
Sejauh ini dia sudah tahu banyak soal kaum kegelapan.
Terlebih soal asal-usulnya. Tentang darah dari klan bayangan yang diturunkan
kepada dirinya. Nhea bahkan sempat menerima pasokan darah dari klan vampir. Ia
harus menukarkan darah manusianya untuk mendapatkan hal tersebut. Karena, hanya
dengan cara itu dia bisa bertahan hidup sampai saat ini.
“Bagaimanapun juga, kau tidak sepenuhnya menjadi bagian dari
kaum kami. Di dalam tubuhmu masih mengalir setidaknya darah manusia,” jelas Chanwo
dengan panjang lebar.
“Lantas, apalah larangan kalian berlaku juga untuk orang
sepertiku?” tanya gadis itu dengan ragu-ragu.
Chanwo yang mendengar pertanyaan tersebut memilih untuk
tidak langsung menjawabnya. Ia menghela napas sebentar, sebelum kembali
melanjutkan perkataannya.
“Tidak juga,” ungkap pria itu.
“Aku saja sudah melanggarnya sekarang. Itu berarti, kau bisa
melakukannya juga,” tukas Chanwo kemudian.
“Jangan gila!” sarkas Nhea.
Tenang saja. Chanwo tidak akan merasa marah kali ini. Dia
hanya menganggap perkataan gadis itu sebatas candaan saja. Tidak lebih. Entah
kenapa, pria itu tidak pernah menganggap perkataan serta perbuatan Nhea sebagai
sesuatu yang serius. Chanwo tidak bisa membedakan situasi jika sedang
berhadapan dengan gadis ini. Bukan hanya sampai di situ saja. Dia bahkan tidak
bisa membedakan mana yang benar ada dan mana yang tidak ada.
Mungkin akan berbeda ceritanya jika orang lain yang
mengucapkan kalimat tersebut. Bisa jadi Chanwo menganggapnya sebagai sebuah
ejekan. Komentar kasar seperti itu memang tidak pantas untuk diberikan
toleransi lagi. Sudah terlalu melampaui batas, meski nada bicarnaya terkesan
seperti tengah bercanda. Semua itu mungkin saja terjadi. Chanwo bisa marah
sekali. Namun, ada sebuah pengecualian bagi Nhea. Gadis itu sedikit berbeda di
mata Chanwo. Entah berbeda dari sisi mananya. Sulit untuk dideskripsikan dengan
kata-kata.
“Sebenarnya aku masih penasaran dengan jati diriku,” ungkap
Nhea secara gamblang.
“Terutama soal klan,” lanjutnya. Namun, kali ini nada
bicaranya jauh lebih pelan dari pada yang sebelumnya. Hampir tidak terdengar
sama sekali, namun berhasil sampai di telinga Chanwo dengan sempurna.
“Kau bisa mencari tahu tentang hal tersebut melalui Ayahmu.
Ku rasa ia tak akan keberatan soal itu. Lagipula, kau memang harus tahu soal
dirimu sendiri,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Nhea tidak bisa menepis perkataan pria itu tadi. Apa yang
__ADS_1
dikatakan oleh Chanwo barusan ada benarnya juga. Namun, Nhea tidak membenarkan
hal tersebut seratus pesen. Wilson tidak akan mau menjelaskan hal tersebut
secara terang-terangan. Bahkan kepada anaknya sendiri. Dia bukan orang yang mau
berbicara soal topik berat seperti itu. Jadi, Nhea tidak yakin jika dia bisa
mengorek informasi tersebut dari Wilson. Pria itu sulit untuk diajak bekerja
sama.
Hanya ada dua anggota klan di tempat ini. Yaitu, Wilson dan
juga Chanwo. Berbeda dengan Nhea. mereka memiliki darah murni keturunan klan. Ia
hanya bisa mencari tahu semuanya dari mereka berdua. Tapi, sejauh ini baru
Chanwo saja yang bisa diajak bekerja sama. Dia sama sekali tidak pelit jika
soal informasi. Terutama yang menyangkut klannya sendiri.
Chanwo adalah seorang pemimpin. Mana mungkin dia akan
menyembunyikan kebenaran dari kaumnya sendiri. Sungguh tidak pantas untuk
melakukan hal semacam itu.
Nhea menghela napasnya jengah. Dia tidak tahu harus bereaksi
bagaimana dengan situasi yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Sungguh
melelahkan jika harus terus terjebak dalam situasi yang serba tidak jelas arah
dan tujuannya. Mereka hanya berjalan di tempat sejak awal. Bergerak, tapi tidak
pernah kemana-mana. Sungguh miris.
“Aku tidak yakin jika Ayah bisa diajak bekerja sama soal
yang satu itu,” ungkap Nhea secara terang-terangan.
Pria itu tampak mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alisnya
tampak saling menyatu. Menandakan jika ia sedang dilanda kebingungan yang tak
seberapa kali ini.
Di sisi lain, Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan dari
pria itu. Kelihatannya, ia sama sekali tidak tertarik untuk menggubris hal
tersebut. Harusnya Chanwo sudah tahu tanpa perlu dijelaskan lagi. Mungkin dia
memang sudah tahu. Tapi, ingin memastikan kembali. Jadi, ia memutuskan untuk
bertanya saja. Jauh lebih baik begitu dari pada salah paham.
“Yang jelas Ayah tidak akan membagi informasinya secara
cuma-cuma kepadaku,” ucap gadis itu dengan penuh penekanan.
Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Nhea segera beranjak
dari tempat duduknya. Namun, segera ditahan oleh Chanwo. Pria itu mencegah Nhea
untuk pergi dari sana. Ia menarik tangan gadis itu tepat sebelum ia sempat
beranjak dari sana.
“Mau kemana?” tanya Chanwo.
Nhea kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
Entah sudah yang keberapa kali gadis itu melakukan hal tersebut dalam hari ini.
Mungkin sudah lebih dari sepuluh kali jika dihitung sejak awal dia membuka
matanya untuk pertama kali.
__ADS_1
“Aku akan kembali ke kamar,” ujarnya.
Tak lama kemudian, Chanwo segera melepaskan cengkramannya
dari tangan gadis itu. Dia paham betul jika waktunya saat ini sedang tidak
tepat. Nhea sudah tidak tertarik lagi dengan topik pembicaraan mereka kali ini.
Mendadak suasana hatinya membuaruk entah karena apa. Yang jelas, Chanwo selalu
berjaga-jaga untuk selalu menjaga perasaan Nhea. Dia tidak ingin kalau sampai
gadis itu sampai merasa tidak nyaman berada di sekitarnya.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara sol sepatu oxford milik Nhea, beradu dengan permukaan
pavin blok yang terpasang di sepanjang jalan. Ia segera beranjak meninggalkan
tempat itu tepat setelah Chanwo menyingkirkan tangannya. Tentu saja Nhea tidak
ingin membuang kesempatan emas seperti itu untuk berhasil lolos dari pria ini. Dia
tahu jika Chanwo tidak akan melepaskannya dengan mudah. Oleh sebab itu, ini
merupakan salah satu kesempatan yang bagus untuk melarikan diri.
Chanwo membirakan Nhea pergi lagi untuk kali ini. Rasanya,
ia sama sekali tidak berhak untuk melarang gadis itu kemana pun ia ingin pergi.
Chanwo hanya bisa menyaksikan punggung gadis itu yang kian menjauh darinya.
Suara sol sepatunya yang bercampur bersama keriuhan suasana, perlahan mulai
sayup-sayup. Nyaris tak terdengar. Chanwo masih tetap menyoroti Nhea dengan
lekat. Sampai pada akhirnya ia menghilang di balik tembok. Pria itu segera
mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Dia tidak boleh kehilangan lebih banyak darah manusia
lagi,” gumam Chanwo.
Jika dilihat dari nada bicaranya barusan, ia terdengar cukup
serius. Chanwo memang selalu serius. Dia tidak pernah bisa main-main. Karena,
selama ini ia dianggap sebagai seorang pemimpin.
Memilih untuk tak ambil pusing soal hal tersebut, Chanwo
lantas segera bangkit dari tempat duduknya. Sudah tidak ada kepentingan lain
yang mewajibkannya untuk tetap berada di tempat ini sekarang. Bahkan lawan
bicaranya sudah pergi. Tidak ada siapa pun yang bisa ia ajak untuk bertukar
pikiran sekarang. Lebih baik, ia juga kembali ke kamar asrama sama seperti
Nhea. Dia perlu mengistirahatkan pikirannya, sebelum digunakan kembali nanti
malam pada saat kelas sedang berlangsung.
Chanwo memutuskan untuk kembali ke asrama.
Namun, belum ada beberapa langkah sejak ia meninggalkan tempat itu, tiba-tiba
saja ia menangkap sosok yang taka sing lagi di seberang sana. Itu adalah
Jongdae. Dia baru saja keluar dari salah satu kamar yang diyakini bukan
kamarnya. Mungkin temannya. Chanwo yang menyadari kehadiran Jongdae saat itu
langsung menghentikan langkahnya. Ia berdiri tepat di tengah-tengah. Memblokir akses keluar masuk melalui
tangga. Terkhusus bagi pria yang dikenal dengan sebutan Jongdae selama ini. Dia
__ADS_1
tidak punya urusan dengan orang lain, selain Jongdae. Tampaknya, dia perlu ber