Mooneta High School

Mooneta High School
Monoton


__ADS_3

Sekarang sudah hampir fajar, tapi badainya sama sekali belum


reda. Mereka tidak bisa pergi kemana-mana dalam kondisi seperti ini. Yang bisa


dilakukan hanyalah menunggu sambil meningkatkan kesabaran. Pasalnya, tidak ada


seorangpun yang tahu kapan badai akan berhenti. Tidak ada yang bisa menebak


alam, kecuali mereka memang sudah menyatu dengan alam. Tapi, sejauh ini belum


ada tanda-tanda jika badai akan berhenti.


“Kemungkinan besar perjalanan kita akan tertunda beberapa


jam,” ujar Bibi Ga Eun.


“Kita pasti juga akan terlambat untuk sampai ke Reodal. Jauh


dari waktu yang telah ditetapkan,” timpal Wilson.


“Apa sebaiknya kita memberikan kabar kepada pihak Reodal


soal situasi saat ini?” usul Eun Ji Hae.


“Dengan begitu mereka tidak perlu menunggu kedatangan kita.


Karena sudah jelas jika kita terlambat,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Akan jauh lebih baik jika mereka mau memberikan bantuan


berupa transportasi kepada kita agar cepat sampai di sana,” final gadis itu.


Eun Ji Hae benar-benar banyak menggunakan otaknya hari ini.


Entah itu terasa melelahkan atau tidak baginya. Tapi yang jelas, ia sudah cukup


bekerja keras untuk hari ini. Eun Ji Hae telah mengerahkan seluruh kemampuan


terbaiknya. Jadi, tidak salah jika ia meminta balasan yang setimpal untuk terja


kerasnya tersebut.


“Mereka juga tidak akan mau menembus badai besar seperti ini


untuk mengirimkan bantuan kepada kita,” beber Bibi Ga Eun.


Wanita itu tahu betul bagaimana sikap para penghuni sekolah


itu. Keribadian serta prinsipnya sangat berbanding terbalik dengan Sekolah


Mooneta. Sungguh jauh. Tidak ada satupun dari mereka yang memiliki kesamaan.


Selain itu, Bibi Ga Eun juga sering melakukan kunjungan


kerja sama ke beberapa sekolah terkait. Yang tentunya merupakan akademi sihir


juga. Termasuk Reodal. Jadi, ia telah paham betul bagaimana seluk beluk dari


sikap mereka. Tidak ada yang bisa ditutup-tutupi lagi dari wanita itu. Ia


bahkan bisa mengetahuinya tanpa harus diungkap terlebih dahulu.


Jika bukan karena situasi yang darurat dan serba salah, Bibi


Ga Eun mungkin tidak akan mau bergabung bersama mereka dengan mengorbankan nama

__ADS_1


sekolah. Jelas ia akan menolak mentah-mentah  tawaran tersebut. Sama seperti kebanyakan orang di sini. Bahkan mungkin


tidak ada satu orang pun yang setuju dengan tawaran dari Reodal.


Mereka hanya terpaksa. Terjebak di antara situasi yang serba


salah. Hal tersebut tidak menungkinkan bagi mereka untuk melakukan penolakan.


Sejauh ini hanya Sekolah Reodal yang menawarkan mereka bantuan. Entah dengan


sekolah lainnya.


Meskipun sebentar lagi mereka akan menjadi satu kesatuan dan


menjujung tinggi nama Reodal, tapi tetap saja jika mereka harus berhati-hati.


Waspada akan membuat mereka aman. Hanya itu satu-satunya aksi yang bisa


dilakukan secara tersembunyi tanpa perlu takut ketahuan. Pasalnya, mereka tidak


bisa mempercayai pihak Reodal sepenuhnya. Mereka sama seperti musuh di dalam


selimut. Semua orang tahu soal itu. Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika


Reodal bermuka dua. Mereka hanya bisa mengadu domba dan saling memanfaatkan


pihak terkait untuk kepentingan mereka sendiri. Salahnya adalah di sana.


Sekaligus merupakan suatu kesalahan yang tidak bisa ditoleransi sama sekali.


Tidak semua siswa Reodal memiliki sifat buruk seperti itu.


Tapi kebanyakan memang cenderung bermuka dua dan suka memanfaatkan. Lagi pula


lebih aman. Bahkan akan jauh lebih baik jika bisa menjamin keamanan kita.


***


Beberapa orang memutuskan untuk tidur sembari menunggu badai


reda. Sekaligus sebagai cara lain untuk menumpuk energi selain makan. Karena


pada saat seperti sekarang ini tentu akan sulit bagi mereka untuk menemukan


makanan. Meskipun membawa bahan makanan, belum tentu bisa diolah serta


disajikan untuk orang sebanyak ini dalam waktu yang singkat. Kembali lagi pada


prinsip awal, jika semua perlu dan harus melewati suatu proses.


Sekarang sudah hampir pukul tiga pagi. Beberapa jam lagi


fajar akan segera menyingsing. Matahari akan keluar dari sarangnya dan


memancarkan cahaya jingga bertemperatur hangat ke seluruh penjuru dunia. Ssuhu


akan naik menjadi beberapa derajat lebih tinggi dari pada sebelumnya.


Sementara yang lain terlelap serta tenggelam dalam alam


bawah sadarnya masing-masing, tidak dengan beberapa orang lainnya yang masih


tetap terjaga hingga jam segini. Mereka sama sekali belum sempat tidur dari


tadi pagi. Sejak pertama kali mereka membuka mata. Dari pagi hingga bertemu

__ADS_1


pagi lagi. Di antaranya adalah Eun Ji Hae, Oliver, Nhea, Hwang Ji Na, Chanwo


serta beberapa orang siswa lain sebagai sisanya.


Bukan tanpa alasan mereka masih tetap terjaga sampai pukul


segini. Melainkan, ada beberapa hal yang menjadi faktor utamanya. Salah satu


alasannya adalah karena mereka tidak merasakan kantuk sama sekali. Padahal


untuk hari ini saja mereka belum ada tidur sama sekali. Bukan karena kekurangan


jam tidur. Melainkan karena tidak ada jam tidur.


Nhea dan Oliveer tampak saling membisa satu sama lain. Tidak


ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama sekali tidak


berniat untuk membuka topik obrolan sama sekali. Keduanya tampak tenggelam


dalam pikirannya masing-masing. Selain itu, mereka juga tidak ingin mengganggu


ketenangan orang lain. Mereka tahu betul bagaimana caranya untuk bersikap


hormat dalam situasi seperti sekarang.


Tempat ini benar-benar sunyi dan penuh akan ketenangan. Suasananya


masih sama seperti biasanya. Tidak ada hal luar biasa yang perlu dikejutkan.


Berbeda dengan situasi di luar sana yang merupakan ketimbalbalikan dari situasi


di dalam saat ini. Badai berhasil mengacaukan segalanya. Beruntung mereka telah


membuat portal, sehingga badai besar itu tidak akan berpengaruh apa pun


terhadap mereka.


Sementara itu, di sisi lain Hwang Ji Na masih tetap


memperhatikan Nhea. Gadis itu tidak pernah dibiarkan lepas begitu saja dari


pengawasannya. Ia sudah terlalu penasaran dengan Nhea, tapi tak bisa mendekat. Untuk


saat ini, ia belum bisa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Oliver pasti


akan langsung menyadari jika Hwang Ji Na bukan bagian dari sekolah ini. Ia adalah


seorang ketua asrama yang sudah menjabat hampir satu periode. Setiap malam ia


berkeliling kamar asrama untuk memastikan jika semua orang telah mengikuti


peraturannya. Jadi, bisa dikkatakan jika Oliver sudah hapal betul wajah-wajah


para penghuni asrama putri.


Hwang Ji Na tidak akan bisa lepas dari yang satu itu. Jadi,


mau tak mau ia harus  menunggu waktu yang


tepat untuk beraksi. Sementara ini, Hwang Ji Na hanya bisa mengawasi dari


kejauan tanpa bisa bertindak sama sekali. Jujur jika hal itu akan sangat


mengganggunya.

__ADS_1


__ADS_2