
Tidak biasanya Chanwo mengatakan sesuatu secara
terang-terangan seperti ini. Dia bukan tipikal orang yang akan mengungkapkan perasaannya
secara gamblang. Banyak orang yang mengatakan jika pria itu terlalu kaku. Tidak
bisa dipungkiri. Ia memang begitu. Bahkan dirinya sendiri saja ikut mengakui
hal tersebut.
Mereka menghabiskan waktu di salah satu sisi kamp untuk
duduk berdua sembari menenangkan diri dari hiruk pikuk perkotaan yang tengah
ramai membludak akibat festival. Suasana kembali hening. Tepat setelah keduanya
membicarakan topik terakhir mereka terkait permainan bagus gadis itu tadi. Jangankan
memuji, mengakui sesuatu yang terlihat bagus saja ia tidak pernah sebelumnya.
Namun, untuk pertama kalinya Nhea berhasil mematahkan kebiasaan pria itu.
“Kau mau tahu satu hal?” tanya Chanwo.
“Tidak terlalu penting memang. Sebenarnya juga tidak ada
sangkut pautnya denganmu,” jelasnya kemudian.
“Lalu, untuk apa jika aku tahu?” tanya Nhea balik.
“Karena ini bukan sesuatu yang bisa diprivasikan dari siapa
pun,” jawab pria itu dengan apa adanya.
Mendengar jawaban seperti itu, Nhea hanya bisa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Entah
sudah yang keberapa kali Nhea melakukan hal serupa dalam hari ini saja.
“Kalau begitu, hal macam apa itu?” tanya Nhea secara
gamblang. Dia tidak benar-benar ingin tahu. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa
penasarannya.
“Aku bukanlah seseorang yang suka diatur oleh orang lain.
Karena biasanya, aku yang mengatur. Tapi, semenjak tinggal di sini bersama
kalian, aku belajar banyak hal. Harus ku akui jika aku sudah banyak berubah
sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini,” jelas Chanwo dengan
panjang lebar.
Dia tidak merasa keberatan sama sekli jika disuruh berbicara
panjang lebar seperti ini. Bahkan, pria itu pasti akan melakukannya dengan
senang hati. Tidak ada paksaan sama sekali dalam melakukannya. Karena memang
dari awal tujuannya sudah seperti itu. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu
bersama Nhea. Tidak perlu sampai menjadi seorang sahabat jika tidak bisa.
Minimal sebatas teman saja sudah lebih dari cukup.
Mereka berdu adalah insan yang saling kesepian. Bukan bisa
bertahan satu atau dua bulan saja mereka dalam belenggu rasa sunyi. Melainkan
nyaris dari seluruh sisa hidup yang telah mereka jalani. Jangan salahkan Nhea
atau Chanwo jika mereka memiliki kepribadian yang aneh seperti sekarang. Itu bukan kesalahan
mereka sepenuhnya. Situasi yang mendewasakan sebagian orang dengan bantuan
semesta.
“Jadi, kau merasa dirimu berubah dan itu menjadi versi yang
jauh lebih baik dari pada sebelumnya, begitu bukan?” tanya Nhea sekali lagi
__ADS_1
untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.
“Tepat sekali!” balas Chanwo dengan antusias.
“Sesekali kau harus mencoba untuk bertahan hidup di
lingkungan yang berbeda dengan yang kau jalani selama ini. Aku bisa menjamin,
jika akan banyak pelajaran soal hidup yang kau dapatkan,” saran pria itu
kemudian.
“Semakin banyak bertemu dengan orang baru, maka bukan hanya
wawasanmu saja yang bertambah luas. Tapi, juga sudut pandangmu dalam melihat
sesuatu akan mengalami hal serupa,” timpalnya di akhir penjelasan.
Gadis itu tampak mendengarkan dengan seksama sejak tadi.
Entah dia memang benar-benar menyimak setiap perkataan yang terlontar dari
mulut Chanwo, atau hanya memasang ekspresi sok serius saja. Apa pun itu, tidak
penting untuk dibahas sekarang.
“Sebenarnya, aku juga telah menjalani kehidupan yang berbeda
setelah pertama kali memasuki gerbang akademi,” ungkap gadis itu secar
terang-terangan.
Kali ini ia tidak takut lagi untuk menyatakan pendapatnya
kepada orang lain. Menurutnya, selagi tidak salah tidak apa.
Chanwo bukanlah seseorang yang harus ia hindari. Sebenarnya,
Nhea bisa berbicara apa saja kepada siapa saja. Selama tidak mengganggu atau
bahkan membongkar privasinya sendiri.
kelihatan sama saja dan nyaris tak ada perbedaan sama sekali,” paparnya secara
singkat.
“Dunia manusia dan dimensi ini?” gumam Chanwo sambil
mengerutkan dahinya.
Kedua alis pria itu tampak saling bertautan satu sama lain.
Cukup untuk mengisyaratkan jika ia sedang kebingungan kali ini. Otaknya sedang
berusaha untuk mencerna setiap hal yang terjadi.
“Jangan biilang jika kau tidak tahu soal itu,” tuduh Nhea.
“Maksudmu, kehidupan yang sedang kita jalani saat ini
bukanlah satu-satunya kehidupan yang ada di alam semesta?” tanya Chanwo untuk
meluruskan keraguannya.
Pernyataan dari gadis itu tadi masih terasa cukup simpang
siur baginya. Tidak ada yang benar-benar jelas.
“Tentu saja begitu!” balas Nhea dengan semangat. Ia
membenarkan perkataan Chanwo yang sebelumnya.
“Lagipula, apa yang membuatmu berpikir jika kehidupan yang
sedang aku, kau dan kita semua jalani pada saat ini benar-benar nyata?” tanya
Nhea lagi.
__ADS_1
Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu berhasil membuat
Chanwo berpikir keras untuk sesuatu yang tidak pernah bisa ia bayangkan
sebelumnya. Belum ada permasalahan serupa sejauh ini. Sehingga, Chanwo belum
bisa berbuat banyak.
“Memangnya, dimana lagi aku bisa menemukan kehidupan selain
di sini?” tanya Chanwo dengan nada bicara seperti sedikit mendumal.
“Mustahil!” sarkasnya.
Sepertinya Chanwo belum bisa benar-benar menerima pernyataan
yang diungkapkan oleh gadis ini tadi. Jangankan setuju, percaya saja tidak.
Sulit memang untuk mengatasi masalah perbedaan pendapat seperti ini. Mereka harus
bisa menyelesaikan sesuatu yang tidak pernah direncanakan untuk menjadi masalah
sebelumnya.
“Jadi, kau tidak percaya dengan perkataanku barusan?” tanya
Nhea sambil menaikkan salah satu alisnya.
“Kurasa kau sudah tahu apa jawabanku,” balasnya.
Gadis itu menghela napasnya. Kemudian tubuhnya ia sandarkan
ke salah satu sisi permukaan tembok. Masih cukup kuat untuk menopang tubuhnya
dan Chanwo jika ia mau. Bagian dalam kamp tidak seutuhnya terbuat dari tenda
biasa. Ada juga pondasi khusus dan beberapa pilar yang disiapkan untuk menopang
kamp.
“Jadi, apa yang harus kulakukan agar kau pecaya?” tanya Nhea
sekali lagi.
“Berikan aku bukti jika memang ada kehidupan lain selain di
dimensi ini,” jawab Chanwo dengan begitu yakin.
“Baiklah!” jawab Nhea dengan ekspresi yang tidak kalah
meyakinkannya.
“Tapi, percuma saja,” gumamnya kemudian.
“Aku tidak akan bisa menunjukkan dunia itu kepadamu untuk
sementara waktu. Karena, sampai sekarang saja aku belum bisa kembali ke dunia
manusia. Padahal aku sangat ingin hidup dengan normal. Bukan kehidupan seperti
ini yang kuharapkan,” jelasnya dengan panjang lebar.
Chanwo mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Padahal,
sebelumnya ia selalu menyoroti pintu keluar. Memastikan apakah ada orang yang
menguping pembicaraan tidak penting mereka atau tidak.
“Kau berasal dari sana?”
Kali ini giliran Chanwo yang bertanya. Gadis itu sudah
terlalu banyak mengajukan pertanyaan sejak tadi.
Nhea mengangguk singkat untuk mengiyakan perkataan pria itu
__ADS_1
barusan. Kebiasaaannya memang begitu setiap kali ditanya. Seperti tidak ada
jawaban lain saja.