
Sejak awal melihat kedatangan Vallery kemari saja, perasaan
Nhea sudah tidak enak. Sepertinya hal buruk lainnya akan kembali terjadi kali
ini. Tapi, ia tidak bisa lari kemana-mana. Jangankan menghindar, menunda
masalah tersebut untuk terjadi saja ia tidak bisa.
“Aku akan meminta mereka untuk mengambilkan satu kursi lagi
untukmu. Jadi, kau bisa bergabung bersama kami di meja makan,” jelas Vallery
sembari mengusap-usap punggung gadis itu.
Vallery selalu berusaha untuk bersikap sabar dan tenang. Karena
hanya itu satu-satunya cara untuk tetap menang dalam menghadapi permasalahan
apa pun. Nhea mungkin sudah tahu sejak lama soal trik yang satu ini.
“Tidak perlu bersusah payah, aku bisa makan di sini saja,”
balas Nhea secara gamblang.
Mendapati jawaban seperti itu, Vallery lantas menghela
napasnya pelan. Ia sama sekali tidak pernah mengira jika akan mendapatkan
perlakuan demikian dari anaknya sendiri. Sementara itu, Nhea sama sekali tidak
ingin ambil pusing perihal tersebut. Gadis itu terus bersikap acuh. Karena saat
ini ia mulai sadar jika terlalu peduli terhadap orang lain juga tidak ada
gunanya sama sekali. Malah Nhea hanya akan merasa dirugikan.
“Ayolah bergabung bersama kali seperti biasanya!” ajak
Vallery sambil memelas.
Sebenarnya, wanita itu bisa saja bersikap kasar di hadapan
semua orang jika ia mau. Pasalnya, sekarang Nhea sungguh menguji emosinya. Untuk
sekarang emosinya belum terlalu memuncak. Mungkin nanti. Masih tidak menutup
kemungkinan sama sekali jika amarah Vallery akan meledak sewaktu-waktu. Setidaknya
Nhea dan yang lainnya harus bersiap-siap untuk mengantisipasi hal tersebut.
Satu detik, dua detik, tiga detik, sama sekali tidak ada
jawaban dari gadis itu. Sepertinya Nhea memang sedang tidak ingin menanggapi
perkataan wanita itu barusan. Kebenciannya terhadap Vallery semakin meningkat
sekarang. Padahal wanita itu adalah ibu kandungnya. Entah kenapa ia bisa bersikap
seperti itu terhadap seorang wanita yang telah melahirkan dirinya.
“Apa kau sungguh tidak ingin bergabung bersama yang lainnya
di meja makan?” tanya Vallery sekali lagi.
Kali ini ia tidak menawarkan. Melainkan hanya sekedar
memastikn sekali lagi. Lebih tepatnya untuk yang terakhir kalinya. Kesabarannya
hampir habis untuk menghadapi Nhea. Padahal gadis itu adalah darah dagingnya
sendiri.
__ADS_1
Mendengarkan pertanyaan tersebut, Nhe lantas menghela
napasnya dengan kasar sambil berdecak sebal. Seolah sudah muak untuk membahas
topik yang sama, kali ini gadis itu juga melemparkan pandangannya ke sembarang
arah. Kemana saja asal jangan menatap manusia-manusia menyebalkan itu. Jika
tidak, emosinya pasti akan memuncak. Bahkan sorotannya saja berubah menjadi
malas.
Ia sungguh seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup
sama sekali. Nhea selalu berubah menjadi orang seperti itu ketika dihadapkan
dengan masalah. Bukan lagi merasa frustrasi atau semacamnya. Sangkin seringnya
mendapatkan masalah, Nhea malah berubah menjadi muak.
“Apa kalian sungguh menganggap aku sebagai salah satu bagian
dari akademi ini?” tanya Nhea balik.
Kali ini ia tidak akan mengeluarkan kalimat apa pun yang
bertujuan untuk menjawab pertanyaan Vallery sebelumnya. Nhea bahkan tidak
memiliki niat sama sekali untuk menjawab pertanyaan tersebut. Rasanya tidak
terlalu penting.
Di sisi lain, Vallery tidak langsung menjawab pertanyana
tersebut. Wanita itu malah membisu seribu bahasa ketika ditanyai. Mungkin ia kehabisan
stok kata-kata atau bahkan tidak tahu harus menjawabnya dengan apa. Selama
mematung di tempatnya.
Lagi-lagi Nhea kembali menghela napasnya. Entah sudah berapa
kali ia melakukan hal serupa hari ini. Padahal sekarang belum ada pukul
sembilan pagi. Orang-orang di sekitarnya menjadi semakin aneh setiap harinya. Sehingga
Nhea sama sekali tidak habis pikir dengan hal tersebut.
Kini semua mata tertuju ke arah mereka berdua. Vallery dan
Nhea sedang menjadi bahan tontonan semua orang. Hanya mereka berdua yang
menjadi pusat perhatian sekarang ini. Bahkan orang-orang itu sudah tidak peduli
lagi dengan supnya yang hampir dingin karena terlalu lama ditinggalkan begitu
saja.
“Anggap saja jika jawabannya sesuai dengan apa yang ada di
dalam kepalaku sekarang ini!” celetuk gadis itu secara tiba-tiba.
Vallery lantas langsung menegakkan kepalanya. Sorot mata wanita
itu berubah menjadi tajam. Bahkan ia sampai memicingkan kedua matanya untuk
mendukun kondisi tersebut pada saat itu.
“Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Vallery
dengan serius.
__ADS_1
Nhea beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendekat
ke arah wanita itu. Bahkan sekarang nyaris sudah tidak ada lagi jarak di antara
mereka berdua. Gadis itu mendekatnya wajahnya ke telinga Vallery. Kemudian menepikan
beberapa helai rambut yang dirasa menghalanginya. Tampaknya Nhea akan membisikkan
sesuatu di sana.
Kali ini gadis itu sedang tidak ingin dipantau oleh semua
orang. Setidaknya harus ada satu atau dua hal yang bersifat rahasia. Karena tidak
semua hal bisa dibagikan dengan orang lain. Apalagi kepada orang asing. Meski
pada dasarnya mereka semua yang sedang berada di dalam ruangan ini sudah saling
mengenal satu sama lain. Tapi, tetap saja Nhea menganggap mereka semua sebagai
orang asing. Sebab, tidak ada satu pun dari mereka yang menjalin suatu hubungan
tertentu. Sehingga bisa dikatakan jika saat ini mereka semua tidak terlalu
akrab dengan Nhea. Hanya beberapa saja. Misalnya seperti Oliver, Chanwo, Jang Eunbi
serta Jongdae. Selebihnya tidak sama sekali.
“Orang-orang mengatakan jika ibu dan anak memiliki ikatan
batin yang cukup kuat antara satu sama lain. Jadi, kukira ibu pasti tahu apa
yang sedang berada di dalam pikiranku saat ini,” ujar Nhea dengan panjang
lebar.
Setelahnya, gadis itu kembali menjaga jarak. Ia mundur
beberapa langkah. Kemudian memandangi sesosok wanita yang selama ini ia anggap
sebagai ibunya. Tidak sampai lima detik, ia langsung mengalihkan pandangannya
kembali. Nhea lantas berbalik mundur, kembali ke tempat duduknya semula.
Merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi terhadap gadis
itu, Vallery lantas melakukan hal yang sama. Ia kembali ke tempat duduknya. Bergabung
bersama yang lain dan tetap membiarkan Nhea di sana. Lagipula tidak ada gunanya
bicara dengan gadis itu. Untuk sekarang dia tidak akan mau mendengarkannya,
karena suasana hatinya yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Vallery paham betul jika sekarang bukan waktu yang tepat
untuk memperbaiki setiap permasalahan yang ada. Sehingga, untuk sementara waktu
ia hanya membiarkannya begitu saja. Ketika kondisinya sudah terasa jauh lebih
baik, Vallery akan kembali berbicara dengan Nhea.
Tidak semua hal bisa dipaksakan
sesuai dengan keinginan kita. Terkadang semesta memiliki cara tersendiri untuk
melakukan suatu hal. Tidak harus melulu sama dengan apa yang kita mau. Semensta
juga memiliki caranya sendiri untuk bekerja. Manusia juga tidak selalu harus
ikut campur.
__ADS_1