
Seharusnya ia tidak berharap lebih terhadap keluarga
sendiri. Dari awal Nhea sudah tahu persis seperti apa watak mereka. Ternyata
yang terlihat baik tidak selamanya akan tetap baik. Begitu pula sebaliknya. Ada
beberapa hal yang pada dasarnya memang memiliki dua sisi. Salah satunya adalah
sifat manusia. Percaya atau tidak, setiap manusia memiliki sikap baik dan buruk
secara bersamaan di dalam dirinya. Mereka hanya tinggal memilih, mau lebih
menonjolkan yang mana satu.
Nhea juga manusia. Pada hakikatnya, ia juga memiliki sikap
seperti itu. Namun, setidaknya untuk sekarang ini ia menjadi lebih terarah. Tahu
harus bersikap baik kepada siapa saja. Begitu pula sebaliknya. Terkadang kita
memang tidak bisa memukul rata semua hal.
“Beberapa orang memang pada dasarnya tidak pantas untuk
menerima kebaikan dari orang lain.”
Kalimat tersebut benar adanya. Terutama pada situasi
sekarang ini. Entah kenapa beberapa pepatah lama maupun baru yang sering
terdengar di telinganya terasa begitu nyata. Mungkin hanya sekedar kebetulan. Tapi,
juga bisa jadi karena memang semesta yang merealisasinya secara sengaja. Tidak ada
yang tahu ada apa sebenarnya di balik semua peristiwa tersebut.
Sejak awal kedatangannya kemari, Nhea memang tidak terlaludekat
dengan keluarganya sendiri. Bahkan ia juga menolak untuk tinggal bersama
anggota keluarganya yang lain di gedung utama. Alih-alih pidah ke sana, ia jauh
lebih memilih untuk tetap berada di asrama bersama teman-temannya yang lain.
Satu-satunya alasan yang membuat gadis itu memutuskan untuk
menjaga jarak dengan mereka adalah rasa trauma. Perasaannya masih belum
baik-baik saja sejak hari dimana ia ditinggalkan sendirian. Terlebih lagi
ketika sampai di akademi sihir Mooneta, ia bertemu dengan kedua orang tuanya
yang telah lama ia anggap meninggal.
Dulu Nhea selalu mengirimkan doa kepada Vallery dan Wilson. Meminta
Tuhan agar menjaga mereka. Menempatkannya di tempat yang paling layak. Serta mendapatkan
kehidupan yang jauh lebih bahagia di alam baka sana.
Setiap harinya ia selalu beranggapan jika mereka berdua
sudah tenang. Sedang tersenyum memperhatikan Nhea dari langit. Gadis itu
sungguh memperlakukan Vallery dan Wilson seperti orang yang sudah meninggal. Padahal
tidak sama sekali. Mereka bukan tinggal di alam baka. Melainkan berada di
sebuah dimensi dunia parallel lain yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
Pantas saja jika Nhea merassa kecewa. Ia seperti tengah
dibohongi selama bertahun-tahun oleh keluarganya sendiri, tanpa pernah
__ADS_1
diizinkan untuk mengetahui apa pun. Informasi tentang kedua orang tuanya kala
itu sungguh terbatas. Bib Ga Eun bahkan tidak bisa ia tanyai soal kepergian
mereka.
Semuanya masih menjadi misteri sampai Nhea tiba di akademi
sihir Mooneta. Ternyata bukan hanya itu saja satu-satunya informasi yang
disembunyikan darinya. Ada begitu banyak hal mengejutkan yang mereka
sembunyikan di ruang penyimpanan. Berharap orang lain tidak akan tahu soal
rahasia-rahasia gelap akademi tersebut. Tapi, kini rahasia itu sudah berada di
tangan Nhea.
Memutuskan untuk pergi ke ruang penyimpanan sama sekali
tidak salah. Ia bahkan tidak menyesali keputusannya sendiri. Baginya, itu
merupakan keputusan yang tepat. Nhea merasa beruntung karena telah berhasil
menemukan ruangan tersebut jauh lebih awal.
Saat ini ia berada selangkah lebih maju dari siapa pun.
Bahkan termasuk Eun Ji Hae yang begitu berambisi untuk mengalahkan dirinya. Gadis
itu tidak akan bisa berbuat apa-apa jika Nhea sudah bertindak nanti. Sepertinya
mereka telah mencari masalah dengan
orang yang salah. Sebab, saat ini Nhea bukan lagi gadis lemah itu.
“Kalian akan melihat akibatnya nanti,” geram gadis itu di
dalam hati.
terhitung paling sering mencari gara-gara dengannya. Beruntung Nhea masih bisa
menahan emosinya sendiri. Ia tidak akan bertindak sembarangan, meski kepalanya
sudah terasa ingin meledak. Butuh ketenangan untuk berpikir dengan jernih. Emosi
tidak akan bisa menyelesaikan apa pun.
Sama seperti kali ini, Nhea juga tidak akan bertindak dengan
sembarangan. Untuk melakukan serangan balik kepada Eun Ji Hae diperlukan taktik
khusus. Tidak bisaa bersikap asal saja. Meski sekarang kualitas Nhea sudah jauh
lebih baik daripada gadis itu, tapi tetap saja ia tidak bisa meremehkan Eun Ji
Hae. Ia bisa berpotensi untuk menyerang kapan saja. Oleh sebab itu, Nhea harus
selalu bersikap waspada.
“Tenang saja, aku tidak akan membocorkan informasi ini
kepada siapa pun,” ucap Jongdae secara tiba-tiba.
“Lagipula untuk apa memberi tahu orang lain? Aku yakin jika
sebentar lagi mereka juga akan memberitakannya kepada semua orang ketika kita
berkumpul di ruang makan,” jelas Nhea dengan panjang lebar.
Sebenarnya ia sangat malas jika harus memperjelas
situasinya. Namun, tidak ada pilihan lain.
__ADS_1
“Aku juga tidak akan memberi tahunya kepada siapa pun,
karena tidak ada gunanya juga,” ungkap Nhea secara gamblang.
Jika saja informasi ini datang di waktu yang tepat, maka
Nhea mungkin bisa melakukan sesuatu. Paling tidak gadis itu bisa mengacaukan
upacara penobatan Eun Ji Hae. Minimal ia bisa melampiaskan amarahnya sebagai
bentuk balas dendam. Jika tidak sekarang, mungkin nanti. Nhea percaya jika
selalu ada waktu yang tepat untuk melakukan segalanya.
“Tapi, omong-omong apa kita juga diundang dalam upacara
tersebut?” tanya Jang Eunbi.
Entah bagaimana pertanyaan seperti itu bisa terlintas di
dalam kepalanya. Sepertinya Nhea juga memerlukan jawaban yang cukup akurat di
sini.
“Aku sama sekali tidak tahu jika soal yang satu itu,” jawab
Oliver dengan apa adanya.
Kemarin dia memang tidak berlama-lama di depan pintu masuk
menuju ruang rapat. Bisa gawat jika sampai dirinya tertangkap. Oliver pasti
akan terjebak dalam sebuah masalah besar. Dan yang lebih parahnya lagi adalah,
tidak ada yang seorang pun yang bisa menolongnya. Mau tidak mau Oliver harus
menghadapi masalah tersebut sendirian.
Daripada mencari masalah yang belum tentu bisa ia
selesaikan, rasanya jauh lebih baik jika Oliver menghindar. Terkadang ada
perlunya juga mencari sisi aman. Tidak perlu terlalu ambil resiko.
“Apa kau yakin jika upacaranya akan dilangsungkan hari ini?”
tanya Nhea sekali lagi.
Ia perlu memastikan satu hal lagi sebelum membuat kesimpulan
di dalam kepalanya sendiri.
“Kalau aku tidak salah, upacaranya memang akan dilakukan
hari ini,” jawab Oliver.
“Kemarin aku mendengarnya begitu,” timpal gadis itu
kemudian.
Setelah mendapatkan jawaban yang ia mau, gadis itu lantas
mengangguk pelan. Perlahan ia mulai tenggelam bersama isi kepalanya sendiri.
“Memangnya kenapa?” tanya Oliver balik.
“Tidak ada apa-apa!” dalih gadis itu dengan cepat.
Sepertinya untuk saat ini Nhea
masih belum ingin terlalu banyak berkomentar. Lagipula asumsinya yang satu ini
belum tentu benar juga. Akan jauh lebih baik jika Nhea menyimpannya sendiri. Daripada
__ADS_1
harus membaginya dengan orang lain.