Mooneta High School

Mooneta High School
Scream


__ADS_3

Isi kepalanya terlalu berisik di tengah malam yang kian


sunyi. Hal tersebut sukses membuat Chanwo tidak bisa terlelap. Jangankan tidur.


Ketenangan saja tidak bisa ia dapatkan sejak tadi. Entah hal gila macam apa


yang sedang menghampirinya sekarang. Pria itu sama sekali tidak habis pikir.


Ia bangkit dari posisinya. Tubuhnya ia sandarkan ke salah


satu sisi tempat tidur. Semenjak tinggal di sini, ia mulai merubah total


kebiasan sehari-harinya. Mulai dari pola makan hingga jam tidur. Padahal


biasanya Chanwo masih tetap terjaga sampai jam segini. Seperti yang sudah


pernah disebutkan sebelumnya. Jika klan vampir termasuk kepada salah satu


mahluk yang lebih dominan di malam hari.


Mau tak mau Chanwo terpaksa mengubah jati dirinya ketika


berada di dalam akademi. Tinggal berdampingan dengan manusia bukan sesuatu yang


mudah. Tapi, ia berhasil melakukannya. Masih belum ada seorang pun yang merasa


curiga dengan pola tingkah laku pria ini. Mungkin hanya beberapa orang saja


yang sudah tahu siapa Chanwo sebenarnya. Ia juga tidak merasa terancam dengan


keberadaan mereka.


“Arrghhh!!!” Chanwo menggerutu sebal sambil mengacak-acak


rambutnya yang sudah berantakan sejak  awal.


Hal kecil seperti ini saja mampu memancing amarahnya.


Bagaimana jika sampai ada masalah besar yang terjadi. Mungkin ubun-ubunnya


sudah mendidih.


Pria itu menghela napas dengan kasar. Kedua bola matanya


bergerak cepat. Kini pandangannya beralih ke arah luar jendela. Meskipun tidak


ada yang bisa ia temukan di sana selain gelapnya malam, tapi Chanwo tetap


menatap langit malam tersebut dengan lekat. Seolah ada sesuatu yang begitu


menarik perhatiannya saat ini.


Asrama pria memang sedikit berbeda dengan asrama wanita.


Jika di asrama wanita mereka menempati satu kamar dengan berbagi bersama teman


yang lainnya, maka lain halnya dengan asrama pria. Hanya ada satu orang di


setiap kamarnya. Sehingga tidak perlu khawatir jika orang lain akan terganggu


karena kegiatan Chanwo pada tengah malam seperti ini.


“Sebenarnya, kenapa aku sampai tidak bisa tidur seperti


ini?” gumam pria itu.


Bagaimana bisa Chanwo mengajukan pertanyaan kepada dirinya


sendiri, sementata ia juga tidak tahu apa jawabannya.


Seharusnya ia beristirahat malam ini. Bukannya malah


begadang sampai fajar menyingsing. Ia butuh banyak energi untuk beraktivitas

__ADS_1


besok. Mengingat, pasokan energi terbesar nomer dua berasal dari jam tidur.


Bukan hanya makanan saja.


Tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi seperti ini,


Chanwo segera membaringkan tubuhnya lagi. Mencari posisi yang paling nyaman


menurutnya. Kemudian ia menarik selimutnya. Berusaha untuk kembali tidur lagi.


Entah dengan cara apa pun itu. Yang jelas ia tidak boleh terus terjaga


sepanjang malam.


Akhir-akhir ini memang sedang banyak orang yang mengalami


gangguan tidur. Bukan hanya Chanwo dan Nhea saja. Beberapa orang lainnya juga


mengalami hal serupa. Ada banyak cerita yang mereka dengar soal gangguan tidur


di meja makan.


Chanwo masih belum memejamkan matanya. Meski selimut sudah


ia tarik sampai sebatas dada. Kedua bola matanya kali ini menatap lurus ke arah


langit-langit ruangan. Kepalanya masih saja terasa berisik. Bagaimana ia bisa


tidur jika begini caranya. Chanwo perlu berdamai dengan dirinya sendiri


terlebih dahulu sebelum mencoba untuk kembali terlelap. Sebab ia tahu jika cara


apa pun tidak akan berhasil kecuali sebelum ia menenangkan isi kepalanya


terlebih dahulu.


“Mengapa mendadak perasaanku tidak enak seperti ini?” gumam


pria itu.


mengucapkan kalimat tersebut.


“Ah, sudahlah! Pasti hanya perasaanku saja,” acuhnya.


“Tidak aka nada hal buruk yang terjadi,” lanjutnya kemudian


menutup mata.


Namun, belum sempat ia merasakan nikmatnya tidur, sebuah


teriakan seorang wanita kembali mengejutkannya. Belum ada satu menit sejak ia


terakhir kali membuka matanya. Sontak Chanwo langsung beranjak dari tempat


tidurnya untuk memastikan sesuatu.


Klan vampir dibekali oleh indera pengelihatan, pendengaran,


serta penciuman yang cukup tajam. Mereka bisa jauh lebih peka dari pada anggota


klan lainnya. Seperti saat ini contohnya. Chanwo bisa menemukan dari mana


sumber suara tersebut berasal hanya dalam hitungan detik. Tidak perlu waktu


lama baginya. Ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan bagi orang seperti


dirinya.


Pria itu langsung berlari ke arah jendela. Ia yakin jika


dirinya tidak salah dengar. Suara yang baru saja ditangkap oleh kedua gendang


telinganya berasal dari gedung seberang. Ada dua kemungkinan yang bisa saja

__ADS_1


terjadi di sini. Pertama, suara tersebut berasal dari gedung utama. Yang kedua,


juga mungkin saja berasal dari gedung asrama wanita.


Mustahil jika suara tersebut berasal dari gedung sekolah.


Apalagi aula. Tempatnya terletak berjauhan dengan gedung asrama putra. Meski


masih tetap saja memungkinkan untuk di dengar oleh Chanwo. Tapi, jika


dipikir-pikir lagi tidak mungkin ada orang yang berkeliaran di gedung sekolah


pada tengah malam seperti ini. Kecuali jika ia memang memiliki niat lain.


Chanwo mengedarkan pandangannya di tepi jendela. Suasana


malam yang begitu sunyi membuat suara sekecil apa pun itu bisa terdengar dengan


jelas di telinganya. Bukan hanya telinga pria itu saja. Bahkan mungkin telinga


semua orang juga. Sama halnya seperti yang tengah terjadi saat ini. Tampaknya


bukan hanya Chanwo saja yang mendengar suara teriakan tersebut. Ada beberapa


orang yang merasakan hal serupa. Ia dapat mengetahuinya dari banyaknya jumlah


lentera yang menyala dari balik jendela kamar mereka.


“Siapa yang berteriak malam-malam begini?” gumam Chanwo


sambil harap-harap cemas. Semoga saja tidak terjadi apa-apa.


Suasana di asrama putri menjadi ramai seketika. Kini semua


lentera tampak menyala dengan terang. Sepertinya mereka semua sudah bangun dan


tak membiarkan satu sudut pun terlihat gelap. Entah apa yang sedang terjadi di


sana hingga menciptalan keributan di tengah malam seperti ini. Bukan waktu yang


tepat untuk bercanda.


“Hey!” sahut tetangga kamar Chanwo yang ternyata juga tengah


memantau dari jendela kamar miliknya.


Sementara itu, Chanwo sama sekali tidak memberikan reaksi


apa-apa. Dia hanya memalingkan pandangannya ke arah sumber suara.


“Apa yang sedang terjadi di asrama mereka?” tanya orang


tersebut.


“Tampaknya ada sesuatu yang cukup membuat heboh di sana,”


lanjutnya.


“Entahlah, aku juga tidak tahu!” balas Chanwo sambil


menggidikkan bahunya. Pertanda jika ia memang benar tak tahu.


“Omong-omong, apa kau sudah bangun sejak tadi?” tanya Chanwo


untuk memastikan.


“Tidak, aku baru saja terbangun karena suara teriakan itu,”


tepis pria tersebut.


Tidak bisa dipungkiri jika suara


teriakan tadi memang cukup keras dan mengganggu tentunya. Siapa pun pelakunya

__ADS_1


tadi, ia harus meminta maaf kepada semua orang besok. Karena dengan atau tanpa


ia sadari, dirinya telah membangunkan seisi akademi.


__ADS_2