
Ada banyak rumor yang beredar pagi ini di asrama pria.
Padahal, mereka belum menginjakkan kaki keluar dari gedung tersebut sama
sekali. Lantas, entah dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut.
Sebagian besar dari mereka saat ini tengah mengantri untuk
menggunakan kamar mandi. Meski jumlah biliknya cukup banyak, tapi tetap saja
tidak bsia digunakan secara bersamaan. Harus bergantian. Chanwo sendiri masih
menyikat giginya di wastafel bersama beberapa orang pria lainnya. Mereka adalah
teman satu asrama Chanwo.
“Apa kau mendengar suara teriakand ari asrama putri kemarin
malam?” tanya salah satu pria di barisan.
“Tentu saja! Aku bahkan pergi ke jendela untuk mencari tahu
apa yang sebenarnya tengah terjadi,” balas temannya yang lain.
“Suara mereka cukup kuat untuk membangunkan seisi asrama,”
timpal yang lainnya.
Sementara itu, Chanwo tetap fokus pada pekerjaannya. Tidak
ada waktu untuk menanggapi percakapan mereka. Ia harus pergi mandai dan bersiap
setelah ini. Langkah terakhirnya, mereka akan kembali berkumpul di gedung utama
untuk menikmati sarapan yang telah disajikan.
Meski begitu, bukan berarti jika Chanwo mengabaikan mereka
sepenuhnya. Kedua telinganya masih berfungsi dengan baik. Cukup memanfaatkan
satu indera saja. Ia sudah bisa mendapatkan informasi apa pun yang diperlukan.
Tidak perlu sampai melibatkan semua indera.
“Siapa yang mendapat giliran setelahnya untuk mandi?” tanya
Chanwo yang baru saja selesai membersihkan rongga mulutnya.
Pertanyaan dari pria itu berhasil memecah keriuhan suasana
di antara para pria yang tengah berkumpul tersebut. Untuk apa mereka
menceritakan rumor yang belum tentu jelas keberadaannya.
“Jika kau mau, pakai saja toiletnya lebih dulu. Kami bisa
menyusul nanti,” jawab salah seorang pria yang berdiri di sudut ruangan.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih!” balas Chanwo yang
kemudian segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan mereka
semua.
Ia tidak ingin ikut campur pada sesuatu yang bukan ranahnya sama
sekali. Terlebih statusnya saat ini masih rumor. Belum ada fakta yang jelas
sama sekali untuk mendukung asumsi mereka. Dari pada pusing-pusing memikirkan
sesuatu yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya, lebih baik ia
__ADS_1
memikirkan dirinya sendiri.
“Manusia memang terlalu suka untuk mengurusi kehidupan orang
lain,” gumamnya pelan.
Apa yang dikatakan oleh Chanwo barusan ada benarnya juga.
Tidak sepenuhnya salah. Terkadang manusia memang merasa lebih tertarik kepada
urusan hidup orang lain, ketimbang hidupnya sendiri. Padahal mereka perlu
membenahi dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum ikut campur dengan urusan
orang lain. Terkadang mereka tidak jauh lebih baik dari pada orang yang sedang
diikutcampuri ini.
Manusia. Mereka selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan
pengakuan dari orang lain. Padahal yang diperlukan adalah pengakuan dari
dirinya sendiri terlabih dahulu. Sisanya malah berlagak sok hebat. Seolah
menjadi manusia yang jauh lebih baik dari pada menusia lainnya. Padahal mereka
semua sama saja. Tidak ada bedanya.
Manusia juga hidup dengan berpura-pura. Terlalu banyak
sandiwara. Mereka berusaha untuk terlihat baik di hadapan orang lain. Padahal
sudah jelas jika ia tidak menyukainya. Bukankah itu sama saja dengan munafik
namanya?
Kenapa mereka masih mau hidup dengan cara yang seperti itu.
semua hal tentang manusia harus selalu berupa hal baik. Terkadang ada banyak
sisi gelapnya juga. Chanwo sendiri baru menyadari hal tersebut saat dirinya
mulai berbaur dengan manusia. Yaitu dengan cara hidup berdampingan dengan
mereka. Dari sana ia banyak belajar soal kehidupan manusia. Ternyata ada banyak
hal yang tidak atau bahkan belum ia ketahui soal manusia selama ini.
Memang sudah sepatutnya mereka tidak tinggal bersama.
Manusia dan anggota klan tidak ditadirkan untuk bersama-sama. Hanya mereka yang
disebut sebagai pemberani yang mamppu melewati batasan tersebut. Wilson adalah
salah satunya.
“Manusia dan anggota klan tidak akan pernah bisa bersama.”
***
Begitu sampai di dalam ruang makan, ternyata sudah ada
banyak orang di dalamnya. Mereka semua tampak tidak baik-baik saja. Terutama
para siswi. Setelah kejadian kemarin malam, mereka semua berubah. Entah apa
yang sebenarnya sedang terjadi di sana.
“Apa para gadis ini sedang tidak bersemangat untuk memulai
hari baru?” gumam Chanwo sambil meletakkan makanannya di atas meja.
__ADS_1
“Setelah dipikir-pikir, sepertinya kejadian kemarin malam
sungguh buruk,” balas temannya yang lain.
Sampai saat ini masih menjadi misteri. Di balik suara
teriakan yang mereka dengar kemarin malam, tidak ada seorang pun yang mampu
memberikan penjelasannya. Paling tidak beri tahu saja siapa yang berteriak
kemarin malam. Agar Chanwo bisa menanyainya nanti setelah ini.
“Kau sungguh tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi
kemarin malam?” tanya seorang pria yang kebetulan duduk di sebelah Chanwo.
“Bagaimana aku bisa tahu, sementara tidak ada satu pun dari
mereka yang buka suara,” balas Chanwo secara gamblang.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Chanwo kembali
fokus kepada makanan yang sudah dihidangkan. Semua orang yang berada di sana
tampak begitu khidmat. Mereka mengacuhkan segala hal yang terjadi di sekitarnya
untuk beberapa saat. Setidaknya biarkan anak-anak itu mendapatkan ketenangan
setelah hal buruk yang terjadi kemarin malam.
Asrama putri sempat dihebohkan dengan suara teriakan yang
terjadi di tengah malam. Sungguh tidak biasa. Bahkan kau tetap akan menjadi
pusat perhatian ketika berteriak di siang hari bolong. Mereka tentu akan
bertanya-tanya apa alasanmu.
Sebenarnya, kemarin malam salah satu penghuni kamar di
lantai dua sedang pergi turun ke bawah untuk menggunakan kamar mandi. Tidak ada
yang tampak aneh sejauh itu. Kecuali satu. Ketika ia sudah berhasil mencapai
lantai dasar, mendadak semua lentera yang tersisa di sana padam. Padahal tidak
ada angin yang bertiup. Seluruh penjuru ruangan tertutup.
Sontak ia kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Gadis itu
mematung di tempat untuk beberapa saat. Sambil memutar otak dengan cepat untuk
mencari jalan keluar. Sulit untuk melakukan pergerakan pada saat seperti ini.
Ketika tidak ada pasokan cahaya yang cukup. Lebih tepatnya, tidak ada seberkas
cahaya pun yang menyapa pandanganmu.
‘ARGGGGHHH!!!!!’
Gadis itu berteriak ketika secara tak sengaja seperti ada
sebuah tangan yang menarik kakinya hingga ia terjatuh. Tubuhnya menghantam
permukaan lantai dengan kuat. Bahkan ia sampai pingsan. Bukan hanya karena
kesakitan, tapi juga ketakutan dan kaget yang bercampur menjadi satu.
Semuanya terjadi dalam kurun waktu yang terbilang cukup
cepat. Sehingga tidak ada yang bisa menangkap dengan jelas apa yang sebenarnya
__ADS_1
sedang terjadi.