
Sekarang sudah hampir fajar, tapi badainya sama sekali belum
reda. Mereka tidak bisa pergi kemana-mana dalam kondisi seperti ini. Yang bisa
dilakukan hanyalah menunggu sambil meningkatkan kesabaran. Pasalnya, tidak ada
seorangpun yang tahu kapan badai akan berhenti. Tidak ada yang bisa menebak
alam, kecuali mereka memang sudah menyatu dengan alam. Tapi, sejauh ini belum
ada tanda-tanda jika badai akan berhenti.
“Kemungkinan besar perjalanan kita akan tertunda beberapa
jam,” ujar Bibi Ga Eun.
“Kita pasti juga akan terlambat untuk sampai ke Reodal. Jauh
dari waktu yang telah ditetapkan,” timpal Wilson.
“Apa sebaiknya kita memberikan kabar kepada pihak Reodal
soal situasi saat ini?” usul Eun Ji Hae.
“Dengan begitu mereka tidak perlu menunggu kedatangan kita.
Karena sudah jelas jika kita terlambat,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Akan jauh lebih baik jika mereka mau memberikan bantuan
berupa transportasi kepada kita agar cepat sampai di sana,” final gadis itu.
Eun Ji Hae benar-benar banyak menggunakan otaknya hari ini.
Entah itu terasa melelahkan atau tidak baginya. Tapi yang jelas, ia sudah cukup
bekerja keras untuk hari ini. Eun Ji Hae telah mengerahkan seluruh kemampuan
terbaiknya. Jadi, tidak salah jika ia meminta balasan yang setimpal untuk terja
kerasnya tersebut.
“Mereka juga tidak akan mau menembus badai besar seperti ini
untuk mengirimkan bantuan kepada kita,” beber Bibi Ga Eun.
Wanita itu tahu betul bagaimana sikap para penghuni sekolah
itu. Keribadian serta prinsipnya sangat berbanding terbalik dengan Sekolah
Mooneta. Sungguh jauh. Tidak ada satupun dari mereka yang memiliki kesamaan.
Selain itu, Bibi Ga Eun juga sering melakukan kunjungan
kerja sama ke beberapa sekolah terkait. Yang tentunya merupakan akademi sihir
juga. Termasuk Reodal. Jadi, ia telah paham betul bagaimana seluk beluk dari
sikap mereka. Tidak ada yang bisa ditutup-tutupi lagi dari wanita itu. Ia
bahkan bisa mengetahuinya tanpa harus diungkap terlebih dahulu.
Jika bukan karena situasi yang darurat dan serba salah, Bibi
Ga Eun mungkin tidak akan mau bergabung bersama mereka dengan mengorbankan nama
__ADS_1
sekolah. Jelas ia akan menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Sama seperti kebanyakan orang di sini. Bahkan mungkin
tidak ada satu orang pun yang setuju dengan tawaran dari Reodal.
Mereka hanya terpaksa. Terjebak di antara situasi yang serba
salah. Hal tersebut tidak menungkinkan bagi mereka untuk melakukan penolakan.
Sejauh ini hanya Sekolah Reodal yang menawarkan mereka bantuan. Entah dengan
sekolah lainnya.
Meskipun sebentar lagi mereka akan menjadi satu kesatuan dan
menjujung tinggi nama Reodal, tapi tetap saja jika mereka harus berhati-hati.
Waspada akan membuat mereka aman. Hanya itu satu-satunya aksi yang bisa
dilakukan secara tersembunyi tanpa perlu takut ketahuan. Pasalnya, mereka tidak
bisa mempercayai pihak Reodal sepenuhnya. Mereka sama seperti musuh di dalam
selimut. Semua orang tahu soal itu. Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika
Reodal bermuka dua. Mereka hanya bisa mengadu domba dan saling memanfaatkan
pihak terkait untuk kepentingan mereka sendiri. Salahnya adalah di sana.
Sekaligus merupakan suatu kesalahan yang tidak bisa ditoleransi sama sekali.
Tidak semua siswa Reodal memiliki sifat buruk seperti itu.
Tapi kebanyakan memang cenderung bermuka dua dan suka memanfaatkan. Lagi pula
lebih aman. Bahkan akan jauh lebih baik jika bisa menjamin keamanan kita.
***
Beberapa orang memutuskan untuk tidur sembari menunggu badai
reda. Sekaligus sebagai cara lain untuk menumpuk energi selain makan. Karena
pada saat seperti sekarang ini tentu akan sulit bagi mereka untuk menemukan
makanan. Meskipun membawa bahan makanan, belum tentu bisa diolah serta
disajikan untuk orang sebanyak ini dalam waktu yang singkat. Kembali lagi pada
prinsip awal, jika semua perlu dan harus melewati suatu proses.
Sekarang sudah hampir pukul tiga pagi. Beberapa jam lagi
fajar akan segera menyingsing. Matahari akan keluar dari sarangnya dan
memancarkan cahaya jingga bertemperatur hangat ke seluruh penjuru dunia. Ssuhu
akan naik menjadi beberapa derajat lebih tinggi dari pada sebelumnya.
Sementara yang lain terlelap serta tenggelam dalam alam
bawah sadarnya masing-masing, tidak dengan beberapa orang lainnya yang masih
tetap terjaga hingga jam segini. Mereka sama sekali belum sempat tidur dari
tadi pagi. Sejak pertama kali mereka membuka mata. Dari pagi hingga bertemu
__ADS_1
pagi lagi. Di antaranya adalah Eun Ji Hae, Oliver, Nhea, Hwang Ji Na, Chanwo
serta beberapa orang siswa lain sebagai sisanya.
Bukan tanpa alasan mereka masih tetap terjaga sampai pukul
segini. Melainkan, ada beberapa hal yang menjadi faktor utamanya. Salah satu
alasannya adalah karena mereka tidak merasakan kantuk sama sekali. Padahal
untuk hari ini saja mereka belum ada tidur sama sekali. Bukan karena kekurangan
jam tidur. Melainkan karena tidak ada jam tidur.
Nhea dan Oliveer tampak saling membisa satu sama lain. Tidak
ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama sekali tidak
berniat untuk membuka topik obrolan sama sekali. Keduanya tampak tenggelam
dalam pikirannya masing-masing. Selain itu, mereka juga tidak ingin mengganggu
ketenangan orang lain. Mereka tahu betul bagaimana caranya untuk bersikap
hormat dalam situasi seperti sekarang.
Tempat ini benar-benar sunyi dan penuh akan ketenangan. Suasananya
masih sama seperti biasanya. Tidak ada hal luar biasa yang perlu dikejutkan.
Berbeda dengan situasi di luar sana yang merupakan ketimbalbalikan dari situasi
di dalam saat ini. Badai berhasil mengacaukan segalanya. Beruntung mereka telah
membuat portal, sehingga badai besar itu tidak akan berpengaruh apa pun
terhadap mereka.
Sementara itu, di sisi lain Hwang Ji Na masih tetap
memperhatikan Nhea. Gadis itu tidak pernah dibiarkan lepas begitu saja dari
pengawasannya. Ia sudah terlalu penasaran dengan Nhea, tapi tak bisa mendekat. Untuk
saat ini, ia belum bisa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Oliver pasti
akan langsung menyadari jika Hwang Ji Na bukan bagian dari sekolah ini. Ia adalah
seorang ketua asrama yang sudah menjabat hampir satu periode. Setiap malam ia
berkeliling kamar asrama untuk memastikan jika semua orang telah mengikuti
peraturannya. Jadi, bisa dikkatakan jika Oliver sudah hapal betul wajah-wajah
para penghuni asrama putri.
Hwang Ji Na tidak akan bisa lepas dari yang satu itu. Jadi,
mau tak mau ia harus menunggu waktu yang
tepat untuk beraksi. Sementara ini, Hwang Ji Na hanya bisa mengawasi dari
kejauan tanpa bisa bertindak sama sekali. Jujur jika hal itu akan sangat
mengganggunya.
__ADS_1