Mooneta High School

Mooneta High School
So, You Are?


__ADS_3

Sebuah kalimat terlontar keluar dari mulut wanita itu.


Suaranya terdengar cukup jelas di rongga telinga Nhea. Padahal ia sedang


berbisik kala itu.


“Kau adalah pemimpin yang sesungguhnya,” ungkapnya pada awal


kalimat.


Sungguh sesuatu yang cukup mengejutkan untuk sebuah prolog.


Jika awalannya saja sudah terasa mengejutkan seperti ini, maka akkan seperti


apa klimaksnya nanti? Mungkin akan terasa jauh lebih mengejutkan dari apa yang


pernah ia bayangkan.


Nhea sama sekali belum tahu kemana arah pembicaraan ini.


Tapi, yang jelas semua itu ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri. Tidak


menutup kemungkinan jika juga ada sangkut pautnya dengan wanita itu. Karena


pada dasarnya, setiap hal yang berada di muka bumi akan saling berhubungan.


Baik secara langsung maupun tidak sama sekali.


Untuk saat ini Nhea mungkin tidak menyadari hal tersebut


sama sekali. Namun, hal sebaliknya justru terjadi kepada wanita tersebut.


“Mooneta bukanlah sebuah akademi sihir. Melainkan kerajaan


yang bersifat tersembunyi,” beber wanita tersebut secara terang-terangan.


Nhea mematung di tempat. Ia masih tetap bergeming, bahkan


setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak tahu harus bereaksi


bagaimana. Otaknya sedang berusaha keras untuk memproses setiap hal baru yang


ia terima. Meski pada dasarnya banyak yang tidak masuk akal. Sulit baginya


untuk menyakinkan dirinya sendiri.


“Apa maksudmu?” tanya Nhea.


Gadis itu spontan mundr beberapa langkah. Ia kembali membuat


jarak di antara mereka berdua. Tentu agar bisa melihat keseluruhan gerak-gerik


orang yang berada di depannya saat ini. Untuk sekedar memastikan apakah ia


sedang bicara jujur atau malah sebaliknya.


“Aku yakin jika kau pernah mengunjungi ruangan penyimpanan


yang terletak di gedung utama. Setidaknya sekali selama kau tinggal di sana,”


ujar wanita tersebut sambil berjalan mengitari tubuh Nhea. Sementaara itu di


sisi lain, Nhea tetap menyorotinya. Ia tidak akan membiarkan wanita tersebut


lepas begitu saja dari pengawasannya.


Menurutnya, lawan bicaranya saat ini harus ia waspadai.


Tentu saja begitu. Pasalnya, ia terlalu aneh. Wanita tersebut mengetahui


terlalu banyak informasi tentang akademi sihir Mooneta. Padahal tidak


seharusnya begitu. Terlebih, statusnya saat ini bagi Nhea adalah orang asing.

__ADS_1


Mereka bahkan belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Setidaknya sekali.


“Orang ini pasti memiliki sangkut paut dengan akademi sihir


Mooneta,” batin Nhea dalam hati.


Semakin ke sini, Nhea semakin merasa curiga terhadap wanita


itu. Sepertinya memang ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui selama ini.


Tidak menutup kemungkinan jika ia adalah wanita yang sama dengan yang membawa


Nhea ke tempat tersebut. Pasalnya, setiap hal aneh yang Nhea temukans elalu


mengarah ke wanita itu. Seolah-olah menunjukkan jika memang benar ia adalah


pelakunya.


“Ada sebuah mahkota yang disembunyikan secara sengaja di


dalam ruangan penyimpanan,” ungkap wanita tersebut secara gamblang.


“Kau akan langsung menemukannya begitu sampai di sana. Ada


sebuah kotak kaca yang terletak di atas lemari. Tepat di depan pintu masuk,”


jelasnya secara lebih terperinci.


“Hhh! Sepertinya mereka memang sengaja meneruhnya di


sana.  Orang-orang itu tahu betul mana


tempat yang sulit untuk dijangkau,” gumamnya dengan volume suara yang jauh


lebih pelan daripada sebelumnya.


Namun, ternyata tidak cukup pelan. Sehingga Nhea masih bisa


informasi sekecil apa pun.


“Bagaimana bisa anda mengetahui informasi tersebut?” tanya


Nhea dengan ragu-ragu.


Ia mengerutkan dahinya, sehingga kedua alisnya tampak


menyatu. Sudah jelas jika ada pertanyaan yang terselip di dalam relung hatinya


saat ini. Nhea sungguh penasaran. Sepertinya wanita tersebut bukan sembarang


orang. Ia pasti memiliki hubungan khusus dengan akademi sihir Mooneta. Atau paling


tidak, ia pernah berkunjung ke sana. Pasalnya, tidak semua orang bisa tahu isi


gedung utama. Apalagi sampai hapal setiap sudut ruangannya. Hanya orang-orang


tertentu yang bisa menginjakkan kaki di sana.


“Aku yakin jika kau jauh lebih penasaran dengan mahkota


tersebut daripada tentang pertanyaanmu barusan,” ucap wanita tersebut sembari


tersenyum miring.


Tidak bisa ditangkap dengan jelas apa maksudnya. Rasanya


terlalu sulit bagi Nhea untuk menelisik setiap durat ekspresi yang muncul dari wajah


wanita itu. Lebih tepatnya, ia tidak bisa memastikan apakah dugaannya benar


atau malah sebaliknya.


Memang tak dapat dipungkiri jika pernyataan wanita itu ada

__ADS_1


benarnya juga. Di sisi lain, ia juga merasa penasaran tentang mahkota tersebut.


Nhea pernah melihatnya beberapa kali saat berkunjung ke ruangan penyimpanan. Letaknya


yang berada di atas rak penyimpanan sama sekali tidak menghalangi kedua netra


Nhea untuk menangkap objek tersebut. Kilauannya berhasil memikat gadis itu saat


berkunjung untuk pertama kalinya ke sana.


Sekarang, mari lupakan terlebih dahulu soal hal tersebut. Baginya,


pertanyaan pertama yang sempat ia lontarkan tadi jauh lebih penting dari apa


pun. Ia perlu tahu siapa orang ini sebenarnya. Nhea yakin betul jika seorang


wanita paruh baya yang tengah berada di hadapannya sekarang bukan orang biasa.


Hanya ada dua opsi yang terlintas di dalam kepalanya saat


ini. Yang pertama adalah wanita tersebut memang benar salah satu lulusan


akademi sihir Mooneta. Ia pasti pernah memegang peran penting. Contohnya sebagai


ketua asrama atau semacamnya. Pasalnya, sejak dulu memang tidak bisa sembarang orang


masuk ke gedung utama.


Atau opsi kedua yang merupakan alasan paling tidak logis


menurutnya. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan untuk terjadi. Menurutnya,


hal paling tidak mungkin sekali pun masih bisa tetap terjadi. Tidak ada yang


bisa menghalangi. Begitu cara semesta bekerja.


Wanita tersebut mungkin sajap ernah menyusup masuk beberapa


kali ke dalam akademi sihir Mooneta. Memangnya untuk apalagi jika bukan dengan


tujuan tidak baik. Satu-satunya hal yang terlintas di dalam pikirannya saat ini


adalah, wanita itu pasti seorang pencuri informasi. Buktinya, ia tahu jauh


lebih banyak soal akademi tersebut daripada Nhea. Wawasannya kalah jauh jika


dibandingkan dengan wanita itu.


Setelah bergelut dengan isi kepalanya sendiri, pada akhirnya


Nhea memutuskan. Sepertinya pilihan pertama terasa jauh lebih masuk akal. Sekaligus


memiliki kemungkinan paling besar untuk terjadi. Anggaplah opsi pertama sebagai


pilihan yang paling berpotensi di antara pilihan lain. Siapa pun pasti akan


merasa setuju. Bisa dipastikan jika mereka akan memihak gadis ini nantinya,


jika dihadapkan pada pilihan yang sama.


“Tetap saja anda harus menjelaskan awalnya terlebih dahulu agar


tidak ada salah paham sama sekali di antara kita berdua,” tegas Nhea sama


sekali.


Gadis itu sekaligus menolak penawaran lain dari wanita


tersebut dengan cara yang jauh lebih tekesan elegan. Untuk saat ini ia sedang


tidak ingin menerima jawaban lain. Pertama-tama ia memang perlu tahu bagaimana


cara wanita tersebut memperolah informasi terkait akademi sihir Mooneta.

__ADS_1


__ADS_2