
Kecurigaan gadis ini semakin bertambah besar ketika ia
mengetahui kalau lawan bicaranya saat ini tengah berusaha keras untuk
mengalihkan topik pembicaraan mereka. Terlihat dengan jelas jika ia tidak mau
membahas apalagi menyinggung masalah ini sedikit pun. Dia terus saja bersikap
seperti ini tanpa pernah menjelaskan apa alasannya.
Wajar saja jika semakin ke sini, Nhea merasa jika
gerak-geriknya semakin aneh. Tidak salah jika gadis itu menaruh rasa curiga.
Terkadang, hal negatif tidak melulu harus memiliki dampak buruk. Bahkan, pada
dasarnya beberapa hal buruk diperlukan untuk mendapatkan sesuatu yang baik.
“Waspada akan membuat kita aman.”
Sepertinya kalimat tersebut sudah beberapa kali disebutkan
di sini. Entah kalian mengingatnya atau tidak sama sekali. Tapi, yang jelas
perkataan tersebut ada benarnya juga. Kau harus tetap berjaga-jaga jika ingin
menyelamatkan dirimu sendiri. Karena kita tidak pernah tahu kapan bahaya akan
muncul. Mereka sering datang tanpa peringatan. Kemudian menyerang tanpa
aba-aba.
“Ku kira kau akan jauh lebih penasaran dengan mahkota
tersebut,” cicitnya pelan.
“Ternyata akus alah besar,” lanjutnya.
Nhea sama sekali tidak berniat untuk membalas perkataan
wanita tersebut barusan. Bungkam adalah cara terbaiknya untuk tetap menjaga
diri.
Tepat setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya, ia kemudian
menarik napas dalam-dalam. Kemudian menghelanya kembali. Kedua tangannya ia
lipat di depan dada. Tapi, tidak menimbulkan kesan angkuh sama sekali pada
dirinya. Berbeda dengan kebanyakan orang.
“Kau sungguh ingin tahu bagaimana bisa aku mengetahui semua
itu?” tanya wanita itu sekali lagi untuk memastikan.
Yang benar saja. Apakah ia tidak bisa mendapatkan pesan
pentingnya di sini? Rasanya Nhea tidak perlu menjelaskan lagi untuk yang satu
itu. Bahkan burung yang sedang berlalu lalang saja tahu jika Nhea sungguh
penasaran tentang hal tersebut.
“Apakah nalarnya sama dengan kucing? Bahkan kurasa kucing
jauh lebih pintar darinya,” sarkas Nhea di dalam hati.
Ia berusaha untuk tidak terbawa emosi, dengan bersikap biasa
saja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal sesuatu di dalam dirinya tengah
berperang besar-besaran.
Nhea bukanlah seseorang yang mampu menutupi emosinya seperti
ini. Ia tidak bisa memalsukan segala hal yang terjadi. Terlalu gamblang.
Mungkin itu adalah sebuah gambaran yang tepat untuknya. Namun, untuk kali ini
__ADS_1
ia telah berhasil untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan
sebelumnya.
“Kalau begitu, biar aku jelaskan secara singkat,” ujar
wanita tersebut.
Ia tampak menghela napas panjang sebelum mulai berbicara. Entah
ada apa dengannya. Namun, Nhea sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal
tersebut. Bukan urusannya sama sekali. Yang terpenting saat ini adalah
bagaimana caranya Nhea mencuri informasi sebanyak-banyaknya dari wanita
tersebut.
“Sebelum aku menjelaskan secara lebih rinci lagi, aku ingin
menguji seberapa jauh daya berpikirmu,” ucapnya.
“Sebagai penerus tahta kau harus memiliki kemampuan yang
mumpuni untuk berpikir,” lanjutnya.
Sekali lagi, Nhea sama sekali tidak berniat untuk menanggapi
hal tersebut.
“Menurutmu, kenapa aku bisa tahu banyak tentang akademi
sihir Mooneta? Padahal aku yakin jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya di
tempat itu,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Kau pasti menaruh banyak rasa curiga kepadaku,” cicitnya.
“Apa pun itu jawabannya, aku yakin jika anda memiliki
hubungan secara khusus dengan seseorang di dalam sana,” jawab Nhea dengan
Namun, barusan itu bukan satu-satunya jawaban yang telah ia
siapkan sejauh ini. Sebenarnya masih ada banyak asumsi lain yang tersimpan di
dalam kepalanya. Nhea berhasil mengurutkannya di dalam daftar berdasarkan skala
prioritas.
Nhea tidak akan mengakhiri pendapatnya sampai di situ saja.
Masih ada beberapa hal yang ingin ia katakan. Keputusannya sudah tepat. Tidak bisa
diganggu gugat.
“Atau anda dulunya merupakan salah satu bagian dari akademi
sihir Mooneta juga,” ungkapnya secara mengejutkan.
“Anda bukan orang sembarangan. Paling tidak, pasti memiliki
kedudukan yang bisa membuat anda berwenang untuk menginjakkan kaki di gedung
utama,” timpal gadis itu kemudian.
Wanita tersebut mematung di tempat. Ia masih tetap
bergeming. Bahkan setelah Nhea menyelesaikan kalimatnya. Tampaknya ia cukup
terkejut mendengar pernyataan gadis itu barusan. Ia sama sekali tidak pernah
menduga jika Nhea akan mengatakan hal seperti itu di depannya.
Tapi, tebakan Nhea juga tidak sepenuhnya salah. Ada benarnya
juga. Meski tidak seratus persen akurat. Tapi, tetap saja pernyataan dari gadis
itu barusan berhasil membuat lawan bicaranya tercengang.
__ADS_1
Ia berdeham beberapa kali untuk menetralisir suasana. Entah kenapa
mendadak atmosfirnya berubah. Tidak ada satu pun dari merka yang memahami
kondisi tersebut.
“Apa tebakanmy hanya sampai di situ?” tanya wanita tersebut.
Ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin agar tidak
terlalu ketara oleh lawan bicaranya. Seperti yang kebanyakan orang tahu jika
Nhea tidak terlalu baik dalam menelisik ekspresi. Namun, setidaknya untuk saat
ini ia bisa mendapatkan beberapa informasi dengan mudahnya.
“Apa salah satu dari tebakanku benar?” tanya Nhea balik.
Sepertinya ia sudah mulai menyadari perubahan yang
signifikan terhadap perilaku wanita tersebut. Nhea bisa saja menang jika memanfaatkan
situasi kali ini dengan baik. Selama ia tidak melewatkan kesempatan sekecil apa
pun, maka bisa dipastikan jika kemungkinan gagalnya sangat kecil.
Satu detik, dua detik, tiga detik, sama sekali tidak ada
jawaban dari wanita tersebut. Entah memang ia sedang berpikir untuk menemukan
jawaban yang paling tepat, atau malah kehabisan kata-kata karena sudah kalah
telak. Padahal menurut Nhea jawabannya tidak terlalu sulit. Hanya ada dua pilihan
yang tersedia. Yaitu antara “Ya” dan “Tidak”.
Seharusnya bukan pilihan yang terlalu sulit untuknya. Anak
kecil berumur lima tahun saja bahkan bisa memberikan jawaban secara spontan. Berbeda
dengannya.
“Akan ku anggap jawabannya sebagai iya,” ucap Nhea secara
gamblang.
Ia sama sekali tidak ingin mempersulit sesuatu yang pada
dasarnya mudah. Manusia memang selalu seperti itu. Mereka suka sekali mencari
masalah dengan membuat hal sederhana menjadi jauh lebih rumit daripada yang
semestinya.
“Kau tidak bisa asal menyimpulkan seperti itu saja!” tepis
wanita tersebut dengan cepat. Ia tidak terima jika harus kalah dengan Nhea yang
jelas-jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya saat ini.
“Kalau begitu, berikan aku penjelasan yang cukup logis!”
titah Nhea menuntu penjelasan.
Bukannya langsung menanggapi pernyataan Nhea barusan, ia
malah terlihat mendengus sebal. Sejak awal Nhea sudah tahu jika kehadirannya
tidak akan pernah diterima oleh siapa pun. Semua orang selalu saja membencinya.
Tidak ada yang pernah berjalan searah. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa hal
seperti itu bisa terjadi. Padahal, selama ini ia selalu berbuat baik.
“Bagaimana?” desak Nhea sekali lagi.
Ia tidak akan membiarkan wanita
itu lepas begitu saja dari tangannya sebelum memberikan penjelasan.
__ADS_1