
Sebuah kalimat terlontar keluar dari mulut wanita itu.
Suaranya terdengar cukup jelas di rongga telinga Nhea. Padahal ia sedang
berbisik kala itu.
“Kau adalah pemimpin yang sesungguhnya,” ungkapnya pada awal
kalimat.
Sungguh sesuatu yang cukup mengejutkan untuk sebuah prolog.
Jika awalannya saja sudah terasa mengejutkan seperti ini, maka akkan seperti
apa klimaksnya nanti? Mungkin akan terasa jauh lebih mengejutkan dari apa yang
pernah ia bayangkan.
Nhea sama sekali belum tahu kemana arah pembicaraan ini.
Tapi, yang jelas semua itu ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri. Tidak
menutup kemungkinan jika juga ada sangkut pautnya dengan wanita itu. Karena
pada dasarnya, setiap hal yang berada di muka bumi akan saling berhubungan.
Baik secara langsung maupun tidak sama sekali.
Untuk saat ini Nhea mungkin tidak menyadari hal tersebut
sama sekali. Namun, hal sebaliknya justru terjadi kepada wanita tersebut.
“Mooneta bukanlah sebuah akademi sihir. Melainkan kerajaan
yang bersifat tersembunyi,” beber wanita tersebut secara terang-terangan.
Nhea mematung di tempat. Ia masih tetap bergeming, bahkan
setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak tahu harus bereaksi
bagaimana. Otaknya sedang berusaha keras untuk memproses setiap hal baru yang
ia terima. Meski pada dasarnya banyak yang tidak masuk akal. Sulit baginya
untuk menyakinkan dirinya sendiri.
“Apa maksudmu?” tanya Nhea.
Gadis itu spontan mundr beberapa langkah. Ia kembali membuat
jarak di antara mereka berdua. Tentu agar bisa melihat keseluruhan gerak-gerik
orang yang berada di depannya saat ini. Untuk sekedar memastikan apakah ia
sedang bicara jujur atau malah sebaliknya.
“Aku yakin jika kau pernah mengunjungi ruangan penyimpanan
yang terletak di gedung utama. Setidaknya sekali selama kau tinggal di sana,”
ujar wanita tersebut sambil berjalan mengitari tubuh Nhea. Sementaara itu di
sisi lain, Nhea tetap menyorotinya. Ia tidak akan membiarkan wanita tersebut
lepas begitu saja dari pengawasannya.
Menurutnya, lawan bicaranya saat ini harus ia waspadai.
Tentu saja begitu. Pasalnya, ia terlalu aneh. Wanita tersebut mengetahui
terlalu banyak informasi tentang akademi sihir Mooneta. Padahal tidak
seharusnya begitu. Terlebih, statusnya saat ini bagi Nhea adalah orang asing.
__ADS_1
Mereka bahkan belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Setidaknya sekali.
“Orang ini pasti memiliki sangkut paut dengan akademi sihir
Mooneta,” batin Nhea dalam hati.
Semakin ke sini, Nhea semakin merasa curiga terhadap wanita
itu. Sepertinya memang ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui selama ini.
Tidak menutup kemungkinan jika ia adalah wanita yang sama dengan yang membawa
Nhea ke tempat tersebut. Pasalnya, setiap hal aneh yang Nhea temukans elalu
mengarah ke wanita itu. Seolah-olah menunjukkan jika memang benar ia adalah
pelakunya.
“Ada sebuah mahkota yang disembunyikan secara sengaja di
dalam ruangan penyimpanan,” ungkap wanita tersebut secara gamblang.
“Kau akan langsung menemukannya begitu sampai di sana. Ada
sebuah kotak kaca yang terletak di atas lemari. Tepat di depan pintu masuk,”
jelasnya secara lebih terperinci.
“Hhh! Sepertinya mereka memang sengaja meneruhnya di
sana. Orang-orang itu tahu betul mana
tempat yang sulit untuk dijangkau,” gumamnya dengan volume suara yang jauh
lebih pelan daripada sebelumnya.
Namun, ternyata tidak cukup pelan. Sehingga Nhea masih bisa
informasi sekecil apa pun.
“Bagaimana bisa anda mengetahui informasi tersebut?” tanya
Nhea dengan ragu-ragu.
Ia mengerutkan dahinya, sehingga kedua alisnya tampak
menyatu. Sudah jelas jika ada pertanyaan yang terselip di dalam relung hatinya
saat ini. Nhea sungguh penasaran. Sepertinya wanita tersebut bukan sembarang
orang. Ia pasti memiliki hubungan khusus dengan akademi sihir Mooneta. Atau paling
tidak, ia pernah berkunjung ke sana. Pasalnya, tidak semua orang bisa tahu isi
gedung utama. Apalagi sampai hapal setiap sudut ruangannya. Hanya orang-orang
tertentu yang bisa menginjakkan kaki di sana.
“Aku yakin jika kau jauh lebih penasaran dengan mahkota
tersebut daripada tentang pertanyaanmu barusan,” ucap wanita tersebut sembari
tersenyum miring.
Tidak bisa ditangkap dengan jelas apa maksudnya. Rasanya
terlalu sulit bagi Nhea untuk menelisik setiap durat ekspresi yang muncul dari wajah
wanita itu. Lebih tepatnya, ia tidak bisa memastikan apakah dugaannya benar
atau malah sebaliknya.
Memang tak dapat dipungkiri jika pernyataan wanita itu ada
__ADS_1
benarnya juga. Di sisi lain, ia juga merasa penasaran tentang mahkota tersebut.
Nhea pernah melihatnya beberapa kali saat berkunjung ke ruangan penyimpanan. Letaknya
yang berada di atas rak penyimpanan sama sekali tidak menghalangi kedua netra
Nhea untuk menangkap objek tersebut. Kilauannya berhasil memikat gadis itu saat
berkunjung untuk pertama kalinya ke sana.
Sekarang, mari lupakan terlebih dahulu soal hal tersebut. Baginya,
pertanyaan pertama yang sempat ia lontarkan tadi jauh lebih penting dari apa
pun. Ia perlu tahu siapa orang ini sebenarnya. Nhea yakin betul jika seorang
wanita paruh baya yang tengah berada di hadapannya sekarang bukan orang biasa.
Hanya ada dua opsi yang terlintas di dalam kepalanya saat
ini. Yang pertama adalah wanita tersebut memang benar salah satu lulusan
akademi sihir Mooneta. Ia pasti pernah memegang peran penting. Contohnya sebagai
ketua asrama atau semacamnya. Pasalnya, sejak dulu memang tidak bisa sembarang orang
masuk ke gedung utama.
Atau opsi kedua yang merupakan alasan paling tidak logis
menurutnya. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan untuk terjadi. Menurutnya,
hal paling tidak mungkin sekali pun masih bisa tetap terjadi. Tidak ada yang
bisa menghalangi. Begitu cara semesta bekerja.
Wanita tersebut mungkin sajap ernah menyusup masuk beberapa
kali ke dalam akademi sihir Mooneta. Memangnya untuk apalagi jika bukan dengan
tujuan tidak baik. Satu-satunya hal yang terlintas di dalam pikirannya saat ini
adalah, wanita itu pasti seorang pencuri informasi. Buktinya, ia tahu jauh
lebih banyak soal akademi tersebut daripada Nhea. Wawasannya kalah jauh jika
dibandingkan dengan wanita itu.
Setelah bergelut dengan isi kepalanya sendiri, pada akhirnya
Nhea memutuskan. Sepertinya pilihan pertama terasa jauh lebih masuk akal. Sekaligus
memiliki kemungkinan paling besar untuk terjadi. Anggaplah opsi pertama sebagai
pilihan yang paling berpotensi di antara pilihan lain. Siapa pun pasti akan
merasa setuju. Bisa dipastikan jika mereka akan memihak gadis ini nantinya,
jika dihadapkan pada pilihan yang sama.
“Tetap saja anda harus menjelaskan awalnya terlebih dahulu agar
tidak ada salah paham sama sekali di antara kita berdua,” tegas Nhea sama
sekali.
Gadis itu sekaligus menolak penawaran lain dari wanita
tersebut dengan cara yang jauh lebih tekesan elegan. Untuk saat ini ia sedang
tidak ingin menerima jawaban lain. Pertama-tama ia memang perlu tahu bagaimana
cara wanita tersebut memperolah informasi terkait akademi sihir Mooneta.
__ADS_1