Mooneta High School

Mooneta High School
Mom and Daughter


__ADS_3

Sejak awal melihat kedatangan Vallery kemari saja, perasaan


Nhea sudah tidak enak. Sepertinya hal buruk lainnya akan kembali terjadi kali


ini. Tapi, ia tidak bisa lari kemana-mana. Jangankan menghindar, menunda


masalah tersebut untuk terjadi saja ia tidak bisa.


“Aku akan meminta mereka untuk mengambilkan satu kursi lagi


untukmu. Jadi, kau bisa bergabung bersama kami di meja makan,” jelas Vallery


sembari mengusap-usap punggung gadis itu.


Vallery selalu berusaha untuk bersikap sabar dan tenang. Karena


hanya itu satu-satunya cara untuk tetap menang dalam menghadapi permasalahan


apa pun. Nhea mungkin sudah tahu sejak lama soal trik yang satu ini.


“Tidak perlu bersusah payah, aku bisa makan di sini saja,”


balas Nhea secara gamblang.


Mendapati jawaban seperti itu, Vallery lantas menghela


napasnya pelan. Ia sama sekali tidak pernah mengira jika akan mendapatkan


perlakuan demikian dari anaknya sendiri. Sementara itu, Nhea sama sekali tidak


ingin ambil pusing perihal tersebut. Gadis itu terus bersikap acuh. Karena saat


ini ia mulai sadar jika terlalu peduli terhadap orang lain juga tidak ada


gunanya sama sekali. Malah Nhea hanya akan merasa dirugikan.


“Ayolah bergabung bersama kali seperti biasanya!” ajak


Vallery sambil memelas.


Sebenarnya, wanita itu bisa saja bersikap kasar di hadapan


semua orang jika ia mau. Pasalnya, sekarang Nhea sungguh menguji emosinya. Untuk


sekarang emosinya belum terlalu memuncak. Mungkin nanti. Masih tidak menutup


kemungkinan sama sekali jika amarah Vallery akan meledak sewaktu-waktu. Setidaknya


Nhea dan yang lainnya harus bersiap-siap untuk mengantisipasi hal tersebut.


Satu detik, dua detik, tiga detik, sama sekali tidak ada


jawaban dari gadis itu. Sepertinya Nhea memang sedang tidak ingin menanggapi


perkataan wanita itu barusan. Kebenciannya terhadap Vallery semakin meningkat


sekarang. Padahal wanita itu adalah ibu kandungnya. Entah kenapa ia bisa bersikap


seperti itu terhadap seorang wanita yang telah melahirkan dirinya.


“Apa kau sungguh tidak ingin bergabung bersama yang lainnya


di meja makan?” tanya Vallery sekali lagi.


Kali ini ia tidak menawarkan. Melainkan hanya sekedar


memastikn sekali lagi. Lebih tepatnya untuk yang terakhir kalinya. Kesabarannya


hampir habis untuk menghadapi Nhea. Padahal gadis itu adalah darah dagingnya


sendiri.

__ADS_1


Mendengarkan pertanyaan tersebut, Nhe lantas menghela


napasnya dengan kasar sambil berdecak sebal. Seolah sudah muak untuk membahas


topik yang sama, kali ini gadis itu juga melemparkan pandangannya ke sembarang


arah. Kemana saja asal jangan menatap manusia-manusia menyebalkan itu. Jika


tidak, emosinya pasti akan memuncak. Bahkan sorotannya saja berubah menjadi


malas.


Ia sungguh seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup


sama sekali. Nhea selalu berubah menjadi orang seperti itu ketika dihadapkan


dengan masalah. Bukan lagi merasa frustrasi atau semacamnya. Sangkin seringnya


mendapatkan masalah, Nhea malah berubah menjadi muak.


“Apa kalian sungguh menganggap aku sebagai salah satu bagian


dari akademi ini?” tanya Nhea balik.


Kali ini ia tidak akan mengeluarkan kalimat apa pun yang


bertujuan untuk menjawab pertanyaan Vallery sebelumnya. Nhea bahkan tidak


memiliki niat sama sekali untuk menjawab pertanyaan tersebut. Rasanya tidak


terlalu penting.


Di sisi lain, Vallery tidak langsung menjawab pertanyana


tersebut. Wanita itu malah membisu seribu bahasa ketika ditanyai. Mungkin ia kehabisan


stok kata-kata atau bahkan tidak tahu harus menjawabnya dengan apa. Selama


mematung di tempatnya.


Lagi-lagi Nhea kembali menghela napasnya. Entah sudah berapa


kali ia melakukan hal serupa hari ini. Padahal sekarang belum ada pukul


sembilan pagi. Orang-orang di sekitarnya menjadi semakin aneh setiap harinya. Sehingga


Nhea sama sekali tidak habis pikir dengan hal tersebut.


Kini semua mata tertuju ke arah mereka berdua. Vallery dan


Nhea sedang menjadi bahan tontonan semua orang. Hanya mereka berdua yang


menjadi pusat perhatian sekarang ini. Bahkan orang-orang itu sudah tidak peduli


lagi dengan supnya yang hampir dingin karena terlalu lama ditinggalkan begitu


saja.


“Anggap saja jika jawabannya sesuai dengan apa yang ada di


dalam kepalaku sekarang ini!” celetuk gadis itu secara tiba-tiba.


Vallery lantas langsung menegakkan kepalanya. Sorot mata wanita


itu berubah menjadi tajam. Bahkan ia sampai memicingkan kedua matanya untuk


mendukun kondisi tersebut pada saat itu.


“Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Vallery


dengan serius.

__ADS_1


Nhea beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendekat


ke arah wanita itu. Bahkan sekarang nyaris sudah tidak ada lagi jarak di antara


mereka berdua. Gadis itu mendekatnya wajahnya ke telinga Vallery. Kemudian menepikan


beberapa helai rambut yang dirasa menghalanginya. Tampaknya Nhea akan membisikkan


sesuatu di sana.


Kali ini gadis itu sedang tidak ingin dipantau oleh semua


orang. Setidaknya harus ada satu atau dua hal yang bersifat rahasia. Karena tidak


semua hal bisa dibagikan dengan orang lain. Apalagi kepada orang asing. Meski


pada dasarnya mereka semua yang sedang berada di dalam ruangan ini sudah saling


mengenal satu sama lain. Tapi, tetap saja Nhea menganggap mereka semua sebagai


orang asing. Sebab, tidak ada satu pun dari mereka yang menjalin suatu hubungan


tertentu. Sehingga bisa dikatakan jika saat ini mereka semua tidak terlalu


akrab dengan Nhea. Hanya beberapa saja. Misalnya seperti Oliver, Chanwo, Jang Eunbi


serta Jongdae. Selebihnya tidak sama sekali.


“Orang-orang mengatakan jika ibu dan anak memiliki ikatan


batin yang cukup kuat antara satu sama lain. Jadi, kukira ibu pasti tahu apa


yang sedang berada di dalam pikiranku saat ini,” ujar Nhea dengan panjang


lebar.


Setelahnya, gadis itu kembali menjaga jarak. Ia mundur


beberapa langkah. Kemudian memandangi sesosok wanita yang selama ini ia anggap


sebagai ibunya. Tidak sampai lima detik, ia langsung mengalihkan pandangannya


kembali. Nhea lantas berbalik mundur, kembali ke tempat duduknya semula.


Merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi terhadap gadis


itu, Vallery lantas melakukan hal yang sama. Ia kembali ke tempat duduknya. Bergabung


bersama yang lain dan tetap membiarkan Nhea di sana. Lagipula tidak ada gunanya


bicara dengan gadis itu. Untuk sekarang dia tidak akan mau mendengarkannya,


karena suasana hatinya yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Vallery paham betul jika sekarang bukan waktu yang tepat


untuk memperbaiki setiap permasalahan yang ada. Sehingga, untuk sementara waktu


ia hanya membiarkannya begitu saja. Ketika kondisinya sudah terasa jauh lebih


baik, Vallery akan kembali berbicara dengan Nhea.


Tidak semua hal bisa dipaksakan


sesuai dengan keinginan kita. Terkadang semesta memiliki cara tersendiri untuk


melakukan suatu hal. Tidak harus melulu sama dengan apa yang kita mau. Semensta


juga memiliki caranya sendiri untuk bekerja. Manusia juga tidak selalu harus


ikut campur.

__ADS_1


__ADS_2