
Chanwo menjadi panik seketika. Ia telah tertangkap basa dan
hal itu beehasil membuatnya menjadi tak bisa berkutik sama sekali. Keringat
dinhin terus bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Jika saja pria ini memiliki
detak jantung, pasti saat ini tempo detak jantungnya sudah dua kali lipat lebih
cepat dari pada biasanya. Atau mungkin malah bisa lebih cepat dari yang pernah
ia bayangkan sebelumnya. Tidak ada yang tahu sama sekali.
Tapi sayangnya ia sama sekali tidak memiliki hal tersebut.
Jadi jangan harap jika ia akan merasakannya. Jangankan itu. Bernapas saja tidak
sama sekali. Jika Chanwo bisa bernapas di posisi ini, maka mungkin napasnya
sudah memburu tak beraturan.
Namun sekali lagi harus diingatkan jika Chanwo tidak
memiliki keduanya. Jadi ia tidak bisa merasakan apa pun selain hanya terkejut.
Setelah itu tidak ada reaksi tambahan. Karena memang sebagian besar dari
organ-organ yang ia miliki tidak bisa berfungsi dengan sempurna. Bahkan
beberapa di antaranya malah tidak berfungsi sama sekali. Dia berbeda dari
manusia biasa. Karena pada dasarnya, ia memang bukan seorang manusia. Melainkan
klan vampir dari kaum kegelapan.
Chanwo sama sekali tidak ada menberikan reaksi apa pun
selama beberapa detik setelah kejadian. Otaknya mendadak tidak bisa bekerja.
Bersamaan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Setelah
mendapatkan lagi konsentrasinya, ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang
dan mencari tahu siapa pelakunya.
Pada dasarnya Chanwo bukan seseorang yang penakut. Ia bahkan
nyaris tidak pernah memiliki perasaan seperti itu sebelumnya. Ini adalah kalibpertama
bagi pria itu untuk merasakannya. Baginya cukup aneh. Tapi ini nyata. Sulit
untuk mendeskripsikannya dengan kata-kata.
Saat pria itu membalikkan kepalanya, ia mendapati Nhea yang
tengah menyoroti dirinya dengan tatapan sinis. Gadis itu mendadak menjadi
begitu menakutkan saat itu. Hal tersebut didukung dengan kondisi ruangan yang
memang minim akan pencahayaan, membuat suasana semakin terasa menyeramkan.
Kesan horor mulai terlihat dengan jelas. Aura gelap berhasil mendominasi
ruangan ini. Untuk pertama kalinya pria iru berdigik ngeri.
“A-“
Belum sempat Nhea menyelesaikan kalimatnya, pria itu segera
membungkan mulut Nhea. Sehingga hal tersebut berhasil membuat gadis itu tidak
__ADS_1
bisa berkutik sama sekali. Pergerakan Chanwo cukup cepat. Lebih cepat dari apa
yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Akibatnya, gadis itu jadi tidak
memiliki persiapan sama sekali untuk melawan. Meski begitu, Nhea tetap tidak
kehabisan akal. Dia terus mealukan berbagai macam cara untuk memberontak.
Bukan Chanwo namanya jika tidak mau kalah dalam hal apa pun.
Dia terlalu egois. Terlalu ambisius dan terobsesi dengan kememangan lebih
tepatnya. Dia tidak akan membiarkan orang lain lebih unggul dari pada dirinya.
Chanwo biasanya lebih mendominasi permainan dan berakhir dengan kemenangan. Tidak
peduli dalam hal apa pun itu. Baik hal besar mau pun hal kecil. Dia selalu saja
bersikap seperti itu.
Tidak terkecuali dengan situasi saat ini. Jiwa kompetitifnya
kembali muncul. Bahkan saat ia sedang berhadapan dengan seorang gadis sekali
pun, ia tidak akan peduli sama sekali. Tentu saja ia tidak akan membiarkan gadis
ini menang begitu saja. Meski pun Chanwo tidak berusaha untuk memberikan
perlawanan balik, ia tetap tidak akan membiarkan Nhea lebih unggul darinya saat
ini.
“Diamlah jika kau tidak ingin mengusik temanmu yang tengah
tertidur pulas saat ini,” bisik pria itu dengan lembut di telinga Nhea.
gadis yang begitu penurut. Setelah tadi ia terlihat sangat brutal dengan
bertindak secara membabi-buta. Entah ada kekuatan gaib macam apa yang ia miliki
sehingga berhasil membuat gadis ini takluk.
Nhea mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Sorot matanya
berubah tajam. Sulit untuk dijelaskan apa makna yang tersembunyi di baliknya. Karena
pada dasarnya, Chanwo sendiri tidak mengerti apa maksudnya.
“Aku hanya meminjam baju hangatmu. Bukan bermaksud yang
lain. Jaid tidak perlu khawatir,” jelas Chanwo masih dengan nada bicara yang jauh
lebih pelan dari pada sebelumnya.
Nhea masih bungkam. Ia kehabisan kata-kata. Tidak tahu harus
berkata apa. Padahal sebelumnya ia begitu ingin mengeluarkan semua hal yang ada
di kepalanya saat itu dan melampiaskan hal tersebut kepada Chanwo. Memangnya ada siapa lagi di sana
selain pria itu.
Hanya Chanwo yang berhasil membuatnya merasa kesal pada
tengah malam seperti ini. Dia menyelinap masuk, kemudian mengambil barang tanpa
izin. Nhea pikir, pria itu telah pergi sejak kemarin. Pasalnya, ia sama sekali
belum melihat batang hidung pria itu sejak peperangan selesai. Kepergiannya yang
__ADS_1
terkesan mendadak, berhsail menyisakan tanda tanya besar bagi Nhea.
“Aku akan mengembalikannya begitu musim dingin selesai,”
ujar Chanwo.
“Aku berani berjanji untuk itu. Kau bisa mempercayaiku kini,”
timpalnya kemudian.
Mereka terpaksa harus berbicara dengan volume rendah, karena
saat ini situasinya tidak begitu mendukung. Jika saja Oliver tidak ada di sini,
maka mereka bisa bicara seperti biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama
sekali. Namun Chanwo sendiri pada awalnya memang tidak menyangka jika akan ada
gadis itu di sini. Keberadaan Oliver di tempat ini benar-benar memperburuk
suasana. Ia hanya bisa mengganggu saja di sini. Lagi pula kenapa harus bersama
dengan Nhea.
Tak ingin berlama-lama berada di tempat ini, Chanwo segera
pergi setelah mendapatkan apa yang ia mau. Meninggalkan gadis ini begitu saja.
Ia bahkan tidak membiarkan Nhea untuk mengucapkan sepatah kata pun sebelum ia
pergi. Lagi-lagi pergerakannya terlalu cepat. Ia menghilang begitu saja dari
balik pintu. Hanya dalam beberapa detik, Nhea sudah tidak bisa melihat sosoknya
lagi di koridor. Padahal tempat itu lumayan panjang jika disusuri dengan
berjalan kaki. Bahkan jika ia berlari sekali pun, tidak akan bisa secepat itu
menghilangnya.
“Sebenarnya dia manusia atau bukan?” gumamnya sembari
menutup pintu.
Gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Berusaha untuk
tidak terlalu ambil pusing sial yang baru saja terjadi. Tapi tetap saja tidak
bisa. Semua hal yang terasa ganjil itu berhasil memnuhi isi kepalanya sampai ia
merasa muak.
Nhea kembali menghampiri tempat tidurnya dengan tatapan
kosong. Ia merobohkan dirinya begitu saja di atas kasur yang mulai terasa
dingin itu karena pengaruh dari udara dingin yang menerobos masuk dari jendela.
Nhea membenarkan posisinya. Tatapannya kini lurus menghadap ke langit-langit
ruangan. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Terjebak dalam setiap imajinasi
dan asumsi yang ia ciptakan sendiri.
Bagaimana bisa pria itu langsung pergi begitu saja tanpa
membiarkan Nhea berbicara sebentar. Padahal ada banyak hal yang ingin ia
tanyakan pada saat itu. Tentang semua keraguannya selama ini.
__ADS_1