Mooneta High School

Mooneta High School
Tic Toc


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan yang


satu itu, Nhea dan Oliver berniat untuk segera kembali ke kamar asramanya


masing-masing. Tidak ada alagi alasan untuk tetap berada di sini.


“Kita harus mengembalikan kunci ini


terlebih dahulu,” ucap Oliver Sembari menunjuk benda tersebut.


Sejak tadi kuncinya sudah berada di


tangan Nhea. Sebenarnya, ia tidak harus mengembalikannya hari ini. Kunci


tersebut jarang digunakan. Hanya akan dipakai saat kunci utama mengalami


gangguan atau tidak bisa dipakai saja. Sehingga tidak akan ada orang yang


menyadari jika kunci cadangannya menghilang dan tidak berada di tempat yang


semestinya.


“Sebaiknya kau pergi ke luar lebih


dulu saja. Tunggu aku di pintu keluar atau dimana saja, asal bukan di dalam


gedung ini. Mereka bisa mencurigai kita jika tetap berada di dalam gedung utama


pada waktu yang tidak seharusnya,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


Gadis itu memberikan intruksi


singkat kepada Oliver untuk meninggalkan tempat ini. Paling tidak, berada di


luar gedung akan membuatnya tetap aman. Mungkin akan sama-sama berbahaya. Tapi,


resikonya tidak sebesar saat mereka masih berada di dalam gedung tersebut.


“Apakah tidak apa-apa jika aku pergi


meninggalkanmu sendirian di sini?” tanya Oliver. Dia tidak pernah benar-benar


yakin untuk meninggalkan gadis itu.


“Tenang saja. Tidak akan ada apa pun


yang terjadi kepadaku,” balas Nhea secara gamblang.


Entah bagaimana caranya gadis itu


bisa bersikap begitu santai. Padahal, Oliver sendiri sudah mulai merasa panik. Tenang


adalah kuncinya. Kau tidak akan bisa berpikir jernih untuk memecahkan suatu


masalah jika sedang dilanda kepanikan. Apalagi sampai panik berlebih.


“Pergilah!” titah Nhea.


“Sekarang!” tegasnya sekali lagi.


Jika diperhatikan dari kata-katanya


barusan, gadis itu sama sekali tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.


Nhea akan terus mendesak Oliver untuk melakukan perintahnya. Lagipula ia sama


sekali tidak salah. Nhea hanya tidak ingin sesuatu yang buruk sampai menimpa


temannya yang satu itu.


Penjagaan di sekitar gedung utama


bisa dikatakan tidak terlalu ketat memang. Tidak ada prajurit atau bahkan

__ADS_1


pasukan khusus untuk berjaga. Mereka hanya menetapkan peraturan klasik untuk


menjaga keamanannya. Tidak sembarang orang bisa memasuki area tersebut. Gedung utama


menjadi area terlarang bagi sebagian besar orang. Hanya mereka yang sudah


ditetapkan sejak awal yang memiliki akses untuk masuk ke sana.


Tak ingin membuat gadis itu menunggu


lebih lama lagi, Oliver bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Nhea sendirian


di belakangnya. Dengan langkah yang terkesan terburu-buru, ia berusaha untuk


tidak menciptakan suara sekecil apa pun. Bahkan, suara jarum jatuh pun bisa


terasa begitu menggelegar di malam yang kian sunyi seperti ini. Jadi, Oliver


harus berhati-hati jika memang tidak ingin tertangkap. Sekali lagi, waspada


akan membuatnya tetap aman.


Oliver harus bergerak dengan


hati-hati. Satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya terjebak di dalam masalah


besar. Manusia mungkin memang tidak bisa memastikan hal macam apa yang akan


terjadi kepada mereka di masa depan. Namun, beberapa dari mereka telah dibekali


naluri alami untuk memprediksi. Tidak selamanya benar, tapi intuisi memang


sudah terbukti berperan banyak sejak dulu.


Sejauh ini sama sekali tidak ada


masalah yang terjadi. Semua tampak baik-baik saja. Oliver bahkan nyaris


menyelesaikan misi kecilnya malam ini. Sekarang ia hampir mencapai pintu keluar


khawatir akan tertangkap. Tidak ada orang yang berkeliaran di sekitar pintu


keluar seharusnya. Apalagi pada waktu selarut ini. Sebagian besar dari mereka


pasti mulai terlelap dan tenggelam dalam alam bawah sadarnya.


Semua terjadi sesuai dengan


dugaannya. Kali ini Oliver sudah berada di luar gedung. Ia memilih untuk menepi


ke arah taman. Tidak terlalu jauh jaraknya dari pintu keluar. Oliver bisa tetap


mengawasi Nhea dari sini. Gadis itu pasti akan menemukan Oliver jika


sewaktu-waktu ia keluar dari pintu yang sama setelah menyelesaikan urusannya.


Sejauh ini semuanya masih berjalan


dengan lancar. Tidak ada hal buruk yang terjadi di luar dugaan. Semoga akan


tetap seperti ini sampai selesai. Dewi Fortuna tampaknya sedang berpihak kepada


mereka. Semesta mendukung aksinya.


Oliver memutuskan untuk duduk di


bangku taman sambil mengatur napasnya yang terasa memburu. Tidak bisa


dipungkiri jika berjalan dengan kecepatan ekstra membuatnya nyaris kehabisan


napas. Bukan hanya paru-parunya saja yang harus bekerja lebih keras untuk


mengumpulkan pasokan oksigen dalam jumlah banyak. Jantungnya pun ikut dipaksa

__ADS_1


bekerja keras.


Sekarang, Oliver sudah bisa bernapas


dengan tenang. Tidak ada hal yang perlu ia cemaskan lagi. Kini semuanya


baik-baik saja. Gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Sekarang,


tinggal giliran Nhea yang akan menyelesaikan sisanya.


Oliver melayangkan pandangannya ke


salah satu jendela yang masih tampak terang benderang. Sepertinya Nhea tengah


berada di sana sekarang. Meski terbilang jarang berkunjung ke gedung utama,


Oliver tetap hapal posisi setiap ruangan dengan jelas.


Deretan kamar dan ruangan lainnya


berada di sisi lain dari gedung ini yang langsung menghadap ke timur. Sementara


itu, ruangan penyimpanan berada tepat di tengah-tengah gedung. Letaknya cukup


srategis. Berada di pusat gedung, namun tetap terkesan tersembunyi. Sehingga tidak


sembarang orang bisa mengaksesnya.


“Semoga dia tidak tertangkap,” gumam


Oliver masih dengan napas yang terengah-engah.


Gadis itu sama sekali tidak habis


pikir jika akan begini resikonya. Terlambat mengumpulkan daftar hadir satu


menit saja, bisa mengubah segalanya. Contohnya seperti sekarang. Hidup mereka


tengah dipertaruhnya. Ralat. Bukan mereka, tapi Oliver. Tidak akan masalah bagi


Nhea jika ia tertangkap basa oleh seseorang tengah berkeliaran di gedung utama


pada jam segini. Mereka tidak akan mempermasalahkan hal tersebut sama sekali. Bagaimanapun


juga, gadis itu memang memiliki hak penuh untuk mengakses tempat tersebut.


Kali ini Oliver sudah tidak peduli


sama sekali soal dirinya. Yang ia tahu, jika dirinya sudah aman sekarang. Satu-satunya


hal yang ia cemaskan adalah Nhea. Entah hal macam apa yang akan terjadi kepada


gadis itu sekarang. Oliver tidak akan bisa membantunya jika Nhea sungguh


terjebak dalam masalah.


Posisi Oliver saat ini sudah tidak


memungkinkan lagi bagi dirinya untuk kembali. Terlalu berbahaya. Oliver belum


siap dengan resiko yang ditawarkan kepadanya. Tidak masalah jika orang-orang menyebutnya


dengan sebutan si pengecut. Oliver tidak akan marah. Apalagi sampai


membantahnya karena tak terima.


Oliver memang tidak bisa berbuat


apa-apa. Karena memang begitu adanya. Untuk saat ini ia hanya bisa berharap


yang terbaik. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi di dalam sana. Lagipula


mereka juga sama sekali tidak berniat baik pada awalnya. Seharusnya, tidak akan

__ADS_1


ada masalah yang berarti di sini.


__ADS_2