
Eun Ji Hae tengah berusaha untuk
meyakinkan dirinya sendiri, jika asumsi tersebut tidak benar. Lagipula sejauh
yang ia tahu selama ini, Nhea sama sekali tidak pernah pergi ke gedung utama. Gadis
itu hanya sampai di lantai satu yang kebetulan mereka gunakans ebagai ruang
makan. Nhea tidak pernah naik ke lantai dua tanpa orang lain. Apalagi sampai ke
lantai tiga.
Sejauh ini Eun Ji Hae hanya
pernah mengajak gadis itu sebanyak dua kali untuk berkunjung ke lantai dua gedung
utama. Itu pun karena ia mendapatkan perintah untuk memanggil Nhea. Memangnya
siapa lagi yang mau memanggilnya jika bukan Bibi Ga Eun. Hanya Bibi Ga Eun
serta Eun Ji Hae yang paling banyak berurusan dengannya sebelumnya.
Eun Ji Hae yakin betul jika Nhea
belum pernah naik ke lantai tiga sebelumnya. Sebab, gadis itu memang tidak
memiliki kepentingan apa pun di sana. Sejak awal masuk kemari, Nhea juga sudah
memutuskan jika ia tidak akan mau tinggal bersama anggota keluarga yang lainnya
di gedung utama. Ia memilih untuk tetap berada di asrama bersama dengan yang
lainnya.
Di satu sisi, sebenarnya itu
sudah menjadi suatu keuntungan bagi Eun Ji Hae. Sebab, tidak akan ada seorang
pun yang bisa menghalangi langkahnya. Termasuk Nhea. Tapi, kini perasaan gadis
itu mulai goyah. Ia tidak lagi merasa jika dirinya sungguh aman.
Eun Ji Hae menduga jika Nhea
sudah tahu segalanya. Atau jangan-jangan malah lebih parah. Selama ini gadis
itu sudah megetahui segalanya. Namun, ia hanya berpura-pura tidak tahu. Oleh sebab
itu sekarang Nhea bisa tampak begitu tenang. Karena ia sudah menyiapkan rencana
untuk mengantisipasi hal buruk yang kemungkinan besar pasti akan terjadi.
Apa yang sedang dipikirkan oleh
Eun Ji Hae kali ini ada benarnya. Dia tidak bisa terus menganggp remeh gadis
itu. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui soal Nhea. Mungkin saja jika ternyata
Nhea selama ini jauh lebih unggul darinya dalam beberapa hal. Eun Ji Hae tidak
harus selalu menang. Ada banyak hal yang perlu ia perbaiki dari dirinya
sendiri. Termasuk menurunkan rasa egoisnya.
“Perhatian semuanya!” seru Bibi
Ga Eun.
Wanita itu berusaha untuk memecah
keriuhan suasana. Tapi pada kenyataannya hal tersebut tidak berhasil. Usahanya nihil.
Untuk pertama kalinya Bibi Ga Eun diacuhkan oleh semua orang. Mereka semua
sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang menghiraukan orang-orang
di depan sana.
Seluruh murid dan staff yang
__ADS_1
bekerja di sini ikut merasa kaget. Mereka masih belum bisa percaya. Rasanya
tidak masuk akal. Semua orang bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka
menggantikan posisi yang seharusnya ditempati oleh Nhea menjadi milik Eun Ji
Hae.
Bukan hanya itu saja
permasalahannya, hingga membuat seisi akademi gempar seperti ini. Ada satu hal
lagi yang dirasa lebih serius. Pada periode sebelumnya selalu dilaksanakan kongres
untuk pemilihan. Tidak terkhusus pada pemilihan pimpinan akademi saja. Bahkan
mereka juga melakukan kongres untuk pemilihan ketua asrama.
Jika dalam skala terkecil saja
dilakukan kongres, lantas kenapa yang satu ini tidak sama sekali. Sudah jelas-jelas
jika posisi pimpinan akademi jauh lebih penting dan tinggi dari pada hanya
sekedar ketua asrama. Kalau pun kebijakannya diubah sewaktu-waktu, seharusnya
ada pemberitahuan.
“Apa mereka berusaha untuk
berbuat curang?”
“Kenapa mendadak semuanya menjadi
seperti ini?”
“Mereka sungguh tidak adil!”
“Apa-apaan ini!”
Berbagai macam suara berhasil ia
tangkap. Telinga gadis itu terasa penuh. Namun, Nhea tetap berusaha untuk
kepanikan bagi Eun Ji Hae. Secara tidak langsung ia sudah mengintimidasi gadis
itu.
Sejauh ini caranya berhasil.
Pertama-tama, Nhea akan berusaha membuat Eun Ji Hae tidak nyaman dengan
posisinya sekarang. Mengintimidasinya secara tidak langsung. Perasaannya pasti
sedang tidak karuan sekarang.
Untuk tahap pertama dari misinya
berhasil ia lakukan. Bahkan Nhea tidak perlu turun tangan secara langsung. Sebab
Vallery telah melakukannya secar sukarela untuk gadis itu. Ternyata wanita itu
tahu betul mana yang terbaik untuk anaknya.
“Bagaimana bisa mereka bertindak
dengan begitu ceroboh,” keluh Nhea sambil tertawa pelan.
Lucu saja rasanya ketika melihat
orang lain merusak rencananya sendiri. Di saat orang lain sibuk menutupi
kesalahan mereka agar tidak disalahkan. Vallery malah denga mudahnya mengumbar
hal tersebut. Sesuatu yang diyakini Eun Ji Hae sebagai sebuah serangan bagi
adik kecilnya, kini berbalik kepada dirinya sendiri. Kurang lebih hampir sama
seperti sebuah boomerang.
__ADS_1
“Eun Ji Hae pasti tidak
memasukkan yang satu ini ke dalam daftar hal buruk di luar rencananya,” ujar
Chanwo dengan ekspresi yang tidak kalah santai.
Sementara itu di sisi lain,
Vallery dan anggota keluarga yang lainnya hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa
berbuat banyak jika sudah begini situasinya. Tidak ada cara lain selain
mengunggu sampai kondisi sedikit mereda. Pasalnya, teramat tidak mungkin jika
situasinya dikembalikan seperti semua. Mustahil.
“Sepertinya kita harus menunggu
sampai emosi mereka mereda,” tutur Bibi Ga Eun dengan nada bicara lemah.
Situasi ini sudah berada di luar
kendali mereka. Bahkan tidak ada di dalam rencana. Tidak ada satu pun dari
mereka yang mengira jika akan seperti ini pada akhirnya. Terkadang semesta
memang tidak melulu memenuhi ekspektasi kita.
Untuk saat ini posisi Nhea dan
Chanwo jauh lebih unggul jika dibandingkan mereka. Padahal Eun Ji Hae sudah
merencanakan semuanya dengan sedemikian rupa sejak awal. Berbeda dengan mereka
berdua yang rencananya baru saja selesai. Tidak ada waktu yang cukup untuk
memastikan semuanya kembali. Chanwo dan Nhea sungguh melakukan semuanya secara
mendadak.
“Apa kita tetap akan membiarkan
keributan ini?” tanya Nhea.
“Kalau begitu bagaimana kita akan
bergerak ke rencana berikutnya?” sabung gadis itu lagi.
Ia bahkan tidak memberikan jeda
sedikit pun kepada Chanwo untuk menjawab pertanyaannya. Nhea langsung melontarkan
pertanyaan berikutnya. Sementara pertanyaan yang pertama saja belum ada
jawabannya.
“Sudah selesai?” tanya Chanwo
untuk memastikan, yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.
Tepat setelahnya, Chanwo langsung
menghela napasnya dengan lega. Setidaknya sekarang ia sudah bisa memikirkan
jawaban untuk pertanyaan Nhea barusan. Dan yang terpenting, tanpa harus
memikirkan bagaimana dengan pertanyaan berikutnya.
“Mereka akan berhenti kalau sudah
merasa lelah,” jawab Chanwo dengan singkat.
Nhea
sungguh tidak percaya, jika itu tadi benar-benar jawabannya. Sungguh singkat,
padat, namun cukup jelas. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya. Benar-benar
berada di luar dugaannya. Lagipula untuk apa memangnya mengharapkan penjelasan
__ADS_1
panjang lebar dari pria itu. Lagipula dia bukan tipikal orang yang banyak
bicara. Jadi, tidak perlu heran lagi.