Mooneta High School

Mooneta High School
Scream 2


__ADS_3

Ada banyak rumor yang beredar pagi ini di asrama pria.


Padahal, mereka belum menginjakkan kaki keluar dari gedung tersebut sama


sekali. Lantas, entah dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut.


Sebagian besar dari mereka saat ini tengah mengantri untuk


menggunakan kamar mandi. Meski jumlah biliknya cukup banyak, tapi tetap saja


tidak bsia digunakan secara bersamaan. Harus bergantian. Chanwo sendiri masih


menyikat giginya di wastafel bersama beberapa orang pria lainnya. Mereka adalah


teman satu asrama Chanwo.


“Apa kau mendengar suara teriakand ari asrama putri kemarin


malam?” tanya salah satu pria di barisan.


“Tentu saja! Aku bahkan pergi ke jendela untuk mencari tahu


apa yang sebenarnya tengah terjadi,” balas temannya yang lain.


“Suara mereka cukup kuat untuk membangunkan seisi asrama,”


timpal yang lainnya.


Sementara itu, Chanwo tetap fokus pada pekerjaannya. Tidak


ada waktu untuk menanggapi percakapan mereka. Ia harus pergi mandai dan bersiap


setelah ini. Langkah terakhirnya, mereka akan kembali berkumpul di gedung utama


untuk menikmati sarapan yang telah disajikan.


Meski begitu, bukan berarti jika Chanwo mengabaikan mereka


sepenuhnya. Kedua telinganya masih berfungsi dengan baik. Cukup memanfaatkan


satu indera saja. Ia sudah bisa mendapatkan informasi apa pun yang diperlukan.


Tidak perlu sampai melibatkan semua indera.


“Siapa yang mendapat giliran setelahnya untuk mandi?” tanya


Chanwo yang baru saja selesai membersihkan rongga mulutnya.


Pertanyaan dari pria itu berhasil memecah keriuhan suasana


di antara para pria yang tengah berkumpul tersebut. Untuk apa mereka


menceritakan rumor yang belum tentu jelas keberadaannya.


“Jika kau mau, pakai saja toiletnya lebih dulu. Kami bisa


menyusul nanti,” jawab salah seorang pria yang berdiri di sudut ruangan.


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih!” balas Chanwo yang


kemudian segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan mereka


semua.


Ia tidak ingin ikut campur pada sesuatu yang bukan ranahnya sama


sekali. Terlebih statusnya saat ini masih rumor. Belum ada fakta yang jelas


sama sekali untuk mendukung asumsi mereka. Dari pada pusing-pusing memikirkan


sesuatu yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya, lebih baik ia

__ADS_1


memikirkan dirinya sendiri.


“Manusia memang terlalu suka untuk mengurusi kehidupan orang


lain,” gumamnya pelan.


Apa yang dikatakan oleh Chanwo barusan ada benarnya juga.


Tidak sepenuhnya salah. Terkadang manusia memang merasa lebih tertarik kepada


urusan hidup orang lain, ketimbang hidupnya sendiri. Padahal mereka perlu


membenahi dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum ikut campur dengan urusan


orang lain. Terkadang mereka tidak jauh lebih baik dari pada orang yang sedang


diikutcampuri ini.


Manusia. Mereka selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan


pengakuan dari orang lain. Padahal yang diperlukan adalah pengakuan dari


dirinya sendiri terlabih dahulu. Sisanya malah berlagak sok hebat. Seolah


menjadi manusia yang jauh lebih baik dari pada menusia lainnya. Padahal mereka


semua sama saja. Tidak ada bedanya.


Manusia juga hidup dengan berpura-pura. Terlalu banyak


sandiwara. Mereka berusaha untuk terlihat baik di hadapan orang lain. Padahal


sudah jelas jika ia tidak menyukainya. Bukankah itu sama saja dengan munafik


namanya?


Kenapa mereka masih mau hidup dengan cara yang seperti itu.


semua hal tentang manusia harus selalu berupa hal baik. Terkadang ada banyak


sisi gelapnya juga. Chanwo sendiri baru menyadari hal tersebut saat dirinya


mulai berbaur dengan manusia. Yaitu dengan cara hidup berdampingan dengan


mereka. Dari sana ia banyak belajar soal kehidupan manusia. Ternyata ada banyak


hal yang tidak atau bahkan belum ia ketahui soal manusia selama ini.


Memang sudah sepatutnya mereka tidak tinggal bersama.


Manusia dan anggota klan tidak ditadirkan untuk bersama-sama. Hanya mereka yang


disebut sebagai pemberani yang mamppu melewati batasan tersebut. Wilson adalah


salah satunya.


“Manusia dan anggota klan tidak akan pernah bisa bersama.”


***


Begitu sampai di dalam ruang makan, ternyata sudah ada


banyak orang di dalamnya. Mereka semua tampak tidak baik-baik saja. Terutama


para siswi. Setelah kejadian kemarin malam, mereka semua berubah. Entah apa


yang sebenarnya sedang terjadi di sana.


“Apa para gadis ini sedang tidak bersemangat untuk memulai


hari baru?” gumam Chanwo sambil meletakkan makanannya di atas meja.

__ADS_1


“Setelah dipikir-pikir, sepertinya kejadian kemarin malam


sungguh buruk,” balas temannya yang lain.


Sampai saat ini masih menjadi misteri. Di balik suara


teriakan yang mereka dengar kemarin malam, tidak ada seorang pun yang mampu


memberikan penjelasannya. Paling tidak beri tahu saja siapa yang berteriak


kemarin malam. Agar Chanwo bisa menanyainya nanti setelah ini.


“Kau sungguh tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi


kemarin malam?” tanya seorang pria yang kebetulan duduk di sebelah Chanwo.


“Bagaimana aku bisa tahu, sementara tidak ada satu pun dari


mereka yang buka suara,” balas Chanwo secara gamblang.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Chanwo kembali


fokus kepada makanan yang sudah dihidangkan. Semua orang yang berada di sana


tampak begitu khidmat. Mereka mengacuhkan segala hal yang terjadi di sekitarnya


untuk beberapa saat. Setidaknya biarkan anak-anak itu mendapatkan ketenangan


setelah hal buruk yang terjadi kemarin malam.


Asrama putri sempat dihebohkan dengan suara teriakan yang


terjadi di tengah malam. Sungguh tidak biasa. Bahkan kau tetap akan menjadi


pusat perhatian ketika berteriak di siang hari bolong. Mereka tentu akan


bertanya-tanya apa alasanmu.


Sebenarnya, kemarin malam salah satu penghuni kamar di


lantai dua sedang pergi turun ke bawah untuk menggunakan kamar mandi. Tidak ada


yang tampak aneh sejauh itu. Kecuali satu. Ketika ia sudah berhasil mencapai


lantai dasar, mendadak semua lentera yang tersisa di sana padam. Padahal tidak


ada angin yang bertiup. Seluruh penjuru ruangan tertutup.


Sontak ia kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Gadis itu


mematung di tempat untuk beberapa saat. Sambil memutar otak dengan cepat untuk


mencari jalan keluar. Sulit untuk melakukan pergerakan pada saat seperti ini.


Ketika tidak ada pasokan cahaya yang cukup. Lebih tepatnya, tidak ada seberkas


cahaya pun yang menyapa pandanganmu.


‘ARGGGGHHH!!!!!’


Gadis itu berteriak ketika secara tak sengaja seperti ada


sebuah tangan yang menarik kakinya hingga ia terjatuh. Tubuhnya menghantam


permukaan lantai dengan kuat. Bahkan ia sampai pingsan. Bukan hanya karena


kesakitan, tapi juga ketakutan dan kaget yang bercampur menjadi satu.


Semuanya terjadi dalam kurun waktu yang terbilang cukup


cepat. Sehingga tidak ada yang bisa menangkap dengan jelas apa yang sebenarnya

__ADS_1


sedang terjadi.


__ADS_2