
Situasinya semakin tak terkendali. Sama sekali tidak ada
yang mengira jika akan menjadi seperti ini pada akhirnya. Eun Ji Hae sudah
hampir kewalahan menghadapi naga itu. Dia terlalu kuat untuk menjadi lawan yang
seimbang bagi gadis itu. Sang anaga bisa menang dengan mudah jika begini
caranya.
Eun Ji Hae sudah tidak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk
menenangkan mahluk itu. Ia bahkan tidak berniat untuk menyerangnya balik. Eun
Ji Hae hanya bisa menghindar. Itu adalah satu-satunya cara terbaik sejauh ini.
Naga itu telah menyerang secara brutal. Ia berubah menjadi
ganas dan membabi buta hanya dalam hitungan menit. Padahal tidak ada yang
mengusiknya sama sekali. Bahkan ia terlihat jauh lebih tempramen dari pada
Wilson sekalipun.
Eun Ji Hae terbang dengan sudut sembilan puluh derajat ke
atas, kemudian secara tajam menungkik ke bawah. Ia sengaja mengubah arah
secepat kilat. Ini merupakan salah satu dari trik manipulasi. Untuk pertama
kalinya ia melakukan hal ekstrem seperti ini. Adrenalinnya benar-benar diuji.
Rencananya berhasil. Naga itu kehilangan kendali atas
dirinya sendiri hingga ia terbang melayang di angkasa dengan arah yang tak
menentu.
“Buat perangkapnya cepat!” seru Eun Ji Hae dari ketinggian.
Ia hampir mendaratkan kakinya di tepi danau.
“Kalian, buatlah naga itu tetap tertahan di sana!” ujar
Oliver.
“Kunci pergerakannya!” timpal gadis itu.
Bagaimanapun, mereka tetap harus menenangkan naga itu sampai
yang lainnya selesai membuat portal yang berupa pintu gerbang. Ia tidak akan
bisa pergi kemana-mana sampai pintu tersebut kembali terbuka.
Lebih dari dua puluh orang terlibat dalam proses mengikat
naga tersebut. Setelah merasa aman, mereka langsung kembali menceburkannya ke
dalam danau.
‘BAMM!!!’
Tubuh sang naga yang tak main-main besarnya, menghantam
permukaan air sehingga menciptakan suara debaman yang cukup keras. Selain itu,
terjadi gelombang singkat pada air danau. Bahkan tanah di sekitarnya ikut
terasa bergetar pelan.
Semua mata yang ada di sana hanya tertuju kepada sang naga
sambil harap-harap cemas. Pasalnya, jika sampai naga itu lepas lagi, maka
tamatkah sudah riwayat mereka. Tapi untungnya, hal tersebut tidak terjadi.
Mereka benar-benar handal sehinggal bisa diandalkan untuk situasi seperti ini.
Portalnya juga telah selesai dalam waktu yang terbilang
cukup singkat. Mereka adalah formasi yang tepat untuk menghimpun kekuatan
seperti ini. Jika ada pihak lain yang ingin melawan Mooneta, maka bisa
dipastikan jika mereka adalah pemenangnya. Tidak ada seorang pun yang bisa
memungkiri potensi besar yang terselip di dalam diri mereka masing-masing.
Mereka adalah orang yang tepat.
‘SYUTT!!!’
Secara mengejutkan, tiba-tiba seekor phoenix jatuh dengan
sayap yang tak lagi bisa berfungsi dengan sempurna. Memangnya siapa lagi jika
bukan Eun Ji Hae. Beruntung Bibi Ga Eun berhasil menangkapnya. Sehingga tubuh
gadis itu tak sempat menyentuh permukaan tanah. Eun Ji Hae terkulai lemas di
atas pangkuan Bibi Ga Eun. Ia bahkan sudah tidak sadarkan diri lagi. Tidak ada
tenaga yang tersisa di dalam dirinya untuk saat ini. Sampai untuk membuka mata
saja rasanya sulit.
“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Vallery yang tampak
__ADS_1
panik.
Wilson juga memiliki kadar panik yang sama. Hanya saja pria
itu memang kurang pandai untuk mengekspresikan perasaannya dengan baik.
Sehingga, orang-orang di sekitarnya akan merasa kesulitan untuk menebak apa isi
hatinya.
Bibi Ga Eun menepuk-nepuk pipi Eun Ji Hae dengan pelan. Ia
berusaha untuk mengembalikan kesadarn gadis itu. Tapi, usahanya tetap saja
tidak membuahkan hasil apa pun sejauh ini. Meski begitu, mereka tidak putus
asa. Segala cara akan mereka lakukan untuk menyelamatkan gadis ini. Lagi pula,
kecelakaan ini terjadi karena mereka tidak mendengarkan perkataan Eun Ji Hae.
Padahal, gadis itu telah mengingatkan mereka soal bahaya yang sedang mengintai
jauh di bawah sana.
Setelah kepergian Ify dan banyak lagi hal buruk yang terjadi
sehingga menyebabkan mereka harus kehilangan salah satu dari anggota Mooneta,
tidak ada lagi yang ingin hal serupa terulang untuk yang kesekian kalinya. Musim
ini sudah terlalu banyak bencana yang menimpa. Mereka telah mengalami terlalu
banyak kepergian. Bahkan untuk menangisi yang sudah pergi saja tidak bisa.
Bukan karena tidak mau, melainkan karena sudah mati rasa. Itu adalah alasan
yang sebenarnya.
Untung saja tak lama kemudian gadis itu segera siuman. Ia hanya
kelelahan. Tidak ada kondisi serius yang perlu dikhawatirkan. Eun Ji Hae
baik-baik saja sejauh ini. Syukurlah tidak ada hal buruk yang menimpanya.
Bibi Ga Eun membantu gadis itu untuk bangkit dari posisinya
saat ini. Ia perlu menghirup udara segar dan memenuhi setiap biliki
paru-parunya dengan oksigen. Pasti terasa cukup melelahkan baginya. Meski ia
hanya terbang di angkasa. Hal itu tak berarti jika kau akan selalu memiliki
banyak cadangan energi di atas sana.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Bibi Ga Eun.
Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai
sejauh ini. Eun Ji Hae harus tetap menyimpan sisa tenanganya yang sudah tidak
banyak itu sampai mereka tiba di Reodal. Gadis itu sudah kehilangan terlalu
banyak tenaga.
Eun Ji Hae memutuskan untuk langsung beranjak dari tempatnya
pada saat itu. Dengan sigap ia berdiri, kemudian merapihkan kembali pakaiannya.
Tak lupa ia juga membersihkan sisa es yang menempel di roknya. Ia bersikap
seolah tidak ada apa-apa. Yang barusan sama sekali tidak pernah terjadi
baginya. Bagaimana bisa ia melupakan hal tersebut dengan begitu cepat.
“Sebaiknya kita bergegas pergi dari sini secepat mungkin
sebelum portalnya kembali terbuka,” ujar Eun Ji Hae.
“Baiklah!” balas Bibi Ga Eun yang kemudian ikut diangguki
oleh yang lainnya.
Sekarang semua orang telah memihak kepada Eun Ji Hae. ia
berhasil mempengaruhi pikiran semua orang secara tidak langsung atas kejadian
barusan. Asumsi jika danau itu berbahaya bukan hanya sebatas omong kosong. Semuanya
telah terbukti. Tidak ada alasan lagi untuk tetap menyebrangi danau. Lagi pula
lapisan esnya sudah hancur berantakan akibat amukan sang naga.
Untuk pertama kalinya dalam hari ini, mereka semua setuju
dengan usul Eun Ji Hae. Menurut mereka, saran dari gadis itu masih menjadi yang
terbaik sejauh ini.
Para tetua kembali ke dalam rombongan. Kini mereka tidak
terpecah belah menjadi dua bagian lagi. satu sisi pro dan yang lainnya kontra. Semua orang telah memutuskan untuk tetap
melanjutkan perjalanan melalui jalan darat. Mereka akan menyusuri tepi danau
yang mengarah langsung pada sebuah hutan. Perjalanannya tidak akan berakhir sampai
di situ saja. Masih panjang lagi. Oleh sebab itu, jika ingin cepat sampai maka
__ADS_1
mereka harus bergerak dengan cepat. Bukannya malah memutar otak untuk mencari
jalan pintas tanpa memikirkan konsekuensinya sama sekali.
Belakangan ini Eun Ji Hae memang selalu mencuri perhatian
semua orang. Ia cukup banyak membantu dalam kejadian buruk yang terus terjadi
beberapa hari ini. Malah, ia adalah orang yang paling sibuk. Eun Ji Hae bahkan
sampai merelakan jam tidurnya untuk mencari jalan keluar dari semua
permasalahan yang ada.
Salju abadi adalah akar dari semua permasalahan itu. Setiap bencara
baru yang datang, pasti jika diusut sampai tuntas akan berakhir pada salju
abadi. Tapi yang menjadi permasalahannya di sini adalah, mereka sama sekali
tidak bisa mengatasi atau bahkan menghilangkan salju abadi. Mereka sudah
melakukan berbagai macam cara, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Salju abadi adalah kutukan yang terkenal paling kuat dan
tidak bisa dipatahkan dengan begitu saja. Sebab, ia berasal dari dendam sang
ratu yang tak kunjung selesai sampai ujung hidupnya. Meski beberapa buku pernah
menyebutkan tentang cara untuk mematahkan kutukan tersebut, tapi tetap saja
tidak ada satupun orang yang mau untuk mencobanya. Mereka terlalu takut, bahkan
sebelum memulai. Mendapatkan bahan ramuannya tidak semudah yang dibayangkan.
Nyawa mereka akan dipertaruhkan untuk hal tersebut.
***
Seperti biasanya, Hwang Ji Na selalu berada di dekat pria
itu. Ia akan merasa aman jika bersama Chanwo. Hanya pria itu yang bisa
melindunginya sejauh ini. Mereka berdua selalu berjalan beriringan sejak
pertama kali keluar dari dalam sekolah. Keduanya bahkan tidak butuh griffin
untuk sampai ke bawah. Keduanya lompat begitu saja dan berjalan di atas
tumpukan salju abadi tanpa mengenal ras takut sedikit pun. Sebab, mereka tahu
jika salju abadi sama sekali tidak akan memiliki pengeruh terhadap mahluk
selain manusia.
“Padahal kemarin, aku baru saja sampai di sekolah itu. Tapi,
sekarang aku sudah harus melakukan perjalanan panjang lagi,” celoteh Hwang Ji
Na.
Gadis itu menggerutu sebab ia mulai merasa kelelahan. Ia tak
yakin jika kakinya bisa bertahan sampai mereka tiba di Reodal. Hwang Ji Na
telah melakukan beberapa perjalanan panjang yang membuatnya kewalahan.
Sementara itu, Chanwo yang mendengarnya hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan
kelakukan gadis itu. Ternyata Hwang Ji Na bisa dua kali lebih berisik saat
tengah kelelahan. Bukannya menghemat energinya, ia malah menyia-nyiakan tenaganya
secara percuma.
“Chanwo!” sahut Hwang Ji Na. Gadis itu merasa kesal karena
Chanwo sama sekali tak berbuat sesuatu untuk membantunya.
“Ada apa?” balas Chanwo dengan nada datar.
“Apa kau tidak ingin menawarkan bantuan kepadaku?” tanya
gadis itu balik.
“Atau minimal menanyakan keadaanku saja itu sudah cukup!”
tukasnya.
Chanwo memang dikenal sebagai orang yang cukup dingin. Bahkan
terhadap keluarganya sendiri. Entah kenapa ia terlahir dengan sikap yang
berbeda. Beruntung Hwang Ji Na sudah cukup terbiasa dengan sikap pria itu. Jadi,
tidak perlu merasa heran lagi.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria itu secara gamblang.
Bukannya menjawab pertanyaan
dari Chanwo, gadis itu malah berdecak sebal sambil menghentak-hentakkan
kakinya. Seharusnya ia tidak melakukan hal tersebut sejak awal. Percuma saja,
__ADS_1
Chanwo tidak akan peduli kepadanya. Tidak sampai ia berhenti bernapas. Itupun kalau
memang benar jika Chanwo akan peduli. Jika tidak, maka berbeda lagi ceritanya.