Mooneta High School

Mooneta High School
Without Permission


__ADS_3

Chanwo menjadi panik seketika. Ia telah tertangkap basa dan


hal itu beehasil membuatnya menjadi tak bisa berkutik sama sekali. Keringat


dinhin terus bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Jika saja pria ini memiliki


detak jantung, pasti saat ini tempo detak jantungnya sudah dua kali lipat lebih


cepat dari pada biasanya. Atau mungkin malah bisa lebih cepat dari yang pernah


ia bayangkan sebelumnya. Tidak ada yang tahu sama sekali.


Tapi sayangnya ia sama sekali tidak memiliki hal tersebut.


Jadi jangan harap jika ia akan merasakannya. Jangankan itu. Bernapas saja tidak


sama sekali. Jika Chanwo bisa bernapas di posisi ini, maka mungkin napasnya


sudah memburu tak beraturan.


Namun sekali lagi harus diingatkan jika Chanwo tidak


memiliki keduanya. Jadi ia tidak bisa merasakan apa pun selain hanya terkejut.


Setelah itu tidak ada reaksi tambahan. Karena memang sebagian besar dari


organ-organ yang ia miliki tidak bisa berfungsi dengan sempurna. Bahkan


beberapa di antaranya malah tidak berfungsi sama sekali. Dia berbeda dari


manusia biasa. Karena pada dasarnya, ia memang bukan seorang manusia. Melainkan


klan vampir dari kaum kegelapan.


Chanwo sama sekali tidak ada menberikan reaksi apa pun


selama beberapa detik setelah kejadian. Otaknya mendadak tidak bisa bekerja.


Bersamaan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Setelah


mendapatkan lagi konsentrasinya, ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang


dan mencari tahu siapa pelakunya.


Pada dasarnya Chanwo bukan seseorang yang penakut. Ia bahkan


nyaris tidak pernah memiliki perasaan seperti itu sebelumnya. Ini adalah kalibpertama


bagi pria itu untuk merasakannya. Baginya cukup aneh. Tapi ini nyata. Sulit


untuk mendeskripsikannya dengan kata-kata.


Saat pria itu membalikkan kepalanya, ia mendapati Nhea yang


tengah menyoroti dirinya dengan tatapan sinis. Gadis itu mendadak menjadi


begitu menakutkan saat itu. Hal tersebut didukung dengan kondisi ruangan yang


memang minim akan pencahayaan, membuat suasana semakin terasa menyeramkan.


Kesan horor mulai terlihat dengan jelas. Aura gelap berhasil mendominasi


ruangan ini. Untuk pertama kalinya pria iru berdigik ngeri.


“A-“


Belum sempat Nhea menyelesaikan kalimatnya, pria itu segera


membungkan mulut Nhea. Sehingga hal tersebut berhasil membuat gadis itu tidak

__ADS_1


bisa berkutik sama sekali. Pergerakan Chanwo cukup cepat. Lebih cepat dari apa


yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Akibatnya, gadis itu jadi tidak


memiliki persiapan sama sekali untuk melawan. Meski begitu, Nhea tetap tidak


kehabisan akal. Dia terus mealukan berbagai macam cara untuk memberontak.


Bukan Chanwo namanya jika tidak mau kalah dalam hal apa pun.


Dia terlalu egois. Terlalu ambisius dan terobsesi dengan kememangan lebih


tepatnya. Dia tidak akan membiarkan orang lain lebih unggul dari pada dirinya.


Chanwo biasanya lebih mendominasi permainan dan berakhir dengan kemenangan. Tidak


peduli dalam hal apa pun itu. Baik hal besar mau pun hal kecil. Dia selalu saja


bersikap seperti itu.


Tidak terkecuali dengan situasi saat ini. Jiwa kompetitifnya


kembali muncul. Bahkan saat ia sedang berhadapan dengan seorang gadis sekali


pun, ia tidak akan peduli sama sekali. Tentu saja ia tidak akan membiarkan gadis


ini menang begitu saja. Meski pun Chanwo tidak berusaha untuk memberikan


perlawanan balik, ia tetap tidak akan membiarkan Nhea lebih unggul darinya saat


ini.


“Diamlah jika kau tidak ingin mengusik temanmu yang tengah


tertidur pulas saat ini,” bisik pria itu dengan lembut di telinga Nhea.


gadis yang begitu penurut. Setelah tadi ia terlihat sangat brutal dengan


bertindak secara membabi-buta. Entah ada kekuatan gaib macam apa yang ia miliki


sehingga berhasil membuat gadis ini takluk.


Nhea mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Sorot matanya


berubah tajam. Sulit untuk dijelaskan apa makna yang tersembunyi di baliknya. Karena


pada dasarnya, Chanwo sendiri tidak mengerti apa maksudnya.


“Aku hanya meminjam baju hangatmu. Bukan bermaksud yang


lain. Jaid tidak perlu khawatir,” jelas Chanwo masih dengan nada bicara yang jauh


lebih pelan dari pada sebelumnya.


Nhea masih bungkam. Ia kehabisan kata-kata. Tidak tahu harus


berkata apa. Padahal sebelumnya ia begitu ingin mengeluarkan semua hal yang ada


di kepalanya saat itu dan melampiaskan hal tersebut kepada  Chanwo. Memangnya ada siapa lagi di sana


selain pria itu.


Hanya Chanwo yang berhasil membuatnya merasa kesal pada


tengah malam seperti ini. Dia menyelinap masuk, kemudian mengambil barang tanpa


izin. Nhea pikir, pria itu telah pergi sejak kemarin. Pasalnya, ia sama sekali


belum melihat batang hidung pria itu sejak peperangan selesai. Kepergiannya yang

__ADS_1


terkesan mendadak, berhsail menyisakan tanda tanya besar bagi Nhea.


“Aku akan mengembalikannya begitu musim dingin selesai,”


ujar Chanwo.


“Aku berani berjanji untuk itu. Kau bisa mempercayaiku kini,”


timpalnya kemudian.


Mereka terpaksa harus berbicara dengan volume rendah, karena


saat ini situasinya tidak begitu mendukung. Jika saja Oliver tidak ada di sini,


maka mereka bisa bicara seperti biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama


sekali. Namun Chanwo sendiri pada awalnya memang tidak menyangka jika akan ada


gadis itu di sini. Keberadaan Oliver di tempat ini benar-benar memperburuk


suasana. Ia hanya bisa mengganggu saja di sini. Lagi pula kenapa harus bersama


dengan Nhea.


Tak ingin berlama-lama berada di tempat ini, Chanwo segera


pergi setelah mendapatkan apa yang ia mau. Meninggalkan gadis ini begitu saja.


Ia bahkan tidak membiarkan Nhea untuk mengucapkan sepatah kata pun sebelum ia


pergi. Lagi-lagi pergerakannya terlalu cepat. Ia menghilang begitu saja dari


balik pintu. Hanya dalam beberapa detik, Nhea sudah tidak bisa melihat sosoknya


lagi di koridor. Padahal tempat itu lumayan panjang jika disusuri dengan


berjalan kaki. Bahkan jika ia berlari sekali pun, tidak akan bisa secepat itu


menghilangnya.


“Sebenarnya dia manusia atau bukan?” gumamnya sembari


menutup pintu.


Gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Berusaha untuk


tidak terlalu ambil pusing sial yang baru saja terjadi. Tapi tetap saja tidak


bisa. Semua hal yang terasa ganjil itu berhasil memnuhi isi kepalanya sampai ia


merasa muak.


Nhea kembali menghampiri tempat tidurnya dengan tatapan


kosong. Ia merobohkan dirinya begitu saja di atas kasur yang mulai terasa


dingin itu karena pengaruh dari udara dingin yang menerobos masuk dari jendela.


Nhea membenarkan posisinya. Tatapannya kini lurus menghadap ke langit-langit


ruangan. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Terjebak dalam setiap imajinasi


dan asumsi yang ia ciptakan sendiri.


Bagaimana bisa pria itu langsung pergi begitu saja tanpa


membiarkan Nhea berbicara sebentar. Padahal ada banyak hal yang ingin ia


tanyakan pada saat itu. Tentang semua keraguannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2