Mooneta High School

Mooneta High School
Exist


__ADS_3

Dari semuar orang yang berada di dalam ruangan ini, Wilson tahu persis jika salah satu dari anggota klan itu kembali lagi. Dia tidak benar-benar pergi dari tempat ini. Bahkan setelah perkelahian mereka kemarin, Chanwo memang sempat pergi namun kembali lagi. Entah apa yang membuatnya mengambil keputusan secara sepihak seperti itu.


Hwang Ji Na bahkan sampai tidak habis pikir.


Kenapa pria itu mendadak ingin kembali ke Mooneta. Padahal beberapa hari yang lalu ia adalah orang yang paling memaksa untuk kembali ke hutan. Ternyata, ia tidak benar-benar menetap di sana. Chanwo hanya menghabiskan waktut selama dua hari di hutan kegelapan untuk mengatur kembali sistem kerajaannya. Ia mengawasi serta memeriksa berbagai hal lain dalam waktu yang terbilang singkat. Jangan ragukan kinerjanya. Dia bisa melakukan segalanya dengan cepat. Jauh lebih cepat dari pada adiknya sendiri.


Chanwo hanya perlu memastikan jika kerajaan dan wilayah kekuasaannya baik-baik saja. Hanya itu. dia tidak bisa mempercayai perkataan orang lain. Termasuk Hwang Ji Na sekali pun. Jadi, mau tak mau ia harus memastikannya sendiri. Chanwo harus melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.


Setelah melakukan semua pekerjaannya, pria itu kembali menyerahkan semua tanggung jawab kepada adiknya. Dia yang akan memerintah untuk sementara. Selama Chanwo pergi, pria itu akan mengambil alih kerajaan. Hwang Ji Na juga turut serta dalam membantu mengorganisir setiap hal.


“Sial! Apa yang ia lakukan di sini?!” umpat Wilson di dalam hati.


Tentu saja Wilson mengira jika mahluk itu benar-benar sudah kembali ke dalam hutan dan tidak akan pernah keluar lagi. Tapi, ternyata dugaannya salah. Chanwo amsih berkeliaran di sekitar sini. Ia pasti tidak salah menangkap bau. Indera penciumannya masih berfungsi dengan normal sejauh ini. Aroma Nhea dengan Chanwo jelas berbeda. Mereka saja berasal dari klan yang berbeda.


“Apa semua orang sudah berada di tempat duduknya masing-masing?!” sahut Bibi Ga Eun dari depan.

__ADS_1


“Sudah nyonya!” balas semua orang secara serentak.


Suara mereka menggema di seluruh penjuru ruangan. Mendengar balasan seperti itu, Bibi Ga Eun langsung mengangguk singkat. Mereka akan segera memulai jamuannya seperti biasanya.


Jamuan makan kali ini berlangsung dengan khidmat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani buka suara. Mereka tampak menikmati makanannya. Tidak perlu khawatir, porsi makannya sudah kembali seperti semula. Mooneta tidak kekurangan bahan makanan lagi kali ini.


Wilson memilih untuk menyingkirkan Chanwo dari kepalanya. Mengingat sosok pria itu saja berhasil membuatnya muak. Padahal mereka berasal dari satu kaum yang sama. Pernah tinggal dan dibesarkan di dalam hutan itu. Tapi, entah kenapa Wilson begitu membenci orang dari kaumnya sendiri.


Sementara itu, di sisi lain Chanwo sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia akan menghadapi Wilson sendirian jika memang harus melakukannya lagi. Sejauh ini selalu Wilson yang mencari masalah dengan pria itu. Tidak pernah sebaliknya.


Daripada memikirkan Wilson, lebih baik jika ia fokus kepada makanannya saja. Pria itu sudah terlalu banyak menyita perhatiannya sejak beberapa hari yang lalu. Chanwo perlu mengisi tenaga untuk mengahadapi serangan tiba-tiba. Semakin ke sini, ia mulai terbiasa dengan makanan manusia. Dan terkadang hal itu sudah tidak menjadi masalah lagi baginya.


Selesai jamuan makan pertama untuk hari ini, mereka semua membubarkan diri dari dalam gedung utama. Kembali menuju kamar asramanya masing-masing. Sebagian pergi ke luar untuk sekedar menikmati udara segar. Mereka akan pergi kemana pun mereka suka. Ini adalah jam-jam bebas di dalam hidup mereka hari ini yang bisa digunakan untuk keperluan apa saja. Tidak akan ada yang mengekangnya.


Mereka baru akan masuk ke kelas pada pukul delapan malam nanti. Tepat setelah jamuan makan malam. Jadi, selama hampir seharian penuh, mereka bisa melakukan apa saja dengan bebas.

__ADS_1


Kebanyakan orang akan kembali ke dalam kamar asramanya masing-masing. Entah itu untuk beberes, atau sekedar bermalas-malasan. Namun, tidak jarang juga yang menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitas. Misalnya saja para staff pengajar yang harus mempersiapkan bahas ajaran, staff dapur yang bertugas untuk menyiapkan menu makan siang serta mencuci piring. Jangan lupa jika anggota keluarga juga memiliki tugasnya masing-masing. Salah satunya adalah Eun Ji Hae. Dia menjadi orang yang paling sibuk akhir-akhir ini jika dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya. Meski statusnya saat ini hanya sebagai asisten kepala sekolah, tapi tugasnya sudah melebihi dari itu.


Pagi-pagi seperti ini, Eun Ji Hae sudah disibukkan dengan setumpuk kertas berisikan nama-nama siswa. Ia harus mendata ulang para siswa. Memastikan jika jumlah mereka tetap sama. Karena tugasnya yang kali ini berkaitan dengan para siswa, mau tak mau ia harus pergi ke gedung sekolah. Eun Ji Hae perlu menempelkan daftar nama siswa di setiap kelas. Nanti, para siswa diharuskan untuk menadai nama mereka masing-masing. Kemudian setelah selesai kelas, Eun Ji Hae akan mengumpulkan kertas itu kembali.


Mereka perlu melakukan pendataan dengan segera. Kabarnya dalan waktu sebulan ke depan akan diadakan perlombaan keterampilan dasar sihir antar akademi. Mooneta termasuk kepada salah satu akademi sihir yang berpartisipasi. Jadi, mereka harus mendata kembali siswa yang masih aktif untuk diikut sertakan dalam perlombaan tersebut. Nantinya mereka akan dibagi menjadi beberapa tim, tergantung kepada cabang perlombaan.


“Ada beberapa siswa yang gugur pada saat perang melawan Ify kemarin. Bahkan beberapa di antaranya merupakan korban terror,” gumam Eun Ji Hae sambil membereskan tumpukan kertas tersebut.


Daripada sebuah ucapan biasa, hal tersebut jauh lebih terdengar seperti umpatan. Ia menggerutu sebal karena pagi-pagi sekali dirinya sudah diberikan tugas sebanyak itu. Tidak bisakah Bibi Ga Eun melakukannya sendiri. Kenapa semua tugas harus dilimpahkan kepada gadis ini. Ia sedang kerepotan, sementara wanita itu tidak menampakkan batang hidungnya sejak tadi. Bibi Ga Eun mendadak menghilang secara misterius setelah selesai acara jamuan makan.


“Dia pasti sengaja menghindari pekerjaan yang satu ini!” gerutunya sebal.


Ini sudah yang kesekian kalinya Eun Ji Hae melampiaskan kekesalannya tersebut. Pasalnya, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengumpat seperti itu. Eun Ji Hae bahkan tetap harus melakukan pekerjaan ini meski secara terpaksa. Tidak ada opsi lain. Sungguh menyebalkan.


“Sebenarnya, aku ini asisten kepala sekolah atau pembantu?!” sarkasnya.

__ADS_1


Eun Ji Hae terus bermonolog sejak tadi. Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini. Mungkin akan tetap sama untuk beberapa jam ke depan.


__ADS_2