Mooneta High School

Mooneta High School
Rencana Awal


__ADS_3

Seharusnya ia tidak berharap lebih terhadap keluarga


sendiri. Dari awal Nhea sudah tahu persis seperti apa watak mereka. Ternyata


yang terlihat baik tidak selamanya akan tetap baik. Begitu pula sebaliknya. Ada


beberapa hal yang pada dasarnya memang memiliki dua sisi. Salah satunya adalah


sifat manusia. Percaya atau tidak, setiap manusia memiliki sikap baik dan buruk


secara bersamaan di dalam dirinya. Mereka hanya tinggal memilih, mau lebih


menonjolkan yang mana satu.


Nhea juga manusia. Pada hakikatnya, ia juga memiliki sikap


seperti itu. Namun, setidaknya untuk sekarang ini ia menjadi lebih terarah. Tahu


harus bersikap baik kepada siapa saja. Begitu pula sebaliknya. Terkadang kita


memang tidak bisa memukul rata semua hal.


“Beberapa orang memang pada dasarnya tidak pantas untuk


menerima kebaikan dari orang lain.”


Kalimat tersebut benar adanya. Terutama pada situasi


sekarang ini. Entah kenapa beberapa pepatah lama maupun baru yang sering


terdengar di telinganya terasa begitu nyata. Mungkin hanya sekedar kebetulan. Tapi,


juga bisa jadi karena memang semesta yang merealisasinya secara sengaja. Tidak ada


yang tahu ada apa sebenarnya di balik semua peristiwa tersebut.


Sejak awal kedatangannya kemari, Nhea memang tidak terlaludekat


dengan keluarganya sendiri. Bahkan ia juga menolak untuk tinggal bersama


anggota keluarganya yang lain di gedung utama. Alih-alih pidah ke sana, ia jauh


lebih memilih untuk tetap berada di asrama bersama teman-temannya yang lain.


Satu-satunya alasan yang membuat gadis itu memutuskan untuk


menjaga jarak dengan mereka adalah rasa trauma. Perasaannya masih belum


baik-baik saja sejak hari dimana ia ditinggalkan sendirian. Terlebih lagi


ketika sampai di akademi sihir Mooneta, ia bertemu dengan kedua orang tuanya


yang telah lama ia anggap meninggal.


Dulu Nhea selalu mengirimkan doa kepada Vallery dan Wilson. Meminta


Tuhan agar menjaga mereka. Menempatkannya di tempat yang paling layak. Serta mendapatkan


kehidupan yang jauh lebih bahagia di alam baka sana.


Setiap harinya ia selalu beranggapan jika mereka berdua


sudah tenang. Sedang tersenyum memperhatikan Nhea dari langit. Gadis itu


sungguh memperlakukan Vallery dan Wilson seperti orang yang sudah meninggal. Padahal


tidak sama sekali. Mereka bukan tinggal di alam baka. Melainkan berada di


sebuah dimensi dunia parallel lain yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.


Pantas saja jika Nhea merassa kecewa. Ia seperti tengah


dibohongi selama bertahun-tahun oleh keluarganya sendiri, tanpa pernah

__ADS_1


diizinkan untuk mengetahui apa pun. Informasi tentang kedua orang tuanya kala


itu sungguh terbatas. Bib Ga Eun bahkan tidak bisa ia tanyai soal kepergian


mereka.


Semuanya masih menjadi misteri sampai Nhea tiba di akademi


sihir Mooneta. Ternyata bukan hanya itu saja satu-satunya informasi yang


disembunyikan darinya. Ada begitu banyak hal mengejutkan yang mereka


sembunyikan di ruang penyimpanan. Berharap orang lain tidak akan tahu soal


rahasia-rahasia gelap akademi tersebut. Tapi, kini rahasia itu sudah berada di


tangan Nhea.


Memutuskan untuk pergi ke ruang penyimpanan sama sekali


tidak salah. Ia bahkan tidak menyesali keputusannya sendiri. Baginya, itu


merupakan keputusan yang tepat. Nhea merasa beruntung karena telah berhasil


menemukan ruangan tersebut jauh lebih awal.


Saat ini ia berada selangkah lebih maju dari siapa pun.


Bahkan termasuk Eun Ji Hae yang begitu berambisi untuk mengalahkan dirinya. Gadis


itu tidak akan bisa berbuat apa-apa jika Nhea sudah bertindak nanti. Sepertinya


mereka  telah mencari masalah dengan


orang yang salah. Sebab, saat ini Nhea bukan lagi gadis lemah itu.


“Kalian akan melihat akibatnya nanti,” geram gadis itu di


dalam hati.


terhitung paling sering mencari gara-gara dengannya. Beruntung Nhea masih bisa


menahan emosinya sendiri. Ia tidak akan bertindak sembarangan, meski kepalanya


sudah terasa ingin meledak. Butuh ketenangan untuk berpikir dengan jernih. Emosi


tidak akan bisa menyelesaikan apa pun.


Sama seperti kali ini, Nhea juga tidak akan bertindak dengan


sembarangan. Untuk melakukan serangan balik kepada Eun Ji Hae diperlukan taktik


khusus. Tidak bisaa bersikap asal saja. Meski sekarang kualitas Nhea sudah jauh


lebih baik daripada gadis itu, tapi tetap saja ia tidak bisa meremehkan Eun Ji


Hae. Ia bisa berpotensi untuk menyerang kapan saja. Oleh sebab itu, Nhea harus


selalu bersikap waspada.


“Tenang saja, aku tidak akan membocorkan informasi ini


kepada siapa pun,” ucap Jongdae secara tiba-tiba.


“Lagipula untuk apa memberi tahu orang lain? Aku yakin jika


sebentar lagi mereka juga akan memberitakannya kepada semua orang ketika kita


berkumpul di ruang makan,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


Sebenarnya ia sangat malas jika harus memperjelas


situasinya. Namun, tidak ada pilihan lain.

__ADS_1


“Aku juga tidak akan memberi tahunya kepada siapa pun,


karena tidak ada gunanya juga,” ungkap Nhea secara gamblang.


Jika saja informasi ini datang di waktu yang tepat, maka


Nhea mungkin bisa melakukan sesuatu. Paling tidak gadis itu bisa mengacaukan


upacara penobatan Eun Ji Hae. Minimal ia bisa melampiaskan amarahnya sebagai


bentuk balas dendam. Jika tidak sekarang, mungkin nanti. Nhea percaya jika


selalu ada waktu yang tepat untuk melakukan segalanya.


“Tapi, omong-omong apa kita juga diundang dalam upacara


tersebut?” tanya Jang Eunbi.


Entah bagaimana pertanyaan seperti itu bisa terlintas di


dalam kepalanya. Sepertinya Nhea juga memerlukan jawaban yang cukup akurat di


sini.


“Aku sama sekali tidak tahu jika soal yang satu itu,” jawab


Oliver dengan apa adanya.


Kemarin dia memang tidak berlama-lama di depan pintu masuk


menuju ruang rapat. Bisa gawat jika sampai dirinya tertangkap. Oliver pasti


akan terjebak dalam sebuah masalah besar. Dan yang lebih parahnya lagi adalah,


tidak ada yang seorang pun yang bisa menolongnya. Mau tidak mau Oliver harus


menghadapi masalah tersebut sendirian.


Daripada mencari masalah yang belum tentu bisa ia


selesaikan, rasanya jauh lebih baik jika Oliver menghindar. Terkadang ada


perlunya juga mencari sisi aman. Tidak perlu terlalu ambil resiko.


“Apa kau yakin jika upacaranya akan dilangsungkan hari ini?”


tanya Nhea sekali lagi.


Ia perlu memastikan satu hal lagi sebelum membuat kesimpulan


di dalam kepalanya sendiri.


“Kalau aku tidak salah, upacaranya memang akan dilakukan


hari ini,” jawab Oliver.


“Kemarin aku mendengarnya begitu,” timpal gadis itu


kemudian.


Setelah mendapatkan jawaban yang ia mau, gadis itu lantas


mengangguk pelan. Perlahan ia mulai tenggelam bersama isi kepalanya sendiri.


“Memangnya kenapa?” tanya Oliver balik.


“Tidak ada apa-apa!” dalih gadis itu dengan cepat.


Sepertinya untuk saat ini Nhea


masih belum ingin terlalu banyak berkomentar. Lagipula asumsinya yang satu ini


belum tentu benar juga. Akan jauh lebih baik jika Nhea menyimpannya sendiri. Daripada

__ADS_1


harus membaginya dengan orang lain.


__ADS_2