Mooneta High School

Mooneta High School
Damn


__ADS_3

Seseorang terlihat begitu menyatu dengan kegelapan di sepanjang lorong ini denagn jubah hitamya. Pergerakannya sangat halus, namun cepat. Sangat sulit untuk dideskripsikan bagaimana cara dia berpindah dari suatu tempat, ke tempat lain saat itu. Yang jelas sepertinya ia terlihat sangat handal dalam melakukan hal itu. Ia bahkan nyaris tak bersuara sama sekali saat melangkah, semuanya seperti sudah terencana dengan sangat apik.


Perlahan tapi pasti, Chanwo mulai menyusul Choi Ara dengan diam-diam. Sesekali ia harus bersembunyi di dalam bayang-bayang gadis itu agar tak dicurigai. Aksinya nyaris sempurna saat itu, apalagi saat di tambah dengan kehandalannya dalam menyamar. Pria ini cukup ahli hampir disemua bidang. Jika ada pepatah kuno yang menyatakan jika tidak ada manusia yang sempurna, maka ketika kau melihat Chanwo, semua pendapat itu akan segera dipatahkan olehnya. Ia memang seseorang yang sempurna, tapi sayangnya dia bukanlah manusia sama sekali, hanya saja rupanya menyerupai manusia.


Di sisi lain, Nhea bergegas untuk kembali bersama para siswa. Ia terus berjalan menyusuri tiap lorong dan langkahnya semakin cepat setiap detiknya, nyaris seperti berlari. Sambil tetap memperhatikan langkahnya, di dalam lubuk hatinya tengah harap-harap cemas agar dirinya baik-baik saja sesampainya di sana. Jika sampai ada siswa yang curiga, apalagi berhasil mengetahui jika ia adalah pelakunya, maka tamat sudah riwayat gadis itu.


“Dari mana saja kau?” tanya Oliver sesampainya Nhea di sana.

__ADS_1


“A-a-aku baru saja kembali dari gudang senjata,” jawabnya sambil mengarang cerita.


“Tadi aku pikir kalian akan membutuhkan beberapa senjata yang bisa membantu di saat-saat seperti ini,” lanjutnya yang tengah berdusta.


“Sama sekali tak ada yang berguna di sana, kita hanya bisa mengandalkan dan berharap pada kekuatan kita,” balas Oliver.


“Kau melewatkan banyak hal di sini,” lanjutnya.

__ADS_1


“Lihat di sebelah sana!” ujar Oliver sambil menunjuk ke suatu tempat.


Kedua bola mata gadis ini lantas mengikuti arah jari telunjuk Oliver, hingga ia berhenti pada suatu objek di seberang sana. Bibi Ga Eun masih tetap berada di samping Ify sambil terus menangisi puterinya yang tak lagi berdaya itu. Ternyata pemandangan itu terlihat jauh lebih menyedihkan jika di lihat dari bawah sini. Nhea merasa bersalah atas perbuatannya sejauh ini. Ia menyesal kenapa harus mengikuti kata-kata pria aneh itu. Pria itu pasti ingin menjebaknya selarang dan membuatnya tak memiliki seorangpun yang dapat mempercayai dirinya.


“Tapi bukannya bagus jika Ify meregang nyawa? Itu artinya kalian tidak akan merasa terus ketakutan sepanjang musim,” ujar Nhea yang tengah berusah untuk membela dirinya.


“Kau benar, tapi kejadian ini telah membuat kami semua bingung harus bereaksi bagaimana,” balas Oliver dengan apa adanya.

__ADS_1


“Kita tidak mungkin berbahagia, jika sementara da pihak yang sedang bersedih,” lanjutnya.


Nhea terus berusaha untuk tetap membela dirinya dan membuat dirinya seolah-olah telah bertindak benar. Meskipun pada saat ini posisinya belum jelas sama sekali. Tak ada seorangpun yang tahu apakah posisinya saat ini sebagai pahlawan atau malah sebaliknya. Bahkan Nhea sendiri tak siap jika dirinya harus dipanggil sebagai seorang pembunuh di sini. Menurutnya ia telah melakukan hal yang benar, karena telah menyingkirkan si pengusik itu. Tapi entah apa yang salah dengan mereka semua. Semua yang terjadi saat ini sangat berbeda jauh dengan apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.


__ADS_2