Mooneta High School

Mooneta High School
Am I Right?


__ADS_3

Kecurigaan gadis ini semakin bertambah besar ketika ia


mengetahui kalau lawan bicaranya saat ini tengah berusaha keras untuk


mengalihkan topik pembicaraan mereka. Terlihat dengan jelas jika ia tidak mau


membahas apalagi menyinggung masalah ini sedikit pun. Dia terus saja bersikap


seperti ini tanpa pernah menjelaskan apa alasannya.


Wajar saja jika semakin ke sini, Nhea merasa jika


gerak-geriknya semakin aneh. Tidak salah jika gadis itu menaruh rasa curiga.


Terkadang, hal negatif tidak melulu harus memiliki dampak buruk. Bahkan, pada


dasarnya beberapa hal buruk diperlukan untuk mendapatkan sesuatu yang baik.


“Waspada akan membuat kita aman.”


Sepertinya kalimat tersebut sudah beberapa kali disebutkan


di sini. Entah kalian mengingatnya atau tidak sama sekali. Tapi, yang jelas


perkataan tersebut ada benarnya juga. Kau harus tetap berjaga-jaga jika ingin


menyelamatkan dirimu sendiri. Karena kita tidak pernah tahu kapan bahaya akan


muncul. Mereka sering datang tanpa peringatan. Kemudian menyerang tanpa


aba-aba.


“Ku kira kau akan jauh lebih penasaran dengan mahkota


tersebut,” cicitnya pelan.


“Ternyata akus alah besar,” lanjutnya.


Nhea sama sekali tidak berniat untuk membalas perkataan


wanita tersebut barusan. Bungkam adalah cara terbaiknya untuk tetap menjaga


diri.


Tepat setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya, ia kemudian


menarik napas dalam-dalam. Kemudian menghelanya kembali. Kedua tangannya ia


lipat di depan dada. Tapi, tidak menimbulkan kesan angkuh sama sekali pada


dirinya. Berbeda dengan kebanyakan orang.


“Kau sungguh ingin tahu bagaimana bisa aku mengetahui semua


itu?” tanya wanita itu sekali lagi untuk memastikan.


Yang benar saja. Apakah ia tidak bisa mendapatkan pesan


pentingnya di sini? Rasanya Nhea tidak perlu menjelaskan lagi untuk yang satu


itu. Bahkan burung yang sedang berlalu lalang saja tahu jika Nhea sungguh


penasaran tentang hal tersebut.


“Apakah nalarnya sama dengan kucing? Bahkan kurasa kucing


jauh lebih pintar darinya,” sarkas Nhea di dalam hati.


Ia berusaha untuk tidak terbawa emosi, dengan bersikap biasa


saja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal sesuatu di dalam dirinya tengah


berperang besar-besaran.


Nhea bukanlah seseorang yang mampu menutupi emosinya seperti


ini. Ia tidak bisa memalsukan segala hal yang terjadi. Terlalu gamblang.


Mungkin itu adalah sebuah gambaran yang tepat untuknya. Namun, untuk kali ini

__ADS_1


ia telah berhasil untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan


sebelumnya.


“Kalau begitu, biar aku jelaskan secara singkat,” ujar


wanita tersebut.


Ia tampak menghela napas panjang sebelum mulai berbicara. Entah


ada apa dengannya. Namun, Nhea sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal


tersebut. Bukan urusannya sama sekali. Yang terpenting saat ini adalah


bagaimana caranya Nhea mencuri informasi sebanyak-banyaknya dari wanita


tersebut.


“Sebelum aku menjelaskan secara lebih rinci lagi, aku ingin


menguji seberapa jauh daya berpikirmu,” ucapnya.


“Sebagai penerus tahta kau harus memiliki kemampuan yang


mumpuni untuk berpikir,” lanjutnya.


Sekali lagi, Nhea sama sekali tidak berniat untuk menanggapi


hal tersebut.


“Menurutmu, kenapa aku bisa tahu banyak tentang akademi


sihir Mooneta? Padahal aku yakin jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya di


tempat itu,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Kau pasti menaruh banyak rasa curiga kepadaku,” cicitnya.


“Apa pun itu jawabannya, aku yakin jika anda memiliki


hubungan secara khusus dengan seseorang di dalam sana,” jawab Nhea dengan


Namun, barusan itu bukan satu-satunya jawaban yang telah ia


siapkan sejauh ini. Sebenarnya masih ada banyak asumsi lain yang tersimpan di


dalam kepalanya. Nhea berhasil mengurutkannya di dalam daftar berdasarkan skala


prioritas.


Nhea tidak akan mengakhiri pendapatnya sampai di situ saja.


Masih ada beberapa hal yang ingin ia katakan. Keputusannya sudah tepat. Tidak bisa


diganggu gugat.


“Atau anda dulunya merupakan salah satu bagian dari akademi


sihir Mooneta juga,” ungkapnya secara mengejutkan.


“Anda bukan orang sembarangan. Paling tidak, pasti memiliki


kedudukan yang bisa membuat anda berwenang untuk menginjakkan kaki di gedung


utama,” timpal gadis itu kemudian.


Wanita tersebut mematung di tempat. Ia masih tetap


bergeming. Bahkan setelah Nhea menyelesaikan kalimatnya. Tampaknya ia cukup


terkejut mendengar pernyataan gadis itu barusan. Ia sama sekali tidak pernah


menduga jika Nhea akan mengatakan hal seperti itu di depannya.


Tapi, tebakan Nhea juga tidak sepenuhnya salah. Ada benarnya


juga. Meski tidak seratus persen akurat. Tapi, tetap saja pernyataan dari gadis


itu barusan berhasil membuat lawan bicaranya tercengang.

__ADS_1


Ia berdeham beberapa kali untuk menetralisir suasana. Entah kenapa


mendadak atmosfirnya berubah. Tidak ada satu pun dari merka yang memahami


kondisi tersebut.


“Apa tebakanmy hanya sampai di situ?” tanya wanita tersebut.


Ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin agar tidak


terlalu ketara oleh lawan bicaranya. Seperti yang kebanyakan orang tahu jika


Nhea tidak terlalu baik dalam menelisik ekspresi. Namun, setidaknya untuk saat


ini ia bisa mendapatkan beberapa informasi dengan mudahnya.


“Apa salah satu dari tebakanku benar?” tanya Nhea balik.


Sepertinya ia sudah mulai menyadari perubahan yang


signifikan terhadap perilaku wanita tersebut.  Nhea bisa saja menang jika memanfaatkan


situasi kali ini dengan baik. Selama ia tidak melewatkan kesempatan sekecil apa


pun, maka bisa dipastikan jika kemungkinan gagalnya sangat kecil.


Satu detik, dua detik, tiga detik, sama sekali tidak ada


jawaban dari wanita tersebut. Entah memang ia sedang berpikir untuk menemukan


jawaban yang paling tepat, atau malah kehabisan kata-kata karena sudah kalah


telak. Padahal menurut Nhea jawabannya tidak terlalu sulit. Hanya ada dua pilihan


yang tersedia. Yaitu antara “Ya” dan “Tidak”.


Seharusnya bukan pilihan yang terlalu sulit untuknya. Anak


kecil berumur lima tahun saja bahkan bisa memberikan jawaban secara spontan. Berbeda


dengannya.


“Akan ku anggap jawabannya sebagai iya,” ucap Nhea secara


gamblang.


Ia sama sekali tidak ingin mempersulit sesuatu yang pada


dasarnya mudah. Manusia memang selalu seperti itu. Mereka suka sekali mencari


masalah dengan membuat hal sederhana menjadi jauh lebih rumit daripada yang


semestinya.


“Kau tidak bisa asal menyimpulkan seperti itu saja!” tepis


wanita tersebut dengan cepat. Ia tidak terima jika harus kalah dengan Nhea yang


jelas-jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya saat ini.


“Kalau begitu, berikan aku penjelasan yang cukup logis!”


titah Nhea menuntu penjelasan.


Bukannya langsung menanggapi pernyataan Nhea barusan, ia


malah terlihat mendengus sebal. Sejak awal Nhea sudah tahu jika kehadirannya


tidak akan pernah diterima oleh siapa pun. Semua orang selalu saja membencinya.


Tidak ada yang pernah berjalan searah. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa hal


seperti itu bisa terjadi. Padahal, selama ini ia selalu berbuat baik.


“Bagaimana?” desak Nhea sekali lagi.


Ia tidak akan membiarkan wanita


itu lepas begitu saja dari tangannya sebelum memberikan penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2