Mooneta High School

Mooneta High School
Kepercayaan


__ADS_3

Masih dengan kehidupan di dua dunia. Tidak ada yang bisa


benar-benar membuktikannya kepada Chanwo untuk sekrang ini. Sebab, Nhea sendiri


tidak tahu bagaimana cara membuktikannya. Meski pada dasarnya gadis itu pernah


melewati portal penghubung antara dua dunia tersebut.


“Tidak usah terlalu dipikirkan!” celetuk Chanwo memecah


keheningan suasana di antara mereka berdua kala itu.


Sontak Nhea menoleh tajam ke arah pria itu. Tidak, dia tidak


kesal sama sekali. Gadis itu hanya sedang tidak tahu harus berbuat apa.


Emosinya tidak timbul secara jelas.


“Aku akan percaya kalau kehidupan di dunia lain itu ada.


Jadi, kau tidak perlu membuktikannya kepadaku,” ujarnya kemudian.


“Jangan bersusah payah untuk mencari portalnya,” tukas pria


itu.


Kali ini Chanwo merubah posisi tangannya, yang semula berada


di saku celana sekarang ia lipat di depan dada. Cukup untuk menambahkan kesan


angkuh yang sejak awal memang sudah terpancar dari wajahnya. Padahal, ia tidak


seburuk yang Nhea bayangkan sebelumnya. Tapi, pria itu juga tidak bisa


dikatakan sebagai pria yang baik.


“Aku akan tetap mencari portalnya apa pun itu alasannya,”


ucap Nhea dengan yakin.


“Setidaknya aku tidak boleh berhenti sebelum mendapatkan


petunjuk soal portal tersebut!


 tegasnya sekali lagi.


Gadis itu sungguh keras kepala. Padahal Chanwo sudah mengingatkannya


untuk tidak melakukan hal tersebut. Tapi, semua itu percuma saja. Sia-sia.


Karena Nhea tidak akan pernah mendengarkan perkataan siapa pun. Sekarang gadis


itu sudah bertekad dan tidak ada yang bisa menghalanginya.


“Tampaknya kau terlalu berambisi untuk menemukan portal


tersebut,” gumam Chanwo dengan pelan.


Ternyata volume suara pria ini belum cukup pelan untuk ukurang


telinga seorang anak manusia setengah klan seperti Nhea. Setiap kata yang


terlontar keluar dari mulutnya berhasil ditangkap dengan sempurna oleh gendang


telinga gadis itu. Sepertinya ia mewarisi kemampuan yang satu itu dari ayahnya.


“Aku memang harus menemukan portal tersebut agar bisa


kembali ke dunia lamaku,” ungkapnya secara gamblang.


“Ku kira awalnya kau sudah melupakan soal kehidupan lamamu


dan mulai merasa nyaman untuk tetap tinggal di sini. Sama sepertiku,” jelas


Chanwo dengan panjang lebar.


“Kita berbeda,” balas Nhea.

__ADS_1


“Kau memang sudah berasal dari dimensi ini sejak awal. Tidak


akan masalah bagimu jika kau harus berpindah ke sisi lain dari dimensi sini,


selama tidak benar-benar keluar dari dalam dimensi tersebut ke dimensi lainnya,”


papar Nhea dengan panjang lebar.


“Kondisi kita berbeda!” tukasnya datar.


Nhea sama sekali tidak tahu apakah pernyataannya barusan


cukup untuk meyakinkan pria itu atau tidak. Tampaknya, ia tidak jauh berbeda


dengan Nhea. Sama-sama keras kepala. Mereka tidak akan mengalah. Keduanya memiliki


prinsip yang sama keras. Baik Nhea maupun Chanwo, sama-sama akan mempertahankan


pendapat mereka sampai akhir.


“Ternyata, kau bukan orang yang mudah menyerah juga,” beber


Chanwo.


“Aku juga melihat sisi yang satu itu dari dirimu,” balas


Nhea tanpa memalingkan pandangannya sama sekali.


Cerita mengenali konsep kehidupan dua dunia yang berjalan


beriringan, membuat Chanwo tidak habis pikir. Ia mencoba untuk tetap percaya,


meski dirinya tidak tahu betul apakah hal gila semacam itu bisa dipercaya atau


tidak. Ringkasnya, mereka sedang mengkaji teori dunia parallel secara lebih


sederhana.


Chanwo sendiri memang pernah mendengar soal teori tersebut. Tapi,


seperti biasanya. Ia tidak akan mudah percaya dengan begitu saja. Paling tidak


berbeda dengan orang kebanyakan, membuat ia tampak berbeda dengan yang lain.


“Aku bisa saja membantumu untuk menemukan portal itu jika


kau mau,” ungkap Chanwo secara tiba-tiba.


Sontak kedua bola mata gadis ini langsung membulat dengan


sempurna. Namun, sedetik kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah


lain. Kemana saja, asal bukan melihat pria itu. Sejak tadi pagi ia sudah


berhadapan dengannya. Padahal mereka barus bertemu sehari saja.


“Haha! Mana mungkin kau bisa membantuku,” ucap Nhea sambil


tertawa sarkas.


“Tempat itu tersembunyi,” ungkapnya kemudian.


“Tapi, bagaimana jika ternyata tempat itu malah terpampang


nyata di sekitar kita? Tapi kau tidak pernah menyadarinya sama sekali,” bantah


pria itu kemudian.


“Seni manipulasi,” timpal Chanwo.


Lagi-lagi, perkataan pria itu berhasil membuat Nhea mau tak


mau harus berpikir dua kali. Dia sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa


cara berpikir pria ini melawan hukum pikiran manusia yang lainnya. Tunggu dulu.


Dia bukan seorang manusia. Pria itu adalah salah satu dari anggota klan. Lebih tepatnya

__ADS_1


pemimpin dari kaum kegelapan.


Tapi, apa yang dikatakan oleh Chanwo tidak selamanya salah. Meski


pada dasarnya ia memang selalu melawan arus dari kebanyakan orang. Berani


berbeda memang bagus untuk beberapa orang. Tapi, rasanya prinsip hidup seperti


itu sama sekali tidak berlaku bagi Nhea. Dia tidak akan hidup dengan cara yang


seperti itu.


“Jadi, bagaimana jika aku membantumu untuk menemukan portal


tersembunyi  menuju dunia lain itu?”


tawar Chanwo.


Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu. Dia perlu


waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan segalanya. Chanwo memang bukan orang


jahat. Tapi, dia bisa menjadi jahat kapan saja. Tidak ada yang bisa menjamin


jika orang baik akan selamanya seperti itu. Mereka juga bia berbuat kesalahan.


“Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?” tanya Nhea sebelum


memutuskan lebih jauh lagi.


“Kita perlu rasa saling percaya untuk bisa bekerja sama di


dalam tim,” lanjutnya kemudian.


“Aku yakin jika kau cukup paham bagaimana caranya untuk


mengetahui karakteristik seseorang. Apalagi, ini bukan pertama kalinya kita


bertemu dan bicara seperti ini,” jelas Chanwo dengan panjang lebar.


“Semua keputusan ada di tanganmu,” katanya.


“Kau bisa percaya atau tidak denganku, semuanya kau yang


memutuskan,” tegas pria itu sekali lagi.


Kalimat Chanwo barusan berhasil membungkam mulutnya


rapat-rapat. Masalahnya, kali ini ia tidak bisa percaya kepada sembarang orang


lagi. Setelah sekian banyak kejadian yang terjadi sejauh ini, tidak mudah untuk


menaruh rasa percaya kepada orang yang tepat. Hampir semua manusia memiliki


watak yang sama. Tidak jauh berbeda dengan Nhea. Sebab, dia juga manusia.


“Baiklah,” ucap Nhea.


“Aku akan mempercayaimu, karena kau bukan manusia,”


ungkapnya.


“Dulu kau pernah bercerita kepadaku, jika manusia adalah


mahluk yang paling tidak bisa dipercaya. Tapi, karena aku sadar jika pria yang


berada tepat di sampingku ini bukan manusia, maka aku akan mempercayainya. Ku


harap anggota klan tidak akan merusak kepercayaanku,” jelas gadis itu dengan


panjang lebar.


Tanpa disadari, sebuah senyum terpatri di wajah Chanwo. Kedua


sudut bibirnya terangkat naik, sehingga membuatnya tampak jauh lebih bersahabat


daripada biasanya.

__ADS_1


“Kau tidak akan kehilangan kepercayaan itu lagi,” batin


Chanwo dalam hati, sambil tetap menyoroti gadis itu.


__ADS_2