
“Nhea!!! sahut seseorang dari dalam yang terdenggar seperti sedang memanggil namanya.
Ia sangat yakin jika pemilik suara barusan itu adalah Oliver yang tengah mencarinya setelah kejadian yang mengejutkan tadi. Suara langkah kakinya terdengar dengan jelas dari dalam lorong. Nhea harus cepat-cepat kembali masuk ke dalam sana sebelum semua orang curiga. Ia yakin jika suara seorang gadis itu mampu membangunkan seluruh asrama ini. Apalagi bangunan yang dihuninya ini juga dihuni oleh para petinggi sekolah.
Nhea mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencari celah dalam suasana gelap gulita. Ia berusaha memutar otak di tengah situasi yang terus-terusan mendesaknya, tanpa memberi jeda sedikit saja untuk mengambil nafas.
Untungnya ada satu jendela yang masih terbuka di ujung sana. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera berlari menuju jendela tersebut. Kaki mungilnya berusaha melombai langkah Oliver yang tentu saja jauh lebih cepat daripada dirinya. Rasa panik telah berhasil menguasai dirinya dan kini ia telah kehilangan kontrol.
“Aaa!!!” teriak gadis itu secara spontan.
Seperti yang sudah dikatakan tadi, gadis ini telah kehilangan kontrol sepenuhnya atas dirinya sendiri. Ia terus berlari tanpa memperdulikan hal apapun yang berada di sekitarnya saat itu. Bagaimana bisa ia lupa jika saat ini ia sedang berjalan di atas permukaan miring dengan sudut kemiringan yang mencapai sekitar empat puluh derajat. Nhea tergelincir jatuh menuju tepian atap yang nyaris membuat dirinya tak selamat saat itu. Untungnya ia dengan sigap berpegangan pada pipa air yang terletak di ujung genteng.
Bangunan ini mengadaptasi bentuk dari bangunan di eropa dengan ciri khas nya atap yang menjulang tinngi, nyaris seperti mengerucut. Model bangunan seperti ini sangat sering digunakan di sana karena menurut prinsip arsitektur, atap dengan kemiringan tinggi mampu memperkecil kemungkinan kerusakan akibat curah hujan. Sehingga umur bangunan tersebut juga akan lebih tahan lama.
Nhea menarik napasnya dalam-dalam, sambil berusaha menenangkan dirinya. Sesekali ia melihat ke bawah, untuk memastikan jika ia sedang butuh pertolongan. Tangannya terlalu lemah untuk menahan bobot tubuhnya yang jauh lebih berat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tak bisa terus-terusan bergelantungan seperti ini. Cepat atau lambat pasti akan terjatuh, sama seperti prinsip yang digunakan pada Hukum Newton. Ia harus segera mencari jalan keluar atau berteriak meminta pertolongan.
Beruntung ia segera bisa menyadari jika tepat di bawah tempa ia bergantung saat itu ada sebuah jendela. Entah milik siapa, yang pasti ia harus segera melakukan sesuatu.
‘Brakk!!!’
Nhea menendang kaca jendela tersebut dengan tapak seppatunya hingga pecah dan menciptakan suara yang begitu memekakkan telinga. Dengan sigap, gadis itu segera mengayunkan tubuhnya agar dapat masuk ke dalam sana. Beruntung jendela ini mengarah langsung ke koridor dan bukan ke ruangan pribadi. Jika tidak, bisa habis ia saat itu.
Baru saja Nhea akan memutar balik badannya dan meninggalkan tempat itu, tapi ada satu hal yang membuatnya tetap tertahan di sana. Dari balik jendea, ia melihat ada pemandangan yang cukup asing dari langit selatan. Objek itu semakin lama terlihat semakin jelas dan solid, karena ternyata benda itu sedang mengarah ke sini. Kelihatannya seperti dua ekor naga dengan masing-masing orang di atasnya yang tampak mengendalikan mahluk tersebut.
“Nhea!” teriak seseorang dari ujung lorong.
“Sedang apa kau di sini malam-malam begini?” tanya Oliver yang perlahan menghampiri gadis ini.
“Lihat itu!” balas Nhea, tanpa menggubris pertanyaan dari Oliver sanma sekali.
Nhea mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah objek yang ia maksud barusan. Mereka berdua tampak serius mengamati benda tersebut yang kian mendekat, hingga Oliver menyadari satu hal jika itu adalah Ify bersama ayahnya.
__ADS_1
“Serangan Ify telah dimulai!” ujar Oliver.
“Bangunkan seluruh petinggi sekolah, aku akan membangunkan seluruh murid!” perintah Nhea secara spontan.
Sedetik kemudian, mereka langsung berlari ke arah yang berlawanan untuk melakukan tugasnya masing-masing.
“Perintahkan Jongdae untuk terus mengamati pergerakannya!” sahut Nhea sebelum mereka berpisah tepat di ujung lorong.
“Baik!” balas Oliver.
Oliver mengetuk pintu para petinggi sekolah secara satu persatu, sambil memberitahu mereka jika saat ini mereka sedang dalam bahaya. Sementara itu, Nhea pergi ke asrama para murid untuk membangunkan mereka dengan cara membunyikan lonceng. Suaranya cukup untuk membangunkan seluruh sekolah. Setelah itu ia berlari menuju halaman belakang untuk membakar jerami, tepat di depan kandang para hewan-hewan tersebut.
Asap dari hasil pembakaran tersebut akan membuat para hewan tetap terjaga. Selain itu, uap panas yang dihasilkan juga mampu meningkatkan suhu udara sekitar dan membuat portal mereka menjadi setingkat lebih kuat.
Di sisi lain kelihatannya kedua sejoli itu telah mampu membaca srategi pertahanan mereka.
“Kelihatannya mereka telah menyadari hal ini. Apa ada seseorang yang memberitahukannya?” ujar Ify.
“Kelihatannya begitu. Mereka telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.” balas ayahnya.
“Tapi mana mungkin ada penyusup yang berani membocorkan tentang hal ini. Kau tahu jika para manusia bodoh ini selalu mengandalkan pertanda alam.” lanjutnya.
Jongdae adalah satu-satunya orang yang berusaha tenang diantara semua orang yang terlihat begitu ketakutan. Ia tahu jika selama ini peran sebagai pengintai dipercayakan hanya kepadanya, semua orang percaya akan kemampuan pria itu. Kini nasib sekolah berada di tangannya.
Tak ada seorangpun yang menginginkan hal itu terjadi. Mereka semua hanya ingin damai tanpa duka. Entah kenapa disetiap musim yang sama, selalu tercipta pemandangan yang mengerikan. Banyak korban berjatuhan, membuat populasi dari seluruh sekolah ini berkurang drastis. Isak tangsi yang terdengar di hari pemakaman terdengar seperti lagu lara yang tak pernah ingin mereka nyanyikan.
Setiap musim dingin datang menyapa dan hari mulai diselimuti salju, saat itu lah ancaman mulai terlihat. Mereka bersembunyi dengan apik di balik gumpalan es halus itu, menjadi satu dengan sumber kekuatan mereka. Musim yang seperti memiliki trauma sendiri bagi para pemiliknya. Begitu membekas sehingga sulit untuk dilupakan begitu saja. Padahal luka musim lalu belum pulih, tapi sudah harus terluka lagi. Jika seperti ini caranya, maka tak ada yang benar-benar bisa bangkit.
“Tak apa jika hari ini Ify menang kembali. Saat ia tertawa bahagia atas kemenangannya, setidaknya kami juga turut bahagia karena tak ada yang terluka. Kami tak ingin kehilangan keluarga kami.”
Setelah semua murid di kumpulkan ke aula bersama beberapa petinggi yang dipercaya mampu melindungi mereka, Oliver berlari menuju menara pengawas untuk menyusul kakaknya Jongdae yang masih berada di sana. Mereka pikir jika kali ini bukan saat nya untuk melakukan perlawanan. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah tetap berlindung di aula sampai Ify kehilangan cukup banyak energinyaa, lalu disitulah mereka mulai melancarkan serangan agar seolah-olah pihak Sekolah Mooneta lah yang menang.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang.”
“Bagaiman jika ini adalah ajal kita.”
__ADS_1
“Kenapa Ify menjadi sangat kejam? Padahal dulu dia merupakan bagian dari sekolah ini. Tapi sekarang kita telah menjadi monster.”
Suara desas-desus itu mulai terdengar semakin keras. Semua orang terlihat panik karena harus terjebak di dalam situasi seperti ini. Mereka mau tak mau harus dipaksa untuk tetap terjaga di tengah malam yang seharusnya menjadi malam yang syahdu.
“Tenanglah semuanya! Jika kalian tidak tenang, maka kalian tidak akan pernah bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan.” jelas Wilson yang mencoba memecah keriuhan suasana.
Sementara itu, Nhea sedang sibuk depngan pikirannya sendiri. Ia tak pernah memperdulikan apapun yang terjadi di sekitarnya saat itu dan itu adalah kebiasaan buruknya yang tak pernah bisa ia lepaskan dari dirinya.
“Hei! Jawab aku!” sahut sebuah suara yang entah berasal dari mana.
Beberapa detik setelah suara itu muncul secara tiba-tiba di telinganya, ia baru tersadar jika itu adalah panggilan dari Oliver yang mencoba untuk berbicara dengannya dengan cara telepati. Tapi sayangnya hal itu tak pernah berhasil sejak tadi, karena pikiran gadis ini sedang tak terkonsentrasi pada satu hal.
Nhea mencoba menjauh dari pusat keramaian untuk memusatkan pikirannya kepada gadis itu. Sepertinya ada suatu hal yang penting yang ingin dibicarakan oleh Oliver sejak tadi. Ia tak boleh lengah disituasi seperti saat ini jika ingin selamat.
“Ada apa, bicaralah sekarang! Aku tak punya banyak waktu, jadi cepat katakan.” batin Nhea dalam hati.
“Pergi dan lihatlah keluar jendela.” balas suara tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Oliver. Untuk berjaga-jaga siapa tahu ada bahaya yang sedang mengancam seisi sekolah. Bisa saja Ify dan ayahnya telah berhasil menembus portal yang mereka buat dan kini telah mengetahui tempat perlindungan mereka.
Ia mengintip dari jendela yang tersedia di aula, sepertinya hanya dengan mengintip dari celah sekecil itu ia bisa tahu apa yang terjadi di sana.gadis itu mematung di tempat sesaat setelah pandangannya tertuju kepada pemandangan yang berada di depannya. Tanpa ragu-ragu, Nhea segera berlari ke luar ruangan dan membuat semua orang yang berada di aula saat itu menjadi terkejut bukan main. Sontak semua orang ikut pergi keluar, untuk memastikan jika gadis itu baik-baik saja selama situasi seperti ini.
“Mereka datang bersama pasukannya!” teriak salah satu siswa.
“Mereka telah menyerang kita dengan pasukan hitam sebanyak itu, habislah kita semua.” lanjut yang lainnya.
Nhea masih berdiri mematung di tempatnya, sambil berusaha mencerna situasi yang sedang terjadi di hadapanny saat itu. Sangat sulit baginya untuk mengerti dengan kejadian saat itu yang membuatnya bingung disaat yang bersamaan. Sementara itu di sisi lain Wilson terlihat tahu sudah mengetahui semuanya lebih dulu, jauh sebelum yang lain mengertahuinya. Tak butuh waktu yang lama bagi pria itu untuk membongkar semuanya.
__ADS_1