Mooneta High School

Mooneta High School
Dark


__ADS_3

Sejauh ini dia sudah tahu banyak soal kaum kegelapan.


Terlebih soal asal-usulnya. Tentang darah dari klan bayangan yang diturunkan


kepada dirinya. Nhea bahkan sempat menerima pasokan darah dari klan vampir. Ia


harus menukarkan darah manusianya untuk mendapatkan hal tersebut. Karena, hanya


dengan cara itu dia bisa bertahan hidup sampai saat ini.


“Bagaimanapun juga, kau tidak sepenuhnya menjadi bagian dari


kaum kami. Di dalam tubuhmu masih mengalir setidaknya darah manusia,” jelas Chanwo


dengan panjang lebar.


“Lantas, apalah larangan kalian berlaku juga untuk orang


sepertiku?” tanya gadis itu dengan ragu-ragu.


Chanwo yang mendengar pertanyaan tersebut memilih untuk


tidak langsung menjawabnya. Ia menghela napas sebentar, sebelum kembali


melanjutkan perkataannya.


“Tidak juga,” ungkap pria itu.


“Aku saja sudah melanggarnya sekarang. Itu berarti, kau bisa


melakukannya juga,” tukas Chanwo kemudian.


“Jangan gila!” sarkas Nhea.


Tenang saja. Chanwo tidak akan merasa marah kali ini. Dia


hanya menganggap perkataan gadis itu sebatas candaan saja. Tidak lebih. Entah


kenapa, pria itu tidak pernah menganggap perkataan serta perbuatan Nhea sebagai


sesuatu yang serius. Chanwo tidak bisa membedakan situasi jika sedang


berhadapan dengan gadis ini. Bukan hanya sampai di situ saja. Dia bahkan tidak


bisa membedakan mana yang benar ada dan mana yang tidak ada.


Mungkin akan berbeda ceritanya jika orang lain yang


mengucapkan kalimat tersebut. Bisa jadi Chanwo menganggapnya sebagai sebuah


ejekan. Komentar kasar seperti itu memang tidak pantas untuk diberikan


toleransi lagi. Sudah terlalu melampaui batas, meski nada bicarnaya terkesan


seperti tengah bercanda. Semua itu mungkin saja terjadi. Chanwo bisa marah


sekali. Namun, ada sebuah pengecualian bagi Nhea. Gadis itu sedikit berbeda di


mata Chanwo. Entah berbeda dari sisi mananya. Sulit untuk dideskripsikan dengan


kata-kata.


“Sebenarnya aku masih penasaran dengan jati diriku,” ungkap


Nhea secara gamblang.


“Terutama soal klan,” lanjutnya. Namun, kali ini nada


bicaranya jauh lebih pelan dari pada yang sebelumnya. Hampir tidak terdengar


sama sekali, namun berhasil sampai di telinga Chanwo dengan sempurna.


“Kau bisa mencari tahu tentang hal tersebut melalui Ayahmu.


Ku rasa ia tak akan keberatan soal itu. Lagipula, kau memang harus tahu soal


dirimu sendiri,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Nhea tidak bisa menepis perkataan pria itu tadi. Apa yang

__ADS_1


dikatakan oleh Chanwo barusan ada benarnya juga. Namun, Nhea tidak membenarkan


hal tersebut seratus pesen. Wilson tidak akan mau menjelaskan hal tersebut


secara terang-terangan. Bahkan kepada anaknya sendiri. Dia bukan orang yang mau


berbicara soal topik berat seperti itu. Jadi, Nhea tidak yakin jika dia bisa


mengorek informasi tersebut dari Wilson. Pria itu sulit untuk diajak bekerja


sama.


Hanya ada dua anggota klan di tempat ini. Yaitu, Wilson dan


juga Chanwo. Berbeda dengan Nhea. mereka memiliki darah murni keturunan klan. Ia


hanya bisa mencari tahu semuanya dari mereka berdua. Tapi, sejauh ini baru


Chanwo saja yang bisa diajak bekerja sama. Dia sama sekali tidak pelit jika


soal informasi. Terutama yang menyangkut klannya sendiri.


Chanwo adalah seorang pemimpin. Mana mungkin dia akan


menyembunyikan kebenaran dari kaumnya sendiri. Sungguh tidak pantas untuk


melakukan hal semacam itu.


Nhea menghela napasnya jengah. Dia tidak tahu harus bereaksi


bagaimana dengan situasi yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Sungguh


melelahkan jika harus terus terjebak dalam situasi yang serba tidak jelas arah


dan tujuannya. Mereka hanya berjalan di tempat sejak awal. Bergerak, tapi tidak


pernah kemana-mana. Sungguh miris.


“Aku tidak yakin jika Ayah bisa diajak bekerja sama soal


yang satu itu,” ungkap Nhea secara terang-terangan.


Pria itu tampak mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alisnya


tampak saling menyatu. Menandakan jika ia sedang dilanda kebingungan yang tak


seberapa kali ini.


Di sisi lain, Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan dari


pria itu. Kelihatannya, ia sama sekali tidak tertarik untuk menggubris hal


tersebut. Harusnya Chanwo sudah tahu tanpa perlu dijelaskan lagi. Mungkin dia


memang sudah tahu. Tapi, ingin memastikan kembali. Jadi, ia memutuskan untuk


bertanya saja. Jauh lebih baik begitu dari pada salah paham.


“Yang jelas Ayah tidak akan membagi informasinya secara


cuma-cuma kepadaku,” ucap gadis itu dengan penuh penekanan.


Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Nhea segera beranjak


dari tempat duduknya. Namun, segera ditahan oleh Chanwo. Pria itu mencegah Nhea


untuk pergi dari sana. Ia menarik tangan gadis itu tepat sebelum ia sempat


beranjak dari sana.


“Mau kemana?” tanya Chanwo.


Nhea kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.


Entah sudah yang keberapa kali gadis itu melakukan hal tersebut dalam hari ini.


Mungkin sudah lebih dari sepuluh kali jika dihitung sejak awal dia membuka


matanya untuk pertama kali.

__ADS_1


“Aku akan kembali ke kamar,” ujarnya.


Tak lama kemudian, Chanwo segera melepaskan cengkramannya


dari tangan gadis itu. Dia paham betul jika waktunya saat ini sedang tidak


tepat. Nhea sudah tidak tertarik lagi dengan topik pembicaraan mereka kali ini.


Mendadak suasana hatinya membuaruk entah karena apa. Yang jelas, Chanwo selalu


berjaga-jaga untuk selalu menjaga perasaan Nhea. Dia tidak ingin kalau sampai


gadis itu sampai merasa tidak nyaman berada di sekitarnya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara sol sepatu oxford milik Nhea, beradu dengan permukaan


pavin blok yang terpasang di sepanjang jalan. Ia segera beranjak meninggalkan


tempat itu tepat setelah Chanwo menyingkirkan tangannya. Tentu saja Nhea tidak


ingin membuang kesempatan emas seperti itu untuk berhasil lolos dari pria ini. Dia


tahu jika Chanwo tidak akan melepaskannya dengan mudah. Oleh sebab itu, ini


merupakan salah satu kesempatan yang bagus untuk melarikan diri.


Chanwo membirakan Nhea pergi lagi untuk kali ini. Rasanya,


ia sama sekali tidak berhak untuk melarang gadis itu kemana pun ia ingin pergi.


Chanwo hanya bisa menyaksikan punggung gadis itu yang kian menjauh darinya.


Suara sol sepatunya yang bercampur bersama keriuhan suasana, perlahan mulai


sayup-sayup. Nyaris tak terdengar. Chanwo masih tetap menyoroti Nhea dengan


lekat. Sampai pada akhirnya ia menghilang di balik tembok. Pria itu segera


mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Dia tidak boleh kehilangan lebih banyak darah manusia


lagi,” gumam Chanwo.


Jika dilihat dari nada bicaranya barusan, ia terdengar cukup


serius. Chanwo memang selalu serius. Dia tidak pernah bisa main-main. Karena,


selama ini ia dianggap sebagai seorang pemimpin.


Memilih untuk tak ambil pusing soal hal tersebut, Chanwo


lantas segera bangkit dari tempat duduknya. Sudah tidak ada kepentingan lain


yang mewajibkannya untuk tetap berada di tempat ini sekarang. Bahkan lawan


bicaranya sudah pergi. Tidak ada siapa pun yang bisa ia ajak untuk bertukar


pikiran sekarang. Lebih baik, ia juga kembali ke kamar asrama sama seperti


Nhea. Dia perlu mengistirahatkan pikirannya, sebelum digunakan kembali nanti


malam pada saat kelas sedang berlangsung.


Chanwo memutuskan untuk kembali ke asrama.


Namun, belum ada beberapa langkah sejak ia meninggalkan tempat itu, tiba-tiba


saja ia menangkap sosok yang taka sing lagi di seberang sana. Itu adalah


Jongdae. Dia baru saja keluar dari salah satu kamar yang diyakini bukan


kamarnya. Mungkin temannya. Chanwo yang menyadari kehadiran Jongdae saat itu


langsung menghentikan langkahnya. Ia  berdiri tepat di tengah-tengah. Memblokir akses keluar masuk melalui


tangga. Terkhusus bagi pria yang dikenal dengan sebutan Jongdae selama ini. Dia

__ADS_1


tidak punya urusan dengan orang lain, selain Jongdae. Tampaknya, dia perlu ber


__ADS_2