Mooneta High School

Mooneta High School
Antara Dimensi


__ADS_3


Tidak biasanya Chanwo mengatakan sesuatu secara


terang-terangan seperti ini. Dia bukan tipikal orang yang akan mengungkapkan perasaannya


secara gamblang. Banyak orang yang mengatakan jika pria itu terlalu kaku. Tidak


bisa dipungkiri. Ia memang begitu. Bahkan dirinya sendiri saja ikut mengakui


hal tersebut.



Mereka menghabiskan waktu di salah satu sisi kamp untuk


duduk berdua sembari menenangkan diri dari hiruk pikuk perkotaan yang tengah


ramai membludak akibat festival. Suasana kembali hening. Tepat setelah keduanya


membicarakan topik terakhir mereka terkait permainan bagus gadis itu tadi. Jangankan


memuji, mengakui sesuatu yang terlihat bagus saja ia tidak pernah sebelumnya.


Namun, untuk pertama kalinya Nhea berhasil mematahkan kebiasaan pria itu.



“Kau mau tahu satu hal?” tanya Chanwo.



“Tidak terlalu penting memang. Sebenarnya juga tidak ada


sangkut pautnya denganmu,” jelasnya kemudian.



“Lalu, untuk apa jika aku tahu?” tanya Nhea balik.



“Karena ini bukan sesuatu yang bisa diprivasikan dari siapa


pun,” jawab pria itu dengan apa adanya.



Mendengar jawaban seperti itu, Nhea hanya bisa


mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Entah


sudah yang keberapa kali Nhea melakukan hal serupa dalam hari ini saja.



“Kalau begitu, hal macam apa itu?” tanya Nhea secara


gamblang. Dia tidak benar-benar ingin tahu. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa


penasarannya.



“Aku bukanlah seseorang yang suka diatur oleh orang lain.


Karena biasanya, aku yang mengatur. Tapi, semenjak tinggal di sini bersama


kalian, aku belajar banyak hal. Harus ku akui jika aku sudah banyak berubah


sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini,” jelas Chanwo dengan


panjang lebar.



Dia tidak merasa keberatan sama sekli jika disuruh berbicara


panjang lebar seperti ini. Bahkan, pria itu pasti akan melakukannya dengan


senang hati. Tidak ada paksaan sama sekali dalam melakukannya. Karena memang


dari awal tujuannya sudah seperti itu. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu


bersama Nhea. Tidak perlu sampai menjadi seorang sahabat jika tidak bisa.


Minimal sebatas teman saja sudah lebih dari cukup.



Mereka berdu adalah insan yang saling kesepian. Bukan bisa


bertahan satu atau dua bulan saja mereka dalam belenggu rasa sunyi. Melainkan


nyaris dari seluruh sisa hidup yang telah mereka jalani. Jangan salahkan Nhea


atau Chanwo jika mereka memiliki kepribadian yang  aneh seperti sekarang. Itu bukan kesalahan


mereka sepenuhnya. Situasi yang mendewasakan sebagian orang dengan bantuan


semesta.



“Jadi, kau merasa dirimu berubah dan itu menjadi versi yang


jauh lebih baik dari pada sebelumnya, begitu bukan?” tanya Nhea sekali lagi

__ADS_1


untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.



“Tepat sekali!” balas Chanwo dengan antusias.



“Sesekali kau harus mencoba untuk bertahan hidup di


lingkungan yang berbeda dengan yang kau jalani selama ini. Aku bisa menjamin,


jika akan banyak pelajaran soal hidup yang kau dapatkan,” saran pria itu


kemudian.



“Semakin banyak bertemu dengan orang baru, maka bukan hanya


wawasanmu saja yang bertambah luas. Tapi, juga sudut pandangmu dalam melihat


sesuatu akan mengalami hal serupa,” timpalnya di akhir penjelasan.



Gadis itu tampak mendengarkan dengan seksama sejak tadi.


Entah dia memang benar-benar menyimak setiap perkataan yang terlontar dari


mulut Chanwo, atau hanya memasang ekspresi sok serius saja. Apa pun itu, tidak


penting untuk dibahas sekarang.



“Sebenarnya, aku juga telah menjalani kehidupan yang berbeda


setelah pertama kali memasuki gerbang akademi,” ungkap gadis itu secar


terang-terangan.



Kali ini ia tidak takut lagi untuk menyatakan pendapatnya


kepada orang lain. Menurutnya, selagi tidak salah tidak apa.



Chanwo bukanlah seseorang yang harus ia hindari. Sebenarnya,


Nhea bisa berbicara apa saja kepada siapa saja. Selama tidak mengganggu atau


bahkan membongkar privasinya sendiri.



kelihatan sama saja dan nyaris tak ada perbedaan sama sekali,” paparnya secara


singkat.



“Dunia manusia dan dimensi ini?” gumam Chanwo sambil


mengerutkan dahinya.



Kedua alis pria itu tampak saling bertautan satu sama lain.


Cukup untuk mengisyaratkan jika ia sedang kebingungan kali ini. Otaknya sedang


berusaha untuk mencerna setiap hal yang terjadi.



“Jangan biilang jika kau tidak tahu soal itu,” tuduh Nhea.



“Maksudmu, kehidupan yang sedang kita jalani saat ini


bukanlah satu-satunya kehidupan yang ada di alam semesta?” tanya Chanwo untuk


meluruskan keraguannya.



Pernyataan dari gadis itu tadi masih terasa cukup simpang


siur baginya. Tidak ada yang benar-benar jelas.



“Tentu saja begitu!” balas Nhea dengan semangat. Ia


membenarkan perkataan Chanwo yang sebelumnya.



“Lagipula, apa yang membuatmu berpikir jika kehidupan yang


sedang aku, kau dan kita semua jalani pada saat ini benar-benar nyata?” tanya


Nhea lagi.

__ADS_1



Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu berhasil membuat


Chanwo berpikir keras untuk sesuatu yang tidak pernah bisa ia bayangkan


sebelumnya. Belum ada permasalahan serupa sejauh ini. Sehingga, Chanwo belum


bisa berbuat banyak.



“Memangnya, dimana lagi aku bisa menemukan kehidupan selain


di sini?” tanya Chanwo dengan nada bicara seperti sedikit mendumal.



“Mustahil!” sarkasnya.



Sepertinya Chanwo belum bisa benar-benar menerima pernyataan


yang diungkapkan oleh gadis ini tadi. Jangankan setuju, percaya saja tidak.


Sulit memang untuk mengatasi masalah perbedaan pendapat seperti ini. Mereka harus


bisa menyelesaikan sesuatu yang tidak pernah direncanakan untuk menjadi masalah


sebelumnya.



“Jadi, kau tidak percaya dengan perkataanku barusan?” tanya


Nhea sambil menaikkan salah satu alisnya.



“Kurasa kau sudah tahu apa jawabanku,” balasnya.



Gadis itu menghela napasnya. Kemudian tubuhnya ia sandarkan


ke salah satu sisi permukaan tembok. Masih cukup kuat untuk menopang tubuhnya


dan Chanwo jika ia mau. Bagian dalam kamp tidak seutuhnya terbuat dari tenda


biasa. Ada juga pondasi khusus dan beberapa pilar yang disiapkan untuk menopang


kamp.



“Jadi, apa yang harus kulakukan agar kau pecaya?” tanya Nhea


sekali lagi.



“Berikan aku bukti jika memang ada kehidupan lain selain di


dimensi ini,” jawab Chanwo dengan begitu yakin.



“Baiklah!” jawab Nhea dengan ekspresi yang tidak kalah


meyakinkannya.



“Tapi, percuma saja,” gumamnya kemudian.



“Aku tidak akan bisa menunjukkan dunia itu kepadamu untuk


sementara waktu. Karena, sampai sekarang saja aku belum bisa kembali ke dunia


manusia. Padahal aku sangat ingin hidup dengan normal. Bukan kehidupan seperti


ini yang kuharapkan,” jelasnya dengan panjang lebar.



Chanwo mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Padahal,


sebelumnya ia selalu menyoroti pintu keluar. Memastikan apakah ada orang yang


menguping pembicaraan tidak penting mereka atau tidak.



“Kau berasal dari sana?”



Kali ini giliran Chanwo yang bertanya. Gadis itu sudah


terlalu banyak mengajukan pertanyaan sejak tadi.



Nhea mengangguk singkat untuk mengiyakan perkataan pria itu

__ADS_1


barusan. Kebiasaaannya memang begitu setiap kali ditanya. Seperti tidak ada


jawaban lain saja.


__ADS_2