Mooneta High School

Mooneta High School
Terkesiap


__ADS_3

 


 


Semua orang telah bersiap di depan jendela sekaran untuk


menyaksikan semuanya saat ini juga. Beberapa orang bertuga untuk menahan daun


jendela tersebut agar tidak tertutup kembali. Meski pun badai telah selesai,


bukan berarti kecepatan anginnya ikut berkurang juga. Malah mungkin hari ini


jauh lebih buruk dari pada kemarin. Eun Ji Hae berdiri tepat di tengah-tengah.


Berada di posis paling depan, membuatnya harus bisa menahan terpaan angin musim


dingin tersebut dengan kedua kakinya sendiri. Dia sudah dalam posisi bersiap


untuk melepaskan dua mahluk kecil tak bersalah itu dari ketinggian lebih dari


enam meter. Mengingat jika saat ini mereka tengah berada di lantai tiga yang


merupakan lantai paling tinggi di pada setiap bangunan.


“Aku akan segera melepaskannya. Jadi bersiaplah!” ujar Eun


Ji Hae kepada semua orang.


Butuh perjuangan untuk tetap bertahan pada posisi yang serba


sulit ini. Jika sampai lengah sedikit saja, maka tubuuhnya akan terhempas dan


menghantam sebuah tembok yang berada tepat di belakangnya dengan sangat keras.


Hal tersebut sangat mungkin terjadi jika melihat situasi alam saat ini.


Eun Ji Hae menghitung mundur dai dalam hatinya. Ia telah


melonggarkan tali pengikat kantong tersebut. Dalam hitungan ketiga, ia akan


langsung melepaskannya. Membiarkan dua ekor tikus tidak bersalah itu terjun


bebas ke bawah.


Jika dipikir-pikir, mereka tidak akan mati di tempat


begitutubuhnya menghantam lapisan salju. Bukankah tumpukan serbuk e situ cukup


empuk sebagai tempat mendarat bagi tubuh mereka yang mungil. Mereka akan tetap


selamat. Meski sebenarnya sama sekali tidak ada yang peduli soal keselamatan


para hewan pengerat itu.


“Tiga, dua, satu!” batinnya dai dalam hati.


Tepat pada saat ia mengucapkan angka satu, saat itu juga Eun


Ji Hae melepaskan keduanya. Sesaat kemudian, merekasemua langsung mendekatkan


diri ke tepi jendela. Tidak peduli seberapa kencang hembusan angin saat itu.


Rasa ingin tahu yang mereka mliki, jauh lebih besar dari pada rasa takut yang


muncul pada saat yang bersamaan.


“Kemana mereka?”


“Sepertinya tikus-tikus itu tertimbun.”


“Apa mereka masih tetap hidup?”


“Bagaimana? Apakah mereka ikut mambeku atau tidak?”


Desas-desus tersebut terdengar dengan jelas di telinga Eun


Ji Hae. Kenapa mereka semua berisik sekali. Padahal semua orang juga tengah menantikan


jawaban yang sama saat ini. Tidak bisakah mereka dian dan bersabar menunggu


hasilnya sebentar lagi.


“Lihat! Mereka masi hidup!” seru salah satu siswa.


Sontak semua mata langsung tertuju kepadanya. Tapi pria itu


malah mengarahkan jari telunjuknya kepada salah satu objek yang tampak bergerak


di hamparan salju sana. Otomatis orang-orang segera mengalihkan pandangannya


dan mengikuti arah jari telunjuk pria itu.


Ternyata apa yang ia katakan tadi benar. Tikus-tikus yang


dilempar oleh Eun Ji Hae tadi masih hidup. Mereka baru saja muncul ke


permukaan. Mereka baik-baik saja. Itu berarti jika badai salju yang kemarin


mendadak terjadi itu bukan salju abadi, melainkan hanya salju biasa saja.


Refleks, semua orang bersorak gembira menyambut kebahagiaan


tersebut. Ternyata selama ini mereka baik-baik saja.Tidak ada hal yang perlu


dikhawatirkan. Rasanya sangat lega begitu mereka mengetahui hal tersebut. Yang

__ADS_1


berarti, hidup mereka aman. Mereka tidak harus hidup di dalam rasa panik dan


bimbang lagi. Mereka berhasil bebas dari semua rasa takut yang selama ini


menghantui hari-hari mereka. Dua puluh empat jam dalam sehari. Hal itu tidak


bisa lepas begitu saja dari dalam pikiran mereka.


Akhirnya, tepat pada hari ini mereka bisa bernapas dengan


lega. Terbebas dari semua rasa tidak nyaman yang selama ini telah membelenggu


mereka.


“Ini hanya salju biasa!”


“Kita aman!”


Beberapa suara sorakan terdengar menggema di seluruh penjuur


ruangan. Mereka segera melakukan selebrasi secara spontan untuk mengekspresikan


perasaan mereka saat ini. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Senyum


yang mengembang itu hanya bertahan selama beberapa saat saja, sebelum rasa


takut kembali menyerang mereka secara tiba-tiba.


Semuanya dimulai begitu ada salah satu siswa yang tengah


berdiri di tepi jendela, sama seperti posisi yang lainnya. Ia berinisiatif


untuk menyingkirkan beberapa gumpalan salju yang masih tersisa di jendela.


Gadis yang tidak diketahui namanya itu sengaja melakukan hal tersbut agar


jendela tidak mengalami kemacetan saat akan ditutup kembali nantinya.


Namung ternyata, niat baiknya tidak mendapatkan respon yang


baik pula dari semesta. Ia malah berubah menjadi sebuah patung es yang tidak


bisa bergerak sama sekali. Sekujur tubuhnya membeku. Tidak perlu takut, ia


masih tetap hidup. Jantungnya masih berfungsi dengan normal sama seperti


manusia pada umumnya. Ia bisa bertahan di dalam es yang membeku dan menyelimuti


tubuhnya itu. Gadis itu akan tetap hidup di meski di dalam suhu dingin sekali


pun.


Kejadian barusan membuat orang-orang kembali berteriak.


Namun kali ini berbeda. Mereka berteriak dengan histeris. Beberapa orang


berubah menjadi patung es tersebut. Semua orang begitu terkejut saat mendapati


pemandangan yang tengah terjadi di hadapan mereka semua saat ini.


“Cepat tutup jendelanya!” perintah Eun Ji Hae.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera bergotong royong


untuk melakukan perintah gadis itu tadi. Ini demi keselamatan mereka semua.


Jika jendela tetap terbuka, maka aka nada lebih banyak salju lagi yang masuk ke


dalam.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” gumam Nhea.


Gadis itu bahkan ikut tercengang. Ia tidak bisa berkata


apa-apa lagi. bukan hanya Nhea saja yang mengalami hal tersebut. Tetapi ini


adalah sebuah reaksi merata yang dapat dirasakan oleh semua orang. Tidak


terkecuali.


Kejadian yang baru saja terjadi begitu mengejutkan semua


orang. Ini akan menjadi berita baru yang menggemparkan seluruh sekolah. Semua


ekspektasi tentang acara malam pergantian itu mendadak sirna seketika di saat


yang bersmaan dengan terjadinya reaksi aneh tersebut.


Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang sedang


terjadi di sini. bahkan termasuk para pakar di bidangnya saja tidak mampu


menjelaskan. Mereka hanya bisa tercengang, samas eperti yang lainnya. Tidak ada


satu pun hal yang masuk akan di sini. Padahal tadi kedua tikus itu baik-baik


saja saat bersentuhan langsung dengan salju. Tidak ada reaksi yang aneh sedikit


pun. Mereka bahkan masih bisa pergi untuk segera menyelamatkan diri dari suhu


yang mulai terasa begitu rendah. Bahkan tadi seluruh tubuh mereka telah


tertutupi oleh salju. Tapi masih bisa selamat. Lantas kenapa sekarang seorang


manusia malah menjadi korbannya di sini. Padahal ia hanya menyentuh butiran

__ADS_1


salju tersebut dengan permukaan tangannya.


Bukankah semua ini membingungkan. Sebenarnya apa yang sedang


terjadi hari ini. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Segala cara telah


dilakukan. Tapi semuanya hanya berakhir sia-sia. Tidak ada satu pun yang


membuahkan hasil sama sekali. Bahkan jika rencana tersebut nyaris berhasil,


tetap saja ada titik dimana mereka harus berakhir dan menghentikan semua bagian


dari rencananya. Titik tersebut disebut sebagai kegagalan. Tidak ada lagi yang


bisa mereka lakukan jika sudah begini caranya. Berserah diri kepada takdir


adalah satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. Tidak ada


yang lain.


Ternyata begini rasanya jika berada di titik terendah dalam


hidup dan sudah pasrah dengan apa pun itu hal yang akan terjadi. Mereka telah


siap. Bahkan lebih dari sekedar siap. Saat ini, beberapa orang di antara mereka


bahkan telah mencapai titik dimana mereka tidak akan mempedulikan apa pun lagi


di dalam hidupnya. Tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi, karena memang sudah


tidak ada harapan untuk tetap hidup. Lebih tepatnya, tidak ada lagi lasan untuk


tetap bertahan pada situasi yang bahkan sudah tidak bisa terkendali lagi.


Menyerah adalah kata yang paling tepat untuk mewakili semuanya.


Untuk beberapa saat mereka masih tetap pada situasi yang


sama. Tidak ada seorang pun yang bisa berkutik. Kejadian berusan cukup untuk


membuat otak mereka berhenti bekerja seketika. Nhea dan Oliver saling melempar


pandangan satu sama lain. Seolah sedang memberika sebuah isyarat, tapi entah


apa.


Nhea pergi ke arah tepi jendela yang sudah tertutup itu


untuk mencari tahu segalanya. Dia tidak bisa duduk diam dan hanya menunggu


segala hal burk terjadi lagi. Setidaknya, jika memang telah ditakdirkan untuk


kalah, ia masih harus tetap membperjuangkan hak miliknya.


Di saat semua orang tengah berusaha untuk fokus mengamati


ffenomena langka yang baru saja terjadi di depan mereka, saat itu pula Nhea


mulai mengamati sekitarnya. Ia memantau dari balik kaca jendela yang hampir tak


jelas lagi karena sudah dipenuhi dengan embun itu. Tapi hal tersebut sama


sekali tidak menghalangi pemandangannya sama sekali.


Saat ini hanya ialah satu-satunya orang yang berdiri di dana


dan menjauh dari keramaian. Di saat semua orang tenggelam di dalam pikirannya


masing-masing, saat itu juga lah Nhea mulai sibuk dengan semua isi pikirannya. Setiap


hal yang ada di dalam otaknya saling berkecamuk satu sama lain. Tidak ada satu


pun yang serasi dan sinkron. Sehingga tidak terjadi sebuah koordinasi yang baik


antara perintah di otaknya dengan perilaku gadis ini.


“Kemana tikus-tikus itu pergi?” gumam gadis itu sembaru


mengamati pelataran yang telah dipenuhi oleh salju itu.


Percuma saja rasanya jika ia mencari keberadaaan mereka


sekarang. Ia tidak akan pernah menemukannya lagi. Tentu saja hewan-hewan itu


telah melarikan diri ke suatu tempat yang lebih hangat untuk menyelamatkan


dirinya. Meski pun ia hanya seekor tikus, tapi ia juga memiliki naluri alami


untuk mempertahankan hidupnya. Semua mahluk hidup sepertinya memliki naluri tersebut


yang merupakaan bawan sejak lahir.


Nhea mulai putus asa. Dia bahkan sudah tidak dapat menemukan


jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Memangnya apa yang ia harapkan dari


tikus-tikus kecil itu. Bahkan jejak telapak kaki kucing yang jauh lebih besar


dari itu saja tidak akan terlihat dengan jelas di atas hamparan salju itu. Masih


memungkinkan jika yang ia cari adalah jejak kaki manusia. Bagaimana bisa ia


kepikiran untuk mencari jejak telapak kaki seekor tikus di tengah cuaca


bersalju begini. Yang benar saja. sungguh tidak masuk akal. Terlebih lagi,

__ADS_1


ia  melihatnya dari lantai tiga.


__ADS_2