Mooneta High School

Mooneta High School
Freedom


__ADS_3

 Selama ini memang


terkenal sulit untuk keluar dari gerbang akademi. Bahkan waktu itu saja Nhea


sempat tidak diizinkan untuk kembali ke rumah dengan alasan mengambil beberapa


barangnya yang tertinggal di sana. Perjalanan panjang ke Reodal adalah


satu-satunya pengalaman baginya selama berada di tempat ini. Harus diakui jika


tidak bisa sebebas dulu. Itu pula yang menjadi alasan utama kenapa Nhea sangat


ingin pergi menginggalkan akademi sihir Mooneta.


“Aku akan bicara kepada Kakak Ji lebih dulu untuk meminta


izin,” ujar Oliver sebelum beranjak pergi dari tempat itu.


Karena peraturan yang terlalu ketat, mereka perlu memastikan


sekali lagi jika memang benar mereka bisa meninggalkan akademi untuk beberapa


saat saja. Bukan tanpa alasan. Oliver perlu mencari sepatu baru di pasar. Besok


pertandingan sudah dimulai. Tidak mungkin dia pergi bertanding tanpa sepatu.


Sama sekali tidak lucu.


 Seharusnya mereka


bisa keluar pada saat-saat seperti ini. Sesuai dengan namanya. Hari kebebasan.


Lagipula tidak perlu cemas, mereka tidak akan pergi kemana-mana. Hanya akan


berbelanja satu dua hal ke pasar saja. Tidak akan sampai melarikan diri dari


akademi. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan bagi Nhea untuk melakukan hal


tersebut. Dia bisa saja benar-benar melarikan diri pada saat ada kesempatan


emas seperti ini. Selagi ia masih bisa menemukan portal penghubungnya, maka


gadis itu tidak akan pikir panjang untuk melakukan rencana pelarian.


Namun, sepertinya kali ini gadis itu tidak terlalu berambisi


untuk melarikan diri. Alih-alih kabur dan kembali ke dunia nyata, ia jauh lebih


disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang kompetisi bergengsi tersebut.


Tidak bisa dipungkiri jika itu berhasil menyita nyaris seluruh atensi dari


Nhea.


Sembari menunggu Oliver kembali dari gedung utama, Nhea


menyibukkan dirinya untuk berbenah. Ada beberapa hal yang harus dibereskan.


Karena mereka semua sibuk latihan beberapa hari terakhir ini, jadi tidak ada


yang peduli dengan kamar asrama. Lihat saja bagaimana berantakannya tempat ini


sekarang.


Nhea dan Oliver sudah cukup kelelahan sehabisa latihan.


Sehingga tidak ada waktu dan tenaga lagi yang tersisa. Bahkan hanya sekedar


untuk membereskan semua kekacauan ini. Tapi, sekarang mungkin sudah tidak


terlalu buruk. Belum benar-benar rapih, tapi sudah jauh lebih baik.


‘KRIETT!!!’


Suara engsel pintu yang berderit selalu menjadi pertanda


jika ada seseorang yang berusaha untuk menerobos masuk melalui pintu kamar ini.


Dengan atau tanpa izin. Sontak hal tersebut berhasil mengalihkan perhatian


Nhea. Padangannya melesat cepat kepada sebuah objek nyata yang terpampang tepat


di hadapannya saat ini. Jujur, dia memang sedikit kaget pada awalnya. Kemudian


semuanya kembali seperti semula lagi. Gadis ini memang cukup ahli dalam


mengendalikan perasaannya.


“Ada perlu apa kemari?” tanya Nhea tanpa basa-basi lagi.


Sementara itu, sososk yang diajak bicara tidak langsung


menjawab. Pandangannya sangat rendah. Enggan untuk menatap Nhea. Seolah-olah


gadis itu adalah manusia yang paling kejam di muka bumi ini.


“Jadi, kau tidak ingin menjawab pertanyaanku yang barusan?”


tanya gadis itu sekali lagi.


Nhea memutuskan untuk bangkit dari posisinya saat ini dan


berjalan mendekat. Menghampiri Jang Eunbi yang tengah berdiri mematung di


ambang pintu tanpa berkata sepatah kata pun. Dia masih tetap diam seribu bahasa


sejak awal kedatangannya kemari.


“Aku ingin minta maaf,” ungkapnya dengan volume rendah.


Mendapati balasan semacam itu, sontak membuat Nhea


mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alisnya tampak menyatu. Bisa disimpulkan


jika ia tengah dijebak oleh rasa kebingungan saat ini.


“Maaf untuk apa?” tanya Nhea lagi.


“Maaf karena aku telah berusaha untuk mengindarimu dan juga


Oliver selama ini,” akunya.


“Jadi, karena itu kau meminta maaf kepadaku?” tanya gadis


itu sekali lagi yang kemudian malah mendapatkan anggukan dari Jang Eunbi.


Meskipun sudah mendapatkan penjelasan yang cukup memuaskan,


tapi tetap saja Nhea masih merasa ada yang kurang. Dia tidak benar-benar paham


dengan maksud kedatangan Jang Eunbi ke sini. Otaknya sudah berusaha dengan


semaksimal mungkin untuk mencerna setiap kata yang meluncur keluar dari mulut


gadis itu tadi. Tapi tetap saja hasilnya nihil.


“Masuk lah lebih dulu. Kita bicarakan di dalam saja,” ujar


Nhea.


Gadis itu sengaja mempersilahkan Jang Eunbi untuk masuk.


Tidak baik membiarkan tamu menunggu di ambang pintu seperti itu. Lagipula Nhea


juga tidak suka jika pembicaraannya didengar oleh orang lain yang tidak sengaja


memang kebetulan lewat. Menurutnya tetap tidak sopan meski kejadiannya tak disengaja.

__ADS_1


Ia mendudukkan Jang Eunbi pada ujung kasur miliknya.


Memberikannya sedikit ruan, agar tetap bsia merasa nyaman.


“Kau bisa bercerita apa pun yang telah terjadi sejauh ini,”


ujar Nhea.


“Aku sungguh hanya ingin meminta maaf,” balasnya.


“Kau yakin?” tanya gadis itu lagi untuk yang kesekian


kalinya.


“Tentu saja!” balas Jang Eunbi dengan yakin.


Dirinya menolak untuk percaya. Tidak peduli sudah seberapa


sering ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Jang Eunbi tidak memiliki


maksud lain yang tersembunyi darinya. Tapi, entha kenapa perasaan gadis ini


mengatakan hal yang berbeda. Sejauh ini intuisinya memang tidak bisa diragukan


sama sekali. Tapi, tetap saja ia harus berpikir rasional. Nhea tidak bisa


terus-terusan mengandalkan intuisinya sendiri. Yang padahal belum tentu


sepenuhnya benar. Tidak ada yang menjamin untuk hal tersebut.


“Nhea!” sahut seseorang yang mendadak muncul dari balik


pintu.


Belum sempat ia mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada


gadis itu, mendadak sebuah suara muncul secara tiba-tiba. Sontak Nhea dan Jang


Eunbi langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang diyakini


berasal dari pintu masuk.


Dan yang benar saja. Ternyata itu adalah Oliver. Entah sudah


sejak kapan ia berdiri di sana. Tampaknya gadis itu merasa terheran-heran


mendapati orang asing di dalam kamarnya. Bukannya tidak suka. Hanya saja ia


perlu penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini. Jang Eunbi tidak mungkin bisa


masuk ke dalam tanpa seizin Nhea. Karena hanya gadis itulah satu-satunya orang


yang berada di kamar asrama saat Oliver pergi. Dia sama sekali tidak masalah


jika memang benar Nhea yang membiarkannya masuk ke dalam.


“Ternyata kau di sini juga,” ujar Oliver untuk mencairkan


suasana.


Nhea menatap keduanya secara bergantian. Mencoba untuk


mengamati sesuatu. Barang kali ada sesuatu yang bisa ia dapatkan dari mereka.


Tapi, ternyata tidak.


“Ada perlu apa kemari?” tanya Oliver dengan nada bicara yang


tergolong ketus.


Nhea tahu betul jika hubungan


mereka tidak pernah baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Tapi, ia sama


sekali tidak pernah menduga jika hubungan Oliver dan Jang Eunbi juga ikut


memburuk. Sekarang ia malah menjadi merasa bersalah. Tidak seharusnya ia


Terlepas dari semua kejadia yang sempat terjadi di dalam


kamar asrama tadi, Nhea dan Oliver tetap melanjutkan perjalanannya untuk pergi


ke pasar. Beruntung tidak sampai terjadi pertikaian antara gadis-gadis itu


tadi. Jika tidak, maka sudah pasti Nhea yang akan kerepotan dibuatnya.


“Tidak biasanya Bibi Ga Eun memberikanku izin untuk keluar


dari gedung akademi seperti ini,” ujar Nhea secara gamblang.


“Bukan hanya kau saja,” balas Oliver.


“Semua siswa dan staff tidak pernah diizinkan untuk pergi


keluar,” lanjutnya kemudian.


“Lantas, apakah tidak ada ada satu pun dari kalian yang


pernah pergi keluar dari tempat itu?” tanya Nhea.


Tampaknya kali ini ia mulai merasa penasaran dengan


peraturan tersebut. Tidak ada yangpernah tahu apa alasannya. Setidaknya berikan


mereka semua kejelasan mengenai dasar aturan tersebut. Kabarnya, larangan untuk


pergi keluar sudah diterapkan sejak akademi ini pertama kali didirikan.


“Dulu salah satu guru dari kelas satu pernah pergi ke luar.


Tentu saja dengan mengantongi izin dari Nyonya kepala sekolah. Jika tidak ia


bisa habis,” papar Oliver dengan panjang lebar.


Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa


mengangguk pelan. Tidak ada reaksi lain yang bisa ia berikan pasalnya.


“Aku yakin jika alasan yang ia gunakan cukup kuat dan masuk


akal. Sehingga Bibi Ga Eun tidak punya pilihan lain,” gumam Nhea.


“Benar! Nyonya kepala sekolah kabarnya sampai kehabisan stok


kata-kata pada saat itu,” balas Oliver dengan antusias.


Meski semua kabar yang ia dengan hanyalah rumor, tapi tetap


saja terasa begitu nyata. Tidak ada alasan untuk tidak percaya dengan semua


kabar-kabar itu. Tapi, di antara banyaknya hal yang belum bisa dipastikan


kebenarannya, ada satu hal yang sudah terkonformasi benar. Fakta soal seorang


guru dari kelas satu yang pergi meninggalkan akademi selama beberapa hari benar


adanya. Tapi, sekarang dia sudah kembali mengajar. Bahkan jika mau, mereka


masih bisa menemuinya hari ini.


Hari ini cukup berbeda dengan hari-hari biasanya. Karena


tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Sesuai dengan namanya.


Hari kebebasan. Semua orang yang berada di akademi ini dibebaskan. Mereka semua


berhamburan keluar dari pintu gerbang akademi sihir Mooneta untuk menuju ke

__ADS_1


berbagai tempat. Salah satunya adalah pasar. Seperti yang sedang dilakukan oleh


kedua gadis itu.


Semua orang berharap agar kebijakan ini terus berlanjut.


Tidak hanya hari ini saja. Mereka butuh sering-sering keluar seperti ini untuk


mencari udara segar. Tidak bisa dipungkiri jika orang-orang itu pasti merasa


bosan jika terus berada di dalam akademi dan tidak diperbolehkan untuk beranjak


kemana-mana.


Meski banyak orang yang keluar untuk mencari udara segar,


bukan berarti akademi akan dibiarkan kosong begitu saja. Mooneta tidak pernah


lengah. Penjagaan ketat akan tetap dilakukan. Kau akan tetap aman jika bersikap


waspada. Itu adalah prinsipnya.


Ternyata bukan hanya Nhea dan Oliver saja yang menuju pasar.


Banyak orang yang pergi ke tempat itu. Biasanya hanya oara staff dapur yang


memiliki keperluan untuk pergi ke sana demi memenuhi perlengkapan dapur. Bahan


pangan harus selalu tersedia. Kebetulan sekali pusat kota tidak terlalu jauh


dari akademi sihir Mooneta. Jadi mereka bisa menjangkaunya dengan mudah.


"Ini adalah pertama kalinya bagiku mengunjungi pasar di


sekitar akademi," ungkap Oliver. Dia berkata jujur.


“Sama, ini juga pengalaman pertama bagiku,” balas Nhea.


Gadis itu merasa setuju dengan pendapat Oliver kali ini. Biasanya


mereka lebih sering berselisih pendapat daripada sepaham. Nyaris tidak pernah


berjalan searah. Tapi, kali ini sepertinya berbeda. Ada banyak hal yang berubah


hari ini. Apakah mungkin jika hari ini adalah hari keajaiban. Banyak hal baik


yang terjadi dari sekian banyak hal buruk yang menghampiri.


Setidaknya masih ada satu atau bahkan dua hal yang bisa


mereka syukuri untuk hari ini. Siapa bilang jika anak-anak di akademi sihir itu


tidak mempercayai adanya Tuhan. Sebagian besar dari mereka percaya dengan


keberadaan Tuhan. Sisanya tidak terlalu begitu. Anggap saja mereka tidak


memiliki kepercayaan terhadap sesuatu. Bukan menjadi sebuah paksaan di dalam


akademi sihir Mooneta untuk hal semacam itu. Soal kepercayaan, biarlah itu


menjadi urusan pribadinya. Tidak ada yang berhak untuk ikut campur.


Terlepas dari semua itu, mereka berusa memutuskan untuk berkeliling


pasar terlebih dahulu. Mengeksplor beberapa hal yang belum sempat terjamah


olehnya. Mereka benar-benar norak saat baru pertama kali dilepaskan seperti


ini. Padahal sebelumnya Nhea dan Oliver sudah pernah berkunjung ke pasar. Nhea


dulu sangat sering menemani Bibi Ga Eun untuk berbelanja ke pasar. Hampir setiap


minggu mereka selalu pergi bersama dan menghabiskan waktu di akhir pekan. Sedangkan,


Oliver pernah keluar sekali ke pasar saat diminta untuk memantau para staff


dapur. Itu pertama kali ia lakukan saat menjabat sebagai ketua asrama.


Tapi, semuanya sudah lama sekali. Mungkin lebih dari dua atau


tiga tahun yang lalu. Tentu saja mereka berdua sangat merindukan saat-saat


seperti ini.


Kondisi pasar sekarang tergolong ramai. Namun, tetap tidak


terlalu padat. Mungkin akibat festival sihir yang akan diadakan besok. Jadi,


tempat ini mulai terlihat ramai. Camp para peserta lomba terletak di bagian


utama kota ini. Tidak terlalu jauh dari pasar. Saat ini pasti sebagian besar


dari mereka sudah sampai di camp. Besok acara pembukaan dan pertandingan akan


dimulai. Jadi wajar saja jika sebagian besar dari wilayah kota mulai ramai.


Nhea dan Oliver juga tidak sengaja bertemu dengan


siswa-siswa dari akademi sihir lain yang kebetulan juga sedang berada di pasar


ini. Entah itu untuk mencari kebutuhan mereka, atau malah hanya sekedar


berkeliling saja.


“Aku sama sekali belum melihat anak-anak Reosal di sini,”


ungkap Nhea dengan nada bicara rendah.


Dia tidak ingin jika kalimat yang barusaja diucapkannya


sampai ke telinga orang lain. Meski sebenarnya hal itu cukup tidak mungkin


untuk terjadi pada situasi seperti ini. Keriuhan berada dimana-mana. Bahkan jika


Nhea berteriak sekalipun, belum tentu akan menarik atensi sejumlah orang yang


ada di sana.


“Mungkin mereka akan sampai nanti malam atau sore,” ujar


Oliver.


Gadis itu hanya menduga-duga saja. Padahal dia tidak tahu


betul seperti apa kepastiannya.


“Apakah Reodal ikut serta dalam kompetisi ini juga?” tanya


Nhea sembari mengalihkan pandangannya ke arah Oliver.


“Tentu saja!” balas gadis itu dengan cepat.


“Nama akademi sihir mereka telah masuk ke dalam salah satu daftar


peserta lomba,” jelasnya kemudian.


Nhea hanya mampu membalas perkataan gadis itu tadi dengan


anggukan. Pasalnya, tak ada cara lain yang bisa ia lakukan lagi. Menggerakkan


kepalanya ke atas dan ke bawah adalah sebuah cara andalan untuk mengendalikan


berbagai macam situasi. Tidak banyak yang tahu soal trik rahasian ini. Nhea


bisa dikatakan sebagai orang yang cukup beruntung karena mengetahuinya.


Dia memang dikenal sebagai orang yang tidak terlalu banyak

__ADS_1


bicara. Nhea jauh lebih sering melakukan tindakan daripada berbicara panjang


lebar.


__ADS_2