Mooneta High School

Mooneta High School
First Step


__ADS_3

Eun Ji Hae tengah berusaha untuk


meyakinkan dirinya sendiri, jika asumsi tersebut tidak benar. Lagipula sejauh


yang ia tahu selama ini, Nhea sama sekali tidak pernah pergi ke gedung utama. Gadis


itu hanya sampai di lantai satu yang kebetulan mereka gunakans ebagai ruang


makan. Nhea tidak pernah naik ke lantai dua tanpa orang lain. Apalagi sampai ke


lantai tiga.


Sejauh ini Eun Ji Hae hanya


pernah mengajak gadis itu sebanyak dua kali untuk berkunjung ke lantai dua gedung


utama. Itu pun karena ia mendapatkan perintah untuk memanggil Nhea. Memangnya


siapa lagi yang mau memanggilnya jika bukan Bibi Ga Eun. Hanya Bibi Ga Eun


serta Eun Ji Hae yang paling banyak berurusan dengannya sebelumnya.


Eun Ji Hae yakin betul jika Nhea


belum pernah naik ke lantai tiga sebelumnya. Sebab, gadis itu memang tidak


memiliki kepentingan apa pun di sana. Sejak awal masuk kemari, Nhea juga sudah


memutuskan jika ia tidak akan mau tinggal bersama anggota keluarga yang lainnya


di gedung utama. Ia memilih untuk tetap berada di asrama bersama dengan yang


lainnya.


Di satu sisi, sebenarnya itu


sudah menjadi suatu keuntungan bagi Eun Ji Hae. Sebab, tidak akan ada seorang


pun yang bisa menghalangi langkahnya. Termasuk Nhea. Tapi, kini perasaan gadis


itu mulai goyah. Ia tidak lagi merasa jika dirinya sungguh aman.


Eun Ji Hae menduga jika Nhea


sudah tahu segalanya. Atau jangan-jangan malah lebih parah. Selama ini gadis


itu sudah megetahui segalanya. Namun, ia hanya berpura-pura tidak tahu. Oleh sebab


itu sekarang Nhea bisa tampak begitu tenang. Karena ia sudah menyiapkan rencana


untuk mengantisipasi hal buruk yang kemungkinan besar pasti akan terjadi.


Apa yang sedang dipikirkan oleh


Eun Ji Hae kali ini ada benarnya. Dia tidak bisa terus menganggp remeh gadis


itu. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui soal Nhea. Mungkin saja jika ternyata


Nhea selama ini jauh lebih unggul darinya dalam beberapa hal. Eun Ji Hae tidak


harus selalu menang. Ada banyak hal yang perlu ia perbaiki dari dirinya


sendiri. Termasuk menurunkan rasa egoisnya.


“Perhatian semuanya!” seru Bibi


Ga Eun.


Wanita itu berusaha untuk memecah


keriuhan suasana. Tapi pada kenyataannya hal tersebut tidak berhasil. Usahanya nihil.


Untuk pertama kalinya Bibi Ga Eun diacuhkan oleh semua orang. Mereka semua


sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang menghiraukan orang-orang


di depan sana.


Seluruh murid dan staff yang

__ADS_1


bekerja di sini ikut merasa kaget. Mereka masih belum bisa percaya. Rasanya


tidak masuk akal. Semua orang bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka


menggantikan posisi yang seharusnya ditempati oleh Nhea menjadi milik Eun Ji


Hae.


Bukan hanya itu saja


permasalahannya, hingga membuat seisi akademi gempar seperti ini. Ada satu hal


lagi yang dirasa lebih serius. Pada periode sebelumnya selalu dilaksanakan kongres


untuk pemilihan. Tidak terkhusus pada pemilihan pimpinan akademi saja. Bahkan


mereka juga melakukan kongres untuk pemilihan ketua asrama.


Jika dalam skala terkecil saja


dilakukan kongres, lantas kenapa yang satu ini tidak sama sekali. Sudah jelas-jelas


jika posisi pimpinan akademi jauh lebih penting dan tinggi dari pada hanya


sekedar ketua asrama. Kalau pun kebijakannya diubah sewaktu-waktu, seharusnya


ada pemberitahuan.


“Apa mereka berusaha untuk


berbuat curang?”


“Kenapa mendadak semuanya menjadi


seperti ini?”


“Mereka sungguh tidak adil!”


“Apa-apaan ini!”


Berbagai macam suara berhasil ia


tangkap. Telinga gadis itu terasa penuh. Namun, Nhea tetap berusaha untuk


kepanikan bagi Eun Ji Hae. Secara tidak langsung ia sudah mengintimidasi gadis


itu.


Sejauh ini caranya berhasil.


Pertama-tama, Nhea akan berusaha membuat Eun Ji Hae tidak nyaman dengan


posisinya sekarang. Mengintimidasinya secara tidak langsung. Perasaannya pasti


sedang tidak karuan sekarang.


Untuk tahap pertama dari misinya


berhasil ia lakukan. Bahkan Nhea tidak perlu turun tangan secara langsung. Sebab


Vallery telah melakukannya secar sukarela untuk gadis itu. Ternyata wanita itu


tahu betul mana yang terbaik untuk anaknya.


“Bagaimana bisa mereka bertindak


dengan begitu ceroboh,” keluh Nhea sambil tertawa pelan.


Lucu saja rasanya ketika melihat


orang lain merusak rencananya sendiri. Di saat orang lain sibuk menutupi


kesalahan mereka agar tidak disalahkan. Vallery malah denga mudahnya mengumbar


hal tersebut. Sesuatu yang diyakini Eun Ji Hae sebagai sebuah serangan bagi


adik kecilnya, kini berbalik kepada dirinya sendiri. Kurang lebih hampir sama


seperti sebuah boomerang.

__ADS_1


“Eun Ji Hae pasti tidak


memasukkan yang satu ini ke dalam daftar hal buruk di luar rencananya,” ujar


Chanwo dengan ekspresi yang tidak kalah santai.


Sementara itu di sisi lain,


Vallery dan anggota keluarga yang lainnya hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa


berbuat banyak jika sudah begini situasinya. Tidak ada cara lain selain


mengunggu sampai kondisi sedikit mereda. Pasalnya, teramat tidak mungkin jika


situasinya dikembalikan seperti semua. Mustahil.


“Sepertinya kita harus menunggu


sampai emosi mereka mereda,” tutur Bibi Ga Eun dengan nada bicara lemah.


Situasi ini sudah berada di luar


kendali mereka. Bahkan tidak ada di dalam rencana. Tidak ada satu pun dari


mereka yang mengira jika akan seperti ini pada akhirnya. Terkadang semesta


memang tidak melulu memenuhi ekspektasi kita.


Untuk saat ini posisi Nhea dan


Chanwo jauh lebih unggul jika dibandingkan mereka. Padahal Eun Ji Hae sudah


merencanakan semuanya dengan sedemikian rupa sejak awal. Berbeda dengan mereka


berdua yang rencananya baru saja selesai. Tidak ada waktu yang cukup untuk


memastikan semuanya kembali. Chanwo dan Nhea sungguh melakukan semuanya secara


mendadak.


“Apa kita tetap akan membiarkan


keributan ini?” tanya Nhea.


“Kalau begitu bagaimana kita akan


bergerak ke rencana berikutnya?” sabung gadis itu lagi.


Ia bahkan tidak memberikan jeda


sedikit pun kepada Chanwo untuk menjawab pertanyaannya. Nhea langsung melontarkan


pertanyaan berikutnya. Sementara pertanyaan yang pertama saja belum ada


jawabannya.


“Sudah selesai?” tanya Chanwo


untuk memastikan, yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.


Tepat setelahnya, Chanwo langsung


menghela napasnya dengan lega. Setidaknya sekarang ia sudah bisa memikirkan


jawaban untuk pertanyaan Nhea barusan. Dan yang terpenting, tanpa harus


memikirkan bagaimana dengan pertanyaan berikutnya.


“Mereka akan berhenti kalau sudah


merasa lelah,” jawab Chanwo dengan singkat.


Nhea


sungguh tidak percaya, jika itu tadi benar-benar jawabannya. Sungguh singkat,


padat, namun cukup jelas. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya. Benar-benar


berada di luar dugaannya. Lagipula untuk apa memangnya mengharapkan penjelasan

__ADS_1


panjang lebar dari pria itu. Lagipula dia bukan tipikal orang yang banyak


bicara. Jadi, tidak perlu heran lagi.


__ADS_2