastikan. Mereka selalu melakukan setiap halnya dengan
tepat waktu. Jangan pernah meragukan anak-anak dari berbagai akademi sihir jika
soal disiplin waktu mereka.
Jika diingat-ingat kembali, kejadian barusan sungguh
membuatnya sebal. Bagaimana bisa ada orang asing yang menabraknya secara
sengaja, lalu menyalahkan Nhea atas semua hal yang terjadi. Padahal sudah
jelas-jelas jika ia adalah satu-satunya orang yang bersalah di sana. Semua
orang pasti mengetahui hal tersebut. Semesta bahkan tidak akan menolak untuk
yang satu ini.
“Ada-ada saja kejadian hari ini,” gumam Nhea sambil menyugar
rambutnya.
Gadis itu menghela napas dalam-dalam, sembari menenangkan
pikirannya. Memenuhi desakan untuk buang air kecil pasti sedikit banyaknya akan
cukup membantu. Suasana di dalam kamar mandi yang cukup sepi dan tenang mampu
mengembalikan kejernihan pikirannya.
Hanya ada satu tempat yang dijadikan menjadi sederet kamar
kecil di pusat kota. Lebih tepatnya di arena pertandingan pada saat ini. Tempatnya
ada di bawah tribun penonton bagian belakang. Mereka bisa menemukannya di sana.
Tidak perlu takut mengantri jika sudah ingin buang air. Ada banyak kamar kecil
yang bisa mereka gunakan secara bersamaan. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak
dari pada tempat umum lainnya.
‘TAP! TAP! TAP!’
Sesampainya di sana, Nhea sama sekali tidak menjumpai siapa
pun. Benar-benar sepi. Tidak ada suara keran air yang menyala. Sepertinya memang
__ADS_1
sedang tidak ada orang di sana kecuali Nhea. Sangking sepinya, suara langkah
kakinya bahkan terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.
Namun, hal tersebut sama sekali tidak berarti apa-apa. Nhea
tetap akan melanjutkan kegiatannya. Kesunyian yang mencekam sama sekali tidak
berhasil membuat nyalinya ciut. Gadis itu sudah terbiasa dengan yang namanya
sunyi dan sendiri. Nyaris setiap hari ia menghadai hal serupa. Jadi, situasi seperti
ini bukan sesuatu yang mengejutkan lagi.
Setidaknya ia tidak akan mengurungkan niatnya sendiri hanya
karena alasan yang tidak masuk akal. Orang-orang pasti akan menertawakannya.
Nhea pasti akan berpikir realistis. Tidak mungkin jika ia menunda buang air dan
menahannya selama pertandingan berlangsung. Sungguh pilihan yang konyol.
Aliih-alih melakukan hal tersebut, ia jauh lebih memilih
untuk menghadapi apa saja yang bersembuny di balik kegelapan serta kesunyian. Entah
monster dalam bentuk apa pun itu.
Dengan percaya diri, gadis itu melangkah menyusuri lorong
kamar mandi. Matanya sibuk mengamati jejeran bilik kosong. Ia sedang mencari
satu tempat yang menurutnya paling nyaman. Meski jika seluruh tempat ini sudah
penuh, ia akan menggunakan yang mana saja. Tidak ada lagi kesempatan untuk
memilih. Bisa kebagian bilik kosong saja sudah seperti sebuah keajaiban.
‘CEKLEK’
kosong yang terletak di bagian tengah deretan. Padahal begitu sampai di pintu
masuk, ia sudah langsung di hadapkan dengan bilik pertama. Nhea bisa saja
menggunakan yang satu itu. Tapi, tampaknya ia tidak mau. Entah apa alasannya.
Setelah menyelesaikan semua urusannya, gadis itu segera
beranjan dari sana. Namun, entah kenapa seperti ada satu hal yang terasa agak
mengganjal di sini.
“Tunggu dulu! Jangan bilang-“ batinnya dalam hati.
Nhea terus berusaha untuk membuka pintu kamar mandi yang
saat ini tengah menjadi suatu penghalang baginya untuk mengakses dunia luar.
Padahal, ia sudah membuka slot kunci pada bagian dalam. Mustahil jika pintu ini
macet. Engselnya masih tidak terlalu tua untuk kondisi seperti itu. Kemungkinan
besar, pintunya memang terkunci dari luar. Tapi, siapa yang melakukannya. Nhea
sudah memastikan jika tidak ada siapa-siapa di sini selain dirinya. Mustahil jika
slot kunci di luar pintu tertutup sendiri. Memangnya siapa lagi yang bisa
menggerakkannya selain manusia.
‘DUG! DUG! DUG!’
__ADS_1
Nhea terus berusaha menggedor-gedor pintu tersebut. Berharap
bisa terbuka dengan usaha yang tak seberapa. Atau paling tidak, seseorang yang
baru saja datang ke tempat ini bisa mendengarnya. Mereka pasti akan membantu
Nhea untuk bisa keluar dari tempat ini.
“Sial!”
‘BUGH!’
Gadis itu mengumpat sambil menendang daun pintu yang tengah
tertutup. Sehingga menghalangi jalanannya saat ini. Ia tidak bisa pergi
kemana-mana jika begini caranya. Sementara itu di sisi lain, sebentar lagi
pengumuman urutan lomba akan segera diberitahukan. Nhea tidak bisa melewatkan
acara yang satu itu. Bagaimana jika ternyata tim pemanah dari akademi sihir
Mooneta mendapatkan urutan paling awal? Dari awal mereka sudah diwanti-wanti
untuk bersiap dengan apa pun yang akan terjadi. Akan ada banyak hal mengejutkan
hari ini.
“Tolong biarkn aku keluar dari sini!” seru Nhea.
Ia kembali melanjutkan kegiatannya untuk menggedor-gedor
pintu kamar mandi. Masih dengan harapan yang sama. Jika ada seseorang yang
masuk ke sini nantinya, pasti perhatiannya akan langsung tertuju ke arah pintu
tersebut. Paling tidak ia pasti akan menolong Nhea.
Satu-satunya jenis bantuan yang ia perlukan saat ini adalah
dengan membuka slot kunci di bagian depan pintu. Jika sana Nhea bisa
melakukannya sendiri, maka mungkin ia tidak perlu melibatkan orang lain seperti
ini. Namun, sayangnya kali ini situasinya berbeda. Mau tak mau ia terpaksa meminta
bantuan orang lain. Padahal sebelumnya, Nhea tidak akan mau melakukan hal
tersebut.
Sekarang ia harus menyesampingkan semua hal itu terlebih
dahulu. Jika ia tetap mementingkan rasa egoisnya sendiri, maka dirinya tidak
akan bisa selamat. Tak ada yang tahu sampai kapan ia akan terjebak di dalam
sini. Nhea bisa saja mati. Bayangkan jika gadis ini terjebak selama lebih dari
seminggu tanpa makanan dan udara dingin malam. Sulit baginya untuk bertahan
pada saat-saat seperti itu.
“Siapa pun tolong bantu aku untuk keluar daari tempat ini!”
teriak gadis itu sekali lagi.
Ia masih tidak menyerah. Dan mungkin memang tidak akan
pernah menyerah sama sekali. Apa pun yang terjadi ke depannya, Nhea tetap
berpegang teguh pada prinsipnya. Gadis itu memang terkenal memiliki kepribadian
__ADS_1
yang keras. Salah satunya tidak mudah menyerah.
Nhea harus segera keluar dari sini, apa pun caranya.