
Ini bukan pertama kalinya bagi Wilson untuk mencium aroma yang sama. Sepertinya anggota klan tersebut belum pergi. Dia masih berkeliaran di sekitar sini. Sebenarnya Wilson sangat penasaran dengan keberadaan anggota klan tersebut. Ia berniat untung mengungkapnya dengan segera. Tapi bukan sekarang. Jika ia melakukannya sekarang, maka hal tersebut hanya semakin merusak suasana yang memang sudah kacau sejak awal.
"Apa kita harus mengumumkan hasil keputusan rapat yang kemarin malam sekarang juga?" tanya Eun Ji Hae.
"Sebaiknya sebentar lagi saja," jawab Vallery.
Saat ini mereka semua sudah selesai menyantap makanannya masing-masing. Seperti biasanya, mereka tidak akan langsung kembali begitu selesai. Melainkan tetap berada di tempat duduknya masing-masing. Setidaknya sampai perutnya tak terasa begitu penuh lagi. Dengan begitu mereka bisa mulai beraktivitas secara normal, tanpa perlu takut terganggu karena kekenyangan.
Pandangan Bibi Ga Eun tampak kosong. Ia terlihat sibuk dengan sesuatu yang ada di dalam dirinya. Menata kembali setiap hal yang berantakan di dalam sana. Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang dipikirkan oleh wanita ini. Yang jelas ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hal tersebut membuat Bibi Ga Eun mengacuhkan semua hal yang berada di sekitarnya saat ini. Tubuh wanita paruh baya itu memang sedang berada di sini sekarang. Tapi tidak dengan jiwanya yang entah berada di belahan dimensi mana. Ia sedang tidak benar-benar hadir sepenuhnya di ruangan ini.
Semua orang memang memiliki beban pikiran yang berbeda. Sesuai dengan kapasitas otaknya masing-masing. Tidak bisa dipungkiri jika masalah yang terus berdatangan belakangan ini telah menjadi beban pikiran orang-orang. Dengan atau tanpa mereka sadari.
Namun dari semua orang yang ada di tempat ini sekarang, hanya Bibi Ga Eun lah yang memiliki beban paling banyak. Sekilas memang tidak adil jika ia harus menanggung semuanya sendiri. Tapi pada kenyataannya, itu sudah menjadi tugasnya. Menjadi kepala sekolah di tempat ini berarti menjadi tumpuan yang bisa diandalkan oleh semua orang. Ia dituntut untuk bersikap sempurna.
Memiliki tanggung jawab yang paling besar adalah salah satu fakta yang tak bisa ia terima sampai sekarang.
Berbeda dengan Vallery dan Wilson. Meskipun mereka sama pentingnya di sekolah ini, tapi tetap saja tanggung jawab yang harus mereka terima tidak seberat Bibi Ga Eun. Mereka telah memiliki porsi tanggung jawabnya masing-masing. Mulai dari hal paling kecil hingga yang terbesar sekalipun. Dari awal keputusan itu sudah berada di tangan mereka masing-masing. Mereka yang menentukan dan memegang kendali atas hidupnya sendiri.
***
"Baiklah, perhatian semuanya!" seru Eun Ji Hae dari depan sana.
Seperti biasanya, tidak perlu bersusah payah untuk menarik perhatian mereka. Ini adalah hal yang mudah baginya. Ia telah terbiasa untuk melakukan hal itu sejak dulu. Bahkan sebelum dirinya dikutuk menjadi patung phoenix.
Kini semua mata hanya tertuju kepada Eun Ji Hae. Gadis itu tengah menjadi pusat perhatian pada saat ini.
__ADS_1
"Apa mereka akan membuat pengumuman lagi?" gumam Jang Eunbi.
"Ayolah! Pengumuman apa lagi kali ini," kesal Oliver.
Dia sudah muak jika harus mendengar pengumuman setiap harinya. Belakangan ini selalu ada saja pengumuman. Tentu ada kautan eratnya dengan setiap peristiwa yang terjadi di sini.
Tapi tidak ada gunanya juga jika ia terus mengeluh seperti ini. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah.
"Seperti yang kalian tahu, jika kemarin malam kami telah mengadakan rapat untuk memutuskan tawaran dari Sekolah Reodal," ujar Eun Ji Hae.
Semua orang bertanya-tanya soal apa keputusannya. Mereka sudah tidak sabar untuk menunggu hal tersebut. Bagaimana pun, keputusan yang mereka buat akan menentukan nasib Sekolah Mooneta ke depannya. Bukan hanya itu saja, bahkan seluruh orang yang berada di dalamnya juga akan ikut terlibat dan terkena dampaknya nanti.
"Kami memutuskan untuk tetap menyetujui tawaran kerja sama dari Sekolah Reodal. Yang artinya jika mulai hari ini sekolah kita akan bergabung bersama Reodal," jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Sontak semua orang melongo tak percaya. Bagaimana bisa mereka memutuskan hal tersebut secara sepihak tanpa mempertimbangkan pendapat dari para siswa. Seolah mereka adalah orang yang paling tahu soal segala hal yang terjadi di sini.
"Kenapa mereka memutuskan hal seperti itu?"
"Hal gila macam apa ini?"
"Bagaimana bisa mereka akan memutuskan hal besar seperti ini?!"
"Lantas untuk apa selama ini kita bertahan jika Mooneta tetap akan betgabung dengan Reodal."
Ada banyak desas-desus yang terdengar tepat setelah Eun Ji Hae menjelaskan semuanya. Ia telah menduga sebelumnya jika hal seperti ini akan terjadi. Pasti ada saja kedua belah pihak yang pro dan kontra. Tapi sejauh ini jauh lebih banyak pihak yang kontra dengan keputusan rapat. Hampir dari total keseluruhan orang yang berada di sini merasa tidak setuju. Termasuk Nhea dan teman-temannya.
__ADS_1
"Apa mereka sudah gila?!" cecar Oliver.
"Itu artinya kita akan menutup sekolahan ini untuk selamanya serta meninggalkan tempat ini," timpal Nhea yang hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi.
"Apa hanya aku yang merasa jika sekolah ini begitu berarti?" sambung Jang Eunbi dengan nada sedih.
Perasaan mereka sedang campur aduk saat ini. Antara rasa sedih, takut, marah dan kecewa. Semuanya berpadu menjadi satu. Sampai-sampai mereka tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mendeskripsikaannya. Rasanya tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut secara jelas.
"Aku akan memberi kesempatan bagi kalian untuk berkemas secepat mungkin!" seru Eun Ji Hae dari depan.
"Nanti malam kita akan berangkat," lanjutnya.
Eun Ji Hae kemudian kembali membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa mereka terus mengomel menyalahkanku!" gerutu gadis itu.
"Memangnya mereka pikir aku mau meninggalkan tempat ini?!" umpatnya.
Tidak ada cara lain yang paling baik baginya untuk melampiaskan kekesalan tersebut selain merutuki dirinya sendiri. Unsur api yang sudah berada di dalam dirinya sejak awal membuat Eun Ji Hae mudah marah dan terpancing emosi. Sulit baginya untuk mengendalikan dirinya sendiri.
"Tidak ada yang mau meninggalkan tempat ini sayang," ujar Vallery sambil mengusap-usap punggung anaknya.
"Tapi kita harus melakukan hal itu untuk keselamatan bersama!" tukasnya.
Vallery berusaha untuk meyakinkan Eun Ji Hae jika keputusan yang mereka buat kemarin telah benar. Tidak ada yang perlu disesali di sini, hanya karena mereka semua tak sepenuhnya setuju. Mereka tak perlu menjelaskan sekarang. Karena orang-orang tetap akan bersi keras pada pendapatnya masing-masing.
__ADS_1
Mereka akan sadar begitu keputusan berat hari ini berhasil menyelamatkan nyawanya dari bahaya.