Mooneta High School

Mooneta High School
You


__ADS_3

Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Eun Ji Hae menarik jubah orang tersebut. Rasa penasarannya sudah tak dapat dibendung lagi. Ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu untuk bertemu dengan orang ini, begitu pula dengan orang misterius yang tak pernah menunjukkan siapa dirinya ini.


“Akhh!!!” teriak orang itu dengan sangat kencang.


Sedetik kemudian, Eun Ji Hae baru mengetahui jika orang yang tengah berdiri di hadapannya ini adalh seorang pria. Tapi anehnya meskipun ia telah membuka jubahnya, Eun Ji Hae tak mampu melihat siapa itu. Lagi-lagi gerakannya terlalu cepat untuk di tebak.


Dengan segera, pria itu langsung memeluk Eun Ji Hae sesaat setelah ia membuka jubahnya. Pria aneh ini menenggelamkakn wajahnya di atas pundak Eun Ji Hae, dan menyembunyikan rupa wajahnya yang enggan ia tunjukkan kepada dunia. Padahal ia tahu jika Eun Ji Hae telah lancang membuka jubah itu tanpa izin terlebih dahulu, tapi ia malah bersembunyi di balik juntaian rambut hitam gadis ini. Eun Ji Hae tak habis pikir bagaimana pola pikir pria yang aneh ini, tentu saja begitu karena namanya saja sudah pria aneh.


Sontak Eun Ji Hae dibuat kaget dengan perlakuan prai ini, yang memeluknya secara tiba-tiba seperti ini. Gadis ini tak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Di satu sisi ia penasaran dengan siapa sebenarnya sosok pria yang bersembunyi di balik jubah ini. Apa ia terlalu takut jika harus menunjukkan dirinya pada dunia. Terkadang semesta tak selalu bisa bersikap ramah terhadap semua orang, termasuk dengan pria ini mungkin. Namun di sisi lain, Eun Ji Hae juga merasa bersalah karena telah membuat pria ini merasa begitu ketakutan seperti ini.


Secara tidak langsung, Eun Ji Hae sekarang meupakan sebuah ancaman baginya. Tak seharusnya ia melakukan hal itu, kepada seseorang yang telah menolongnya dengan tulus. Jika pria ini tak ada di sini untuk mengejarnya, mungkin ia akan kehilangan perhiasan yang satu ini untuk selamanya. Terkadang tak semua hal yang kita miliki, harus ditunjukkan atau bahkan dipamerkan ke seluruh semesta. Tapi bagaimanapun itu, Eun Ji Hae yakin jika pria ini pasti sangat rupawan. Kharisma itu terpancar dengan sendirinya dari pria itu, meskipun pada kenyataannya ia tak tahu persis seperti apa wajah pria itu. Karena memang Eun Ji Hae belum diizinkan untuk melihat wajah tampan itu oleh si pemiliknya.


“Bisakah kau membawaku ke tempat yang jauh lebih teduh?” bisik pria tersebut, sambil sesekali meraung kesakitan.


“Baiklah, berpegangan yang erat. Aku akan membawamu terbang sebentar,” balas Eun Ji Hae.


Tanpa pikir panjang, Eun Ji Hae segera menuruti permintaan pria aneh itu. Anggap saja jika ini adalah sebuah bentuk balas budi darinya, karena telah berbuat baik kepadanya. Ia tak tahu dimana benda ini terjatuh tadinya, yang pasti ia yakin jika pria ini telah mengikutinya dari tempat terakhir kali benda ini terjatuh.

__ADS_1


Gadis ini membawanya untuk berteduh di bawah pohon besar. Yang pasti, bukan salah satu pohon yang berada di hutan kegelapan itu. Eun Ji Hae berjanji pada dirinya sendiri jika ia tak akan pernah masuk ke tempat itu lagi. Untungnya tak jauh dari hutan terkutuk itu, ada hutan lain yang rasanya lebih terbuka. Jadi akan cukup aman jika mereka beristirahat di tempat ini untuk sementara waktu.


Pria ini jauh lebih penting, karena telah menolongnya. Lagipula Eun Ji Hae harus bertanggung jawab terhadap kesalahan yang barusaja ia lakukan, dan semoga saja hal itu tidak fatal. Tak seharusnya ia melakukan orang asing dengan tak sopan seperti ini. Vallery dan Wilson pasti bisa menunggunya untuk beberapa saat, Ini tak akan berlangsung lama, Eun Ji Hae akan segera pergi setelah semua urusannya dengan pria ini selesai.


Setelah mendarat, pria ini langsung menyandarkan dirinya pada batang pohon raksasa itu. Seekali ia mengucek-ngucek matanya yang kelihatannya terasa perih. Sepertinya pria ini sangat merasa kesakitan.


“Kau baik-baik saja?” tanya Eun Ji Hae kepada pria tersebut.


“Aku tak apa-apa, pergilah aku tahu jika kau sedang sibuk,” jelas pria tersebut sambil berusaha untuk menenangkan dirinya.


Entah apa yanag sebenarnya terjadi kepada pria ini. Eun Ji Hae tak melakukakn apapun selain membuka jubahnya secara tiba-tiba, selain itu tak ada lagi sama sekali. Tapi kelihatannya pria ini benar-benar menjadi trauma dan ketakutan sekali setelah kejadian barusan.


“Aku lihat tadi kau begitu ketakutan , pasti ada sesuatu yang salah denganmu,” lanjutnya.


“Kau benar,” ucap pria itu dengan singkat.


“Aku? Perkataanku yang mana yang benar?” tanya Eun Ji Hae yang kebingungan.

__ADS_1


“Kau benar, ada sesuatu yang salah denganku. Itu sebabnya aku menjadi histeris seperti tadi. Maafkan aku soal yang tadi itu, aku pasti telah membuatmu merasa tak nyaman,” jelas pria tersebut dengan panjang lebar.


“Ti…ti…tidak, bukan kau yang salah. Aku yang salah karena telah lancang membuka jubahmu dengan sembarangan seperti itu,” balas Eun Ji Hae yang malah merasa tak enak.


“Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu seperti itu,” ucap pria tersebut sambil membenarkan jubahnya.


“Hmmm….. terimakasih untuk yang satu ini,” ujar Eun Ji Hae dengan sangat hati-hati.


“Santai saja, itu bukan masalah bagiku,” balas pria tersebut dengan begitu tenang.


“Sebaiknya kau pergi sekarang juga, aku tahu jika mereka sedang menunggumu sekarang ini,” ujar pria tersebut.


“B…ba…baiklah kalau kau meminta begitu,” balas Eun Ji Hae sambil tersenyum kaku.


Tak lama kemudian, Eun Ji Hae benar-benar menuruti perkataan pria itu. Untuk sekarang ini sebaiknya ia tak berlama-lama berada di sini. Eun Ji Hae tahu persis jika mungkin pria itu perlu menenangkan dirinya sendiri setelah kejadian tadi. Atau mungkin memang kehadirannya sendirilah yang telah membuat pria ini merasa terganggu dan tak nyaman. Eun Ji Hae paham jika setiap orang perlu ruang pribadinya masing-masing, tak bisa dipungkiri jika Eun Ji Hae juga begitu. Sekarang Eun Ji Hae harus menyingkir dari hadapn pria itu untuk memberinya ruang pribadi seperti yang ia maksud tadi.


Dengan berat hati Eun Ji Hae terpaksa meninggalkan tempat itu, untuk menuruti keinginannya sekaligus untuk melanjutkan perjalanannya. Vallery dan Wilson pasti telah menunggunya di ujung hutan ini. Tak baik jika ia membuat kedua orang tuanya tersebut untuk menunggu, itu artinya sama saja dengan ia membuat Nhea menunggu. Padahal Nhea belum tentu bisa bertahan lebih lama lagi.

__ADS_1


Meskipun Eun Ji Hae merasa sedikit kecewa karena tak sempat melihat wajah pria baik itu, tapi taka pa. Mungkin lain kali mereka akan bertemu di lain waktu. Jika takdir mengizinkan, kenapa tidak.


__ADS_2