
Pria itu langsung kepalang. Panik bukan main. Sampai-sampai
ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ia sudah kalut. Jangankan untuk
berpikir jernih, tenang saja dia sudah tidak bisa lagi.
Jangan lupakan suatu fakta jika Chanwo merupakan seorang
raja yang berasal dari klan vampir. Naluri alaminya pasti tetap akan muncul
pada saat seperti ini. Dia tidak bisa melawan kodratnya sendiri. Sekarang Chanwo perlu menemukan cara yang
paling ampuh untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dia tidak boleh sampai
kelewatan batas. Tentu ia tak ingin kalau sampai semua orang yang berada di
tempat ini tahu tentang siapa jati dirinya. Merek pasti merasa terancam jika
sampai mengetahui jika selama ini mereka ternyata hidup berdampingan dengan
klan lain.
Chanwo mengepalkan tangannya erat-erat. Berusaha untuk
menahan dirinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat aneh di hadapan orang lain. Meski
sekarang saja ia sudah kelihatan aneh sebenarnya. Tapi, untuk saja orang-orang
tidak menjadikannya sebagai pusat perhatian.
Andai ada Hwang Ji Na di sini. Ia pasti bisa meminta bantuan
kepada gadis itu untuk menggantikan perannya ketika ia tidak bisa berbuat
apa-apa. Tapi, sayangnya untuk saat ini ia tidak bisa bergantung kepada siapa
pun. Tak ada yang bisa ia andalkan di sini. Mau tak mau Chanwo harus bertindak
sendiri.
Chanwo segera menyingkir dari kerumunan orang. Beralih ke
tempat yang jauh lebih sepi. Akan lebih bagus lagi jika tidak ada siapa-siapa
di sana. Hanya dirinya seorang saja. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah
menjauh dari sumber aroma terlebih dahulu. Dengan begitu, baru ia bisa
menenangkan dirinya sendiri.
Begitu sampai di tempat yang ia maksud, Chanwo langsung
menyandarkan tubuhnya pada salah satu pembatas ruangan. Ia bisa saja bertindak
brutal dan semua itu tentu berada di luar kendalinya. Tidak menutup kemungkinan
juga bagi pria itu untuk berbalik menyerang Nhea. Bukan karena keinginannya
secara murni. Melainkan, pada saat itu ia sudah dikuasai oleh nalurinya.
“Apa gadis itu benar-benar terluka?”
“Tapi, bagaimana bisa ia terluka pada saat bertanding
seperti ini?”
Chanwo terus melemparkan beberapa pertanyaan kepada dirinya
sendiri. Padahal, ia tahu jelas jika dirinya sendiri juga tidak bisa menjawab
__ADS_1
semua pertanyaan tersebut.
Jika benar Nhea terluka pada saat bertanding, maka ia sama
sekali tidak habis pikir bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Masalahnya bukan
hanya ada satu macam saja di sini. Tapi, lebih dari itu. Pertama, Chanwo tidak
bisa mengendalikan dirinya sendiri saat ini. Padahal ia ingin membantu. Kedua, Nhea
mungkin akan kehilangan darah manusia yang masih tersisa di dalam tubuhnya. Ia bisa
menjadi salah satu bagian dari kaum kegelapan seutuhnya jika dirinya kehabisan
darah manusia. Dan bagian yang paling buruknya adalah, ketika gadis itu mau tak
mau harus menerima jati dirinya yang baru. Ia tidak bisa hidup seperti dulu
lagi selayaknya manusia normal.
“Sial!” umpat Chanwo.
“Kenapa dia bodoh sekali!” sarkasnya.
Hanya tersisa sedikit lagi saja darah manusia di dalam
tubuhnya. Seharusnya gadis itu menjaganya dengan baik. Kecuali jika ia memang
sudah siap untuk kehilangan kehidupan yang selama ini ia jalani. Nhea juga
tampaknya tidak begitu menikmati hidupnya. Mungkin saja ia sudah bosan dan
ingin mencoba sesuatu yang baru.
Tapi, semua asumsi itu salah. Nhea bahkan tidak pernah tahu
jika Chanwo mengatakan yang sebenarnya kepada gadis itu, belum tentu ia akan
percaya. Sekarang situasinya menjadi serba salah.
Ia tidak bisa terus beriskap seperti ini dan hanya diam
tanpa berbuat apa-apa. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Apa pun itu asal
membantu. Chanwo memutar otak dengan limit waktu yang tidak seberapa. Sepertinya
ia harus mulai terbiasa untuk melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang
bersamaan.
Beruntung kali ini ia menemukan sebuah ide yang cemerlang. Tidak
perlu waktu lebih lebih dari dua menit untuk memikirkannya. Tanpa pikir panjang
lagi, Chanwo akan segera melancarkan aksinya. Tidak peduli akan bagaimana
hasilnya.
Saat ini yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya untuk
menyelamatkan gadis itu. Dia tidak boleh kehilangan darah manusia yang tersisa.
Tidak ada yang bisa merebut kebahagiaannya. Bahkan jika itu termasuk kejadian
yang tak disengaja sekali pun.
“Wah! Kalian hebat sekali tadi.”
“Aku terpukau.”
__ADS_1
“Sejauh ini kalian hampir mendekati kata sempurna.”
Samar-samar pria itu mendengar suara beberapa orang yang
tampaknya sedang berbincang. Kemungkinan mereka sudah kembali. Terjadi penambahan
jumlah orang di area sekitar pintu masuk menuju belakang panggung. Besar kemungkinan
jika Nhea dan timnya baru saja sampai.
Dengan segenap keberanian yang tersisa, Chanwo segera
beralih menuju pusat keramaian. Ia berkumpul membaur bersama teman-temannya
yang lain. Meski sebenarnya tujuan utamanya adalah untuk menemukan Nhea.
Dugaannya benar. Nhea baru saja kembali. Indera penciumannya
bisa menangkap sebuah bau yang diyakini sebagai aroma darah gadis itu. Tidak bisa
dipungkiri jika Chanwo rasanya hampir gila karena baunya semakin menyengat. Dengan
susah payah ia berusaha untuk menahan dirinya. Sedikit saja ia melakukan
kesalahan, maka rencana yang telah ia susun dengan sedemikian rupa selama ini
akan hancur berantakan. Ia sudah berjalan sejauh ini. Akan terasa sangat tidak
adil jika semua itu sampai terjadi.
Tak perlu waktu lama untuk menemukan keberadan gadis itu di
antara kerumunan orang tersebut. Aroma menyengat yang ia ciptakan berhasil
menuntun pria ini untuk datang kepadanya. Tenang saja. Nhea tidak akan
mendapatkan masalah kali ini. Chanwo berniat untuk membantu Nhea. Bagaimanapun
juga, mereka masih berasal dari kaum yang sama. Sudah menjadi kewajiban bagi
seorang raja untuk melindungi rakyatnya. Itulah yang sedang ia lakukan
sekarang.
Tak ingin buang-buang waktu lebih banyak lagi, Chanwo segera
menari tangan gadis itu begitu menemukannya. Jika masalah ini bisa diselesaikan
dengan cepat, kenapa tidak mencoba untuk melakukannya saja.
“Ada apa ini?!” pekik Nhea yang belum sempat mencerna segala
sesuatunya.
Chanwo terus menarik tangan gadis ini. Menuntunnya ke tempat
yang jauh lebih sepi. Mereka akan menyelesaikan permasalahannya di sana. Tidak
ada yang boleh ikut campur kali ini. Bahkan jika itu Wilson sekali pun.
Kelihatannya ia sama sekali tidak ingin menjelaskan apa pun
kepada gadis itu. Meski ia tahu kalau saat ini Nhea pasti sedang menuntut
penjelasan darinya. Setidaknya jelaskan dulu latar belakang dan tujuan ia
melakukan hal ini secara tiba-tiba. Dengan begitu, Nhea tidak akan berburuk
sangka kepadanya.
__ADS_1