Mooneta High School

Mooneta High School
Fight


__ADS_3

“Sekali lagi kau benar, aku adalah Nyonya Lee Seung Rim,”


ucap wanita tua tersebut kepada Eun Ji Hae.


“Aaaa….” balas Eun Ji Hae sambil manggut-manggut paham.


Gadis ini pernah mendengar nama ini sebelumnya dari Vallery


yang tak lain dan tak bukan adalah ibunya sendiri. Mengingat jika Eun Ji Hae


adalah anak angkat dari wanita itu, jadi wajar saja jika Vallery menceritakan


semua tentang kehidupannya kepada Eun Ji Hae.  Sebenarnya, wanita paruh baya yang sering mereka sebut sebagai Nyonya


Vallery itu, masih memiliki ikatan darah dengan Lee Seung Rim. Kedua wanita


yang sama-sama memimpin sekolah akademi penyihir itu, masih berada dalam satu


garis keturunan. Kurang lebih, mereka berdua bisa di bilang sebagai sepupu


dekat.


“Apa yang kau cari di sini gadis muda?” tanya Lee Seung Rim


dengan sorot mata tak menyenangkan, seperti sedang meremehkan gadis ini.


“Oh jadi begini, maksud kedatanganku ke sini yaitu untuk


menemui ibuku,” jawab Eun Ji Hae tanpa berbasa- basi lagi.


“Haha…. Aku pikir kau telah datang pada orang yang salah


nona. Ini adalah sekolah akademi penyihir,” jelas Lee Seung Rim dengan wajah


sombongnya yang menyebalkan.


“Aku bahkan tak mengenal siapa ibumu, jadi jangan mengarang.


Lebih baik kau pergi sekarang, lagipula kenapa kau bisa tersasar sampai ke


sini?” lanjutnya.


Eun Ji Hae menghela nafasnya panjang, ia hanya bisa


meningkatkan level kesabarannya untuk menghadapi wanita tua itu. Ia bahkan tak


habis pikir, bagaimana bisa semua bibinya bersikap begitu menyebalkan


kepadanya. Apakah statusnya yang hanya sebagai anak angkat dari Vallery,


menjadi jawaban paling jelas untuk semua itu. Hal itu juga mungkin adalah satu


kalimat yang akan membuatnya cukup terpukul mundur.


“Jadi sekarang pulanglah kembali ke rumahmu. Ibu mu tak ada


di sini nak, atau perlu ku antar hingga tepi perkotaan? Atau mungkin sampai kau


menemukan bis untuk kembali ke rumah?” ujar Lee Seung Rim yang semakin


menyebalkan saja.


“Vallery!” balas Eun Ji Hae dengan lantang.


“Kau mengenalnya kan?” lanjut gadis itu dengan nada sedikit


menyindir.


Nyatanya sekarang Lee Seung Rim hanya bisa melongo di


buatnya. Satu kata itu mampu membungkam mulut si tua bangka yang menyebalkan

__ADS_1


ini.


“V..va…vallery kau bilang?” tanya Lee Seung Rim sekali lagi.


Eun Ji Hae mengangguk-anggukkan kepalanya dengan perasaan


puas. Akhirnya ia bisa membuat si tua yang menyebalkan ini mati kutu karena


kehabisan kata-kata. Kini giliran Eun Ji Hae yang berlagak sombong di hadapan


wanita tua itu.


“Haha….”


Sesaat kemudian, Lee Seung Rim malah tertawa


terpingkal-pingkal melihat jawaban dari gadis muda di hadapannya ini. Ia tak


tahu apakah gadis muda ini memang sedang mabuk atau jangan-jangan ia adalah


orang gila yang berkeliaran di jalanan hingga tersesat ke sini.


“Hei nak, jangan sembarangan menyebut namanya. Ia adalah


orang terhormat dari kaum penyihir, bahkan kau tak pantas untuk menyebut


namanya. Lain kali sebaiknya kau berhati- hati saat akan menyebutkan namanya,


nanti bisa- bisa dia marah,” jelas Lee Seung Rim yang jelas- jelas tengah


mengajak perang dengannya.


Eun Ji Hae mencoba untuk tetap sabar dalam menghadapi wanita


ini. Bagaimanapun, meski ia sangat menyebalkan seperti ini, Lee Seung Rim


tetaplah bibinya yang harus ia hormati. Jika saja wanita di hadapannya sekarang


menghabisinya sekarang juga. Namun sekali lagi, ia harus menahan emosinya yang


sudah berada  di ubun- ubun ini. Jika


sampai Eun Ji Hae kelepasan, bukannya kebebasan yang selama ini di impikannya


yang ia dapat, bisa- bisa gadis ini mungkin akan terjebak di dalam patung itu


lagi untuk seumur hidup atau mungkin jauh lebih buruk dari itu.


“Terserah saja, jika kau tidak percaya padaku. Aku akan


tetap masuk ke dalam untuk mencarinya!” tegas Eun Ji Hae.


“Hei, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi,” ucap Lee


Seung Rim.


“Kau pikir aku akan mundur dengan begitu saja? Gertakan


kecilmu itu tak akan berarti apa-apa untukku,” balas Eun Ji Hae dengan percaya


diri.


“Apa kau berani melawanku?” tanya Lee Seung Rim dengan nada


bicara yang lebih tinggi.


“Aku akan tetap melakukannya, meskipun kau mencoba untuk


menghalangiku,” ujar wanita yang jauh lebih muda darinya itu.


Dengan percaya diri dan langkah yang pasti, Eun Ji Hae

__ADS_1


berjalan masuk ke dalam gedung tersebut untuk menemui Vallery. Sesuai dengan instruksi


bibinya Ga Eun, ia bilang jika Vallery dan Wilson sedang berada di sini.


Namun  dengan sigap, Lee Seung Rim segera


mencegah tindakan nekat gadis itu dengan menarik salah satu pergelangan tangan


gadis itu.


“Ibu Vallery!” teriak Eun Ji Hae sedetik kemudian.


“Diam! Seluruh sekolah sedang mengadakan rapat besar!” jelas


Lee Seung Rim.


“Ibu Vallery! Nhea sedang dalam bahaya, ia membutuhkanmu


sekarang ini!” teriak Eun Ji Hae sekali lagi, tanpa menghiraukan peringatan


dari Lee Seung Rim barusan.


Dengan segera, Lee Seung Rim langsung membungkam mulut gadis


itu. Kini kesabarannya telah habis, ia sudah tak bisa menahan dirinya sendiri


untuk menghadapi gadis muda ini.


Tak lama kemudian  seseorang datang dari arah yang tak terduga, menghampiri kedua wanita ini


yang tengah bergelut dan telah membuat keributan besar itu. Sementara Griffin


dan Pegasus tak bisa berbuat banyak untuk memisahkan keduanya. Wanita- wanita


ini ternyata jauh lebih kuat dan menyeramkan, ketika sedang di kuasai oleh


emosi mereka sendiri.


“Hentikan itu!” sahut sebuah suara dari belakang.


Eun Ji Hae dan Lee Seung Rim lantas menoleh kea rah sumber


suara tersebut, sambil menghentikan kegiatannya sejenak. Ternyata suara itu


berasal dari seorang wanita yang telah di carinya sedari tadi. Wanita yang


telah lama tak di lihatnya sejak beberapa tahun yang lalu. Lebih tepatnya, jauh


sebelum akhirnya ia di tinggalkan begitu saja di Sekolah Mooneta, bersama


bibinya Ga Eun dan sepupunya Ify.


Wanita itu telah banyak berubah, dari segi penampilan hingga


sikapnnya. Jika di lihat dari segi penampilan, wanita ini jauh lebih modis dan


mengikuti tren busana kekinian. Vallery terlihat begitu anggun di dalam balutan


busana serba hitam dan gelap khas penyihir pada umumnya. Bahkan usianya yang


tak lagi muda itu, mampu tersamarkan dengan cukup baik. Kini ia telah mampu


menata penampilannya dengan jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Sedangkan dari segi sifat, Vallery juga jauh lebih banyak


berubah. Kharisma kepemimpinannya jauh lebih terlihat dan menonjol saat ini.


Wanita ini jauh lebih tegas daripada sebelumnya. Ia memang pantas untuk menjadi


seorang pemimpin, bahkan mungkin Vallery memang di lahirkan untuk hal itu.

__ADS_1


Sekolah Menengah Mooneta memang memerlukan sosok seperti dirinya.


__ADS_2