Mooneta High School

Mooneta High School
After Session


__ADS_3

Viera mengakui jika Shin Nara penah memiliki masalah pribadi


dengan salah satu siswa yang juga bersekolah di sini. Tapi menurut penuturan


gadis itu, kejadiannnya sudah sangat lama. Bahkan lebih dari setahun  yang lalu. Seharusnya saat ini mereka sudah


saling berbaikan dan tidak pernah berusaha untuk saling menyakiti satu sama


lain lagi. Tapi, tidak ada yang pernah tahu dendam seperti apa yang tersembunyi


di dalam hati mereka masing-masing. Hal tersebut sangat memungkinkan bagi salah


satunya untuk melakukan aksi kekerasan.


Topik pembahasan yang kali ini rasanya jauh lebih menarik


bagi Eun Ji Hae secara pribadi. Ia sama sekali tidak penasaran dengan seperti


apa masalah Shin Nara di masa lalu. Tapi, Eun Ji Hae hanya merasa terobsesi


karena baginya dendam merupakan salah satu hal yang memiliki potensi paling


besar di sini di antara hal-hal lainnya.


“Lalu, bagaimana hubungan mereka setelah kejadian itu?” tanya


Eun  Ji Hae.


“Maksudku apakah merek sudah saling berbaikan atau tetap


seperti sebelumnya? jangan bilang jika hubungan mereka berus malah semakin


memburuk!” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Dia tidak ingin ada salah pengertian di sini. Tidak peduli


sekecil apa pun itu hal yang salah dipersepsikan. Mungkin hal tersebut memang


kecil. Tapi kita tidak pernah tahu akan sebesar apa dampaknya nanti. Oleh sebab


itu, Eun Ji Hae memilih untuk mencegahnya sekarang saja. Sebelum terjadi hal


buruk yang tidak diinginkan sama sekali.


Viera tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh


Eun Ji Hae barusan. Malah, ia tampak berpikir lebih dulu. Bukan berpikir. Lebih


tepatnya mengingat memori masa lalu atau mecari jawaban yang paling tepat.


“Aku tidak terlalu paham soal hal itu,” katanya.


“Dari awal, Shin Nara dengan orang ini memang tidak akrab


sama sekali. Jadi setelah persellisihan paham itu, mereka memang tampak tidak


terlalu dekat satu sama lain. Memang sulit untuk mendefenisikan hal tersebut ke


yang mana satu,” jelasnya dengan panjang lebar.


Eun Ji Hae setuju dengan kalimat terakhir yang diucapkan


oleh gadis ini. Menurut pemaparannya barusan, Shin Nara pernah memiliki masalah


dengan salah satu temannya. Tapi bukan teman dekat sama sekali. Mereka hanya sampai


pada tahap saling kenal, tapi tidak mengenal dekat.


Jadi, memang sulit untuk mengetahui apakah mereka berdua


sudah saling berbaikan atau belum. Sulit untuk mengetahui apakah masih ada


dendam tersendiri di dalam benaknya atau tidak. Pasalnya, mereka tidak bisa


membuktikan hal tersebut secara langsung di depan matanya.


Percuma saja jika meminta kesaksian dan kejujuran orang itu.


Dia tidak akan pernah jujur, jika benar ia adalah pelakunya. Pada umumnya,


manusia akan melakukan segala cara untuk menutupi kesalahannya sendiri. Mereka


tidak akan mudha untuk mengaku. Lebih tepatnya, mereka akaln melakukan segala


cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Jika kalian mengatakan kalau manusia adalah mahluk hidup


yang egois, maka hal itu tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ego


merupakan sikap bawaan manusia sejak lahir. Kita tidak bisa menghindari hal


tersebut sebagai manusia yang telah terlahir ke dunia. Kita semua telah


dibekali oleh sifat ego di dalam diri kita masing-masing. Hanya tinggal


bagaimana cara kita dalam mengendalikan rasa tersebut, agar tidak terlalu


berlebihan. Karena semua orang tahu, jika yang berlebihan itu tidak akan membawa


pengaruh baik sama sekali.


Eun Ji Hae telah membuat beberapa hipotesa di dalam


kepalanya. Hanya perlu waktu untuk membuktikan semua hal tersebut secara


satu-persatu. Dengan begitu, sebauh kesimpulan final akan bisa segera diambil.


Masalah akan segera selesai pada akhirnya. Tapi, tetap saja kunci utamanya


mereka harus menemukan pelakunya terlebih dahulu sebelum menutup kasusnya.


Tanpa ditemukannya orang tersebut, sama saja dengan omong kosong.


“Tunggu dulu!” ucap Eun Ji Hae.


“Memangnya siapa orang yang kau maksud pernah memiliki


masalah pribadi dengan Shin Nara?” tanya gadis itu.


Sejak tadi Viera sama sekali belum ada menyebutkan soal


siapa nama orang tersebut. Setidaknya, dengan mengetahui namanya, ia bisa


mencari tahu lebih. Hal ini akan sangat membantu dalam proses penyelidikan.


“Dia adalah Choi Ara,” jawabnya.


Kedua bola mata Eun Ji Hae langsung terbelalak lebar begitu


mendengar nama tersebut. Memangnya ada berapa banyak anak yang memiliki nama


serta marga yang sama di sini. Rasanya tidak ada. Hanya satu orang sepertinya


yang bernama Ara dengan marga Choi.


Eun Ji Hae sama sekali tidak menyangka jika orang itu adalah


Choi Ara. Kemarin baru saja ia selesai berurusan dengan gadis itu. Otaknya

__ADS_1


masih menolak untuk percaya. Gadis itu memang bukan pelakunya, tapi di sini ia


memiliki potensi untuk menjadi tersangka.


“Apa yang kalian maksud itu, Choi Ara dari kelas B?” tanya


Eun Ji Hae untuk memastikan.


Viera mengangguk, mengiyakan perkataannya.


Di tempat ini ada beberapa kelas. Lebih tepatnya ada lima


tingkatan kelas. Mulai dari yang tertinggi, yaitu kelas A, hingga yang paling


rendah atau bisa diartikan sebagai level pemula. Yaitu kelas E.


Jika memang benar Choi Ara yang mereka maksud adalah orang


yang sedang berada di dalam pikiran Eun Ji Hae saat ini, maka apa motif


pembunuhannya. Itu pun jika memang ia terbukti sebagai pelakunya.


Mendadak Eun Ji Hae teringat akan sesuatu dan segera


menanyakannya sebelum lupa. Ingatannya tidak bisa diandalkan kini. Dia sudah


lama tidak melatih organ yang satu itu untuk berpikir. Jadi begini pada akhirnya.


“Apakah kalian ada yang melihat Choi Ara berada di sana


tadi?” tanya Eun Ji Hae.


Kali ini pertanyaan gadis itu tidak merujuk kepada sebelah


pihak saja. Tapi kepada mereka semua. Jadi, semua orang bisa menjawab


pertanyaan itu tanpa harus mengutamakan batasan-batassan tertentu.


Ketiganya tidak langsung menjawab pertanyaan dari Eun Ji


Hae. Lagi-lagi mereka tampak mengingat. Membayangkan jika dirinya berada di


posisi beberapa menit yang lalu. Memperhatikan sekitarnya dan mencari sosok


seorang gadis yang tengah dimaksud oleh Eun Ji Hae. Tapi hasilnya nihil. Mereka


sama sekali tidak bisa memberikan jawaban sesuai dengan apa yang diharapkan


oleh gadis itu.


Ketiganya menggeleng bukan karena tidak melihat Choi Ara.


Melainkan mereka memang tidk tahu apa jawabannya. Ada banyak orang yang


berkerumun di dalam satu tempat yang sama pada saat itu. Lagi pula, fokus


mereka hanya satu. Yaitu kepada jasad Shin Nara yang tergeletak bersimbah darah


di koridor. Selain itu, mereka tidak memperhatikan apa pun lagi di sekitarnya.


Eun Ji Hae memijat pelipisnyadengan lembut. Kali ini ia


tengah terjebak di dalam dua situasi yang jelas bertolak belakang. Di satu


sisi, ia merasa senang, karena mulai terlihat titik terang dari permasalahan


ini. Tapi di sisi lain, hal tersebut malah terasa jauh lebih membingungkan dari


pada sebelumnya. mau tak mau, Eun Ji Hae memang harus memaksa otaknya untuk


tetap berpikir keras. Bahkan melebihi dari kemampuan berpikirnya pada biasanya.


***


peristiwa ini. Baik secara langsung, mau pun tidak langsun. Eun Ji Hae sangat


yakin jika ia memiliki sangkut paut, setidaknya satu hal saja. untuk saat ini,


gadis itu telah masuk daftar orang-orang yang dicurigai oleh Eun Ji Hae.


Ini adalah pertanyaan terakhir yang akan diajukan oelh Eun


Ji Hae kepada ketiganya. Tidak ada yang boleh pergi begitu saja sebelum


menjawab pertanyaan yang satu ini. Eun Ji Hae akan memastikan hal tersebut.


“Apakah kalian berkata dengan jujur sejauh ini?” tanya gadis


itu dengan nada bicara serius.


Tampak jelas dari wajahnya sekarang, jika ia tidak sedang


main-main. Sorot matanya menatap ketiga orang di depannya dengan lekat. Eun Ji


Hae sedang menuntut jawaban dari mereka. Tak tahan dengan semua itu, mereka


bertiga langsung mengangguk secara bersamaan untuk mengiyakan perkataan Eun Ji


Hae tadi. Saat ini, mereka tengah berada dalam kondisi yang terdesak. Tidak ada


pilihan lain selain menjawab pertanyaan Eun Ji Hae untuk mengakhiri semua ini.


“Ku harap jawaban terakhir yang baru saja kalian berikan itu


juga benar,” ucapnya sembari merapihkan kertas-kertas yang tengah berserakan di


atas meja.


Eun Ji Hae menarik napasnya dalam-dalam, sebelum kembali


menghela lagi. Hari ini cukup berat. Ia bahkan sudah merasa kelelahan. Padahal ini


masih pagi sekali. Bahkan mereka baru saja selesai sarapan pagi beberapa saat


yang lalu. Matahari saja masih cenderung ke arah timur dan sama sekali belum


naik sejajar dengan kepala. Embun pagi yang bercampur dengan kabut musim dingin


masih melekat sempurna pada seluruh permukaan kaca. Menjadikan benda itu tidak


setransparan dulu lagi.


“Baiklah, kalian bisa kembali sekarang!” celetuk Eun Ji Hae.


Gadis itu memutuskan untuk menyudahi proses interogasinya


sampai di sini. Menurutnya semua ini sudah cukup, walau belum semua. Setidaknya


bisa digunakan untuk penyelidikan sementara waktu, sampai semua buktinya


terkumpul dengan lengkap. Sehingga mereka bisa merujuk kepada salah satu orang


sebagai pelaku.


“Kalau begitu, kami permisi lebih dulu!” pamit Bae Seul Jung


dan diangguki oleh yang lainnya.


“Tentu saja!” balas Eun Ji Hae tanpa memalingkan

__ADS_1


pandangannya sama sekali.


Gadis itu masih sibuk dengan urusannya sendiri. Ada terlalu


banyak kertas catatan yang perlu ia rapihkan di sini. Sementara itu Bae Seul


Jung, Lee Hyun Min dan juga Viera langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan


ini begitu diberikan izin oleh Eun Ji Hae. Tidak ada alasan lagi untuk tetap


berada di ruangan itu. Mereka juga tidak mau berlama-lama di sana. Apa lagi


jika harus bersama dengan Eun Ji Hae. Melihatnya saja enggan, apa lagi harus


berbicara dengannya dan menjalin komunikasi.


Sekarang hanya tersisa Eun Ji Hae sendiri di ruangan itu. Ia


menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kepalanya terasa penuh


saat ini. Penuh akan hal-hal yang bahkan belum tentu penting sama sekali. Tapi entah


kenapa bisa tersankut di sarang-sarang kepalanya. Eun Ji Hae tidak bisa


berhenti memikirkannya.


‘KRIETT!!!’


Perhatiannya kini terlalihkan pada pintu masuk yang mendadak


terbuka. Pasalnya, indera pendengaran gadis itu berhasil menangkap suara engsel


pintu yang berderit. Dan ia sangat yakin jika suara tersebut berasal dari


satu-satunya pintu masuk yang ada di ruangan ini.


“Bibi?” bingunnya.


“Apa yang kau lakukan di ruangan bibi?” tanya wanita itu


balik.


Pada dasarnya, memang Bibi Ga Eun lah yang seharusnya merasa


bingung dengan keberadaan gadis itu di ruangannya, bukan malah Eun Ji Hae. Memangnya


dia perlu membingungkan soal apa lagi.


“Aku baru saja selesai menginterogasi mereka semua,”


jelasnya.


“Baiklah,” balas Bibi Ga Eun.


Wanita itu mendadak acuh dengan sekitarnya. Biasanya ia


tidak pernah seperti ini. Jika diperhatikan baik-baik dari raut wajahnya, Bibi


Ga Eun terlihat sedang merasa penat. Sama persis seperti apa yang dirasakan


oleh Eun Ji Hae saat ini. Bukan lelah secara fisik. Melainkan secara mental dan


pikiran. Masalah terus datang bertubi-tubi kepada mereka tanpa berhenti. Atau setidaknya


berikan jeda sedikit saja untuk mengambil napas. Masalah itu benar-benar nyaris


menghabisi mereka secara perlahan. Namu pada kenyataannya, smapi detik ini


mereka semua masih tetap mencoba untuk bertahan.


“Kalau begitu, aku pamit pergi dulu!” pamitnya sebelu


meninggalkan ruangan itu.


Bibi Ga Eun tampak enggan untuk menjawab perkataannya


barusan. Ia hanya menggangguk-anggukkan kepalanya. Setidaknya wanita itu masih


bisa merespon ucapan Eun Ji Hae barusan, meski tanpa perlu mengucapkan sepatah


kata pun.


Setelah ini, Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki rencana


apa pun. Mungkin ia bisa langsung kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan


pikirannya. Kegiatan mereka baru akan dimulai pada malam hari. Mereka semua


aktif di alam hari. Tidak jauh berbeda dengan mahluk malam lain pada umumnya. Yang


akan tetap terjaga sepanjang malam, namun malah terlelap ketika matahari masih


bertengger. Siklus hidup mereka memang sedikit terbaik dari manusia lain pada


umumnya.


Bukan masalah yang terlalu serius. Ini hanya tentang gaya


hidup.


***


Eun Ji Hae memutuskan untuk langsung kembali ke kamar saja.


Lagi pula, semua pekerjaannya memang sudah selesai sejak awal. Tidak ada hal


yang harus ia lakukan lagi setelah ini. Sekarang, Eun Ji Hae telah memasuki


fase waktu bebas. Sesuai dengan namanya, ia bebas melakukan apa saja yang ia


mau.


Selama perjalanan untuk menuju ke gedung utama, tempat


dimana kamarnya berada, mau tak mau Eun Ji Hae harus melewati tempat kejadian


tadi. Jika dilihat biaik-baik, tempat ini sudah dibersihkan. Sangat bersih


malah. Nyaris tidak ada noda darah yang tertinggal di sini. Namun anehnya,


entah kenapa bau anyir dari darahnya maish sangat menyengat. Aromanya tajam


menusuk hidung. Eun Ji Hae sendiri bahkan sampai menutup hidungnya saat


melewati tempat itu.


Gadis itu sama sekali tidak merasakan jika ada sesuatu yang


aneh di sana tadi. Semuanya terasa baik-baik saja, kecuali aroma tak sedap itu


tadi. Tak bisa dipungkiri jika hal itu sangat mengganggu kenyamanan mereka. Untung


saja kejadiannya tidak berada di lorong asrama. Namun sepertinya angin musim


dingin akan terus berhembus di sepanjang tempat ini. Cepat atau lambat,


aromanya pasti akan menyebar ke seluruh penjuru sekolah.


Bukan ini yang mereka harapkan

__ADS_1


selama ini. Melainkan sebuah musim dingin yang tenang, dengan malam perayaan


tahun baru di dalamnya.


__ADS_2