Mooneta High School

Mooneta High School
Serangan Balik


__ADS_3

Mereka tidak bisa seperti ini terus. Harus ada yang mengambil langkah. Mereka harus bertindak dengan segera. Paling tidak untuk menyelamatkan nyawa Eun Ji Hae. Gadis itu dengan berada dalam bahaya. Nyawanya sedang dipertaruhkan.


“Lepaskan Eun Ji Hae!” titah Vallery dengan suara yang bergetar.


Sudah jelas jika ia sedang dilanda kepanikan sekaligus takut di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak. Tentu saja ia khawatir jika putrinya sdengan dalam bahaya seperti ini. Meskipun Eun Ji Hae bukan anak kandungnya, tetap saja selama ini Vallery telah membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang. Ia bahkan sudah menganggp Eun Ji Hae seperti darah dagingnya sendiri. Vallery sama sekali tidak pernah membeda-bedakan antara Eun Ji Hae dengan Nhea.


Sementara itu, Do Yen Sae sama sekali tidak mengindahkan perintah dari wanita itu. Ia malah bersikap semakin menjadi-jadi. Bahkan saat ini gadis itu sudah semakin mendekatkan tongkat sihirnya ke leher Eun Ji Hae. Sudah tidak ada jalan untuk melarikan diri.


Tongkat itu bahkan sudah menempel di permukaan kulitnya. Jika Do Yen Sae memberikan tekanan yang cukup untuk menembus lapisan kulitnya, pasti darah sudah berceceran kemana-mana. Pita suara gadis itu juga kemungkinan sedang berada dalam masalah. Tidak menutup kemungkinan jika ia tidak akan bisa berbicara lagi dengan normal setelah kejadian ini.


Eun Ji Hae harus bertindak cepat sebelum semua kemungkinan terburuk itu benar-benar direalisasikan oleh Do Yen Sae. Kelihatannya gadis itu sudah tidak sabaran untuk menghabisi Eun Ji Hae dengan tangannya sendiri.


Eun Ji Hae terus memutar otak untuk mencari jalan keluarnya. Bagaimana pun juga ia harus bertindak lebih dulu dari pada yang lain. Eun Ji Hae bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain. Bibi Ga Eun dan Vallery tidak akan membantu banyak meski mereka telah berusaha dengan semaksimal mungkin.


Sepertinya otaknya tidak benar-benar mati sekarang. Buktinya ia berhasil mendapatkan ide setelah berkutat dengan segala isi kepalanya sendiri. Kali ini Eun Ji Hae akan melakukan aksinya sendiri. Ia yakin jika semuanya akan berjalan dengan lancar. Bahkan Bibi Ga Eun dan Vallery tidak perlu turun tangan. Mereka hanya perlu berjaga-jaga saja. Sebagai langkah untuk mengantisipasi jika ada hal tak terduga yang terjadi nanti.

__ADS_1


Eun Ji Hae telah yakin dengan rencananya yang satu ini. Bahkan tidak ada lagi keraguan yang tersisa. Lagi pula hanya ini satu-satunya jalan bagi Eun Ji Hae untuk melarikan diri. Meski sebenarnya resiko yang akan diterima oleh gadis ini nanti belum jelas.


Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera menendang meja yang berada di depannya dengan kedua kakinya. Sehingga membuatnya terdorong ke belakang dan jatuh bersama dengan Do Yen Sae. Terdengar jelas suara tulang punggung gadis itu menghantam permukaan lantai. Pasti rasanya sangat sakit. Do Yen Sae memang pantas menerima hal tersebut.


Secepat kilat, Eun Ji Hae berhasil mengambil alih permainan ini. Ia segera mengunci pergerakan Do Yen Sae agar gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana. Kali ini giliran Eun Ji Hae untuk mengancam gadis itu dengan tongkat sihirnya sendiri. Selama ini Eun Ji Hae sudah cukup bersabat. Ternyata kecurigaan yang mendadak muncul belakangan ini tentang Do Yen Sae benar. Mereka tidak bisa dipercaya sedikit pun.


“Bagaimana perasaanmu setelah kehilangan keseimbangan tadi?” tanya Eun Ji Hae dengan pebuh penekanan.


Orang yang dimaksud tampaknya tidak ingin menggubris pertanyaan Eun Ji Hae sama sekali. Menurutnya itu bukan pertanyaan. Melainkan sebuah lelucon yang digunakan untuk meledek Do Yen Sae.


“Berhentilah untuk memaksakan kehendakmu kepada kami!” tegas Eun Ji Hae sekali lagi.


“Lalu, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku?” tanya Do Yen Sae dengan nada yang terkesan meremehkan gadis ini secara tidak langsung.


Eun Ji Hae memutar bola matanya malas. Kemana saja, asal bukan menatap gadis ini. Sungguh memuakkan. Apakah Do Yen Sae benar-benar tidak tahu malu? Bagaimana bisa ada manusia seperti ini yang dibiarkan hidup sampai sekarang? Dia bahkan tidak layak untuk mendapatkan tempat di muka bumi ini. Orang-orang seperti Do Yen Sae dan Ify hanya bisa membuat kekacauan dimana-mana. Mereka bahkan bukan penyuka ketenangan. Eun Ji Hae sama sekali tidak habis pikir dibuat dengan jalan pikiran Do Yen Sae.

__ADS_1


“Pergilah ke asrama dan minta mereka semua untuk bersiap. Kita akan meninggalkan tempat ini besok pagii-pagi sekali!” titah Eun Ji Hae kepada kedua wanita yang masih berdiri di sudut ruangan.


Mereka tampaknya sedang tidak sibuk. Tidak ada salahnya untuk memberikan mereka sedikit tugas. Lagi pula gadis itu yakin jika Bibi Ga Eun dan Vallery tidak akan keberatan. Dari pada mereka hanya menghabiskan waktu dengan menonton perselisihan ini, akan jauh lebih baik jika mereka melakukan seusatu yang sedikit lebih penting.


Keduanya bisa menyelamatkan seluruh Mooneta jika mengambil tindakan yang tepat. Tanpa pikir panjang lagi, Bibi Ga Eun dan Vallery langsung mengangguk untuk mengiyakan perkataan gadis itu. Setelahnya mereka buru-buru meninggalkan ruangan ini untuk menuju asrama. Sekarang hanya tersisa Eun Ji Hae dan juga Do Yen Sae tentu saja di dalam ruangan ini. Mereka saling melemparkan tatapan penuh kebencian satu sama lain.


“Kau pikir siapa yang akan mau menampung kalian lagi selain kami? Haha!” celetuk Do Yen Sae yang kemudian diakhiri dengan tawa sarkas.


Eun Ji Hae hanya tersenyum miring melihat kelakuan gadis itu. Lihat saja betapa angkuhnya dirinya sekarang. Eun Ji Hae berani menjamin jika Reodal tidak akan berkembang di bawah pimpinannya. Keluarga mereka hanya tergila-gila dengan kekuasaan. Pantas saja selama ini Reodal tidak mampu bersaing dengan Mooneta dalam hal apa pun. Ternyata pemimpin mereka saja sudah tidak beres.


“Lepaskan aku!” teriak Do Yen Sae.


Ia menggeram kesal. Tangannya ia kepal kuat-kuat. Bahkan rahangnya ikut mengeras. Do Yen Sae sudah kembali terbakar oleh api emosinya. Gadis itu cukup buruk dalam hal mengendalikan diri. Dia tidak akan bisa menjadi penyihir yang hebat jika mengendalikan emosi di dalam dirinya saja masih tidak bisa. Tidak jarang jika Do Yen Sae menyerang secara membabi buta.


Eun Ji Hae sama sekali tidak menggubris apa lagi mengabulkan permintaan gadis itu tadi. Sehingga Do Yen Sae semakin kehilangan akal dibuatnya. Ia terus berusaha untuk memberontak. Tapi, semua usahanya itu sia-sia saja. Karena Eun Ji Hae tentu tidak akan membiarkan orang sepertinya lolos untuk yang kedua kali. Do Yen Sae terlalu berbahaya bagi lingkungannya.

__ADS_1


__ADS_2