Mooneta High School

Mooneta High School
Attack


__ADS_3

Nhea kembali naik ke atas sana untuk kembali memantau situasinya dan memberikan aba-aba. Ia juga akan menyerang beberapa kali jika masih mampu. Namun semakin ke sini, gadis itu semakin merasa tak nyaman. Seperti ada seseorang yang membuntutinya dari tadi. Jangan bilang kalau orang itu adalah pria aneh yang sangat suka memberikan kejutan tak menyenangkan padanya itu.


Merasa jika posisinya kini semakin terancam, Nhaea membalikkan tubuhnya untuk melihat ada siapa di sana. Tapi sayangnya yang ia temui hanyalah lorong gelap dengan penerangan lilin seadanya. Sejauh ini ia masih berusaha untuk berprasangka baik, meski dirinya sudah terlampau curiga terhadap semua hal yang berada di sekitarnya.


“Hey!” sahut seseorang dari sisi yang lainnya.


Ia lantas mengalihkan seluruh perhatiannya kepada si pemilik suara tersebut. Nhea langsung melengos parah sesaat setelah ia mengetahui siapa lawan bicaranya kala itu.


“Apa yang kau inginkan?” balas Nhea dengan acuh tak acuh.


“Tak ada sesuatu yang terlalu penting sebenarnya. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur,” jelas Eun Ji Hae.


“Apa itu? Langsung saja katakan!” balas gadis itu.


“Masih sempat-sempatnya kau datang padaku untuk membahas sesutau yang tak penting sama sekali di saat seperti ini,” lanjutnya.

__ADS_1


“Siapa mereka? Apa kau  yang mengundangnya untuk datang kemari?” tanya Eun Ji Hae dengan tatapan merendahkan.


“Hh! Sudah ku duga jika pertanyaanmu akan seperti ini,” balas Nhea kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


“Hey!”


“Jawab dulu pertanyaanku!”  cegah Eun Ji Hae.


Sementara itu di sisi lain, Nhea tetap terus melangkah maju tanpa pernah sekalipun menoleh ke belakang lagi. Ia membiarkan wanita itu berteriak-teriak sendiri di bawah sana, tepat seperti orang yang sudah hilang akal sehatnya.


Nhea tak habis pikir bagaimana kedua orang itu pergi meninggalkan tempat ini tanpa pengawasan sedikitpun. Sungguh perbuatan yang sangat tak bertanggung jawab sama sekali. Harusnya mereka berdua berpikir dua kali utnuk meninggalkan menara pengawas. Kedua orang itu padahal tahu jelas jika tempat ini akan menjadi sangat penting di saat situasi genting seperti ini.


Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera mengambil alih sepenuhnya tas menara ini. Sangat tak masuk akal jika semua orang mendadak menjadi acuh dengan serangan ini. Entah hal apa yang mendasari mereka hingga bisa berbuat seperti itu. Jika para manusia pengecut itu ingin tetap hidup, mereka harus berjuang mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik mereka. Orang-orang itu terlalu pecundang untuk ukuran penyihir senior.


“Nhea!” sahut seseorang dari belakang.

__ADS_1


Lagi-lagi konsentrasinya hilang begitu saja karena suara itu. Apakah mereka tak bisa membiarkan dirinya sendiri saja untuk beberapa waktu. Selalu ada saja celah yang mereka manfaatkan untuk mengganggu Nhea.


“Sudah ku bilang jika itu tidak penting!” ucap Nhea sambil berdecak sebal.


Bagaimana tidak sebal, lihat saja yang terjadi sekarang ini. Bidikan anak panah yang telah ia tempatkan dengan susah payah, kini hilang begitu saja. Padahal tadi Nhea telah mampu mengunci Ify sebagai targetnya.


“K..kau?” ujar Nhea dengan terbata-bata.


“Bagimana dengan kabarmu? Padahal baru beberapa saat yang lalu kita bertemu bukan?” ujar Chanwo sambil membelai halus rambut gadis itu.


“Hentikan!” ucap Nhea sembari menepi tangan pria itu.


“Sebenarnya aku ke sini ingin membantumu ” ungkap Chanwo kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


“Apa itu?” tanya Nhea heran.

__ADS_1


__ADS_2