
Eun Ji Hae sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal
tersebut. Lebih tepatnya, ia sedang tidak ingin menambah isi kepalanya yang
sudah terasa berat itu. Sudah tidak ada ruang lagi yang tersisa di dalam sana
untuk menerima hal baru. Isi kepalanya sudah benar-benar penuh dan padat.
Bahkan rasanya nyaris pecah.
Sementara semua orang sibuk dengan kegiatannya
masing-masing, beberapa ahli kesehatan yang berada di sekolah ini mendadak
menjadi tim forensik seketika. Kejadian tadi pagi masih membayang-bayangi
setiap orang yang berada di sekolah. Terutama bagi mereka yang terpaksa
melewati lorong tempat kejadian. Titik yang satu itu mendadak menjadi begitu
angker. Auranya sudah berbeda dari biasanya. Entah memang karena auranya yang
berubah, atau malah hanya skedar pengaruh dari pikiran mereka. Apa pun itu,
yang jelas suasananya sudah berubah. Tidak lagi seperti yang dulu.
Setiap kali mereka melewati lorong yang satu itu, pasti bulu
kuduknya langsung meremang seketika. Padahal mereka masih berdiri di ujung
lorong. Sensasinya akan berbeeda lagi saat kita mulai melangkah maju dan
benar-benar melewati tempat itu.
Beberapa orang mungkin hanya akan bergiding ngeri atau malah
semakin merasakan merinding yang menjadi-jadi. Kini langkah mereka sedikit
dipercepat bahkan nyaris berlari saat melewatinya. Mau tidak mau, mereka tetap
harus melewati tempat itu untuk menuju ke asramanya masing-masing.
“Ku harap arwah Shin Nara tidak akan bergentayangan di
tempat ini!” celetuk Jang Eunbi.
“Hey! Jaga mulutmu!” seru Oliver.
Hal tersebut bersamaan dengan gerakan refleks yang ia
lakukan dengan memukul tangan gadis itu. Otomatis, Jang Eunbi hanya bisa
melirih karena kesakitan. Tidak ada gunanya juga jika iaprotes kepada Oliver.
Gadis itu tetap akan acuh dan tidak akan mendengarkannya.
“Jangan bicara sembarangan! Dia baru saja pergi tadi pagi,”
ujar Jongdae.
Pria itu hanya berusaha memperingatkan teman-temannya agar
tidak sampai kelewatan batas. Tidak baik
membicarakan orang yang sudah meninggal. Terlebih lagi ia jika meninggal dengan
cara yang tidak wajar. Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat
sekitar, ia tidak akan bisa damai. Apa lagi menemukan jalan menuju surga.
Perkataan mereka semua telah membelenggunya untuk tetap berada di dunia ini.
__ADS_1
Sehingga jiwanya terjebak di dunia. Begitu lah asal-usulroh jahat, konon
katanya.
Saat ini Nhea dan teman-temannya, termasuk Jang Eunbi sedang
duduk di anak tanggak pengubung lantai kelas atas dengan kelas bawah. Padahal
mereka baru akan masuk ke kelas pada saat matahari mulai terbenam di ujung
barat. Mereka datang kemari bukan karena tak sabar menunggu hari gelap. Melainkan
untuk mengusir rasa bosan. Tidak bisa dipungkiri, jika beberapa hari ini mereka
semua merasakan bosan yang tak berkesudahan. Salah satu faktornya adalah, salju
abadi. Akibat fenomena tersebut, ada banyak kegiatan yang mendadak dihentikan
demi keselamatan bersama. Mereka bahkan tidak bisa keluar kemana-mana.
Terkurung di dalam tempat ini adalah suatu kenyataan paling tidak menyenangkan
yang harus mereka terima.
Jadi wajar saja jika mereka akan melakukan segala hal untuk
mengusir kebosanannya. Termasuk saling bertukar cerita seperti ini. Tapi
sekarang topiknya sudah tidak menyenangkan lagi. Semua ini bermula karena Jang
Eunbi yang lebih dulu bercerita soal orang yang sudah meninggal/
“Mana aku tahu jika akan seperti ini pada akhirnya!” ucap
Jang Eunbi.
“Lagi pula aku tidak pernah tahu kalau hal tersebut
Gadis itu tengah mencoba untuk memberikan pembelaan terhadap
dirinya sendiri. Ia tidak boleh sampai kalah beradu argumen degan mereka semua.
Jang Eunbi bukan tipikal orang yang mudah mengalah. Bahkan dalam hal kecil
sekali pun.
“Memangnya apa yang kau tahu?!” celetuk Oliver.
Namun, kalimatnya barusan lebih terdengar seperti sebuah
sindiran halus. Mungkin akan jauh lebih tepat jika dikategorikan sebagai kalimat
ejekan.
Tapi pada kenyataannya, percuma saja Jongdae dan Oliver
melarang gadis itu untuk membicarakan hal yang demikian. Pasalnya, di sekolah
ini ada banyak orang yang membicarakan hal serupa. Bukan hanya mereka saja. Seperti
yang kita tahu, jika peristiwa sadis pagi hari ini cukup menggemparkan seluruh
warga sekolah. Ingatan mereka soal itu masih sangat segar. Tidak bisa dipungkiri, jika semua orang ingin
mendengar cerita lengkapnya. Bahkan sejauh ini telah ada beberapa versi yang
tersedia. Untuk kebenarannya sendiri memang belum ada yang terbukti sama
sekali. Ini hanyalah asumsi mereka untuk sementara waku saja, sebelum
menentukan kesimpulan pada akhirnya.
__ADS_1
Jika mitos tersebut terbukti benar, maka sepertinya jiwa
Shin Nara tidak akan pernah bisa tenang sementara mereka masih tetap
membicarakannya. Ia akan terjebak selamanya di gedung sekolah ini. Menjadi roh
jahat sekaligus jiwa penasaran yang menggentayangi seluruh sekolah. Hal
tersebut akan menambah kesan angker pada bangunan yang sudah tampak tua ini.
Tanpa perlu dipole soleh cerita apa pun lagi, Sekolah Mooneta memang sudah
memiliki kesan horror dan misterius sejak awal kita pertama kali melihatnya.
Tidak perlu merasa terkejut lagi. Karena memang akademi
sihir identik dengan kekuatan gaib dan hal-hal supranatural lainnya. Kalian
harus siap dari segi apa pun saat memasuki akademi sihir seperti Mooneta atau
bahkan akademi sejenis lainnya. Pasalnya, ada begitu banyak tantangan yang
harus diterima. Siap atau tidak siap. Secara langsung mau pun tidak langsung.
“Lihat!” seru Nhea.
Salah satu jari telunjuknya mengarah ke langit-langit
ruangan ini. Tepat pada lampu gantung yang terletak di lantai dua sekat dengan
tangga. Ada hal mengejutkan lainnya yang mereka temukan di sini.
“Apakah itu ular?” tanya Jang Eunbi dengan ragu.
Oliver mengangguk untuk mengiyakan perkataan gadis itu
barusan.
Sulit unutk dipercaya. Bagaimana bisa ada seekor ular
ditempat ini. Ukurannya memang tidak terlalu besar seperti ular mamba hitam
atau bahkan piton. Hanya seukuran dengan ular-ular yang biasanya berada di
pohon-pohong. Tapi dari mana datangnya. Semua jalan telah ditutup. Sehingga
tidak ada lagi akses untuk keluar masuk di tempat ini.
Tidak ada seorang pun dari mereka yang mau berkomentar
sedikit pun. Mereka hanya bisa tercengang dengan pandangan yang menyoroti
mahluk melata itu dengan lekat. Mendadak mereka kehabisan kata-kata dan tak
tahu harus berkata apa.
“Bagaimana bisa seekor ular bergelantungan di atas sana?”
tanya Jongdae.
Ia masih tak habis pikir. Otaknya menolak untuk percaya.
Jika Jongdae saja bereaksi seperti demikian, jangan tanya lagi seperti apa
reaksi adik perempuannya. Tentu saja Oliver jauh lebih teidak percaya dengan apa
yang baru saja ia lihat saat ini. Kemarin malam ia baru saja melihat sebuah
burung gagak yang terbunuh oleh anak panah misterius. Pagi ini mereka semua
disuguhkan oleh pemandangan yang mengerikan. Dan sekarang apa lagi yang
__ADS_1
terjadi. Ada-ada saja hal anehyang terjadi di sekolah ini. ~~~~