
Viera mengakui jika Shin Nara penah memiliki masalah pribadi
dengan salah satu siswa yang juga bersekolah di sini. Tapi menurut penuturan
gadis itu, kejadiannnya sudah sangat lama. Bahkan lebih dari setahun yang lalu. Seharusnya saat ini mereka sudah
saling berbaikan dan tidak pernah berusaha untuk saling menyakiti satu sama
lain lagi. Tapi, tidak ada yang pernah tahu dendam seperti apa yang tersembunyi
di dalam hati mereka masing-masing. Hal tersebut sangat memungkinkan bagi salah
satunya untuk melakukan aksi kekerasan.
Topik pembahasan yang kali ini rasanya jauh lebih menarik
bagi Eun Ji Hae secara pribadi. Ia sama sekali tidak penasaran dengan seperti
apa masalah Shin Nara di masa lalu. Tapi, Eun Ji Hae hanya merasa terobsesi
karena baginya dendam merupakan salah satu hal yang memiliki potensi paling
besar di sini di antara hal-hal lainnya.
“Lalu, bagaimana hubungan mereka setelah kejadian itu?” tanya
Eun Ji Hae.
“Maksudku apakah merek sudah saling berbaikan atau tetap
seperti sebelumnya? jangan bilang jika hubungan mereka berus malah semakin
memburuk!” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Dia tidak ingin ada salah pengertian di sini. Tidak peduli
sekecil apa pun itu hal yang salah dipersepsikan. Mungkin hal tersebut memang
kecil. Tapi kita tidak pernah tahu akan sebesar apa dampaknya nanti. Oleh sebab
itu, Eun Ji Hae memilih untuk mencegahnya sekarang saja. Sebelum terjadi hal
buruk yang tidak diinginkan sama sekali.
Viera tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh
Eun Ji Hae barusan. Malah, ia tampak berpikir lebih dulu. Bukan berpikir. Lebih
tepatnya mengingat memori masa lalu atau mecari jawaban yang paling tepat.
“Aku tidak terlalu paham soal hal itu,” katanya.
“Dari awal, Shin Nara dengan orang ini memang tidak akrab
sama sekali. Jadi setelah persellisihan paham itu, mereka memang tampak tidak
terlalu dekat satu sama lain. Memang sulit untuk mendefenisikan hal tersebut ke
yang mana satu,” jelasnya dengan panjang lebar.
Eun Ji Hae setuju dengan kalimat terakhir yang diucapkan
oleh gadis ini. Menurut pemaparannya barusan, Shin Nara pernah memiliki masalah
dengan salah satu temannya. Tapi bukan teman dekat sama sekali. Mereka hanya sampai
pada tahap saling kenal, tapi tidak mengenal dekat.
Jadi, memang sulit untuk mengetahui apakah mereka berdua
sudah saling berbaikan atau belum. Sulit untuk mengetahui apakah masih ada
dendam tersendiri di dalam benaknya atau tidak. Pasalnya, mereka tidak bisa
membuktikan hal tersebut secara langsung di depan matanya.
Percuma saja jika meminta kesaksian dan kejujuran orang itu.
Dia tidak akan pernah jujur, jika benar ia adalah pelakunya. Pada umumnya,
manusia akan melakukan segala cara untuk menutupi kesalahannya sendiri. Mereka
tidak akan mudha untuk mengaku. Lebih tepatnya, mereka akaln melakukan segala
cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Jika kalian mengatakan kalau manusia adalah mahluk hidup
yang egois, maka hal itu tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ego
merupakan sikap bawaan manusia sejak lahir. Kita tidak bisa menghindari hal
tersebut sebagai manusia yang telah terlahir ke dunia. Kita semua telah
dibekali oleh sifat ego di dalam diri kita masing-masing. Hanya tinggal
bagaimana cara kita dalam mengendalikan rasa tersebut, agar tidak terlalu
berlebihan. Karena semua orang tahu, jika yang berlebihan itu tidak akan membawa
pengaruh baik sama sekali.
Eun Ji Hae telah membuat beberapa hipotesa di dalam
kepalanya. Hanya perlu waktu untuk membuktikan semua hal tersebut secara
satu-persatu. Dengan begitu, sebauh kesimpulan final akan bisa segera diambil.
Masalah akan segera selesai pada akhirnya. Tapi, tetap saja kunci utamanya
mereka harus menemukan pelakunya terlebih dahulu sebelum menutup kasusnya.
Tanpa ditemukannya orang tersebut, sama saja dengan omong kosong.
“Tunggu dulu!” ucap Eun Ji Hae.
“Memangnya siapa orang yang kau maksud pernah memiliki
masalah pribadi dengan Shin Nara?” tanya gadis itu.
Sejak tadi Viera sama sekali belum ada menyebutkan soal
siapa nama orang tersebut. Setidaknya, dengan mengetahui namanya, ia bisa
mencari tahu lebih. Hal ini akan sangat membantu dalam proses penyelidikan.
“Dia adalah Choi Ara,” jawabnya.
Kedua bola mata Eun Ji Hae langsung terbelalak lebar begitu
mendengar nama tersebut. Memangnya ada berapa banyak anak yang memiliki nama
serta marga yang sama di sini. Rasanya tidak ada. Hanya satu orang sepertinya
yang bernama Ara dengan marga Choi.
Eun Ji Hae sama sekali tidak menyangka jika orang itu adalah
Choi Ara. Kemarin baru saja ia selesai berurusan dengan gadis itu. Otaknya
__ADS_1
masih menolak untuk percaya. Gadis itu memang bukan pelakunya, tapi di sini ia
memiliki potensi untuk menjadi tersangka.
“Apa yang kalian maksud itu, Choi Ara dari kelas B?” tanya
Eun Ji Hae untuk memastikan.
Viera mengangguk, mengiyakan perkataannya.
Di tempat ini ada beberapa kelas. Lebih tepatnya ada lima
tingkatan kelas. Mulai dari yang tertinggi, yaitu kelas A, hingga yang paling
rendah atau bisa diartikan sebagai level pemula. Yaitu kelas E.
Jika memang benar Choi Ara yang mereka maksud adalah orang
yang sedang berada di dalam pikiran Eun Ji Hae saat ini, maka apa motif
pembunuhannya. Itu pun jika memang ia terbukti sebagai pelakunya.
Mendadak Eun Ji Hae teringat akan sesuatu dan segera
menanyakannya sebelum lupa. Ingatannya tidak bisa diandalkan kini. Dia sudah
lama tidak melatih organ yang satu itu untuk berpikir. Jadi begini pada akhirnya.
“Apakah kalian ada yang melihat Choi Ara berada di sana
tadi?” tanya Eun Ji Hae.
Kali ini pertanyaan gadis itu tidak merujuk kepada sebelah
pihak saja. Tapi kepada mereka semua. Jadi, semua orang bisa menjawab
pertanyaan itu tanpa harus mengutamakan batasan-batassan tertentu.
Ketiganya tidak langsung menjawab pertanyaan dari Eun Ji
Hae. Lagi-lagi mereka tampak mengingat. Membayangkan jika dirinya berada di
posisi beberapa menit yang lalu. Memperhatikan sekitarnya dan mencari sosok
seorang gadis yang tengah dimaksud oleh Eun Ji Hae. Tapi hasilnya nihil. Mereka
sama sekali tidak bisa memberikan jawaban sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh gadis itu.
Ketiganya menggeleng bukan karena tidak melihat Choi Ara.
Melainkan mereka memang tidk tahu apa jawabannya. Ada banyak orang yang
berkerumun di dalam satu tempat yang sama pada saat itu. Lagi pula, fokus
mereka hanya satu. Yaitu kepada jasad Shin Nara yang tergeletak bersimbah darah
di koridor. Selain itu, mereka tidak memperhatikan apa pun lagi di sekitarnya.
Eun Ji Hae memijat pelipisnyadengan lembut. Kali ini ia
tengah terjebak di dalam dua situasi yang jelas bertolak belakang. Di satu
sisi, ia merasa senang, karena mulai terlihat titik terang dari permasalahan
ini. Tapi di sisi lain, hal tersebut malah terasa jauh lebih membingungkan dari
pada sebelumnya. mau tak mau, Eun Ji Hae memang harus memaksa otaknya untuk
tetap berpikir keras. Bahkan melebihi dari kemampuan berpikirnya pada biasanya.
***
peristiwa ini. Baik secara langsung, mau pun tidak langsun. Eun Ji Hae sangat
yakin jika ia memiliki sangkut paut, setidaknya satu hal saja. untuk saat ini,
gadis itu telah masuk daftar orang-orang yang dicurigai oleh Eun Ji Hae.
Ini adalah pertanyaan terakhir yang akan diajukan oelh Eun
Ji Hae kepada ketiganya. Tidak ada yang boleh pergi begitu saja sebelum
menjawab pertanyaan yang satu ini. Eun Ji Hae akan memastikan hal tersebut.
“Apakah kalian berkata dengan jujur sejauh ini?” tanya gadis
itu dengan nada bicara serius.
Tampak jelas dari wajahnya sekarang, jika ia tidak sedang
main-main. Sorot matanya menatap ketiga orang di depannya dengan lekat. Eun Ji
Hae sedang menuntut jawaban dari mereka. Tak tahan dengan semua itu, mereka
bertiga langsung mengangguk secara bersamaan untuk mengiyakan perkataan Eun Ji
Hae tadi. Saat ini, mereka tengah berada dalam kondisi yang terdesak. Tidak ada
pilihan lain selain menjawab pertanyaan Eun Ji Hae untuk mengakhiri semua ini.
“Ku harap jawaban terakhir yang baru saja kalian berikan itu
juga benar,” ucapnya sembari merapihkan kertas-kertas yang tengah berserakan di
atas meja.
Eun Ji Hae menarik napasnya dalam-dalam, sebelum kembali
menghela lagi. Hari ini cukup berat. Ia bahkan sudah merasa kelelahan. Padahal ini
masih pagi sekali. Bahkan mereka baru saja selesai sarapan pagi beberapa saat
yang lalu. Matahari saja masih cenderung ke arah timur dan sama sekali belum
naik sejajar dengan kepala. Embun pagi yang bercampur dengan kabut musim dingin
masih melekat sempurna pada seluruh permukaan kaca. Menjadikan benda itu tidak
setransparan dulu lagi.
“Baiklah, kalian bisa kembali sekarang!” celetuk Eun Ji Hae.
Gadis itu memutuskan untuk menyudahi proses interogasinya
sampai di sini. Menurutnya semua ini sudah cukup, walau belum semua. Setidaknya
bisa digunakan untuk penyelidikan sementara waktu, sampai semua buktinya
terkumpul dengan lengkap. Sehingga mereka bisa merujuk kepada salah satu orang
sebagai pelaku.
“Kalau begitu, kami permisi lebih dulu!” pamit Bae Seul Jung
dan diangguki oleh yang lainnya.
“Tentu saja!” balas Eun Ji Hae tanpa memalingkan
__ADS_1
pandangannya sama sekali.
Gadis itu masih sibuk dengan urusannya sendiri. Ada terlalu
banyak kertas catatan yang perlu ia rapihkan di sini. Sementara itu Bae Seul
Jung, Lee Hyun Min dan juga Viera langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan
ini begitu diberikan izin oleh Eun Ji Hae. Tidak ada alasan lagi untuk tetap
berada di ruangan itu. Mereka juga tidak mau berlama-lama di sana. Apa lagi
jika harus bersama dengan Eun Ji Hae. Melihatnya saja enggan, apa lagi harus
berbicara dengannya dan menjalin komunikasi.
Sekarang hanya tersisa Eun Ji Hae sendiri di ruangan itu. Ia
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kepalanya terasa penuh
saat ini. Penuh akan hal-hal yang bahkan belum tentu penting sama sekali. Tapi entah
kenapa bisa tersankut di sarang-sarang kepalanya. Eun Ji Hae tidak bisa
berhenti memikirkannya.
‘KRIETT!!!’
Perhatiannya kini terlalihkan pada pintu masuk yang mendadak
terbuka. Pasalnya, indera pendengaran gadis itu berhasil menangkap suara engsel
pintu yang berderit. Dan ia sangat yakin jika suara tersebut berasal dari
satu-satunya pintu masuk yang ada di ruangan ini.
“Bibi?” bingunnya.
“Apa yang kau lakukan di ruangan bibi?” tanya wanita itu
balik.
Pada dasarnya, memang Bibi Ga Eun lah yang seharusnya merasa
bingung dengan keberadaan gadis itu di ruangannya, bukan malah Eun Ji Hae. Memangnya
dia perlu membingungkan soal apa lagi.
“Aku baru saja selesai menginterogasi mereka semua,”
jelasnya.
“Baiklah,” balas Bibi Ga Eun.
Wanita itu mendadak acuh dengan sekitarnya. Biasanya ia
tidak pernah seperti ini. Jika diperhatikan baik-baik dari raut wajahnya, Bibi
Ga Eun terlihat sedang merasa penat. Sama persis seperti apa yang dirasakan
oleh Eun Ji Hae saat ini. Bukan lelah secara fisik. Melainkan secara mental dan
pikiran. Masalah terus datang bertubi-tubi kepada mereka tanpa berhenti. Atau setidaknya
berikan jeda sedikit saja untuk mengambil napas. Masalah itu benar-benar nyaris
menghabisi mereka secara perlahan. Namu pada kenyataannya, smapi detik ini
mereka semua masih tetap mencoba untuk bertahan.
“Kalau begitu, aku pamit pergi dulu!” pamitnya sebelu
meninggalkan ruangan itu.
Bibi Ga Eun tampak enggan untuk menjawab perkataannya
barusan. Ia hanya menggangguk-anggukkan kepalanya. Setidaknya wanita itu masih
bisa merespon ucapan Eun Ji Hae barusan, meski tanpa perlu mengucapkan sepatah
kata pun.
Setelah ini, Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki rencana
apa pun. Mungkin ia bisa langsung kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan
pikirannya. Kegiatan mereka baru akan dimulai pada malam hari. Mereka semua
aktif di alam hari. Tidak jauh berbeda dengan mahluk malam lain pada umumnya. Yang
akan tetap terjaga sepanjang malam, namun malah terlelap ketika matahari masih
bertengger. Siklus hidup mereka memang sedikit terbaik dari manusia lain pada
umumnya.
Bukan masalah yang terlalu serius. Ini hanya tentang gaya
hidup.
***
Eun Ji Hae memutuskan untuk langsung kembali ke kamar saja.
Lagi pula, semua pekerjaannya memang sudah selesai sejak awal. Tidak ada hal
yang harus ia lakukan lagi setelah ini. Sekarang, Eun Ji Hae telah memasuki
fase waktu bebas. Sesuai dengan namanya, ia bebas melakukan apa saja yang ia
mau.
Selama perjalanan untuk menuju ke gedung utama, tempat
dimana kamarnya berada, mau tak mau Eun Ji Hae harus melewati tempat kejadian
tadi. Jika dilihat biaik-baik, tempat ini sudah dibersihkan. Sangat bersih
malah. Nyaris tidak ada noda darah yang tertinggal di sini. Namun anehnya,
entah kenapa bau anyir dari darahnya maish sangat menyengat. Aromanya tajam
menusuk hidung. Eun Ji Hae sendiri bahkan sampai menutup hidungnya saat
melewati tempat itu.
Gadis itu sama sekali tidak merasakan jika ada sesuatu yang
aneh di sana tadi. Semuanya terasa baik-baik saja, kecuali aroma tak sedap itu
tadi. Tak bisa dipungkiri jika hal itu sangat mengganggu kenyamanan mereka. Untung
saja kejadiannya tidak berada di lorong asrama. Namun sepertinya angin musim
dingin akan terus berhembus di sepanjang tempat ini. Cepat atau lambat,
aromanya pasti akan menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
Bukan ini yang mereka harapkan
__ADS_1
selama ini. Melainkan sebuah musim dingin yang tenang, dengan malam perayaan
tahun baru di dalamnya.