Mooneta High School

Mooneta High School
Done


__ADS_3

Situasinya semakin tak terkendali. Sama sekali tidak ada


yang mengira jika akan menjadi seperti ini pada akhirnya. Eun Ji Hae sudah


hampir kewalahan menghadapi naga itu. Dia terlalu kuat untuk menjadi lawan yang


seimbang bagi gadis itu. Sang anaga bisa menang dengan mudah jika begini


caranya.


Eun Ji Hae sudah tidak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk


menenangkan mahluk itu. Ia bahkan tidak berniat untuk menyerangnya balik. Eun


Ji Hae hanya bisa menghindar. Itu adalah satu-satunya cara terbaik sejauh ini.


Naga itu telah menyerang secara brutal. Ia berubah menjadi


ganas dan membabi buta hanya dalam hitungan menit. Padahal tidak ada yang


mengusiknya sama sekali. Bahkan ia terlihat jauh lebih tempramen dari pada


Wilson sekalipun.


Eun Ji Hae terbang dengan sudut sembilan puluh derajat ke


atas, kemudian secara tajam menungkik ke bawah. Ia sengaja mengubah arah


secepat kilat. Ini merupakan salah satu dari trik manipulasi. Untuk pertama


kalinya ia melakukan hal ekstrem seperti ini. Adrenalinnya benar-benar diuji.


Rencananya berhasil. Naga itu kehilangan kendali atas


dirinya sendiri hingga ia terbang melayang di angkasa dengan arah yang tak


menentu.


“Buat perangkapnya cepat!” seru Eun Ji Hae dari ketinggian.


Ia hampir mendaratkan kakinya di tepi danau.


“Kalian, buatlah naga itu tetap tertahan di sana!” ujar


Oliver.


“Kunci pergerakannya!” timpal gadis itu.


Bagaimanapun, mereka tetap harus menenangkan naga itu sampai


yang lainnya selesai membuat portal yang berupa pintu gerbang. Ia tidak akan


bisa pergi kemana-mana sampai pintu tersebut kembali terbuka.


Lebih dari dua puluh orang terlibat dalam proses mengikat


naga tersebut. Setelah merasa aman, mereka langsung kembali menceburkannya ke


dalam danau.


‘BAMM!!!’


Tubuh sang naga yang tak main-main besarnya, menghantam


permukaan air sehingga menciptakan suara debaman yang cukup keras. Selain itu,


terjadi gelombang singkat pada air danau. Bahkan tanah di sekitarnya ikut


terasa bergetar pelan.


Semua mata yang ada di sana hanya tertuju kepada sang naga


sambil harap-harap cemas. Pasalnya, jika sampai naga itu lepas lagi, maka


tamatkah sudah riwayat mereka. Tapi untungnya, hal tersebut tidak terjadi.


Mereka benar-benar handal sehinggal bisa diandalkan untuk situasi seperti ini.


Portalnya juga telah selesai dalam waktu yang terbilang


cukup singkat. Mereka adalah formasi yang tepat untuk menghimpun kekuatan


seperti ini. Jika ada pihak lain yang ingin melawan Mooneta, maka bisa


dipastikan jika mereka adalah pemenangnya. Tidak ada seorang pun yang bisa


memungkiri potensi besar yang terselip di dalam diri mereka masing-masing.


Mereka adalah orang yang tepat.


‘SYUTT!!!’


Secara mengejutkan, tiba-tiba seekor phoenix jatuh dengan


sayap yang tak lagi bisa berfungsi dengan sempurna. Memangnya siapa lagi jika


bukan Eun Ji Hae. Beruntung Bibi Ga Eun berhasil menangkapnya. Sehingga tubuh


gadis itu tak sempat menyentuh permukaan tanah. Eun Ji Hae terkulai lemas di


atas pangkuan Bibi Ga Eun. Ia bahkan sudah tidak sadarkan diri lagi. Tidak ada


tenaga yang tersisa di dalam dirinya untuk saat ini. Sampai untuk membuka mata


saja rasanya sulit.


“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Vallery yang tampak

__ADS_1


panik.


Wilson juga memiliki kadar panik yang sama. Hanya saja pria


itu memang kurang pandai untuk mengekspresikan perasaannya dengan baik.


Sehingga, orang-orang di sekitarnya akan merasa kesulitan untuk menebak apa isi


hatinya.


Bibi Ga Eun menepuk-nepuk pipi Eun Ji Hae dengan pelan. Ia


berusaha untuk mengembalikan kesadarn gadis itu. Tapi, usahanya tetap saja


tidak membuahkan hasil apa pun sejauh ini. Meski begitu, mereka tidak putus


asa. Segala cara akan mereka lakukan untuk menyelamatkan gadis ini. Lagi pula,


kecelakaan ini terjadi karena mereka tidak mendengarkan perkataan Eun Ji Hae.


Padahal, gadis itu telah mengingatkan mereka soal bahaya yang sedang mengintai


jauh di bawah sana.


Setelah kepergian Ify dan banyak lagi hal buruk yang terjadi


sehingga menyebabkan mereka harus kehilangan salah satu dari anggota Mooneta,


tidak ada lagi yang ingin hal serupa terulang untuk yang kesekian kalinya. Musim


ini sudah terlalu banyak bencana yang menimpa. Mereka telah mengalami terlalu


banyak kepergian. Bahkan untuk menangisi yang sudah pergi saja tidak bisa.


Bukan karena tidak mau, melainkan karena sudah mati rasa. Itu adalah alasan


yang sebenarnya.


Untung saja tak lama kemudian gadis itu segera siuman. Ia hanya


kelelahan. Tidak ada kondisi serius yang perlu dikhawatirkan. Eun Ji Hae


baik-baik saja sejauh ini. Syukurlah tidak ada hal buruk yang menimpanya.


Bibi Ga Eun membantu gadis itu untuk bangkit dari posisinya


saat ini. Ia perlu menghirup udara segar dan memenuhi setiap biliki


paru-parunya dengan oksigen. Pasti terasa cukup melelahkan baginya. Meski ia


hanya terbang di angkasa. Hal itu tak berarti jika kau akan selalu memiliki


banyak cadangan energi di atas sana.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Bibi Ga Eun.


Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai


sejauh ini. Eun Ji Hae harus tetap menyimpan sisa tenanganya yang sudah tidak


banyak itu sampai mereka tiba di Reodal. Gadis itu sudah kehilangan terlalu


banyak tenaga.


Eun Ji Hae memutuskan untuk langsung beranjak dari tempatnya


pada saat itu. Dengan sigap ia berdiri, kemudian merapihkan kembali pakaiannya.


Tak lupa ia juga membersihkan sisa es yang menempel di roknya. Ia bersikap


seolah tidak ada apa-apa. Yang barusan sama sekali tidak pernah terjadi


baginya. Bagaimana bisa ia melupakan hal tersebut dengan begitu cepat.


“Sebaiknya kita bergegas pergi dari sini secepat mungkin


sebelum portalnya kembali terbuka,” ujar Eun Ji Hae.


“Baiklah!” balas Bibi Ga Eun yang kemudian ikut diangguki


oleh yang lainnya.


Sekarang semua orang telah memihak kepada Eun Ji Hae. ia


berhasil mempengaruhi pikiran semua orang secara tidak langsung atas kejadian


barusan. Asumsi jika danau itu berbahaya bukan hanya sebatas omong kosong. Semuanya


telah terbukti. Tidak ada alasan lagi untuk tetap menyebrangi danau. Lagi pula


lapisan esnya sudah hancur berantakan akibat amukan sang naga.


Untuk pertama kalinya dalam hari ini, mereka semua setuju


dengan usul Eun Ji Hae. Menurut mereka, saran dari gadis itu masih menjadi yang


terbaik sejauh ini.


Para tetua kembali ke dalam rombongan. Kini mereka tidak


terpecah belah menjadi dua bagian lagi. satu sisi pro dan yang lainnya kontra.  Semua orang telah memutuskan untuk tetap


melanjutkan perjalanan melalui jalan darat. Mereka akan menyusuri tepi danau


yang mengarah langsung pada sebuah hutan. Perjalanannya tidak akan berakhir sampai


di situ saja. Masih panjang lagi. Oleh sebab itu, jika ingin cepat sampai maka

__ADS_1


mereka harus bergerak dengan cepat. Bukannya malah memutar otak untuk mencari


jalan pintas tanpa memikirkan konsekuensinya sama sekali.


Belakangan ini Eun Ji Hae memang selalu mencuri perhatian


semua orang. Ia cukup banyak membantu dalam kejadian buruk yang terus terjadi


beberapa hari ini. Malah, ia adalah orang yang paling sibuk. Eun Ji Hae bahkan


sampai merelakan jam tidurnya untuk mencari jalan keluar dari semua


permasalahan yang ada.


Salju abadi adalah akar dari semua permasalahan itu. Setiap bencara


baru yang datang, pasti jika diusut sampai tuntas akan berakhir pada salju


abadi. Tapi yang menjadi permasalahannya di sini adalah, mereka sama sekali


tidak bisa mengatasi atau bahkan menghilangkan salju abadi. Mereka sudah


melakukan berbagai macam cara, tapi tetap saja hasilnya nihil.


Salju abadi adalah kutukan yang terkenal paling kuat dan


tidak bisa dipatahkan dengan begitu saja. Sebab, ia berasal dari dendam sang


ratu yang tak kunjung selesai sampai ujung hidupnya. Meski beberapa buku pernah


menyebutkan tentang cara untuk mematahkan kutukan tersebut, tapi tetap saja


tidak ada satupun orang yang mau untuk mencobanya. Mereka terlalu takut, bahkan


sebelum memulai. Mendapatkan bahan ramuannya tidak semudah yang dibayangkan.


Nyawa mereka akan dipertaruhkan untuk hal tersebut.


***


Seperti biasanya, Hwang Ji Na selalu berada di dekat pria


itu. Ia akan merasa aman jika bersama Chanwo. Hanya pria itu yang bisa


melindunginya sejauh ini. Mereka berdua selalu berjalan beriringan sejak


pertama kali keluar dari dalam sekolah. Keduanya bahkan tidak butuh griffin


untuk sampai ke bawah. Keduanya lompat begitu saja dan berjalan di atas


tumpukan salju abadi tanpa mengenal ras takut sedikit pun. Sebab, mereka tahu


jika salju abadi sama sekali tidak akan memiliki pengeruh terhadap mahluk


selain manusia.


“Padahal kemarin, aku baru saja sampai di sekolah itu. Tapi,


sekarang aku sudah harus melakukan perjalanan panjang lagi,” celoteh Hwang Ji


Na.


Gadis itu menggerutu sebab ia mulai merasa kelelahan. Ia tak


yakin jika kakinya bisa bertahan sampai mereka tiba di Reodal. Hwang Ji Na


telah melakukan beberapa perjalanan panjang yang membuatnya kewalahan.


Sementara itu, Chanwo yang mendengarnya hanya bisa


menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan


kelakukan gadis itu. Ternyata Hwang Ji Na bisa dua kali lebih berisik saat


tengah kelelahan. Bukannya menghemat energinya, ia malah menyia-nyiakan tenaganya


secara percuma.


“Chanwo!” sahut Hwang Ji Na. Gadis itu merasa kesal karena


Chanwo sama sekali tak berbuat sesuatu untuk membantunya.


“Ada apa?” balas Chanwo dengan nada datar.


“Apa kau tidak ingin menawarkan bantuan kepadaku?” tanya


gadis itu balik.


“Atau minimal menanyakan keadaanku saja itu sudah cukup!”


tukasnya.


Chanwo memang dikenal sebagai orang yang cukup dingin. Bahkan


terhadap keluarganya sendiri. Entah kenapa ia terlahir dengan sikap yang


berbeda. Beruntung Hwang Ji Na sudah cukup terbiasa dengan sikap pria itu. Jadi,


tidak perlu merasa heran lagi.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria itu secara gamblang.


Bukannya menjawab pertanyaan


dari Chanwo, gadis itu malah berdecak sebal sambil menghentak-hentakkan


kakinya. Seharusnya ia tidak melakukan hal tersebut sejak awal. Percuma saja,

__ADS_1


Chanwo tidak akan peduli kepadanya. Tidak sampai ia berhenti bernapas. Itupun kalau


memang benar jika Chanwo akan peduli. Jika tidak, maka berbeda lagi ceritanya.


__ADS_2