Mooneta High School

Mooneta High School
Rumor


__ADS_3

Eun Ji Hae sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal


tersebut. Lebih tepatnya, ia sedang tidak ingin menambah isi kepalanya yang


sudah terasa berat itu. Sudah tidak ada ruang lagi yang tersisa di dalam sana


untuk menerima hal baru. Isi kepalanya sudah benar-benar penuh dan padat.


Bahkan rasanya nyaris pecah.


Sementara semua orang sibuk dengan kegiatannya


masing-masing, beberapa ahli kesehatan yang berada di sekolah ini mendadak


menjadi tim forensik seketika. Kejadian tadi pagi masih membayang-bayangi


setiap orang yang berada di sekolah. Terutama bagi mereka yang terpaksa


melewati lorong tempat kejadian. Titik yang satu itu mendadak menjadi begitu


angker. Auranya sudah berbeda dari biasanya. Entah memang karena auranya yang


berubah, atau malah hanya skedar pengaruh dari pikiran mereka. Apa pun itu,


yang jelas suasananya sudah berubah. Tidak lagi seperti yang dulu.


Setiap kali mereka melewati lorong yang satu itu, pasti bulu


kuduknya langsung meremang seketika. Padahal mereka masih berdiri di ujung


lorong. Sensasinya akan berbeeda lagi saat kita mulai melangkah maju dan


benar-benar melewati tempat itu.


Beberapa orang mungkin hanya akan bergiding ngeri atau malah


semakin merasakan merinding yang menjadi-jadi. Kini langkah mereka sedikit


dipercepat bahkan nyaris berlari saat melewatinya. Mau tidak mau, mereka tetap


harus melewati tempat itu untuk menuju ke asramanya masing-masing.


“Ku harap arwah Shin Nara tidak akan bergentayangan di


tempat ini!” celetuk Jang Eunbi.


“Hey! Jaga mulutmu!” seru Oliver.


Hal tersebut bersamaan dengan gerakan refleks yang ia


lakukan dengan memukul tangan gadis itu. Otomatis, Jang Eunbi hanya bisa


melirih karena kesakitan. Tidak ada gunanya juga jika iaprotes kepada Oliver.


Gadis itu tetap akan acuh dan tidak akan mendengarkannya.


“Jangan bicara sembarangan! Dia baru saja pergi tadi pagi,”


ujar Jongdae.


Pria itu hanya berusaha memperingatkan teman-temannya agar


tidak  sampai kelewatan batas. Tidak baik


membicarakan orang yang sudah meninggal. Terlebih lagi ia jika meninggal dengan


cara yang tidak wajar. Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat


sekitar, ia tidak akan bisa damai. Apa lagi menemukan jalan menuju surga.


Perkataan mereka semua telah membelenggunya untuk tetap berada di dunia ini.

__ADS_1


Sehingga jiwanya terjebak di dunia. Begitu lah asal-usulroh jahat, konon


katanya.


Saat ini Nhea dan teman-temannya, termasuk Jang Eunbi sedang


duduk di anak tanggak pengubung lantai kelas atas dengan kelas bawah. Padahal


mereka baru akan masuk ke kelas pada saat matahari mulai terbenam di ujung


barat. Mereka datang kemari bukan karena tak sabar menunggu hari gelap. Melainkan


untuk mengusir rasa bosan. Tidak bisa dipungkiri, jika beberapa hari ini mereka


semua merasakan bosan yang tak berkesudahan. Salah satu faktornya adalah, salju


abadi. Akibat fenomena tersebut, ada banyak kegiatan yang mendadak dihentikan


demi keselamatan bersama. Mereka bahkan tidak bisa keluar kemana-mana.


Terkurung di dalam tempat ini adalah suatu kenyataan paling tidak menyenangkan


yang harus mereka terima.


Jadi wajar saja jika mereka akan melakukan segala hal untuk


mengusir kebosanannya. Termasuk saling bertukar cerita seperti ini. Tapi


sekarang topiknya sudah tidak menyenangkan lagi. Semua ini bermula karena Jang


Eunbi yang lebih dulu bercerita soal orang yang sudah meninggal/


“Mana aku tahu jika akan seperti ini pada akhirnya!” ucap


Jang Eunbi.


“Lagi pula aku tidak pernah tahu kalau hal tersebut


Gadis itu tengah mencoba untuk memberikan pembelaan terhadap


dirinya sendiri. Ia tidak boleh sampai kalah beradu argumen degan mereka semua.


Jang Eunbi bukan tipikal orang yang mudah mengalah. Bahkan dalam hal kecil


sekali pun.


“Memangnya apa yang kau tahu?!” celetuk Oliver.


Namun, kalimatnya barusan lebih terdengar seperti sebuah


sindiran halus. Mungkin akan jauh lebih tepat jika dikategorikan sebagai kalimat


ejekan.


Tapi pada kenyataannya, percuma saja Jongdae dan Oliver


melarang gadis itu untuk membicarakan hal yang demikian. Pasalnya, di sekolah


ini ada banyak orang yang membicarakan hal serupa. Bukan hanya mereka saja. Seperti


yang kita tahu, jika peristiwa sadis pagi hari ini cukup menggemparkan seluruh


warga sekolah. Ingatan mereka soal itu masih sangat segar.  Tidak bisa dipungkiri, jika semua orang ingin


mendengar cerita lengkapnya. Bahkan sejauh ini telah ada beberapa versi yang


tersedia. Untuk kebenarannya sendiri memang belum ada yang terbukti sama


sekali. Ini hanyalah asumsi mereka untuk sementara waku saja, sebelum


menentukan kesimpulan pada akhirnya.

__ADS_1


Jika mitos tersebut terbukti benar, maka sepertinya jiwa


Shin Nara tidak akan pernah bisa tenang sementara mereka masih tetap


membicarakannya. Ia akan terjebak selamanya di gedung sekolah ini. Menjadi roh


jahat sekaligus jiwa penasaran yang menggentayangi seluruh sekolah. Hal


tersebut akan menambah kesan angker pada bangunan yang sudah tampak tua ini.


Tanpa perlu dipole soleh cerita apa pun lagi, Sekolah Mooneta memang sudah


memiliki kesan horror dan misterius sejak awal kita pertama kali melihatnya.


Tidak perlu merasa terkejut lagi. Karena memang akademi


sihir identik dengan kekuatan gaib dan hal-hal supranatural lainnya. Kalian


harus siap dari segi apa pun saat memasuki akademi sihir seperti Mooneta atau


bahkan akademi sejenis lainnya. Pasalnya, ada begitu banyak tantangan yang


harus diterima. Siap atau tidak siap. Secara langsung mau pun tidak langsung.


“Lihat!” seru Nhea.


Salah satu jari telunjuknya mengarah ke langit-langit


ruangan ini. Tepat pada lampu gantung yang terletak di lantai dua sekat dengan


tangga. Ada hal mengejutkan lainnya yang mereka temukan di sini.


“Apakah itu ular?” tanya Jang Eunbi dengan ragu.


Oliver mengangguk untuk mengiyakan perkataan gadis itu


barusan.


Sulit unutk dipercaya. Bagaimana bisa ada seekor ular


ditempat ini. Ukurannya memang tidak terlalu besar seperti ular mamba hitam


atau bahkan piton. Hanya seukuran dengan ular-ular yang biasanya berada di


pohon-pohong. Tapi dari mana datangnya. Semua jalan telah ditutup. Sehingga


tidak ada lagi akses untuk keluar masuk di tempat ini.


Tidak ada seorang pun dari mereka yang mau berkomentar


sedikit pun. Mereka hanya bisa tercengang dengan pandangan yang menyoroti


mahluk melata itu dengan lekat. Mendadak mereka kehabisan kata-kata dan tak


tahu harus berkata apa.


“Bagaimana bisa seekor ular bergelantungan di atas sana?”


tanya Jongdae.


Ia masih tak habis pikir. Otaknya menolak untuk percaya.


Jika Jongdae saja bereaksi seperti demikian, jangan tanya lagi seperti apa


reaksi adik perempuannya. Tentu saja Oliver jauh lebih teidak percaya dengan apa


yang baru saja ia lihat saat ini. Kemarin malam ia baru saja melihat sebuah


burung gagak yang terbunuh oleh anak panah misterius. Pagi ini mereka semua


disuguhkan oleh pemandangan yang mengerikan. Dan sekarang apa lagi yang

__ADS_1


terjadi. Ada-ada saja hal anehyang terjadi di sekolah ini. ~~~~


__ADS_2