
Wilson menyandarkan tubuhnya pada kursi, kepalanya mendongak menatap langit-langit kosong. Sudah lama ia tak mampir ke tempat ini, padahal nyatanya memang di sinilah seharusnya ia berada. Ia sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, sisi egois yang selama ini dipendamnya sendiri saja.
“Apa menurutmu Nhea akan baik-baik saja?” tanya Vallery yang terlihat mondar-mandir sedari tadi.
“Tenanglah, kau tak perlu khawatir soal dirinya. Anak itu sudah sadar, dan kau tahu soal itu kan?” balas Wilson.
“Bukan itu maksudku, aku takut jika ada suatu hal buruk yang terjadi secara berkepanjangan,” jelas Vallery
Wilson menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya ke udara. Harusnya istrinya yang satu itu tahu jika Nhea adalah anak yang kuat. Gadis itu terbilang cukup kuat untuk dihadapkan dengan hal mengerikan semacam itu. Ia juga tak pernah mengeluh ketika ditinggal oleh kedua orang tuanya selama bertahun-tahun.
“Kau tak perlu mencemaskan anak itu, dia akan baik-baik saja. Percayalah padaku…” ujar Wilson yang berusaha untuk menenangkan istrinya.
__ADS_1
“Sebaiknya kita pikirkan saja bagaimana caranya untuk menaklukkan serangan Ify kali ini,” lanjutnya.
***
Beberapa tahun lalu, waktu Nhea masih sangat kecil. Dunianya yang harusnya penuh dengan kasih sayang, seketika berubah menjadi kelabu, dengan awan-awan gelap disertai gemuruh. Padahal malam itu, mereka sekeluarga barusaja pulang selepas menonton bioskop bersama. Hari itu akhir pekan, jadi tak apa jika harus pulang larut malam seperti ini. Lagipula Nhea pergi bersama kedua orang tuanya, jadi aman-aman saja jika anak sekecil itu berkeliaran di malam hari seperti ini.
“Ibu, lain kali mari kita pergi ke tempat itu lagi,” ujar Nhea kecil dengan begitu polosnya.
“Tentu saja sayang, tapi kau harus berjanji untuk mempertahankan nilaimu di sekolah ya,” balas Vallery.
Salju turun dengan sangat lebat malam itu. Beruntung mereka sampai sebelum badai menerjang seluruh Kota Seoul. Entah kenapa tiba-tiba badai dahsyat terjadi pada malam itu dan membuat semua orang panik. Padahal seharusnya hari ini suhu akan lebih hangat dua derajat dari kemarin. Terkadang pada situasi seperti ini lah kita menyadri bahwa ramalan cuaca tak selalu benar.
“Ayah… Ibu….” rengek gadis itu dengan manja.
“Kenapa sayang?” balas Vallery.
__ADS_1
“Ada apa lagi denganmu?” timpal Wilson yang ikut menambahi perkataan Vallery.
“Apa boleh jika aku tidur bersama kalian untuk kali ini saja? Penghangat ruangan di kamarku sepertinya sedang rusak,” jelas Nhea kecil.
Ayah dan ibunya saling melemparkan pandangan satu sama lain, sesaat setelah mendengar ucapan puterinya tersebut. Mereka terlihat sedikit ragu untuk memutuskan hal ini. Sementara di sisi lain, gadis kecil itu masih terus menunggu di depan pintu. Ia berdiri sambil memeluk boneka Unicorn kesayangannya itu. Ia berharap agar iya adalah satu-satunya jawaban yang keluar dari mulut kedua orang tuanya saat itu.
Sedetik kemudian, jawaban yang ia nanti-nanti akhirnya terungkap juga. Kali ini sepertinya mereka memilih untuk mengalah saja kepada puteri kecilnya itu. Mengingat tak banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk membuat gadis kecilnya itu bahagia selama ini.
Sontak Nhea bersorak-sorak kegirangan. Ia tak suka tidur sendirian di kamarnya, apalagi pada cuaca seperti ini. Badai yang belum kunjung reda itu, terlihat terus menakut-nakutinya dari balik kaca jendela. Nhea tak ingin kelihatan seperti orang bodoh di sana sendirian.
__ADS_1