
Mereka saling melempar pandangan satu sama lain secara
bergantian. Entah apa maksudnya. Hanya mereka yang tahu.
“Pergilah sekarang juga!” perintah Eun Ji Hae.
Kali ini ia merasa jauh lebih tenang dari pada sebelumnya. Bahkan
gadis itu sengaja mengatur intonasi bicaranya dengan sedemikian rupa agar tidak
dapat didengar oleh Wilson. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Pria itu sungguh
menepati perkataannya. Ia tidak akan membiarkan mereka berdua lepas dengan
mudah kali ini. Terutama Chanwo. Bukan pekara gampang untuk menemukan seseorang
yang selama ini ia anggap sebagai biang kerok atas semua kejadian sial yang menimpa
akademi sihir Mooneta. Akan lebih tepat jika disebut sebagai kutukan. Wilson
sangat yakin jika pria dari klan vampir itu adalah penyebabnya. Hatinya terus
berkata seperti itu, meski ia sama sekali tidak memiliki bukti.
Tentu saja Wilson tidak setuju dengan pendapat Eun Ji Hae.
Ia langsung menutup pintu gerbangnya rapat-rapat untuk mencegah mereka berdua
melarikan diri dari tempat ini. Chanwo menggeram kesal begitu mendapati dirinya
kembali terjebak. Ia kalah cepat.
‘BAMM!!!’
Kejadian tadi menyisakan suara debaman yang cukup kuat.
Gendang telinga mereka nyaris pecah. Bahkan karena sangking kerasnya, benda
yang berada di sekitarnya sampai ikut bergetar pelan. Pertarungan mereka kali
ini bisa membangunkan seluruh Reodal jika begini caranya. Sebentar lagi pasti
akan ada rumor yang menyebar. Lihat saja nanti.
Pria itu segera membalikkan tubuhnya lagi ke arah Wilson. Ia
sudah tidak tahan lagi. Chanwo mengepal tangannya dengan erat-erat. Tampak
dengan jelas pembuluh darahnya yang mulai timbul. Kesabaran Chanwo sungguh
diuji di sini. Wilson sudah keterlaluan. Tidakannya sudah melampaui batas wajar
yang bisa ditoleransi oleh Chanwo.
Pria itu tidak akan mendapatkan ampunan lagi dari sang raja.
Selain Hwang Ji Na, Wilson merupakan orang kedua yang berani bermain-main
dengan pewaris tahta. Tidak bisa dipungkiri jika nyali yang dimiliki oleh pria
ini cukup besar. Sampai ia berani mencari masalah dengan sang raja. Jika sampai
para anggota kerajaan atau bahkan penduduk biasa tahu soal kabar ini, maka
nyawa Wilson tengah berada di dalam bahaya. Seluruh kaum kegelapan pasti akan
memburunya. Mereka tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti pemimpin mereka.
Jangankan menyakiti, menyentuh saja tidak diperbolehkan.
__ADS_1
“Kau belum menjawab pertanyaanku yang satu itu wahai anak
muda,” ujar Wilson.
Entah berapa kali lagi Chanwo harus mengatakan jika ia sama
sekali tidak tertarik dengan topik obrolan mereka. Lagi pula bukan urusan
Wilson. Pria itu tidak berhak untuk tahu bagaimana caranya ia bisa keluar dari
hutan kegelapan dan sampai di sini dengan selamat.
“Dan omong-omong, kenapa gadis werewolf ini bersamamu?”
tanya Wilson.
“Apa kalian memliki hubungan khusus?” tegasnya.
Alih-laih sebuah pertanyaan. Kalimat barusan terdengar
seperti sebuah tuduhan yang mengarah kepada pria itu secara langsung. Wilson
memang ahli dalam mengrangkai kata-kata. Pantas saja Vallery bisa jatuh hati
kepadanya.
Wilson kini mulai mengenali wajah Hwang Ji Na. Karena,
bagaimana pun juga ia telah berusaha untuk menunjukkan eksistensinya tadi. Wilson
harus mengapresiasi keberaniannya. Sekaligus ia mungkin akan berterima kasih
nanti jika diperlukan.
Pria itu yakin jika mereka bertiga memiliki hubungan. Eun Ji
Hae, Hwang Ji Na dan Chanwo. Memangnya siapa lagi. Paling tidak mereka pasti
itu.
“Kelihatannya kau begitu penasaran dengan kehidupan
pribadiku,” sindir Chanwo.
“Dari pada sibuk mengurusi kehidupan orang lain, sebaiknya
kau mulai menata hidupmu sendiri!” tukas pria itu.
Sontak perkataan Chanwo barusan nyaris membuat Wilson naik
pitam. Anak muda sekarang memang tidak tahu sopan santun. Lihat saja apa yang
baru saja ia terima dari Chanwo. Bukan hanya Chanwo saja. Ia bahkan sudah
merasakannya lebih dulu dari Eun Ji Hae. Tidak menutup kemungkinan bagi Hwang
Ji Na untuk bersikap kurang ajar juga kepada pria itu. Pada dasarnya usia
mereka tidak jauh berbeda. Jadi, pasti sikapnya sama saja.
Bagaimana bisa mereka mendadak bersikap seperti ini.
Terutama Eun Ji Hae. Apakah Wilson tidak pernah mengajarinya soal sopan santun?
Tentu saja pernah. Semua orang juga tahu jika sopan santun dan tata krama
adalah pelajaran dasar yang harus dikuasai semua orang di akademi sihir
Mooneta. Terlebih Eun Ji Hae adalah anggota keluarga. Jelas ia harus bisa
__ADS_1
bersikap lebih sopan dari pada yang lainnya. Namun, tepat pada hari ini ia
mematahkan semuanya.
Eun Ji Hae akan kembali menjadi dirinya sendiri. Ia tak
perlu berpura-pura lagi. Gadis itu akan bersikap tergantung bagaimana orang
sekitar memperlakukannya. Jadi, semua kembali lagi ke mereka. Keputusan ada di
tangan setiap orang. Eun Ji Hae hanya perlu melanjutkan permainan yang telah
mereka ciptakan saja.
Jika dilihat berdasarkan jumlah kekuatan yang dihimpun,
sudah jelas jika Wilson yang akan kalah. Pasalnya, ketiga anak mudah itu telah
sepakat untuk berada di dalam tim yang sama. Eun Ji Hae bahkan tidak lagi
memihak ayahnya sekarang. Dia sudah terlalu muak dengan pria itu. Jika saja Eun
Ji Hae berada di pihak Wilson saat ini, maka mereka pasti sembang. Sulit untuk
menentukan siapa yang akan menang nantinya.
***
Chanwo dan Hwang Ji Na tidak bisa melarikan diri kemana-mana
lagi saat ini. Mereka sudah terjebak. Pintunya sudah terkunci. Tidak ada jalan
keluar yang tersisa. Wilson sepertinya benar-benar memiliki dendam yang
mendalam kepada pria itu.
“Sebaiknya biarkan mereka pergi sebelum kau mendapatkan
ganjarannya!” peringati Eun Ji Hae.
“Memangnya siapa dia berani mengancamku?!” komentar Wilson
yang terdengar agak menantang Chanwo.
Ia ingin sekali membuka jati dirinya. Menyatakan di depan
semua orang jika ia adalah raja di hutan terkutuk itu. chanwo adalah pemimpin
bagi seluruh kaum kegelapan. Termasuk klan bayangan juga. Jadi, sebenarnya
posisi Wilson saat ini tidak ada apa-apanya dengan dirinya. Mereka bahkan tidak
berasal dari latar belakang keluarga yang sama. Tapi, entah kenapa pria itu
selalu beranggapan jika ia jauh lebih unggul dari pada Chanwo.
Chanwo ingin sekali melakukan semua hal itu. Tapi, ia tidak
boleh mengungkap jati dirinya dengan sesuka hati seperti ini. Terlebih di
tempat umum. Ada banyak ancaman tersembuni yang tidak ia ketahui. Bisa saja
Chanwo malah terjebak dalam bahaya yang lebih parah lagi jika menyatakan kalau
dirinya adalah seorang raja. Sebaiknya jangan dulu. Ini bukan saat yang tepat.
Suasana semakin tegang tanpa ada sepatah kata pun yang
terucap dari bibir mereka. Semua orang memilih untuk bungkam. Mereka saling
__ADS_1
mengamati satu sama lain. Seolah sedang mencari titik kelemahan lawan dan
beriap untuk menyerangnya secara tiba-tiba.