Mooneta High School

Mooneta High School
Toilet


__ADS_3

Sebelum bertanding, mereka perlu memastikan jika semuanya


sudah baik-baik saja. Tidak ada yang boleh kurang. Mereka tak bisa melewatkan


sedikitpun hal kecil. Rencananya akan hancur berantakan jika tidak ada yang


sesuai. Lebih buruk lagi jika sampai terjadi di luar prediksi semula.


“Aku perlu ke kamar kecil terlebih dahulu,” pamit Nhea


kepada Oliver.


“Baiklah,” balas gadis itu.


Sesaat setelah mendengar balasan dari Oliver, ia langsung


beranjak dari sana. Meninggalkan temannya sendirian. Ia rasa tidak masalah.


Oliver juga tampaknya baik-baik saja.


Sebentar lagi mereka akan segera mengetahui urutan peserta


lomba. Semua itu akan terungkap dalam waktu kurang dari dua jam saja. Hal


tersebut sudah bisa dipastikan. Mereka selalu melakukan setiap halnya dengan


tepat waktu. Jangan pernah meragukan anak-anak dari berbagai akademi sihir jika


soal disiplin waktu mereka.


Jika diingat-ingat kembali, kejadian barusan sungguh


membuatnya sebal. Bagaimana bisa ada orang asing yang menabraknya secara


sengaja, lalu menyalahkan Nhea atas semua hal yang terjadi. Padahal sudah


jelas-jelas jika ia adalah satu-satunya orang yang bersalah di sana. Semua


orang pasti mengetahui hal tersebut. Semesta bahkan tidak akan menolak untuk


yang satu ini.


“Ada-ada saja kejadian hari ini,” gumam Nhea sambil menyugar


rambutnya.


Gadis itu menghela napas dalam-dalam, sembari menenangkan


pikirannya. Memenuhi desakan untuk buang air kecil pasti sedikit banyaknya akan


cukup membantu. Suasana di dalam kamar mandi yang cukup sepi dan tenang mampu


mengembalikan kejernihan pikirannya.


Hanya ada satu tempat yang dijadikan menjadi sederet kamar


kecil di pusat kota. Lebih tepatnya di arena pertandingan pada saat ini. Tempatnya


ada di bawah tribun penonton bagian belakang. Mereka bisa menemukannya di sana.


Tidak perlu takut mengantri jika sudah ingin buang air. Ada banyak kamar kecil


yang bisa mereka gunakan secara bersamaan. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak


dari pada tempat umum lainnya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Sesampainya di sana, Nhea sama sekali tidak menjumpai siapa


pun. Benar-benar sepi. Tidak ada suara keran air yang menyala. Sepertinya memang

__ADS_1


sedang tidak ada orang di sana kecuali Nhea. Sangking sepinya, suara langkah


kakinya bahkan terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.


Namun, hal tersebut sama sekali tidak berarti apa-apa. Nhea


tetap akan melanjutkan kegiatannya. Kesunyian yang mencekam sama sekali tidak


berhasil membuat nyalinya ciut. Gadis itu sudah terbiasa dengan yang namanya


sunyi dan sendiri. Nyaris setiap hari ia menghadai hal serupa. Jadi, situasi seperti


ini bukan sesuatu yang mengejutkan lagi.


Setidaknya ia tidak akan mengurungkan niatnya sendiri hanya


karena alasan yang tidak masuk akal. Orang-orang pasti akan menertawakannya.


Nhea pasti akan berpikir realistis. Tidak mungkin jika ia menunda buang air dan


menahannya selama pertandingan berlangsung. Sungguh pilihan yang konyol.


Aliih-alih melakukan hal tersebut, ia jauh lebih memilih


untuk menghadapi apa saja yang bersembuny di balik kegelapan serta kesunyian. Entah


monster dalam bentuk apa pun itu.


Dengan percaya diri, gadis itu melangkah menyusuri lorong


kamar mandi. Matanya sibuk mengamati jejeran bilik kosong. Ia sedang mencari


satu tempat yang menurutnya paling nyaman. Meski jika seluruh tempat ini sudah


penuh, ia akan menggunakan yang mana saja. Tidak ada lagi kesempatan untuk


memilih. Bisa kebagian bilik kosong saja sudah seperti sebuah keajaiban.


‘CEKLEK’


kosong yang terletak di bagian tengah deretan. Padahal begitu sampai di pintu


masuk, ia sudah langsung di hadapkan dengan bilik pertama. Nhea bisa saja


menggunakan yang satu itu. Tapi, tampaknya ia tidak mau. Entah apa alasannya.


Setelah menyelesaikan semua urusannya, gadis itu segera


beranjan dari sana. Namun, entah kenapa seperti ada satu hal yang terasa agak


mengganjal di sini.


“Tunggu dulu! Jangan bilang-“ batinnya dalam hati.


Nhea terus berusaha untuk membuka pintu kamar mandi yang


saat ini tengah menjadi suatu penghalang baginya untuk mengakses dunia luar.


Padahal, ia sudah membuka slot kunci pada bagian dalam. Mustahil jika pintu ini


macet. Engselnya masih tidak terlalu tua untuk kondisi seperti itu. Kemungkinan


besar, pintunya memang terkunci dari luar. Tapi, siapa yang melakukannya. Nhea


sudah memastikan jika tidak ada siapa-siapa di sini selain dirinya. Mustahil jika


slot kunci di luar pintu tertutup sendiri. Memangnya siapa lagi yang bisa


menggerakkannya selain manusia.


‘DUG! DUG! DUG!’

__ADS_1


Nhea terus berusaha menggedor-gedor pintu tersebut. Berharap


bisa terbuka dengan usaha yang tak seberapa. Atau paling tidak, seseorang yang


baru saja datang ke tempat ini bisa mendengarnya. Mereka pasti akan membantu


Nhea untuk bisa keluar dari tempat ini.


“Sial!”


‘BUGH!’


Gadis itu mengumpat sambil menendang daun pintu yang tengah


tertutup. Sehingga menghalangi jalanannya saat ini. Ia tidak bisa pergi


kemana-mana jika begini caranya. Sementara itu di sisi lain, sebentar lagi


pengumuman urutan lomba akan segera diberitahukan. Nhea tidak bisa melewatkan


acara yang satu itu. Bagaimana jika ternyata tim pemanah dari akademi sihir


Mooneta mendapatkan urutan paling awal? Dari awal mereka sudah diwanti-wanti


untuk bersiap dengan apa pun yang akan terjadi. Akan ada banyak hal mengejutkan


hari ini.


“Tolong biarkn aku keluar dari sini!” seru Nhea.


Ia kembali melanjutkan kegiatannya untuk menggedor-gedor


pintu kamar mandi. Masih dengan harapan yang sama. Jika ada seseorang yang


masuk ke sini nantinya, pasti perhatiannya akan langsung tertuju ke arah pintu


tersebut. Paling tidak ia pasti akan menolong Nhea.


Satu-satunya jenis bantuan yang ia perlukan saat ini adalah


dengan membuka slot kunci di bagian depan pintu. Jika sana Nhea bisa


melakukannya sendiri, maka mungkin ia tidak perlu melibatkan orang lain seperti


ini. Namun, sayangnya kali ini situasinya berbeda. Mau tak mau ia terpaksa meminta


bantuan orang lain. Padahal sebelumnya, Nhea tidak akan mau melakukan hal


tersebut.


Sekarang ia harus menyesampingkan semua hal itu terlebih


dahulu. Jika ia tetap mementingkan rasa egoisnya sendiri, maka dirinya tidak


akan bisa selamat. Tak ada yang tahu sampai kapan ia akan terjebak di dalam


sini. Nhea bisa saja mati. Bayangkan jika gadis ini terjebak selama lebih dari


seminggu tanpa makanan dan udara dingin malam. Sulit baginya untuk bertahan


pada saat-saat seperti itu.


“Siapa pun tolong bantu aku untuk keluar daari tempat ini!”


teriak gadis itu sekali lagi.


Ia masih tidak menyerah. Dan mungkin memang tidak akan


pernah menyerah sama sekali. Apa pun yang terjadi ke depannya, Nhea tetap


berpegang teguh pada prinsipnya. Gadis itu memang terkenal memiliki kepribadian

__ADS_1


yang keras. Salah satunya tidak mudah menyerah.


Nhea harus segera keluar dari sini, apa pun caranya.


__ADS_2