
Selama ini memang
terkenal sulit untuk keluar dari gerbang akademi. Bahkan waktu itu saja Nhea
sempat tidak diizinkan untuk kembali ke rumah dengan alasan mengambil beberapa
barangnya yang tertinggal di sana. Perjalanan panjang ke Reodal adalah
satu-satunya pengalaman baginya selama berada di tempat ini. Harus diakui jika
tidak bisa sebebas dulu. Itu pula yang menjadi alasan utama kenapa Nhea sangat
ingin pergi menginggalkan akademi sihir Mooneta.
“Aku akan bicara kepada Kakak Ji lebih dulu untuk meminta
izin,” ujar Oliver sebelum beranjak pergi dari tempat itu.
Karena peraturan yang terlalu ketat, mereka perlu memastikan
sekali lagi jika memang benar mereka bisa meninggalkan akademi untuk beberapa
saat saja. Bukan tanpa alasan. Oliver perlu mencari sepatu baru di pasar. Besok
pertandingan sudah dimulai. Tidak mungkin dia pergi bertanding tanpa sepatu.
Sama sekali tidak lucu.
Seharusnya mereka
bisa keluar pada saat-saat seperti ini. Sesuai dengan namanya. Hari kebebasan.
Lagipula tidak perlu cemas, mereka tidak akan pergi kemana-mana. Hanya akan
berbelanja satu dua hal ke pasar saja. Tidak akan sampai melarikan diri dari
akademi. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan bagi Nhea untuk melakukan hal
tersebut. Dia bisa saja benar-benar melarikan diri pada saat ada kesempatan
emas seperti ini. Selagi ia masih bisa menemukan portal penghubungnya, maka
gadis itu tidak akan pikir panjang untuk melakukan rencana pelarian.
Namun, sepertinya kali ini gadis itu tidak terlalu berambisi
untuk melarikan diri. Alih-alih kabur dan kembali ke dunia nyata, ia jauh lebih
disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang kompetisi bergengsi tersebut.
Tidak bisa dipungkiri jika itu berhasil menyita nyaris seluruh atensi dari
Nhea.
Sembari menunggu Oliver kembali dari gedung utama, Nhea
menyibukkan dirinya untuk berbenah. Ada beberapa hal yang harus dibereskan.
Karena mereka semua sibuk latihan beberapa hari terakhir ini, jadi tidak ada
yang peduli dengan kamar asrama. Lihat saja bagaimana berantakannya tempat ini
sekarang.
Nhea dan Oliver sudah cukup kelelahan sehabisa latihan.
Sehingga tidak ada waktu dan tenaga lagi yang tersisa. Bahkan hanya sekedar
untuk membereskan semua kekacauan ini. Tapi, sekarang mungkin sudah tidak
terlalu buruk. Belum benar-benar rapih, tapi sudah jauh lebih baik.
‘KRIETT!!!’
Suara engsel pintu yang berderit selalu menjadi pertanda
jika ada seseorang yang berusaha untuk menerobos masuk melalui pintu kamar ini.
Dengan atau tanpa izin. Sontak hal tersebut berhasil mengalihkan perhatian
Nhea. Padangannya melesat cepat kepada sebuah objek nyata yang terpampang tepat
di hadapannya saat ini. Jujur, dia memang sedikit kaget pada awalnya. Kemudian
semuanya kembali seperti semula lagi. Gadis ini memang cukup ahli dalam
mengendalikan perasaannya.
“Ada perlu apa kemari?” tanya Nhea tanpa basa-basi lagi.
Sementara itu, sososk yang diajak bicara tidak langsung
menjawab. Pandangannya sangat rendah. Enggan untuk menatap Nhea. Seolah-olah
gadis itu adalah manusia yang paling kejam di muka bumi ini.
“Jadi, kau tidak ingin menjawab pertanyaanku yang barusan?”
tanya gadis itu sekali lagi.
Nhea memutuskan untuk bangkit dari posisinya saat ini dan
berjalan mendekat. Menghampiri Jang Eunbi yang tengah berdiri mematung di
ambang pintu tanpa berkata sepatah kata pun. Dia masih tetap diam seribu bahasa
sejak awal kedatangannya kemari.
“Aku ingin minta maaf,” ungkapnya dengan volume rendah.
Mendapati balasan semacam itu, sontak membuat Nhea
mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alisnya tampak menyatu. Bisa disimpulkan
jika ia tengah dijebak oleh rasa kebingungan saat ini.
“Maaf untuk apa?” tanya Nhea lagi.
“Maaf karena aku telah berusaha untuk mengindarimu dan juga
Oliver selama ini,” akunya.
“Jadi, karena itu kau meminta maaf kepadaku?” tanya gadis
itu sekali lagi yang kemudian malah mendapatkan anggukan dari Jang Eunbi.
Meskipun sudah mendapatkan penjelasan yang cukup memuaskan,
tapi tetap saja Nhea masih merasa ada yang kurang. Dia tidak benar-benar paham
dengan maksud kedatangan Jang Eunbi ke sini. Otaknya sudah berusaha dengan
semaksimal mungkin untuk mencerna setiap kata yang meluncur keluar dari mulut
gadis itu tadi. Tapi tetap saja hasilnya nihil.
“Masuk lah lebih dulu. Kita bicarakan di dalam saja,” ujar
Nhea.
Gadis itu sengaja mempersilahkan Jang Eunbi untuk masuk.
Tidak baik membiarkan tamu menunggu di ambang pintu seperti itu. Lagipula Nhea
juga tidak suka jika pembicaraannya didengar oleh orang lain yang tidak sengaja
memang kebetulan lewat. Menurutnya tetap tidak sopan meski kejadiannya tak disengaja.
__ADS_1
Ia mendudukkan Jang Eunbi pada ujung kasur miliknya.
Memberikannya sedikit ruan, agar tetap bsia merasa nyaman.
“Kau bisa bercerita apa pun yang telah terjadi sejauh ini,”
ujar Nhea.
“Aku sungguh hanya ingin meminta maaf,” balasnya.
“Kau yakin?” tanya gadis itu lagi untuk yang kesekian
kalinya.
“Tentu saja!” balas Jang Eunbi dengan yakin.
Dirinya menolak untuk percaya. Tidak peduli sudah seberapa
sering ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Jang Eunbi tidak memiliki
maksud lain yang tersembunyi darinya. Tapi, entha kenapa perasaan gadis ini
mengatakan hal yang berbeda. Sejauh ini intuisinya memang tidak bisa diragukan
sama sekali. Tapi, tetap saja ia harus berpikir rasional. Nhea tidak bisa
terus-terusan mengandalkan intuisinya sendiri. Yang padahal belum tentu
sepenuhnya benar. Tidak ada yang menjamin untuk hal tersebut.
“Nhea!” sahut seseorang yang mendadak muncul dari balik
pintu.
Belum sempat ia mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada
gadis itu, mendadak sebuah suara muncul secara tiba-tiba. Sontak Nhea dan Jang
Eunbi langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang diyakini
berasal dari pintu masuk.
Dan yang benar saja. Ternyata itu adalah Oliver. Entah sudah
sejak kapan ia berdiri di sana. Tampaknya gadis itu merasa terheran-heran
mendapati orang asing di dalam kamarnya. Bukannya tidak suka. Hanya saja ia
perlu penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini. Jang Eunbi tidak mungkin bisa
masuk ke dalam tanpa seizin Nhea. Karena hanya gadis itulah satu-satunya orang
yang berada di kamar asrama saat Oliver pergi. Dia sama sekali tidak masalah
jika memang benar Nhea yang membiarkannya masuk ke dalam.
“Ternyata kau di sini juga,” ujar Oliver untuk mencairkan
suasana.
Nhea menatap keduanya secara bergantian. Mencoba untuk
mengamati sesuatu. Barang kali ada sesuatu yang bisa ia dapatkan dari mereka.
Tapi, ternyata tidak.
“Ada perlu apa kemari?” tanya Oliver dengan nada bicara yang
tergolong ketus.
Nhea tahu betul jika hubungan
mereka tidak pernah baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Tapi, ia sama
sekali tidak pernah menduga jika hubungan Oliver dan Jang Eunbi juga ikut
memburuk. Sekarang ia malah menjadi merasa bersalah. Tidak seharusnya ia
Terlepas dari semua kejadia yang sempat terjadi di dalam
kamar asrama tadi, Nhea dan Oliver tetap melanjutkan perjalanannya untuk pergi
ke pasar. Beruntung tidak sampai terjadi pertikaian antara gadis-gadis itu
tadi. Jika tidak, maka sudah pasti Nhea yang akan kerepotan dibuatnya.
“Tidak biasanya Bibi Ga Eun memberikanku izin untuk keluar
dari gedung akademi seperti ini,” ujar Nhea secara gamblang.
“Bukan hanya kau saja,” balas Oliver.
“Semua siswa dan staff tidak pernah diizinkan untuk pergi
keluar,” lanjutnya kemudian.
“Lantas, apakah tidak ada ada satu pun dari kalian yang
pernah pergi keluar dari tempat itu?” tanya Nhea.
Tampaknya kali ini ia mulai merasa penasaran dengan
peraturan tersebut. Tidak ada yangpernah tahu apa alasannya. Setidaknya berikan
mereka semua kejelasan mengenai dasar aturan tersebut. Kabarnya, larangan untuk
pergi keluar sudah diterapkan sejak akademi ini pertama kali didirikan.
“Dulu salah satu guru dari kelas satu pernah pergi ke luar.
Tentu saja dengan mengantongi izin dari Nyonya kepala sekolah. Jika tidak ia
bisa habis,” papar Oliver dengan panjang lebar.
Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa
mengangguk pelan. Tidak ada reaksi lain yang bisa ia berikan pasalnya.
“Aku yakin jika alasan yang ia gunakan cukup kuat dan masuk
akal. Sehingga Bibi Ga Eun tidak punya pilihan lain,” gumam Nhea.
“Benar! Nyonya kepala sekolah kabarnya sampai kehabisan stok
kata-kata pada saat itu,” balas Oliver dengan antusias.
Meski semua kabar yang ia dengan hanyalah rumor, tapi tetap
saja terasa begitu nyata. Tidak ada alasan untuk tidak percaya dengan semua
kabar-kabar itu. Tapi, di antara banyaknya hal yang belum bisa dipastikan
kebenarannya, ada satu hal yang sudah terkonformasi benar. Fakta soal seorang
guru dari kelas satu yang pergi meninggalkan akademi selama beberapa hari benar
adanya. Tapi, sekarang dia sudah kembali mengajar. Bahkan jika mau, mereka
masih bisa menemuinya hari ini.
Hari ini cukup berbeda dengan hari-hari biasanya. Karena
tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Sesuai dengan namanya.
Hari kebebasan. Semua orang yang berada di akademi ini dibebaskan. Mereka semua
berhamburan keluar dari pintu gerbang akademi sihir Mooneta untuk menuju ke
__ADS_1
berbagai tempat. Salah satunya adalah pasar. Seperti yang sedang dilakukan oleh
kedua gadis itu.
Semua orang berharap agar kebijakan ini terus berlanjut.
Tidak hanya hari ini saja. Mereka butuh sering-sering keluar seperti ini untuk
mencari udara segar. Tidak bisa dipungkiri jika orang-orang itu pasti merasa
bosan jika terus berada di dalam akademi dan tidak diperbolehkan untuk beranjak
kemana-mana.
Meski banyak orang yang keluar untuk mencari udara segar,
bukan berarti akademi akan dibiarkan kosong begitu saja. Mooneta tidak pernah
lengah. Penjagaan ketat akan tetap dilakukan. Kau akan tetap aman jika bersikap
waspada. Itu adalah prinsipnya.
Ternyata bukan hanya Nhea dan Oliver saja yang menuju pasar.
Banyak orang yang pergi ke tempat itu. Biasanya hanya oara staff dapur yang
memiliki keperluan untuk pergi ke sana demi memenuhi perlengkapan dapur. Bahan
pangan harus selalu tersedia. Kebetulan sekali pusat kota tidak terlalu jauh
dari akademi sihir Mooneta. Jadi mereka bisa menjangkaunya dengan mudah.
"Ini adalah pertama kalinya bagiku mengunjungi pasar di
sekitar akademi," ungkap Oliver. Dia berkata jujur.
“Sama, ini juga pengalaman pertama bagiku,” balas Nhea.
Gadis itu merasa setuju dengan pendapat Oliver kali ini. Biasanya
mereka lebih sering berselisih pendapat daripada sepaham. Nyaris tidak pernah
berjalan searah. Tapi, kali ini sepertinya berbeda. Ada banyak hal yang berubah
hari ini. Apakah mungkin jika hari ini adalah hari keajaiban. Banyak hal baik
yang terjadi dari sekian banyak hal buruk yang menghampiri.
Setidaknya masih ada satu atau bahkan dua hal yang bisa
mereka syukuri untuk hari ini. Siapa bilang jika anak-anak di akademi sihir itu
tidak mempercayai adanya Tuhan. Sebagian besar dari mereka percaya dengan
keberadaan Tuhan. Sisanya tidak terlalu begitu. Anggap saja mereka tidak
memiliki kepercayaan terhadap sesuatu. Bukan menjadi sebuah paksaan di dalam
akademi sihir Mooneta untuk hal semacam itu. Soal kepercayaan, biarlah itu
menjadi urusan pribadinya. Tidak ada yang berhak untuk ikut campur.
Terlepas dari semua itu, mereka berusa memutuskan untuk berkeliling
pasar terlebih dahulu. Mengeksplor beberapa hal yang belum sempat terjamah
olehnya. Mereka benar-benar norak saat baru pertama kali dilepaskan seperti
ini. Padahal sebelumnya Nhea dan Oliver sudah pernah berkunjung ke pasar. Nhea
dulu sangat sering menemani Bibi Ga Eun untuk berbelanja ke pasar. Hampir setiap
minggu mereka selalu pergi bersama dan menghabiskan waktu di akhir pekan. Sedangkan,
Oliver pernah keluar sekali ke pasar saat diminta untuk memantau para staff
dapur. Itu pertama kali ia lakukan saat menjabat sebagai ketua asrama.
Tapi, semuanya sudah lama sekali. Mungkin lebih dari dua atau
tiga tahun yang lalu. Tentu saja mereka berdua sangat merindukan saat-saat
seperti ini.
Kondisi pasar sekarang tergolong ramai. Namun, tetap tidak
terlalu padat. Mungkin akibat festival sihir yang akan diadakan besok. Jadi,
tempat ini mulai terlihat ramai. Camp para peserta lomba terletak di bagian
utama kota ini. Tidak terlalu jauh dari pasar. Saat ini pasti sebagian besar
dari mereka sudah sampai di camp. Besok acara pembukaan dan pertandingan akan
dimulai. Jadi wajar saja jika sebagian besar dari wilayah kota mulai ramai.
Nhea dan Oliver juga tidak sengaja bertemu dengan
siswa-siswa dari akademi sihir lain yang kebetulan juga sedang berada di pasar
ini. Entah itu untuk mencari kebutuhan mereka, atau malah hanya sekedar
berkeliling saja.
“Aku sama sekali belum melihat anak-anak Reosal di sini,”
ungkap Nhea dengan nada bicara rendah.
Dia tidak ingin jika kalimat yang barusaja diucapkannya
sampai ke telinga orang lain. Meski sebenarnya hal itu cukup tidak mungkin
untuk terjadi pada situasi seperti ini. Keriuhan berada dimana-mana. Bahkan jika
Nhea berteriak sekalipun, belum tentu akan menarik atensi sejumlah orang yang
ada di sana.
“Mungkin mereka akan sampai nanti malam atau sore,” ujar
Oliver.
Gadis itu hanya menduga-duga saja. Padahal dia tidak tahu
betul seperti apa kepastiannya.
“Apakah Reodal ikut serta dalam kompetisi ini juga?” tanya
Nhea sembari mengalihkan pandangannya ke arah Oliver.
“Tentu saja!” balas gadis itu dengan cepat.
“Nama akademi sihir mereka telah masuk ke dalam salah satu daftar
peserta lomba,” jelasnya kemudian.
Nhea hanya mampu membalas perkataan gadis itu tadi dengan
anggukan. Pasalnya, tak ada cara lain yang bisa ia lakukan lagi. Menggerakkan
kepalanya ke atas dan ke bawah adalah sebuah cara andalan untuk mengendalikan
berbagai macam situasi. Tidak banyak yang tahu soal trik rahasian ini. Nhea
bisa dikatakan sebagai orang yang cukup beruntung karena mengetahuinya.
Dia memang dikenal sebagai orang yang tidak terlalu banyak
__ADS_1
bicara. Nhea jauh lebih sering melakukan tindakan daripada berbicara panjang
lebar.