Mooneta High School

Mooneta High School
Dinner


__ADS_3

Malam itu seperti biasanya, para siswa berkumpul di ruang makan. Saatnya mengisi tenaga lagi sebelum pergi untuk mengikuti kelas mala mini. Sudah cukup lama rasanya Nhea tak melihat manusia sebanyak ini, berjejer dengan rapih di hadapannya. Padahal baru beberapa hari saja ia absen dari tempat ini, tapi rasanya entah kenapa ia begitu merindukan tempat yang satu ini. Mungkin karena hidangannya yang selalu sukses membuat ***** semua orang bangkit kembali.


Sesuai aturan yang berlaku, para petinggi sekolah akan duduk paling depan dengan kursi istimewa dan berbeda dari yang lainnya. Kemudian disusul dengan para guru dan ketua asrama, lalu sisanya diisi oleh para siswa. Namun bukannya mematuhi aturan yang berlaku, malah gadis itu sendiri yang menyalahi aturannya. Sontak hal itu membuat seluruh sekolah terkejut bukan main dan sepertinya nama Nhea akan naik kembali dan menjadi topik utama di sekolah ini.


“Nhea, kenapa kau malah duduk di ssampingku? Pergi ke sana, lihat mereka sudah menunggu kedatanganmu,” bisik Oliver pelan, agar tak terdengar oleh siswa lain.


“Biarkan aku tetap di sini, atau aku kan pergi meninggalkan tempat ini,” balas Nhea dengan yakin.


Oliver hanya bisa pasrah dengan keadaan. Pasti seluruh sekolah akan mengira jika dirinya telah membawa pengaruh negatif kepada anak petinggi sekolah ini. Bisa-bisa jabatannya akan dicopot, tau malah yang lebih buruknya lagi ia akan dikeluarkan dari sekolah ini.


“Kemari!” ujar Ga Eun pelan sambil melambai-lambaikan tangannya.


Sementara itu, Vallery dan Wilson hanya diam sambil menunggu hasil dari usaha Ga Eun. Kedua manusai itu kelihatannya harap-harap cemas agar anak kandungnya itu mau bergabung untuk makan malam bersama mereka. Namun, hasilnya tetap saja nihil.


Nhea bukan seorang gadis yang mudah ragu atau bahkan menjadi plin-plan dengan keputusannya sendiri. Setiap hal yang ia katakan tak akan pernah berubah, karena itu sudah benar-benar menjadi keputusan final yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun lagi. Terlalu mudah untuk membujuknya dengan cara pasaran seperti itu. Dia sudah menjadi seorang gadis dewasa dengan pendiriannya yang kuat. Nhea bukan lagi anak kecil yang mudah terhasut dengan bujuk rayu orang asing sekalipun.


Dunianya terlalu berbahaya baginya untuk saling percaya kepada orang lain. Kehidupannya yang tak pernah berjalan mulus-mulus saja, hingga ia dewasa menjadi alasan utamanya utnuk bersikap seperti ini. Dalam prinsip yang ia pegang seumur hidupnya, tak ada yag bisa dipercaya di dunia ini selain diri kita sendiri. Bahkan tak semua orang bisa percaya dengan dirinya sendiri.


“Kamu adalah orang pertama yang harus percaya dengan segala tindakan dan usahamu. Kamu juga adalah satu-satunya orang yang harus mengakui semua upayamu itu.”

__ADS_1


“Jika dirimu saja tak percaya, bagaimana bisa orang lain akan mempercayai dirimu?”


***


Sepertinya malam ini kembali menjadi malam yang menyedihkan bagi pasangan suami istri itu. Setelah sekian lama tak bertemu, mereka justru mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti ini. Tapi sebaiknya itu semua harus dibicarakan secara kekeluargaan saja setelah makan malam. Jangan lupa jika merek harus menyediakan ruangan khusu yang cukup privasi untuk membicarakan masalah ini.


“Nhea, tunggu!” ujar Ga Eun sesaat setelah gadis itu akan beranjak dari tempat duduknya.


“Bisa ikut denganku?” lanjutnya.


Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba untuk mengesampingkan egonya untuk saat ini. Ia tahu dengan jelas apa yang diinginkan mereka semua darinya. Apalagi jika bukan tentang keluarga yang tak pernah memiliki status yang jelas ini.


“Kembalilah lebih dulu ke asrama, nanti aku kan menyusul. Aku ada urusan mendadak yang harus diselesaikan,” ujar Nhea kepada Oliver yang tampak menunggunya di ambang pintu.


“Apa seperti ini cara bibimu mendidik sopan santunmu terhadap orang lain? Atau jangan-jangan kau sama sekali tak pernah diajarkan hal itu olehnya?” ujar Wilson yang terlihat membuka bicara lebih dulu.


“Jangan pernah menyalahkan bibi!” dalih Nhea yang membuat pembelaan atas dirinya dan Ga Eun dengan spontan.


“Lalu apakah seperti ini sikapmu saat memperlakukan orang tuamu sendiri?” tanya pria itu lagi.

__ADS_1


“Lalu apakah seperti ini cara kalian memperlakukan anak kalian sendiri?!” serangnya secara tiba-tiba.


“Bagaimana bisa aku akan memperdulikan kalian, jika kalian sendiri tak pernah peduli atau hanya sekedar ingin tahu apa kabarku? Segala sesuatu di dunia ini harus dilakukan secara timbal balik dan bukan sepihak seperti apa yang kalian lakukan saat ini. Biasakan untuk bersikap adil, maka dunia ini akan terasa lebih menenangkan. Jangan menuntut sesuatu lebih dari apa yang kalian pernah lakukan,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


“Oh ya, dan satu lagi jangan pernah menyalahkan bibi atau siapapun. Karena pada dasarnya itu semua salah kalian sendiri,” lanjutnya.


“Maaf, tapi kurasa rapatnya sudah selesai karena setelah ini aku masih ada kelas. Jadi aku harus pergi sekarang juga,” ucapnya secara acuh tak acuh.


“Tunggu!” cegah Vallery.


Sontak hal itu membuat Nhea mau tak mau harus menghentikan langkahnya saat itu juga. Entah kenapa kejadian refleks yang merupakan respon spontan dari tubuhnya ini, sering terjadi di saat yang tidak tepat seperti saat ini.


“Apakah kau pernah bertemu dengan seseorang dari bangsa vampir?” tanya Vallery dengan sangat hati-hati.


Nhea menghela nafasnya dengan kasar sambil tertawa pelan, kemudian meninggalkan tempat secara tiba-tiba. Menurutnya itu adalah sebuah pertanyaan konyol yang tak seharusnya memerlukan jawaban. Lagipula siapa yang tahu akan jawaban dari pertanyaan aneh semacam itu.


Nhea menggeleng-gelengkan kepalanya untuk beberapa kali. Ia masih tak habis pikir kenapa kedua orang tuanya bisa menanyakan hal bodoh semacam itu kepada dirinya. Lagipula kapan ia pernah bertemu mahluk seperti itu, bukankah mereka semua tahu jika Nhea tak sadarkan diri selama berhari-hari karena kejadian itu.


Gadis itu pergi menuju kamar asramanya yang sempat ia tinggalkan untuk beberapa saat itu. Ada beberpa buku yang akan ia perlukan saat berada di kelas nanti. Dan semua buku-buku itu tersimpan di dalam rak buku yang berada di kamar asramanya. Jadi mau tak mau ia memang harus mondar-mandir.

__ADS_1


“Hai!” sapa seseorang dari belakang secara tiba-tiba.


Nhea langsung terjatuh ke lantai, dengan tumpukan buku yang berserakan ikut menimpah tubuh ringkihnya saat itu. Bagaimana bisa pria itu muncul lagi di hadapannya dan lagi-lagi secara tiba-tiba. Sebenarnya berasal dari mana dan siapa dia. Jika dilihat dari gerak-geriknya, pria ini terlihat begitu mencurigakan. Namun, kelihatannya ia tak membawa ancaman yang berarti.


__ADS_2