
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, Nhea dan Oliver
segera menuju ke salah satu tempat duduk yang kebetulan masih kosong. Omong-omong,
mereka belum melihat Jongdae dan juga Jang Eunbi sejak jamuan makan pagi tadi. Mereka
sempat berkata jika ada beberapa urusan penting yang harus diurus. Namun, sejak
pagi keduanya tidak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi sampai sekarang.
Mendadak menghilang begitu saja seperti di telan bumi.
Nhea menghela napasnya kasar. Hari ini suasana hatinya
memang tidak terlalu baik. Tidak ada yang tahu apa alasan pastinya. Nhea
sendiri sang pemilik badang sama sekali tidak tahu menahu soal itu.
“Omong-omong, aku belum melihat Jongdae sejak tadi pagi,” ungkap
Oliver secara tiba-tiba. Ternyata gadis itu juga merasakan hal yang sama. Bukan
hanya Nhea saja berarti.
“Bagaimana dengan Jang Eunbi?” tanya Nhea.
“Aku tidak sengaja berpapasan dengannya tadi siang di
sekitar anak tangga,” jawab gadis itu dengan apa adanya.
Nhea hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk
mengiyakan perkataan gadis itu. Tidak ada pilihan lain. Menggerakkan kepala
selalu menjadi andalannya saat bingung harus membalas apa.
“Jadi, apa mereka sudah meminta maaf kepadamu soal yang
kemarin?” tanya Oliver dengan sangat hati-hati. Dia harus menyusun kata-katanya
dengan sedemikian rupa agar tidak menyakiti orang lain. Pasalnya, hal ini
memang terkesan jauh lebih sensitif daripada topik yang lainnya.
“Belum sama sekali,” balas Nhea dengan apa adanya.
“Mungkin mereka masih sibuk,” timpalnya.
Kini giliran Oliver yang mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan
gadis itu. Apa yang dikatakan Nhea barusan memang tidak salah. Tapi, setidaknya
mereka harus menyempatkan diri untuk melakukan hal tersebut meski sedang sibuk.
Meminta maaf tidak akan menyita terlalu banyak waktu. Lagipula, Nhea juga sudah
melupakan kejadian yang kemarin. Ia bahkan sudah memaafkan mereka sebelum
Oliver dan yang lainnya meminta maaf.
Sekali lagi perlu diingatkan jika ia bukan orang yang
pendendam. Nhea pemaaf. Tapi, jangan salah. Dia memang pemaaf, tapi juga tidak
mudah lupa. Sebuah kondisi langka yang memang sulit untuk diungkapkan dengan
kata-kata.
“Apa mereka akan ikut serta dalam jamuan makan malam kali
ini?” tanya Nhea.
“Kemungkinan besar Jang Eunbi akan ikut,” jawab Oliver.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan Jongdae?” tanya gadis itu lag.
“Kakakku perlu mengurusi salah satu anggota dari asrama pria
yang sedang jatuh sakit. Tidak terlalu parah memang. Hanya demam biasa. Tapi,
ia tetap bertanggung jawab atas hal seperti itu,” jabar Oliver dengan panjang
lebar.
“Ah, benar juga,” balas Nhea sambil mengangguk setuju.
“Aku sempat mendengar soal hal itu dari siswa lain
sebelumnya,” lanjutnya.
Beberapa saat yang lalu saat ia masih berada di taman, jauh
sebelun Chanwo datang menghampirinya, ia memang sempat mendengar desas-desus
soal siswa tersebut. Katanya ia baru jatuh sakit tadi pagi. Untuk sementara, ia
akan dirawat di asrama terlebih dahulu. Jika kondisinya memburuk, baru akan
dilakukan tindakan lain.
Sepertinya warga sekolah ini memang gemar bergosip.
Buktinya, Nhea bisa menerima sebuah informasi dengan cepat. Bahkan ia tidak
perlu mencari tahu lagi. Bisikan-bisikan itu telah terdengar jelas merambati
rongga telinganya. Sepertinya sebuah infomasi baru akan menyebar dengan cepat
ke seluruh penjuru sekolah hanya dengan bermodalkan mulut mereka. Tidak perlu
surat kabar lagi untuk menyampaikannya.
***
sepertinya ia masih menjaga jarak dengan teman-temannya. Gadis itu kembali
duduk di bangku paling belakang. Tentu saja sendirian lagi. Sama seperti
kemarin. Tidak ada yang benar-benat tahu apa alasannya sampai ia melakukan hal
tersebut. Bisa jadi ini karena suasana hatinya yang sedang tidak baik
akhir-akhir ini. Itu sebabnya, kenapa Nhea memilih untuk membatasi inteeraksi
dengan orang lain. Dia tidak ingin menguras energinya terlalu banyak.
Sepertinya Jongdae dan Jang Eunbi memang tidak iktu dalam
jamuan makan malam tadi. Pasalnya, Nhea sama sekali tidak melihat batang hidung
mereka. Tidak peduli sudah berapa kali ia mencarinya. Mata gadis itu tidak
pernah tenang sebelum menemukan satu objek yang dimaksud.
Mereka datang ke kelas dan mengikuti pelajaran tanpa makan
malam terlebih dahulu. Semoga saja tidak ada yang mengeluh. Tidak bisa
dipungkiri jika mereka memang memerlukan banyak tenaga saat proses ini
berlangsung. Terutama otak. Organ yang satu itu pasti akan menjadi penyumbang
penguras energi paling banyak.
“Kau duduk sendirian lagi?”
Tiba-tiba saja sebuah suara muncul secara mengejutkan.
__ADS_1
Untungnya, Nhea tidak bereaksi terlalu berlebihan terhadap hal itu. Padahal
tidak bisa dipungkiri jika ia memang tengah terkejut setengah mata. Entah
kenapa orang-orang gemar mengejutkannya saat sedang tenggelam bersama
pikirannya sendiri.
Nhea lantas menoleh ke arah sumber suara. Mencari tahu dari
mana asalnya. Ternyata Chanwo. Mereka harus bertemu lagi untuk yang kesekian
kalinya. Sepertinya memang tidak ada gunanya menghindari orang-orang itu. Karena
mereka memang akan tetap mengkutinya kemana saja. Mereka selalu bisa menemukan
gadis ini. Tidak peduli dimana pun Nhea berada.
Di sisi lain, Chanwo masih tetap bergeming. Sorot matanya
sulit untuk ditangkap apa maksudnya. Ia tidak akan melakukan hal lain sebelum
Nhea merespon sapaannya barusan. Menurutnya, pertanyaan tadi adalah sebuah
sapaan. Namun, berbeda dengan Nhea. Gadis itu malah memutar bola matanya malas.
Ia berdecak sebal karena lagi-lagi harus berurusan dengan pria ini.
“Kau belum menjawab pertanyaanku yang satu itu,” ujar Chanwo
yang berniat untuk sekedar mengingatkan.
“Aku pikir kau sudah tahu jawabannya,” balas gadis itu.
“Aku yakin jika indera pengelihatanmu masih berfungsi dengan
cukup baik,” sarkasnya.
“Jadi, jangan lupa untuk menggunakan yang satu itu,” final
Nhea sebelum kembali mengalihkan pandangannya.
Dia hanya menoleh sekilas saja. Kemudian segera membuang
muka. Melihat kemana saja, asal bukan Chanwo objek yang ditangkap oleh kedua
bola matanya. Situasi seperti itu sungguh menyebalkan.
“Kalau begitu, bolehkah aku duduk di sini sekali lagi?”
tanya Chanwo.
“Masih ada tempat duduk lain yang ko-”
Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya yang
barusan, Chanwo sudah mengambil alih tempat kosong yang tersedia di sana. Ia
bahkan sudah tidak memikirkan perkataan Nhea lagi. dengan atau tanpa izin dari
gadis itu, dia akan tetap duduk di sini.
Ini bukan yang pertama kalinya bagi Chanwo untuk menghadai
sikap menyebalkan dari gadis itu. tapi, Chanwo sama sekali tidak pernah
mempermasalahkan hal tersebut. Mungkin, dia adalah orang yang paling sabar
untuk menghadai Nhea. Tidak peduli sekasar apa sikapnya.
Nhea selalu menjadi pengecualian dari semua hal. Itu hanya
berlaku bagi Chanwo saja. Orang lain belum tentu melakukan hal yang demikian juga
__ADS_1
terhadap gadis itu.