
Isi kepalanya terlalu berisik di tengah malam yang kian
sunyi. Hal tersebut sukses membuat Chanwo tidak bisa terlelap. Jangankan tidur.
Ketenangan saja tidak bisa ia dapatkan sejak tadi. Entah hal gila macam apa
yang sedang menghampirinya sekarang. Pria itu sama sekali tidak habis pikir.
Ia bangkit dari posisinya. Tubuhnya ia sandarkan ke salah
satu sisi tempat tidur. Semenjak tinggal di sini, ia mulai merubah total
kebiasan sehari-harinya. Mulai dari pola makan hingga jam tidur. Padahal
biasanya Chanwo masih tetap terjaga sampai jam segini. Seperti yang sudah
pernah disebutkan sebelumnya. Jika klan vampir termasuk kepada salah satu
mahluk yang lebih dominan di malam hari.
Mau tak mau Chanwo terpaksa mengubah jati dirinya ketika
berada di dalam akademi. Tinggal berdampingan dengan manusia bukan sesuatu yang
mudah. Tapi, ia berhasil melakukannya. Masih belum ada seorang pun yang merasa
curiga dengan pola tingkah laku pria ini. Mungkin hanya beberapa orang saja
yang sudah tahu siapa Chanwo sebenarnya. Ia juga tidak merasa terancam dengan
keberadaan mereka.
“Arrghhh!!!” Chanwo menggerutu sebal sambil mengacak-acak
rambutnya yang sudah berantakan sejak awal.
Hal kecil seperti ini saja mampu memancing amarahnya.
Bagaimana jika sampai ada masalah besar yang terjadi. Mungkin ubun-ubunnya
sudah mendidih.
Pria itu menghela napas dengan kasar. Kedua bola matanya
bergerak cepat. Kini pandangannya beralih ke arah luar jendela. Meskipun tidak
ada yang bisa ia temukan di sana selain gelapnya malam, tapi Chanwo tetap
menatap langit malam tersebut dengan lekat. Seolah ada sesuatu yang begitu
menarik perhatiannya saat ini.
Asrama pria memang sedikit berbeda dengan asrama wanita.
Jika di asrama wanita mereka menempati satu kamar dengan berbagi bersama teman
yang lainnya, maka lain halnya dengan asrama pria. Hanya ada satu orang di
setiap kamarnya. Sehingga tidak perlu khawatir jika orang lain akan terganggu
karena kegiatan Chanwo pada tengah malam seperti ini.
“Sebenarnya, kenapa aku sampai tidak bisa tidur seperti
ini?” gumam pria itu.
Bagaimana bisa Chanwo mengajukan pertanyaan kepada dirinya
sendiri, sementata ia juga tidak tahu apa jawabannya.
Seharusnya ia beristirahat malam ini. Bukannya malah
begadang sampai fajar menyingsing. Ia butuh banyak energi untuk beraktivitas
__ADS_1
besok. Mengingat, pasokan energi terbesar nomer dua berasal dari jam tidur.
Bukan hanya makanan saja.
Tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi seperti ini,
Chanwo segera membaringkan tubuhnya lagi. Mencari posisi yang paling nyaman
menurutnya. Kemudian ia menarik selimutnya. Berusaha untuk kembali tidur lagi.
Entah dengan cara apa pun itu. Yang jelas ia tidak boleh terus terjaga
sepanjang malam.
Akhir-akhir ini memang sedang banyak orang yang mengalami
gangguan tidur. Bukan hanya Chanwo dan Nhea saja. Beberapa orang lainnya juga
mengalami hal serupa. Ada banyak cerita yang mereka dengar soal gangguan tidur
di meja makan.
Chanwo masih belum memejamkan matanya. Meski selimut sudah
ia tarik sampai sebatas dada. Kedua bola matanya kali ini menatap lurus ke arah
langit-langit ruangan. Kepalanya masih saja terasa berisik. Bagaimana ia bisa
tidur jika begini caranya. Chanwo perlu berdamai dengan dirinya sendiri
terlebih dahulu sebelum mencoba untuk kembali terlelap. Sebab ia tahu jika cara
apa pun tidak akan berhasil kecuali sebelum ia menenangkan isi kepalanya
terlebih dahulu.
“Mengapa mendadak perasaanku tidak enak seperti ini?” gumam
pria itu.
mengucapkan kalimat tersebut.
“Ah, sudahlah! Pasti hanya perasaanku saja,” acuhnya.
“Tidak aka nada hal buruk yang terjadi,” lanjutnya kemudian
menutup mata.
Namun, belum sempat ia merasakan nikmatnya tidur, sebuah
teriakan seorang wanita kembali mengejutkannya. Belum ada satu menit sejak ia
terakhir kali membuka matanya. Sontak Chanwo langsung beranjak dari tempat
tidurnya untuk memastikan sesuatu.
Klan vampir dibekali oleh indera pengelihatan, pendengaran,
serta penciuman yang cukup tajam. Mereka bisa jauh lebih peka dari pada anggota
klan lainnya. Seperti saat ini contohnya. Chanwo bisa menemukan dari mana
sumber suara tersebut berasal hanya dalam hitungan detik. Tidak perlu waktu
lama baginya. Ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan bagi orang seperti
dirinya.
Pria itu langsung berlari ke arah jendela. Ia yakin jika
dirinya tidak salah dengar. Suara yang baru saja ditangkap oleh kedua gendang
telinganya berasal dari gedung seberang. Ada dua kemungkinan yang bisa saja
__ADS_1
terjadi di sini. Pertama, suara tersebut berasal dari gedung utama. Yang kedua,
juga mungkin saja berasal dari gedung asrama wanita.
Mustahil jika suara tersebut berasal dari gedung sekolah.
Apalagi aula. Tempatnya terletak berjauhan dengan gedung asrama putra. Meski
masih tetap saja memungkinkan untuk di dengar oleh Chanwo. Tapi, jika
dipikir-pikir lagi tidak mungkin ada orang yang berkeliaran di gedung sekolah
pada tengah malam seperti ini. Kecuali jika ia memang memiliki niat lain.
Chanwo mengedarkan pandangannya di tepi jendela. Suasana
malam yang begitu sunyi membuat suara sekecil apa pun itu bisa terdengar dengan
jelas di telinganya. Bukan hanya telinga pria itu saja. Bahkan mungkin telinga
semua orang juga. Sama halnya seperti yang tengah terjadi saat ini. Tampaknya
bukan hanya Chanwo saja yang mendengar suara teriakan tersebut. Ada beberapa
orang yang merasakan hal serupa. Ia dapat mengetahuinya dari banyaknya jumlah
lentera yang menyala dari balik jendela kamar mereka.
“Siapa yang berteriak malam-malam begini?” gumam Chanwo
sambil harap-harap cemas. Semoga saja tidak terjadi apa-apa.
Suasana di asrama putri menjadi ramai seketika. Kini semua
lentera tampak menyala dengan terang. Sepertinya mereka semua sudah bangun dan
tak membiarkan satu sudut pun terlihat gelap. Entah apa yang sedang terjadi di
sana hingga menciptalan keributan di tengah malam seperti ini. Bukan waktu yang
tepat untuk bercanda.
“Hey!” sahut tetangga kamar Chanwo yang ternyata juga tengah
memantau dari jendela kamar miliknya.
Sementara itu, Chanwo sama sekali tidak memberikan reaksi
apa-apa. Dia hanya memalingkan pandangannya ke arah sumber suara.
“Apa yang sedang terjadi di asrama mereka?” tanya orang
tersebut.
“Tampaknya ada sesuatu yang cukup membuat heboh di sana,”
lanjutnya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu!” balas Chanwo sambil
menggidikkan bahunya. Pertanda jika ia memang benar tak tahu.
“Omong-omong, apa kau sudah bangun sejak tadi?” tanya Chanwo
untuk memastikan.
“Tidak, aku baru saja terbangun karena suara teriakan itu,”
tepis pria tersebut.
Tidak bisa dipungkiri jika suara
teriakan tadi memang cukup keras dan mengganggu tentunya. Siapa pun pelakunya
__ADS_1
tadi, ia harus meminta maaf kepada semua orang besok. Karena dengan atau tanpa
ia sadari, dirinya telah membangunkan seisi akademi.