
Baru pertama kalinya bagi Eun Ji Hae masuk ke dalam dimensi
lain yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Tapi, di saat yang bersamaan
pula Hwang Ji Na berhasil membuka koneksi ke alam tersebut tanpa pernah ia
sadari sama sekali. Hwang Ji Na bahkan tidak pernah memiliki keberanian sama
sekali sebelumnya. semua hal tersebut terjadi begitu saja di luar
ekspektasinya.
Sungguh tidak masuk akal saat Hwang Ji Na berhasil melakukan
sesuatu yang luar biasa. Tidak sembarang orang bisa membuka koneksi seperti
itu. Bahkan orang sekelas Eun Ji Hae saja belum tentu bisa. Tapi, Hwang Ji Na
melakukannya dengan mudah. Seolah tidak ada beban sama sekali. Padahal ia tidak
memiliki latar belakang yang berkaitan dengan ilmu sihir. Gadis itu benar-benar
murni terlahir dari rahim seorang kaum werewolf. Lebih tepatnya klan alpha. Tidak
ada satu pun orang dari anggota keluarganya yang merupakan penyihir. Hwang Ji
Na yakin akan hal itu meskipun belum pernah bertemu dengan keluarga seumur
hidup.
Secara tiba-tiba, hal mengejutkan terjadi. Lagi-lagi,
semuanya berada di luar perkiraan mereka. Baik Eun Ji Hae mau pun Hwang Ji Na
sama sekali tidak menduga jika hal seperti ini akan terjadi. Keduanya panik.
Ikut bereaksi sesuai dengan keadaan pada saat itu.
Panik, takut, sedih, terkejut dan berbagai macam perasaan
lainnya muncul dengan begitu saja. Semua hal itu bercampur aduk menjadi satu
memenuhi relung hati keduanya. Sehingga sulit untuk dideskripsikan dengan
kata-kata. Namun, pada saat ini ada dua hal yang paling mendominasi. Yaitu rasa
panik dan takut. Keduanya hampir menguasai diri gadis-gadis ini. Sehingga
mereka kesulitan setengah mati untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Bagaimana tidak panik, saat mendadak terjadi kesalahan tak
terduga. Jauh di luar ekspektasi mereka selama ini. Mendadak koneksinya nyaris
terputus. Hal tersebut membuat Eun Ji Hae tidak bisa melihat sosok Hwang Ji Na
lagi. Begitu pula sebaliknya.
Koneksi yang terputus bukan satu-satunya permasalahan di
sini. Ada hal lain yang jauh lebih genting dan bahkan sampai mengancam nyawa
mereka. Jika situasinya semakin memburuk, hal itu tidak menutup kemungkinan
bagi mereka untuk terjebak di dalamnya. Jiwa keduanya tidak akan pernah kembali
__ADS_1
lagi ke raganya. Mereka belum mati pada posisi tersebut.
“Tahan portalnya!” perintah
Eun Ji Hae.
Dengan cepat Hwang Ji
Na mengangguk, kemudian menuruti perintah gadis itu. Hanya ia yang memiliki
akses sepenuhnya pada setiap hal yang berada di tempat ini. Sebab, Hwang Ji Na
adalah orang pertama yang berhasil menciptakan koneksinya serta ikut membawa Eun
Ji Hae masuk ke dalam dimensi ini. Itu artinya, kekuatan Hwang Ji Na cukup
besar. Ia telah lebih dari mampu untuk melakukan hal tersebut.
Dengan kata lain, Hwang Ji Na adalah satu-satunya orang yang
paling berhak atas tempat ini. Ia bisa melakukan apa pun yang ia mau. Semua hal
berada di bawah kendalinya. Jika saja Hwang Ji Na memiliki pemahaman yang lebih
soal dunia sihir, maka ia mungkin bisa mengoptimalkan kekuatan spiritualnya
menjadi jauh lebih baik lagi. Bahkan tidak menutup kemungkinan bagi gadis itu
untuk mencapai puncak tertinggi dari kekuatan spiritualnya jika ia terus
berlatih. Hwang Ji Na terbilang cukup berpotensi untuk menjadi penyihir handal,
meski ia sama sekali tidak memiliki latar belakang terkait hal tersebut.
Beruntung Hwang Ji Na tahu aa yang harus ia lakukan dan bergerak
dalam raganya masing-masing dengan selamat. Ini adalah percobaan pertama bagi
Hwang Ji Na untuk melakukan telepati. Tapi sayangnya malah tidak berjalan
dengan mulus. Sebenarnya sudah berhasil. Hanya saja ada beberapa kesalahan
kecil yang temlah mengacaukan siswa acaranya.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Hwang Ji Na berusaha
untuk menegakkan kepalanya. Ia menyoroti Eun Ji Hae yang duduk di seberang sana
dengan keadaan serupa. Mereka tak jauh berbeda. Kecelakaan tadi memiliki dampak
besar kepada keduanya. Mungkin setelah ini Hwang Ji Na tidak akan pernah
melakukan hal seperti itu lagi. tentu rasa trauma dan takut ada di dalam
dirinya.
Untuk beberapa saat mereka aling melempar pandangan satu
sama lain. Sulit untuk ditebak apa makna dari sorot mata Eun Ji Hae yang tampak
mengkilap. Ia tak terlalu baik dalam hal menelisik ekspresi orang lain. Selang
beberapa detik kemudian, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Suatu
objek yang berada di dekat Hwang Ji Na berhasil menyita seluruh perhatiannya.
__ADS_1
Siapa lagi jika bukan Chanwo. Sudah jelas jika keberadaannya akan diketahui
oleh Eun Ji Hae pada akhirnya. Pria itu tak bisa mengelak.
“Temui aku di luar setelah konferensi selesai,” ucap Eun Ji
Hae tanpa bersuara sama sekali. Gadis itu hanya menggerakkan bibirnya saja.
beruntung Hwang Ji Na langsung mengerti dengan ucapannya.
Hwang Ji Na mengangguk cepat untuk mengiyakan perkataan
gadis itu. sepertinya kalimat barusan tidak hanya berlaku bagi dirinya seorang.
Tapi, juga bagi Chanwo. Eun Ji Hae pasti akan menuntut penjelasan kepada
keduanya. Kenapa bisa mereka sampai ada di sini bersama yang lainnya. Terlebih,
Chanwo terlihat memakai seragam seperti siswa Mooneta lainnya di sini.
“Apa semua orang sudah berkumpul?” tanya seorang siswa yang
akan menjadi moderator rapat kali ini. Tampaknya posisi gadis itu cukup
penting, sampai ia dilibatkan dalam acara besar.
Sejauh ini tidak ada sangkalan atau jawaban sama sekali. Hal
tersebut membuatnya berpikir jika semua orang yang bersangkutan sudah berada di
dalam aula saat ini. Ia langsung memerintahkan para penjaga untuk menutup pintu
ruangannya. Kemudian kembali duduk.
Semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Suasana berubah
menjadi hening seketika. Mereka terlihat begitu serius. Hal tersebut dapat
dilihat dari ekspresinya.
“Baiklah, kalau begitu tanpa membuang lebih banyak waktuu
lagi, rapat akan segera kita mulai!” sahutnya dari depan. Masih dengan orang
yang sama.
Beberapa detik setelahnya terdengar suara palu yang diketuk
tiga kali dengan tempo sedang. Pertanda rapat telah dibuka. Atmosfirnya sudah
berbeda lagi saat ini. Mereka tampak tegang sekaligus antusias. Sepertinya
orang-orang yang berada di sini sedang terbawa suasana.
Gadis yang bertugas sebagai moderator untuk sementara waktu
tadi langsung memberikan hak bicaranya kepada pemimpin konferensi. Tentu saja Do
Yen Sae selaku pemimpin akademi sihir juga. Dia berhak atas segalanya. Tidak
ada yang bisa melarang apa lagi mencegah wanita itu.
Mereka hanya berhak berbicara
atau bertindak setelah diberikan izin oleh Do Yen Sae. Sekali lagi harus
__ADS_1
diingatkan jika semua hal berada di bawah kekuasannya selama masih termasuk ke
dalam wilayah Reodal.