
Masih dengan kehidupan di dua dunia. Tidak ada yang bisa
benar-benar membuktikannya kepada Chanwo untuk sekrang ini. Sebab, Nhea sendiri
tidak tahu bagaimana cara membuktikannya. Meski pada dasarnya gadis itu pernah
melewati portal penghubung antara dua dunia tersebut.
“Tidak usah terlalu dipikirkan!” celetuk Chanwo memecah
keheningan suasana di antara mereka berdua kala itu.
Sontak Nhea menoleh tajam ke arah pria itu. Tidak, dia tidak
kesal sama sekali. Gadis itu hanya sedang tidak tahu harus berbuat apa.
Emosinya tidak timbul secara jelas.
“Aku akan percaya kalau kehidupan di dunia lain itu ada.
Jadi, kau tidak perlu membuktikannya kepadaku,” ujarnya kemudian.
“Jangan bersusah payah untuk mencari portalnya,” tukas pria
itu.
Kali ini Chanwo merubah posisi tangannya, yang semula berada
di saku celana sekarang ia lipat di depan dada. Cukup untuk menambahkan kesan
angkuh yang sejak awal memang sudah terpancar dari wajahnya. Padahal, ia tidak
seburuk yang Nhea bayangkan sebelumnya. Tapi, pria itu juga tidak bisa
dikatakan sebagai pria yang baik.
“Aku akan tetap mencari portalnya apa pun itu alasannya,”
ucap Nhea dengan yakin.
“Setidaknya aku tidak boleh berhenti sebelum mendapatkan
petunjuk soal portal tersebut!
tegasnya sekali lagi.
Gadis itu sungguh keras kepala. Padahal Chanwo sudah mengingatkannya
untuk tidak melakukan hal tersebut. Tapi, semua itu percuma saja. Sia-sia.
Karena Nhea tidak akan pernah mendengarkan perkataan siapa pun. Sekarang gadis
itu sudah bertekad dan tidak ada yang bisa menghalanginya.
“Tampaknya kau terlalu berambisi untuk menemukan portal
tersebut,” gumam Chanwo dengan pelan.
Ternyata volume suara pria ini belum cukup pelan untuk ukurang
telinga seorang anak manusia setengah klan seperti Nhea. Setiap kata yang
terlontar keluar dari mulutnya berhasil ditangkap dengan sempurna oleh gendang
telinga gadis itu. Sepertinya ia mewarisi kemampuan yang satu itu dari ayahnya.
“Aku memang harus menemukan portal tersebut agar bisa
kembali ke dunia lamaku,” ungkapnya secara gamblang.
“Ku kira awalnya kau sudah melupakan soal kehidupan lamamu
dan mulai merasa nyaman untuk tetap tinggal di sini. Sama sepertiku,” jelas
Chanwo dengan panjang lebar.
“Kita berbeda,” balas Nhea.
__ADS_1
“Kau memang sudah berasal dari dimensi ini sejak awal. Tidak
akan masalah bagimu jika kau harus berpindah ke sisi lain dari dimensi sini,
selama tidak benar-benar keluar dari dalam dimensi tersebut ke dimensi lainnya,”
papar Nhea dengan panjang lebar.
“Kondisi kita berbeda!” tukasnya datar.
Nhea sama sekali tidak tahu apakah pernyataannya barusan
cukup untuk meyakinkan pria itu atau tidak. Tampaknya, ia tidak jauh berbeda
dengan Nhea. Sama-sama keras kepala. Mereka tidak akan mengalah. Keduanya memiliki
prinsip yang sama keras. Baik Nhea maupun Chanwo, sama-sama akan mempertahankan
pendapat mereka sampai akhir.
“Ternyata, kau bukan orang yang mudah menyerah juga,” beber
Chanwo.
“Aku juga melihat sisi yang satu itu dari dirimu,” balas
Nhea tanpa memalingkan pandangannya sama sekali.
Cerita mengenali konsep kehidupan dua dunia yang berjalan
beriringan, membuat Chanwo tidak habis pikir. Ia mencoba untuk tetap percaya,
meski dirinya tidak tahu betul apakah hal gila semacam itu bisa dipercaya atau
tidak. Ringkasnya, mereka sedang mengkaji teori dunia parallel secara lebih
sederhana.
Chanwo sendiri memang pernah mendengar soal teori tersebut. Tapi,
seperti biasanya. Ia tidak akan mudah percaya dengan begitu saja. Paling tidak
berbeda dengan orang kebanyakan, membuat ia tampak berbeda dengan yang lain.
“Aku bisa saja membantumu untuk menemukan portal itu jika
kau mau,” ungkap Chanwo secara tiba-tiba.
Sontak kedua bola mata gadis ini langsung membulat dengan
sempurna. Namun, sedetik kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah
lain. Kemana saja, asal bukan melihat pria itu. Sejak tadi pagi ia sudah
berhadapan dengannya. Padahal mereka barus bertemu sehari saja.
“Haha! Mana mungkin kau bisa membantuku,” ucap Nhea sambil
tertawa sarkas.
“Tempat itu tersembunyi,” ungkapnya kemudian.
“Tapi, bagaimana jika ternyata tempat itu malah terpampang
nyata di sekitar kita? Tapi kau tidak pernah menyadarinya sama sekali,” bantah
pria itu kemudian.
“Seni manipulasi,” timpal Chanwo.
Lagi-lagi, perkataan pria itu berhasil membuat Nhea mau tak
mau harus berpikir dua kali. Dia sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa
cara berpikir pria ini melawan hukum pikiran manusia yang lainnya. Tunggu dulu.
Dia bukan seorang manusia. Pria itu adalah salah satu dari anggota klan. Lebih tepatnya
__ADS_1
pemimpin dari kaum kegelapan.
Tapi, apa yang dikatakan oleh Chanwo tidak selamanya salah. Meski
pada dasarnya ia memang selalu melawan arus dari kebanyakan orang. Berani
berbeda memang bagus untuk beberapa orang. Tapi, rasanya prinsip hidup seperti
itu sama sekali tidak berlaku bagi Nhea. Dia tidak akan hidup dengan cara yang
seperti itu.
“Jadi, bagaimana jika aku membantumu untuk menemukan portal
tersembunyi menuju dunia lain itu?”
tawar Chanwo.
Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu. Dia perlu
waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan segalanya. Chanwo memang bukan orang
jahat. Tapi, dia bisa menjadi jahat kapan saja. Tidak ada yang bisa menjamin
jika orang baik akan selamanya seperti itu. Mereka juga bia berbuat kesalahan.
“Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?” tanya Nhea sebelum
memutuskan lebih jauh lagi.
“Kita perlu rasa saling percaya untuk bisa bekerja sama di
dalam tim,” lanjutnya kemudian.
“Aku yakin jika kau cukup paham bagaimana caranya untuk
mengetahui karakteristik seseorang. Apalagi, ini bukan pertama kalinya kita
bertemu dan bicara seperti ini,” jelas Chanwo dengan panjang lebar.
“Semua keputusan ada di tanganmu,” katanya.
“Kau bisa percaya atau tidak denganku, semuanya kau yang
memutuskan,” tegas pria itu sekali lagi.
Kalimat Chanwo barusan berhasil membungkam mulutnya
rapat-rapat. Masalahnya, kali ini ia tidak bisa percaya kepada sembarang orang
lagi. Setelah sekian banyak kejadian yang terjadi sejauh ini, tidak mudah untuk
menaruh rasa percaya kepada orang yang tepat. Hampir semua manusia memiliki
watak yang sama. Tidak jauh berbeda dengan Nhea. Sebab, dia juga manusia.
“Baiklah,” ucap Nhea.
“Aku akan mempercayaimu, karena kau bukan manusia,”
ungkapnya.
“Dulu kau pernah bercerita kepadaku, jika manusia adalah
mahluk yang paling tidak bisa dipercaya. Tapi, karena aku sadar jika pria yang
berada tepat di sampingku ini bukan manusia, maka aku akan mempercayainya. Ku
harap anggota klan tidak akan merusak kepercayaanku,” jelas gadis itu dengan
panjang lebar.
Tanpa disadari, sebuah senyum terpatri di wajah Chanwo. Kedua
sudut bibirnya terangkat naik, sehingga membuatnya tampak jauh lebih bersahabat
daripada biasanya.
__ADS_1
“Kau tidak akan kehilangan kepercayaan itu lagi,” batin
Chanwo dalam hati, sambil tetap menyoroti gadis itu.