Mooneta High School

Mooneta High School
Dining Room


__ADS_3

Sejauh Ini hanya mereka berlima saja yang mengetahui


informasi tersebut. Selain orang-orang yang telah merencanakan upacara ini


sebelumnya tentunya. Kelima siswa ini sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam


urusan apa pun. Tapi, jangan pernah meremehkan mereka. Sebab kelima anak itu


selalu bisa mendapatkan apa yang mereka mau hanya dalam satu kedipan mata.


Eun Ji Hae sendiri bahkan tidak bisa menghentikan atau


bahkan mencegah mereka, meskipun ia tahu. Mereka tidak bisa dipandang sebelah


mata. Terlebih lagi ketika saat ini Chanwo sudah bergabung. Pria itu memutuskan


untuk menjadi salah satu bagian dari mereka. Jauh sebelum kedatangannya kemari,


Eun Ji Hae sudah mengenal pria itu dengan baik. Dia bukan orang sembarangan.


Chanwo merupakan orang yang terbilang paling penting di dalam lingkaran


pertemanan itu.


Baik Chanwo, Jongdae, Jang Eunbi, Oliver serta Nhea, mereka


tetap menghadiri acara jamuan makan siang seperti biasanya. Sejauh ini mereka


masih bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa. Padahal situasinya tidak


benar-benar baik seperti apa yang sedang mereka bayangkan.


Tenang saja. Mereka sedang tidak merencanakan apa pun. Tidak


ada satu hal pun yang akan mereka lakukan secara berkelompok hari ini. Namun,


sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk rencana perorangan. Jika boleh


jujur, maka sebenarnya Nhea sendiri memiliki sedikit kejutan untuk gadis itu.


Sepertinya ia perlu berterima kasih kepada Eun Ji Hae karena telah menamparnya


beberapa hari lalu. Atau mungkin malah menamparnya balik.


Pilihan berada di tangan Eun Ji Hae. Sementara itu, Nhea


hanya bertugas untuk menawarkannya saja. Keputusan murni berada di tangan gadis


itu. Nhea berjanji untuk tidak ikut campur terlalu jauh kali ini. Biarkan Eun


Ji Hae sendiri yang memilih apa yang dia rasa terbaik bagi dirinya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara langkah kaki mereka berhasil memecah kesunyian di


sepanjang lorong bangunan. Entah kenapa mendadak tempat ini tampak begitu sepi.


Padahal sekarang sudah memasuki jam makan siang. Mereka yakin betul soal yang


satu itu. Tidak mungkin salah.


Meski merasa sedikit aneh, tapi kelima anak itu tetap


melanjutkan perjalanannya. Ruang makan sudah berada tepat di depan sana. Hanya


tinggal beberapa langkah lagi, maka mereka akan mencapai ambang pintu.


“Kenapa sepi?” gumam Oliver sembari melihat sekelilingnya.

__ADS_1


Sejak masuk ke lorong yang satu ini, mereka sama sekali


tidak menemukan seorang pun. Biasanya selalu berpapasan dengan siswa lain.


Namun, kali ini cukup berbeda. Mendadak bangunan ini seperti tidak berpenghuni


sama sekali.


Ketika semua orang menghentikan langkahnya tepat di depan


ambang menuju pintu masuk, Nhea malah sebaliknya. Ia menjadi satu-satunya orang


yang memberanikan diri untuk melangkah masuk lebih dulu.


“Selamat datang nona!” sambut salah satu staff dapur yang


kebetulan sedang berada di dalam ruangan tersebut.


Mereka hanya begitu kepada Nhea saja. Mengingat jika gadis


itu merupakan salah satu anggota keluarga juga. Bagaimanapun juga, mereka tetap


harus menghormati gadis itu. Tidak peduli jika usianya jauh lebih muda daripada


mereka. Seperti yang sudah pernah disinggung sebelumnya, jika kekuasaan


termasuk kepada salah satu faktor yang akan mempengaruhi bagaimana cara orang


lain memandangmu.


Posisi Nhea saat ini sebenarnya cukup menguntungakan bagi


dirinya sendiri. Setidaknya, kekuatan tersebut mutlak. Dengan begitu tidak


sembarang orang bisa menyingkirkannya.


saalah satu staff.


“Kalian adalah orang pertama yang sampai ke sini,” ungkap


staff dapur tersebut.


Mendengar jawaban tersebut, Nhea hanya mengangguk-anggukkan


kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera melanjutkan perjalanannya untuk


mengambil jatah makanan. Ini bukan yang pertama kalinya bagi Nhea untuk sampai


di tempat ini paling awal. Mungkin sudah beberapa kali, walau tidak sering.


Sesuai dengan perkataan staff tadi, maka Nhea dan


teman-temannya mendapatkan giliran pertama untuk mengantri. Sehingga mereka


tidak perlu berlama-lama berdiri.


“Sungguh aneh. Biasanya anggota keluarga sampai lebih dulu


daripada yang lain,” gumam Nhea sambil membawa makanannya menuju tempat duduk.


Baru bergerak beberapa langkah dari posisinya semula, Nhea


mendadak teringat akan sesuatu. Bukankah upacara penobatan Eun Ji Hae akan


dilaksanakan tepat setelah acara makan siang? Benar! Mereka pasti sedang sibuk


mempersiapkan segala sesuatunya. Sampai-sampai lupa jika sekarang sudah


memasuki jam makan siang. Sepertinya mereka tampak begitu antusias untuk acara

__ADS_1


kali ini. Termasuk Eun Ji Hae. Nhea yakin betul jika perasaan gadis itu sedang


berada di dalam puncak kesenangan sekarang.


Mari kita lihat saja sampai berapa lama lagi hal baik itu


akan bertahan. Jika sesuatu yang baik serta keberuntungan selalu memihan Eun Ji


Hae, maka gadis itu harus merasakan kebalikannya. Paling tidak sekali seumur


hidup. Bukankah orang-orang bilang jika kita harus menjalani hidup dengan


seimbang? Jika kau selalu berada di atas tanpa pernah merasakan kesulitan, itu


akan terdengar tidak adil bagi seluruh alam semesta. Oleh sebab itu, kini Nhea


akan membuatnya menjadi terlihat jauh lebih adil.


Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, Nhea dan


teman-temannya lantas segera mengambil tempat duduk sebelum kehabisan. Sebentar


lagi, tempat ini akan segera dipadati oleh para siswa yang mengantri untuk


mendapatkan makan siang. Sepertinya hari ini memang benar-benar menjadi hari


keberuntungan Nhea. Sebabnya, ada begitu banyak keberuntungan yang menghampiri


dirinya sejak dini hari tadi.


Sembari mengunggu yang lainnya, mereka semua sibuk dengan


isi pikirannya masing-masing. Termasuk Nhea. Tidak ada satu pun dari mereka


yang berminat untuk buka suara. Ruangan ini sungguh hening. Tidak ada suara


sama sekali. Tidak sampai ketenangan itu berhasil dirusak oleh sebuah suara


derap langkah kaki. Mereka bisa mendengarnya dari kejauhan.


Nhea lantas mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Jika


tebakannya tidak salah, pasti sebentar lagi akan ada beberapa orang yang muncul


dari balik pintu ini. Nhea bgitu yakin. Sebab ia mendengar jika suara langkah


kakinya lebih dari satu. Mungkin ada tiga sampai empat orang.


Semakin ke sini, suaranya terasa semakin jelas. Ia tidak


sabar melihat siapa orang yang akantiba di sini berikutnya setelah mereka. Mungkin


murid biasa, atau malah anggota keluarga. Kemungkinannya hanya ada dua sejauh


ini.


Dan yang benar saja, ternyata tebakan gadis itu tidak


meleset jauh. Ada empat orang baru yang datang ke ruangan ini untuk bergabung


bersama mereka dalam acara makan siang. Namun, sayangnya orang tersebut tidak


sesuai dengan ekspektasi Nhea sebelumnya.


Di sana ada Eun Ji Hae, Vallery,


Wilson serta Bibi Ga Eun. Mereka berempat baru saja memasuki ruangan ini secara


bersamaan. Melihat wajah mereka saja sukses membuat Nhea kehilangan moodnya.

__ADS_1


__ADS_2