Mooneta High School

Mooneta High School
Actual


__ADS_3

Seperti biasanya, Nhea pergi bersama Oliver untuk menuju ruang makan. Ini adalah pertama kalinya ia kembali mengunjungi tempat itu setelah berhari-hari absen dari daftar. Seluruh lorong dan koridor yang semula tampak sepi, kini mulai terlihat dipadati dengan puluhan siswa. Bukan sesuatu yang mengejutkan memang, ini adalah pemandangan super wajar yang selalu mereka alami setiap hari.


Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, Nhea dengan serius menyimak cerita Oliver. Katanya banyak hal yang Nhea lewatkan dan sangat disayangkan. Kemarin dewan penyihir sempat mengunjungi sekolah mereka, namun saat itu pula Nhea sedang tak sadarkan diri. Sampai ketakutan seluruh sekolah karena menerima surat terror dari Ify. Dan satu hal lagi yang ia lewatkan adalah sidang tahunan anggota petinggi.


“Kau tahu jelas kalau aku iri dengan mu,” ujar Oliver dengan apa adanya.


“Ehmm… kenapa begitu?” tanya Nhea kebingungan.


“Jadi selama ini kau iri denganku, tapi karena apa?” lanjutnya.


Oliver bersiap-siap untuk kembali bercerita panjang tentang semua perasaannya selama ini. Sepertinya cerita yang kali ini akan sangat panjang.


“Kau tahu kenapa alasan aku iri denganmu?” tanya Oliver.


Sementara sosok yang tanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi polos.

__ADS_1


“Betapa beruntungnya kau saat bisa langsung menjadi salah satu bagian penting dari sekolah ini,” jelasnya secara gamblang.


“Lagipula wajar saja kau bisa seperti itu. Kau adalah pewaris utama dari sekolah ini, setelah ayah dan ibumu tiada nanti, maka kau akan menggantikan peran mereka. Kau lebih penting dari Kakak Ji,” lanjutnya.


“Lalu, bagaima jika aku tak melanjutkan peranan mereka seperti yang kau maksud barusan?” tanya Nhea yang mulai terlihat serius.


“Mungkin sekolah ini akan kehilangan pemimpinnya dan bisa saja dibubarkan oleh dewan penyihir, karena tak memiliki kejelasan dalam sistem pendidikannya,” jawab Oliver.


“Tapi bukankah seorang penyihir akan hidup abadi?” tanya Nhea lagi.


“Tapi mereka penyihir, mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau. Pasti ada satu atau dua mantra yang bisa mematahkan kutukan atas ajal mereka,” ujar Nhea dengan antusias.


Oliver dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Terlalu mudah baginya untuk membaca pikiran orang lain.


“Kau takut kehilangan mereka untuk selamanya bukan?” tanya Oliver dengan hati-hati.

__ADS_1


“Lihat dirimu yang begitu ambisius ini, aku tahu jika kau tak ingin hal itu terjadi kepada mereka,”  lanjutnya.


“Mana mungkin aku berpikir seperti itu, kau pasti salah,” dalihnya.


“Aku sudah cukup terbiasa hidup tanpa mereka sama sekali dan buktinya aku bisa bertahan tanpa mereka. Aku tak perlu mencemaskan mereka, saat mereka sendiri tak mau tahu apa-apa soal diriku. Kurasa itu cukup impas untuk penderitaanku selama bertahhun-tahun. Aku ingin agar sekali saja dunia bersikap adil kepadaku,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


“Aku dibesarkan tanpa mereka dan dengan hantaman keras dari semesta yang selalu menyerangku tanpa henti-hentinya. Aku mencoba bertahan diantara semua tekanan yang ku alami,” lanjutnya.


Oliver mulai paham dengan semua penyebab kenapa Nhea selama ini selalu tertutup. Ia terbiasa untuk menjadi seseorang yang seperti itu.


“Oleh sebab itu, kau pantas mendapatkan posisi ini,” ujar Oliver.


“Tapi aku tak pernah membutuhkannya sama sekali,” jawab Nhea dengan yakin.


Kini hatinya sudah terlalu keras untuk dilunakkan dengan bujukan semacam itu. Hal itu sama sekali tak berarti apa-apa baginya. Kehidupan di dunia nyata jauh lebih penting daripada semua ilusi yang mereka ciptakan ini.

__ADS_1


__ADS_2