
Untuk beberapa saat di awal belum ada jawaban sama sekali baik dari Eun Ji Hae dan kedua wanita yang jauh lebih tua lainnya. Mereka tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing. Do Yen Sae tahu betul apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Tentu saja sulit untuk mengambil keputusan besar dalam waktu yang terbatas. Terlebih pengetahuan mereka soal maslaah itu terbilang cukup minim. Ini karena Do Yen Sae sama sekali tidak pernah menyinggung permasalahan tersebut sebelumnya.
“Aku akan memberikan kalian waktu untuk berpikir,” ujar gadis itu.
Ketiga wanita itu tampak tidak ingin menanggapi ucapannya barusan. Mereka jauh lebih mementingkan isi kepalanya dari pada Do Yen Sae yang sudah menanti jawaban mereka sejak tadi.
“Awas saja jika mereka berani menghancurkan rencanaku lagi kali ini,” batin Do Yen Sae dalam hati.
Tidak perlu waktu lama bagi Bibi Ga Eun untuk menemukan jawaban yang tepat. Sebagai pemimpin akademi, ia selalu dituntut untuk membuat keputusan yang cepat dan tepat. Tentu saja keputusan yang dibuatnya kali ini tidak akan mengecewakan orang lain. Kalau pun memang harus mengecewakan, pasti ada alasan di baliknya.
“Jadi, kau akan mengubah nama akademi sihir ini dengan yang baru bukan?” tanya Bibi Ga Eun yang kemudian mendapatkan anggukan antusias dari gadis itu.
“Apakah tidak ada pilihan nama selain Petal? Kenapa harus petal?” tanya wanita itu sekali lagi.
Sudah cukup. Kesabarannya yang sudah tipis sejak awal, kini semakin menipis lagi. Hingga ia tidak bisa menahan amarahnya. Do Yen Sae sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi.
‘BRAK!!!’
Gadis itu menggebrak meja yang mereka gunakan untuk rapat. Sontak hal tersebut berhasil mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain, kemudian menggidikkan bahunya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Kelihatannya Do Yen Sae tengah tersulut emosi. Ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. bahkan ubun-ubunnya sudah mendidih rasanya.
Do Yen Sae menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Ia seolah siap untuk menerkam siapa saja yang berada di hadapannya. Bibi Ga Eun yang semula berniat untuk menenangkan gadis itu kembali mengurungkan niatnya. Melihat reaksi berlebihan dari Do Yen Sae berhasil membuat nyalinya ciut seketika. Gadis itu tengah begitu sensitive sekarang ini. Bahkan udara yang dihirupnya saja seperti bahan bakar yang berhasil menyulut emosinya lebih dalam lagi.
Mereka tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi. Emosi gadis ini sedang tidak stabil. Mereka bahkan tidak bisa menenangkan Do Yen Sae.
“Tenanglah. Kenapa kau harus bersikap seperti ini?” ujar Vallery.
“Kau terlalu berlebihan,” cicit Eun Ji Hae.
Meski volume suaranya sudah berada di titik paling rendah sekali pun, tapi ternyata kalimatnya barusan tidak lolos begitu saja dari indera pendengaran Do Yen Sae. Gendang telinga gadis itu menjadi jauh lebih sensitif dari pada biasanya saat sedang emosi seperti sekarang.
Secepat kilat ia melesat ke arah tempat duduk Eun Ji Hae, kemudian mengunci pergerakannya. Gadis itu harus merasakan akibat dari perbuatannya barusan. Ini yang harus ditanggungnya jika berani macam-macam dengan Do Yen Sae. Apa lagi sampai kepikiran untuk mencampuri serta mengacaukan rencananya.
Do Yen Sae menghunuskan ujung tongkat sihirnya tepat ke leher Eun Ji Hae. Membuat sang empunya hanya bisa menahan napas. Bergerak sedikit saja, bisa habis dia. Eun Ji Hae harus berhati-hati pada saat seperti ini. Ujung tongkat itu memang tidak terlalu tajam, tapi juga tidak bisa dibilang tumpul juga. Seseorang bisa terluka karenanya. Siapa bilang jika tongkat sihir tersebut tidak bisa dijadikan sebagai senjata? Pada dasarnya, setiap benda bisa menjadi senjata yang cukup mematikan. Sekarang tergantung kepada siapa benda itu jatuh.
Suasana berubah menjadi menegangkan seketika. Ada kepanikan dimana-mana. Bahkan Vallery dan Bibi Ga Eun saja sampai terperanjat kaget. Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya. Berusaha untuk menetralisir situasi pada awalnya. Tapi semua itu gagal. Mereka bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
“Jika kalian maju, maka Eun Ji Hae akan mati di tanganku!” ancam Do Yen Sae.
__ADS_1
Entah sejak kapan ia berubah menjadi gadis yang pemberani seperti ini. Pemberontak lebih tepatnya. Mendadak sisi jahat di dalam dirinya muncul.
Sementara itu, Eun Ji Hae terus berusaha untuk bertahan di posisinya yang edang serba sulit saat ini. Ia akan melakukan apa saja untuk mengulur waktu. Yang jelas, Eun Ji Hae tidak akan membiarkan Do Yen Sae melukainya dengan tongkat terkutuk itu. Jika ia memang harus mati, maka ia pasti tidak akan sudi untuk mati di tangan gadis licik itu.
“Apa susahnya untuk menyepakati keputusan ini?! Kalian yang mempersulit semuanya!” teriak Do Yen Sae dengan histeris.
“Oh, Tuhan! Dia hampir memekakkan telingaku,” cibir Eun Ji Hae.
“Diam!” tegas gadis itu.
Lagi-lagi Do Yen Sae hanya bisa mengancam gadis itu dengan tongkat sihirnya saja. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih karena emosinya. Amarah telah menguasai gadis itu sepenuhnya. Sementara di sisi lain ada kepanikan sekaligus rasa takut yang nyaris menguasai Vallery dan Bibi Ga Eun. Bagaimana mereka bisa tetap tenang saat berada di dalam situasi yang serba salah seperti itu.
“Jika kalian setuju dengan nama akademi baru tadi, maka aku akan melepaskan dia,” tawar Do Yen Sae.
Gadis itu mulai memberikan kelonggaran kepada anggota keluarga Mooneta. Padahal, dari awal memang itulah tujuan utamanya. Sekaligus menjadi alasan bagi Do Yen Sae untuk membawa mereka bertiga ke dalam ruangan ini. Tidak sembarang orang bisa memasuki tempat tersebut. Bahkan mereka belum tentu bisa masuk meski sudah mendapatkan izin dari empunya.
Bibi Ga Eun dan Vallery mulai merasa bingung setengah mati. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Do Yen Sae sudah benar-benar keterlaluan. Ia nyaris gila karena kekuasaan. Gadis itu terlalu terobsesi dengan kekuasaan. Sama halnya dengan keluarga besar gadis itu.
“Jadi bagaimana?” tanya Do Yen Sae yang terus mendesak keduanya.
__ADS_1
Sementara di seberang sana Eun Ji Hae tampak menggeleng-gelengkan kepalanya untuk memberi kode kepada kedua wanita itu. Bagaimana pun juga, mereka tidak boleh menyerah begitu saja. Mereka harus tetap pada keputusan awalnya. Jika tidak ada yang menerima usulan nama baru tersebut, maka baik Rodal maupun Mooneta tidak akan kehilangan nama besar mereka.