
Semua orang telah bersiap di depan jendela sekaran untuk
menyaksikan semuanya saat ini juga. Beberapa orang bertuga untuk menahan daun
jendela tersebut agar tidak tertutup kembali. Meski pun badai telah selesai,
bukan berarti kecepatan anginnya ikut berkurang juga. Malah mungkin hari ini
jauh lebih buruk dari pada kemarin. Eun Ji Hae berdiri tepat di tengah-tengah.
Berada di posis paling depan, membuatnya harus bisa menahan terpaan angin musim
dingin tersebut dengan kedua kakinya sendiri. Dia sudah dalam posisi bersiap
untuk melepaskan dua mahluk kecil tak bersalah itu dari ketinggian lebih dari
enam meter. Mengingat jika saat ini mereka tengah berada di lantai tiga yang
merupakan lantai paling tinggi di pada setiap bangunan.
“Aku akan segera melepaskannya. Jadi bersiaplah!” ujar Eun
Ji Hae kepada semua orang.
Butuh perjuangan untuk tetap bertahan pada posisi yang serba
sulit ini. Jika sampai lengah sedikit saja, maka tubuuhnya akan terhempas dan
menghantam sebuah tembok yang berada tepat di belakangnya dengan sangat keras.
Hal tersebut sangat mungkin terjadi jika melihat situasi alam saat ini.
Eun Ji Hae menghitung mundur dai dalam hatinya. Ia telah
melonggarkan tali pengikat kantong tersebut. Dalam hitungan ketiga, ia akan
langsung melepaskannya. Membiarkan dua ekor tikus tidak bersalah itu terjun
bebas ke bawah.
Jika dipikir-pikir, mereka tidak akan mati di tempat
begitutubuhnya menghantam lapisan salju. Bukankah tumpukan serbuk e situ cukup
empuk sebagai tempat mendarat bagi tubuh mereka yang mungil. Mereka akan tetap
selamat. Meski sebenarnya sama sekali tidak ada yang peduli soal keselamatan
para hewan pengerat itu.
“Tiga, dua, satu!” batinnya dai dalam hati.
Tepat pada saat ia mengucapkan angka satu, saat itu juga Eun
Ji Hae melepaskan keduanya. Sesaat kemudian, merekasemua langsung mendekatkan
diri ke tepi jendela. Tidak peduli seberapa kencang hembusan angin saat itu.
Rasa ingin tahu yang mereka mliki, jauh lebih besar dari pada rasa takut yang
muncul pada saat yang bersamaan.
“Kemana mereka?”
“Sepertinya tikus-tikus itu tertimbun.”
“Apa mereka masih tetap hidup?”
“Bagaimana? Apakah mereka ikut mambeku atau tidak?”
Desas-desus tersebut terdengar dengan jelas di telinga Eun
Ji Hae. Kenapa mereka semua berisik sekali. Padahal semua orang juga tengah menantikan
jawaban yang sama saat ini. Tidak bisakah mereka dian dan bersabar menunggu
hasilnya sebentar lagi.
“Lihat! Mereka masi hidup!” seru salah satu siswa.
Sontak semua mata langsung tertuju kepadanya. Tapi pria itu
malah mengarahkan jari telunjuknya kepada salah satu objek yang tampak bergerak
di hamparan salju sana. Otomatis orang-orang segera mengalihkan pandangannya
dan mengikuti arah jari telunjuk pria itu.
Ternyata apa yang ia katakan tadi benar. Tikus-tikus yang
dilempar oleh Eun Ji Hae tadi masih hidup. Mereka baru saja muncul ke
permukaan. Mereka baik-baik saja. Itu berarti jika badai salju yang kemarin
mendadak terjadi itu bukan salju abadi, melainkan hanya salju biasa saja.
Refleks, semua orang bersorak gembira menyambut kebahagiaan
tersebut. Ternyata selama ini mereka baik-baik saja.Tidak ada hal yang perlu
dikhawatirkan. Rasanya sangat lega begitu mereka mengetahui hal tersebut. Yang
__ADS_1
berarti, hidup mereka aman. Mereka tidak harus hidup di dalam rasa panik dan
bimbang lagi. Mereka berhasil bebas dari semua rasa takut yang selama ini
menghantui hari-hari mereka. Dua puluh empat jam dalam sehari. Hal itu tidak
bisa lepas begitu saja dari dalam pikiran mereka.
Akhirnya, tepat pada hari ini mereka bisa bernapas dengan
lega. Terbebas dari semua rasa tidak nyaman yang selama ini telah membelenggu
mereka.
“Ini hanya salju biasa!”
“Kita aman!”
Beberapa suara sorakan terdengar menggema di seluruh penjuur
ruangan. Mereka segera melakukan selebrasi secara spontan untuk mengekspresikan
perasaan mereka saat ini. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Senyum
yang mengembang itu hanya bertahan selama beberapa saat saja, sebelum rasa
takut kembali menyerang mereka secara tiba-tiba.
Semuanya dimulai begitu ada salah satu siswa yang tengah
berdiri di tepi jendela, sama seperti posisi yang lainnya. Ia berinisiatif
untuk menyingkirkan beberapa gumpalan salju yang masih tersisa di jendela.
Gadis yang tidak diketahui namanya itu sengaja melakukan hal tersbut agar
jendela tidak mengalami kemacetan saat akan ditutup kembali nantinya.
Namung ternyata, niat baiknya tidak mendapatkan respon yang
baik pula dari semesta. Ia malah berubah menjadi sebuah patung es yang tidak
bisa bergerak sama sekali. Sekujur tubuhnya membeku. Tidak perlu takut, ia
masih tetap hidup. Jantungnya masih berfungsi dengan normal sama seperti
manusia pada umumnya. Ia bisa bertahan di dalam es yang membeku dan menyelimuti
tubuhnya itu. Gadis itu akan tetap hidup di meski di dalam suhu dingin sekali
pun.
Kejadian barusan membuat orang-orang kembali berteriak.
Namun kali ini berbeda. Mereka berteriak dengan histeris. Beberapa orang
berubah menjadi patung es tersebut. Semua orang begitu terkejut saat mendapati
pemandangan yang tengah terjadi di hadapan mereka semua saat ini.
“Cepat tutup jendelanya!” perintah Eun Ji Hae.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera bergotong royong
untuk melakukan perintah gadis itu tadi. Ini demi keselamatan mereka semua.
Jika jendela tetap terbuka, maka aka nada lebih banyak salju lagi yang masuk ke
dalam.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” gumam Nhea.
Gadis itu bahkan ikut tercengang. Ia tidak bisa berkata
apa-apa lagi. bukan hanya Nhea saja yang mengalami hal tersebut. Tetapi ini
adalah sebuah reaksi merata yang dapat dirasakan oleh semua orang. Tidak
terkecuali.
Kejadian yang baru saja terjadi begitu mengejutkan semua
orang. Ini akan menjadi berita baru yang menggemparkan seluruh sekolah. Semua
ekspektasi tentang acara malam pergantian itu mendadak sirna seketika di saat
yang bersmaan dengan terjadinya reaksi aneh tersebut.
Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang sedang
terjadi di sini. bahkan termasuk para pakar di bidangnya saja tidak mampu
menjelaskan. Mereka hanya bisa tercengang, samas eperti yang lainnya. Tidak ada
satu pun hal yang masuk akan di sini. Padahal tadi kedua tikus itu baik-baik
saja saat bersentuhan langsung dengan salju. Tidak ada reaksi yang aneh sedikit
pun. Mereka bahkan masih bisa pergi untuk segera menyelamatkan diri dari suhu
yang mulai terasa begitu rendah. Bahkan tadi seluruh tubuh mereka telah
tertutupi oleh salju. Tapi masih bisa selamat. Lantas kenapa sekarang seorang
manusia malah menjadi korbannya di sini. Padahal ia hanya menyentuh butiran
__ADS_1
salju tersebut dengan permukaan tangannya.
Bukankah semua ini membingungkan. Sebenarnya apa yang sedang
terjadi hari ini. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Segala cara telah
dilakukan. Tapi semuanya hanya berakhir sia-sia. Tidak ada satu pun yang
membuahkan hasil sama sekali. Bahkan jika rencana tersebut nyaris berhasil,
tetap saja ada titik dimana mereka harus berakhir dan menghentikan semua bagian
dari rencananya. Titik tersebut disebut sebagai kegagalan. Tidak ada lagi yang
bisa mereka lakukan jika sudah begini caranya. Berserah diri kepada takdir
adalah satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. Tidak ada
yang lain.
Ternyata begini rasanya jika berada di titik terendah dalam
hidup dan sudah pasrah dengan apa pun itu hal yang akan terjadi. Mereka telah
siap. Bahkan lebih dari sekedar siap. Saat ini, beberapa orang di antara mereka
bahkan telah mencapai titik dimana mereka tidak akan mempedulikan apa pun lagi
di dalam hidupnya. Tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi, karena memang sudah
tidak ada harapan untuk tetap hidup. Lebih tepatnya, tidak ada lagi lasan untuk
tetap bertahan pada situasi yang bahkan sudah tidak bisa terkendali lagi.
Menyerah adalah kata yang paling tepat untuk mewakili semuanya.
Untuk beberapa saat mereka masih tetap pada situasi yang
sama. Tidak ada seorang pun yang bisa berkutik. Kejadian berusan cukup untuk
membuat otak mereka berhenti bekerja seketika. Nhea dan Oliver saling melempar
pandangan satu sama lain. Seolah sedang memberika sebuah isyarat, tapi entah
apa.
Nhea pergi ke arah tepi jendela yang sudah tertutup itu
untuk mencari tahu segalanya. Dia tidak bisa duduk diam dan hanya menunggu
segala hal burk terjadi lagi. Setidaknya, jika memang telah ditakdirkan untuk
kalah, ia masih harus tetap membperjuangkan hak miliknya.
Di saat semua orang tengah berusaha untuk fokus mengamati
ffenomena langka yang baru saja terjadi di depan mereka, saat itu pula Nhea
mulai mengamati sekitarnya. Ia memantau dari balik kaca jendela yang hampir tak
jelas lagi karena sudah dipenuhi dengan embun itu. Tapi hal tersebut sama
sekali tidak menghalangi pemandangannya sama sekali.
Saat ini hanya ialah satu-satunya orang yang berdiri di dana
dan menjauh dari keramaian. Di saat semua orang tenggelam di dalam pikirannya
masing-masing, saat itu juga lah Nhea mulai sibuk dengan semua isi pikirannya. Setiap
hal yang ada di dalam otaknya saling berkecamuk satu sama lain. Tidak ada satu
pun yang serasi dan sinkron. Sehingga tidak terjadi sebuah koordinasi yang baik
antara perintah di otaknya dengan perilaku gadis ini.
“Kemana tikus-tikus itu pergi?” gumam gadis itu sembaru
mengamati pelataran yang telah dipenuhi oleh salju itu.
Percuma saja rasanya jika ia mencari keberadaaan mereka
sekarang. Ia tidak akan pernah menemukannya lagi. Tentu saja hewan-hewan itu
telah melarikan diri ke suatu tempat yang lebih hangat untuk menyelamatkan
dirinya. Meski pun ia hanya seekor tikus, tapi ia juga memiliki naluri alami
untuk mempertahankan hidupnya. Semua mahluk hidup sepertinya memliki naluri tersebut
yang merupakaan bawan sejak lahir.
Nhea mulai putus asa. Dia bahkan sudah tidak dapat menemukan
jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Memangnya apa yang ia harapkan dari
tikus-tikus kecil itu. Bahkan jejak telapak kaki kucing yang jauh lebih besar
dari itu saja tidak akan terlihat dengan jelas di atas hamparan salju itu. Masih
memungkinkan jika yang ia cari adalah jejak kaki manusia. Bagaimana bisa ia
kepikiran untuk mencari jejak telapak kaki seekor tikus di tengah cuaca
bersalju begini. Yang benar saja. sungguh tidak masuk akal. Terlebih lagi,
__ADS_1
ia melihatnya dari lantai tiga.